Showing posts with label Sesama wanita. Show all posts
Showing posts with label Sesama wanita. Show all posts

Monday, May 2, 2011

Penjelajahan Sensualitas 02

Tanpa menunggu jawaban dari Ema, Fani langsung kembali mendaratkan bibirnya di puting adik kelasnya yang kebingungan itu dan kembali mengulumnya, kali ini dengan gairah yang semakin bergelora dalam dadanya sendiri. Dengan refleks, Fani mulai memainkan lidahnya pada puting Ema, membuat Ema terpekik tertahan sambil mendadak kedua tangannya mencengkeram kepala Fani. Namun kali ini Ema tak mendorong Fani. Sebaliknya ia malah seperti menarik kepala Fani agar menghisap dan menjilati putingnya semakin keras. Fani sendiri sangat menikmati gairah yang semakin meledak-ledak dalam dirinya, ditambah reaksi Ema yang membuatnya semakin terangsang, hingga lidah dan bibirnya semakin liar menjilati dan menghisapi puting Ema. "Ohh.." Ema mendesah tanpa ia sadari. Fani pun melepas mulutnya dari buah dada Ema, membuat kekecewaan dan rasa terkejut terbersit di wajah Ema. "Gantian dong, Em," kata Fani, "Kayaknya lu nikmatin banget. Gue kan juga mau ngerasain," lanjutnya dengan perasaan penuh pengharapan dan antisipasi. Ema tentunya memahami ini walaupun merasa sangat aneh harus menghisap buah dada sesama wanita, namun setelah ia merasakan kenikmatan dan rangsangan gairah yang baru kali ini ia rasakan, ia tahu Fani pasti akan merasakan kenikmatan yang sama. Maka kini Fani duduk di pinggir ranjang dan Ema, masih tetap duduk di pinggir ranjang, membungkukkan badan dan mulai mengulum dan menghisap puting Fani.

"Ngghh.." lenguhan Fani langsung meledak begitu bibir basah Ema menghisap putingnya yang kecil dan segar itu. Mata Fani terpejam rapat sementara darahnya menggelegak oleh rangsangan dan kenikmatan hebat yang baru kali ini ia rasakan. Tahu kakak kelasnya menikmati ini, Ema semakin rileks dan melanjutkan hisapan dan jilatannya pada puting Fani, bahkan semakin lama semakin liar dan ganas, membuat Fani terpaksa mencengkeram kepala Ema dan merintih-rintih menahan gairah, "Aaahh.. ahh.. Emm.. Enak Emm.."

Ema sendiri tak menyangka akan menikmati pengalaman ini, memeluk tubuh Fani dan semakin menjadi-jadi menghisapi puting Fani. "Ohh.. ohh.. ohh.. stop.. stop.. stop dulu Em.. ohh.. Emm.." desah Fani. Bingung dan takut tindakannya salah hingga Fani tak lagi menikmati ini, Ema berhenti menjilati puting Fani dan menatap kakak kelasnya yang terengah-engah dengan wajah merah padam penuh birahi ini, "Kenapa, Fan? Nggak enak, ya?" tanya Ema bingung. "Gila lu! Nikmat banget lagi," balas Fani, "Cuma gue berasa aneh nih, Em. Kayaknya celana dalem gue makin basah deh." Ema terbeliak semakin bingung mendengar itu. "Mungkin saking nikmatnya gue kencing dikit di celana kali," lanjut Fani sama-sama tak mengerti.

Fani langsung bangkit berdiri dan melepas celana pendeknya, lalu meraba celana dalamnya, "Tuh kan! Bener basah!" tukasnya lalu ia mencium tangannya yang baru ia pakai meraba selangkangannya itu, "Tapi bukan kencing nih, Em. Nggak pesing tuh!" ujar Fani yang dilanjutkannya dengan meloloskan celana dalamnya hingga kini ia benar-benar telanjang bulat berdiri di depan Ema. Fani memeriksa celana dalamnya dan mendapatkan sedikit lendir bening melekat di celana dalamnya.

"Ih, bener, bukan kencing, Em. Lendir nih!" tukas Fani sambil menengok ke arah Ema dan terkejut melihat Ema tampak duduk dengan gelisah sambil menggerak-gerakkan pahanya dengan mata tampak menerawang. "Naah, lu juga basah ya, Em?" sentak Fani mengejutkan Ema! Serta merta Fani menarik lengan Ema hingga adik kelasnya ini berdiri di depannya, lalu dengan cepat Fani melorotkan celana pendek sekaligus celana dalam Ema yang masih terlalu kebingungan hingga tak melakukan perlawanan. Fani menarik celana Ema lepas dari pergelangan kakinya lalu kembali berdiri dan menunjukkan lendir bening yang juga terdapat di bagian dalam celana dalam adik kelasnya yang cantik itu. "Tuh lihat, lu juga keluar lendirnya, Em." Ema hanya bengong sementara Fani semakin bergairah pada permainan seksual mereka yang ternyata berkembang jauh melebihi perkiraannya.

Dengan tinggi kurang lebih 160-an cm dan berat sekitar 45 kg, Fani dan Ema benar-benar tampak seperti sepasang gadis cilik, sama-sama telanjang bulat, berdiri berhadapan, menjelajahi pengalaman seksual pertama mereka yang membingungkan, namun menggairahkan sekaligus memberi kenikmatan hebat.

Fani melempar kedua celana dalam ke lantai sambil mengulurkan tangannya ke selangkangan Ema. "Ngghh.." Ema melenguh panjang selagi setruman gairah hebat meledak dalam dirinya saat jari Fani menyentuh bibir vaginanya yang basah itu. Lututnya sontak terasa lemas dan kepalanya terasa ringan melayang. Melihat temannya limbung, Fani langsung merangkulnya dan menuntunnya kembali duduk di ranjang. Fani sendiri duduk di samping Ema, merangkul pundak Ema dengan sebelah tangan lalu tangan satunya kembali melanjutkan meraba vagina Ema. Diiringi desah gairah Ema yang begitu merangsang di telinga sang kakak kelas, Fani menggosok-gosokkan jarinya dengan lembut di sepanjang bibir vagina Ema yang semakin lama tampak semakin merekah, menampilkan daging merah muda segar dan basah sang perawan cilik. "Hhh.. Fan.. ohh.. ngghh.. mmhh.."Fani semakin terangsang dan semakin berani. Ujung jari tengahnya ia masukkan ke dalam vagina Ema dan ia gerakkan menggesek daging segar vagina Ema yang semakin lama semakin banyak mengeluarkan lendir bening itu dari bawah ke atas, hingga menyentuh klitoris Ema yang mulai mencuat. "Ngk! Ahh.." Ema terpekik menggairahkan saat jari Fani mencapai klitorisnya. Fani terkejut namun semakin terangsang melihat reaksi nikmat sang adik kelas. Wajah menggemaskan Ema tampak semakin menggairahkan dengan mata terpejam menikmati sentuhan lembut Fani.

Mempertahankan kelembutan tekanannya, jari Fani semakin cepat menggesek vagina dan klitoris Ema, membuat Ema mendesah dan merintih tak terkendali. "Hhh.. hh.. ngh.. nghh.. mm.. mm.. ohh.." Sementara vagina Fani sendiri semakin basah oleh lendir gairah, Fani semakin terangsang melihat kenikmatan yang jelas-jelas ditunjukkan Ema di wajahnya, ia pun semakin bergelora dan membungkukkan badannya dan kembali menjilati dan menghisap puting Ema dengan liar dan bernafsu.

"Ohh.. ohh.. ohh.. Fann.. gillaa.. ohh.. ennak Fan.. mmhh.."
"Sllrrp.. sllrrpp.. klcp.. klcp.. sllrrpp.. klcp.. mm.. klcp.. klcp.."
"Mmm.. mm.. mm.. nghh.. nghh.. Faann.. Faann.. Fann.. oh.. oh.. oh.. oh.."

Desahan dan rintihan Ema yang dipenuhi kenikmatan semakin terdengar liar dan tak terkendali, sementara Fani yang semakin terangsang menggesekkan jarinya semakin liar di vagina perawan Ema dan lidah dan bibirnya melahap puting Ema dengan semakin bernafsu. Ema sendiri merasa gelombang kenikmatan memuncak dalam dirinya dan suatu perasaan seperti kesemutan merebak perlahan-lahan ke seluruh tubuhnya. Dengan nafas tersengal-sengal, Ema mencengkeram erat kepala Fani dan menekannya keras ke buah dadanya, lalu dalam suatu ledakan kenikmatan yang terasa bagaikan tak berujung, Ema memekik tertahan saat perasaan kesemutan dalam tubuhnya meledak menjadi setruman kenikmatan puncak yang membuat cairan kental tumpah deras dari dalam vaginanya, membasahi jari Fani yang masih liar menggesek-gesek vaginanya.

"Aaakk!" pekik Ema sambil dengan refleks menjepit tangan Fani dengan kedua pahanya, sementara tangannya mencengkeram kepala Fani semakin keras dan kepalanya terdongak ke belakang dengan bola mata terputar ke belakang penuh kenikmatan. Fani yang berusaha menarik tangannya membuat jarinya kembali menggesek vagina Ema dari bawah ke atas dengan gerakan sangat pelan, membuat Ema kembali menikmati ledakan-ledakan kenikmatan yang terasa tak kunjung habis, memaksanya menggigit bibirnya.

Akhirnya tangan Fani lepas dari jepitan paha Ema disertai lenguhan panjang Ema yang mengakhiri kenikmatan puncak orgasme pertamanya, "Ohh.." Fani menatap penuh rasa terpesona dan bergairah saat Ema ambruk terlentang di kasur dengan mata terpejam dan nafas terengah-engah. Ia menyusul berbaring di samping Ema dan memeluk tubuh sang adik kelas, langsung dibalas pelukan erat Ema yang sangat menikmati pengalaman seksual indah ini. Keduanya berpelukan erat, saling menikmati kenyamanan kehangatan tubuh yang lain.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka saling melepas pelukan dan Ema tersenyum menatap mata Fani. Rasa cinta dan kasih sayang mendalam tersorot jelas dari mata Ema. Fani memahami perasaan ini dan mengecup bibir Ema dengan lembut. Mereka lalu terkikik geli bersama-sama, lalu kembali saling berpelukan erat dan Ema berbisik di telinga Fani, "Fan, gue nggak ngerti perasaan gue saat ini. Tapi rasanya gue nggak mau pisah dari elu. Gue rasanya sayaang banget ama elu."

Fani tersenyum dan membalas bisikan sang adik kelas, "Gue juga sayang banget ama elu, Em. Lu jadi pacar gue aja, ya?" Walaupun tak pernah terpikir akan berpacaran dengan sesama wanita, namun Ema tak bisa memungkiri perasaannya saat ini, "Iya, Fan. Gue mau jadi pacar elu. Gue cinta ama elu." Mereka melanjutkan berpelukan erat dan hangat selama beberapa saat, lalu Ema melepas pelukannya dan berkata pada Fani.

"Gila, Fan. Lu bikin gue nikmat banget. Sekarang gantian ya, gue yang raba elu?"
"Iya dong, gue juga mau ngerasain kayak elu. Tapi jari lu jangan dimasukin ya? Kayak gue aja tadi, digesek-gesek aja. Gue takut keperawanan gue sobek," balas Fani.

Ema hanya mengangguk dan tetap dalam posisi rebahan, ia membuka paha Fani hingga mengangkang lebar, membuka vagina mudanya yang segar merekah, lalu mulai meraba-rabanya dengan jari tengahnya. Tak memakan waktu lama bagi vagina Fani untuk kembali basah penuh lendir gairah, apalagi saat Ema mendaratkan bibir dan lidahnya, mempermainkan puting Fani yang mungil itu. Desahan dan rintihan Fani pun akhirnya meledak menjadi pekikan penuh kenikmatan saat orgasme yang liar dan lama, seperti yang dinikmati Ema, bergejolak dalam tubuh mungil Fani.

Dalam keadaan sama-sama telanjang bulat, Fani dan Ema berpelukan mesra dan penuh kasih sayang, hingga akhirnya mereka tertidur pulas hingga pagi.

Aku dan Tante-tante

Sebelumnya perkenalkan namaku Paramitha dan cukup panggil saja Mitha. Umurku 20 tahun. Aku masih kuliah di sebuah PTS di Yogyakarta semester 5. Aku ingin menceritakan pengalamanku bercumbu untuk pertama kali dengan sesama wanita.

Kejadiannya dimulai pada suatu sore di akhir bulan Februari tahun 2000 lalu. Waktu itu kedua orang tuaku pergi keluar kota untuk beberapa hari. Kedua orang tuaku sudah meminta tolong kepada tante Layla untuk menemaniku. Sore itu tante Layla datang dengan temannya yang bernama tante Dewi yang berumur sekitar dua kali dari umurku.

Setelah berbasa-basi sebentar di ruang tamu, kupersilakan mereka untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Mereka berdua masuk ke kamar dan aku membereskan gelas minuman yang kusuguhkan kepada mereka.

Ketika aku melewati kamar mereka, kudengar suara tante Dewi, "Ayo kita mulai". Aku penasaran dengan perkataan tante Dewi sehingga aku sengaja mengintip melalui lubang kunci pintu kamar itu siapa tahu kelihatan. Memang benar kelihatan. Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan sedang saling berciuman dan saling melepas baju. Kulihat tante Dewi tidak mengenakan BH sedangkan tante Layla mengenakan BH. Mereka masih berciuman dan saling meremas payudara. Tante Dewi meremas kedua payudara tante Layla yang masih dilapisi BH sedangkan tante Layla dengan leluasa meremas kedua payudara tante Dewi yang sudah telanjang. Aku sudah terangsang dan tanganku tanpa sadar masuk ke kaos meremas kedua payudaraku sendiri.

Beberapa saat kemudian tante Layla menghentikan remasannya pada kedua payudara tante Dewi dan melepas BH-nya sehingga kedua payudara mereka yang lebih besar dari punyaku yang 36A sudah sama-sama telanjang. Mereka melanjutkan saling meremas serta saling mencium dan aku juga makin terangsang, ingin bergabung dalam permainannya.

Tiba-tiba kedua payudara mereka sedikit demi sedikit sudah saling menempel dan mereka berpelukan. Adegan selanjutnya aku tidak melihatnya karena posisi mereka bergeser dari lubang kunci pintu kamar yang aku intip.

Aku kemudian pergi ke kamarku dan melupakan hal tersebut. Aku pergi ke kamar mandi dan ketika aku tinggal melepas CD pintu kamar mandi diketuk oleh seseorang. Aku meraih handukku dan melilitkannya di tubuhku. Kubuka pintu dan kulihat tante Dewi hanya dengan memakai kimono.
"Kamu dipanggil tante"
Pikiranku kembali ke adegan yang kulihat dari lubang kunci sehingga kujawab, "Tapi saya baru mau mandi" Dengan harapan tante Dewi terangsang melihat keadaan tubuhku terlilit handuk kemudian mencumbuku. Ternyata tidak.
"Terserah kamu mau mandi. Tapi aku cuma disuruh"
Dia kemudian pergi dari hadapanku. Aku lalu masih berselimutkan handuk lalu masuk ke kamar tante Layla dan kulihat dia sedang tengkurap di tempat tidur hanya dengan memakai CD saja.

"Ada apa tante?"
"Kamu bisa mijit kan"
"Bisa"
Disuruhnya aku untuk duduk di atas tubuhnya dan aku mulai memijit. Aku memijit sambil membayangkan adegan yang kulihat dari lubang kunci. "Handuknya dilepas saja" Aku menoleh dan kulihat tante Dewi melepas kimononya. Dia yang juga memakai CD saja kemudian naik ke tempat tidur dan menarik handuk yang masih kupakai.

Sekarang kami bertiga sudah sama-sama setengah telanjang. Tante Dewi duduk di belakangku dan menempelkan kedua payudaranya ke punggungku. Digesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggungku dan tangannya juga maju ke depan meremas kedua payudaraku. Aku semakin berani dan tanganku yang memijit punggung tante Layla lalu turun ke bawah meremas kedua payudara tante Layla.

Setelah beberapa menit, tante Dewi lalu turun dari tempat tidur dan aku disuruhnya duduk di tepi tempat tidur. Tante Layla juga turun dan berdiri di belakang tante Dewi. Mereka melepas CD mereka masing-masing. Tangan tante Layla dari belakang meremas kedua payudara tante Dewi. Kemudian salah satu tangannya turun ke bawah. Jarinya masuk ke vagina tante Dewi yang sudah basah. Aku sendiri juga semakin basah sehingga kulepas CD-ku. Tapi aku tidak mau ikut bergabung. Takut keasyikan mereka terganggu.

Sekarang mereka sudah saling berhadapan dan berpelukan sambil berciuman serta saling meremas pantat. Jari tante Dewi dimasukkan ke pantat tante Layla begitu pula sebaliknya. Mereka serentak melepaskan ciumannya dan mendesah bersama-sama. Tante Dewi melepaskan pelukan tante Layla dan menyuruhku untuk tiduran. Dia kemudian mencium bibirku dan aku membalasnya. Lidahku masuk ke mulutnya dan saling menjilat. Tangannya meremas kedua payudaraku dan perlahan-lahan kemudian turun ke bawah. Dia menerima sesuatu dari tante Layla. Kulihat penis buatan ada di tangannya. Kemudian penis buatan yang besar itu perlahan-lahan dimaukkan ke vaginaku.

Pertama hanya dimasukkan 2 cm, kemudian ditariknya lagi. Lalu dikeluar-masukkan lagi lebih dalam sampai 7 cm. Dan dikocoknya vaginaku sedangkan mulutnya menghisap payudara kiriku. Aku menikmati perlakuan tante Dewi dan kulihat tante Layla ikut bergabung. Dia mulai mencium bibirku, kemudian turun ke bawah menghisap payudara kananku sedangkan tangannya yang juga memegang penis buatan memasukkannya ke mulutku dan dikeluar-masukkan.

Beberapa saat kemudian tante Dewi menghentikan mengocok vaginaku tetapi penis buatan itu ditinggalkannya. Tante Layla juga berhenti mengeluar-masukkan penis buatan ke mulutku. Tante Layla lalu tengkurap di atasku sambil penis buatan yang masih ada di vaginaku dimasukkannya ke vaginanya kemudian dia naik turun. Seolah-olah aku adalah laki-laki dengan penis besar.

Setelah beberapa menit dia terlihat lemas kemudian tidur di atasku. Kedua payudara kami saling menempel. Kurangsang dia dengan ciuman di bibirnya. Dia mulai terangsang dan memelukku sambil pindah posisi. Tante Layla di bawah dan aku di atas. Aku merasakan ada sesuatu masuk ke lubang pantatku. Ternyata tante Dewi telah tidur di atasku dengan penis buatan di vaginanya yang dimasukkan ke pantatku. Permainan ini berlanjut sampai tengah malam secara bergantian. Aku dengan tante Dewi, aku dengan tante Layla, tante Dewi dengan tante Layla, serta kami bertiga bercumbu bersama-sama. Kami bertiga sangat menikmati permainan ini terutama aku yang baru pertama kali melakukannya.

Demikian pengalamanku bercumbu untuk pertama kali dengan sesama wanita. Pengalamanku bercumbu dengan sesama wanita ini berlanjut di "AKU DAN CHINTYA".

E N D

Sahabatku Levana - 1

Nama saya Kartika, usia 25 tahun dengan tinggi 168 cm, berat 53 kg, asli orang Bandung, kulit putih bersih. Ukuran payudara saya yang 34C termasuk lumayan besar untuk gadis seusia saya. Pekerjaan saya adalah sebagai manager operasional di sebuah perusahaan terkenal di daerah saya. Saya ingin mengeluarkan gelisah hati yang saya pendam selama ini, mudah-mudahan saya bisa berbagi dengan pembaca sekalian.

Saya di kantor mempunyai sahabat yang namanya Levana, sering saya panggil Ana. Orangya supel, dan mudah bergaul, tingginya 172 cm/53 kg, dengan kulit putih mulus, maklum orang Menado asli, 34B ukuran payudaranya. Saya mempunyai kelainan ini sejak masih gadis pada saat tinggal bersama kakak saya, Mbak Erni namanya.

Kapan-kapan saya ceritakan sejarah lesbian saya, tapi saya juga suka cowok lho sama seperti gadis-gadis lain. Hanya saja hampir tujuh puluh persen saya menyenangi cewek, saya tidak mengerti mengapa saya begini, mungkin suatu saat saya bisa sembuh total ya?! Saya sering jalan bersama Ana kalau ada undangan karena saya belum ada pasangan, banyak sih cowok yang naksir, cuma saya masih enggan saja untuk berpacaran. Saya ingat betul awalnya yaitu pada saat bulan Agustus 2004, sehabis pulang kantor.

*****

"Ka, sini sebentar" panggil Ana pada saya sambil mendekatkan Mercynya.
"Ada apa Na?" tanya saya heran pada Ana.
"Boleh nggak minta tolong?"
"Tolong apa?"
"Itu lho, rumah saya khan sedang direnovasi.."
"Terus?"
"Mmh, boleh numpang nginep nggak di rumahmu?" tanya Ana ragu-ragu.
"Alaa, gitu saja nanya, boleh dong, sekarang?"
"Iya, boleh khan?" tanya Ana sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri.
"Udah, nggak usah banyak omong, ayo jalan" perintah saya sambil tersenyum.
"Okey, trim's ya"

Maka setelah Ana mengambil baju sekedarnya, kami berdua meluncur ke rumah saya yang memang agak jauh dari kantor. Rumah saya mempunyai empat kamar, satu kamar untuk tamu dan kamar saya di tengah, saya tinggal sendiri karena orang tua saya tinggal di Surabaya.

"Na, ini kamarmu ya" kata saya sambil menunjukkan sebuah kamar padanya di ujung depan.
"Trim's ya" jawabnya sambil masuk melihat-lihat kamar.
"Kutinggal dulu"
"Ya.." jawabnya sambil lalu.

Saya kemudian menuju kamar untuk mandi dan berganti baju, soalnya gerah sejak tadi. Sedang asyik-asyiknya saya memilih BH, tiba-tiba Ana masuk ke kamar.

"Eh.. Maaf ka, lagi pake baju ya?" katanya kaget melihatku masih memakai celana dalam berwarna merah dan belum mengenakan BH sama sekali.
"Oh Ana, masuk Na, nggak apa-apa kok" jawab saya sambil tersenyum melihatnya yang masih memandangi payudara saya yang termasuk besar dan montok.
"Wah, badanmu seksi juga ya?" ujarnya.
"Tentu saja, habis saya rajin senam sich"
"Oh ya, ada film bagus nich, nonton yuk" ajak Ana sambil menggandeng saya untuk menonton TV di ruang tengah.
"Bentar Na, kuganti baju dulu ya" jawabku sambil memakai BH dan kaos longgar serta celana pendek.
"Kutunggu ya.."
"Ya". Kemudian Levana sudah duduk di depan TV sambil makan camilan, sedang saya masih sibuk membereskan baju yang berserakan.

Malam itu Ana mengenakan daster kuning hingga kelihatan kulit lengannya yang putih mulus, kadang-kadang karena duduk kami yang mepet, Ana dengan tak sengaja menyenggol payudara saya hingga perasaan saya jadi bertambah aneh. Mungkin karena acara TV yang membosankan, saya jadi tak tertarik lagi, saya lebih tertarik memperhatikan Ana saja. Ternyata Ana yang memakai daster itu, sudah tidak memakai BH lagi hingga tonjolan payudaranya kelihatan mencuat ke atas, mungkin karena kami sama-sama perempuan, jadi Ana tidak malu-malu lagi, bahkan kadang-kadang kakinya dinaikkan ke meja hingga bawahan dasternya jadi tersingkap dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih.

Perasaan saya jadi lain hingga saya memutuskan untuk ke kamar dan berganti baju dengan daster tanpa memakai BH dan celana dalam juga, supaya bertambah nyaman kalau berdekatan dengan Levana. Sungguh Levana itu gadis yang cantik seperti artis mandarin. Saya kembali ke ruang tamu dan membawa kaset DVD untuk saya tonton bersama Ana, siapa tahu saja Levana tertarik dengan filmnya dan ingin mmh..

"Na, ganti ama DVD ya?"
"Film apaan tuch?"
"Ini, film romantis dari Jepang, pengin liat nggak?"
"Ya, bolehlah, abis acaranya nggak ada yang menarik sich"
"Okey, duduk dekat sini" pinta saya pada Ana untuk duduk di sofa agar nyaman menonton film itu.

Sebetulnya sich, itu film triple X dari jepang mengenai seorang gadis yang mencintai guru wanitanya lalu mereka bersetubuh dan bercinta dengan gaya yang romantis dengan berbagai macam gaya. Volume TV dan AC saya perbesar hingga Ana mendekat dan mepet dengan saya. Untung rumah sudah sepi karena pembantu sudah pulang semua dan lagi rumah saya besar, jadi volume suara TV yang besar itu tidak kedengaran lagi dari luar.

"Film BF ya?" tanya Ana tanpa menoleh pada saya.
"Tapi bagus lho, untuk pelajaran sex"
"Bagus, sich bagus, tapi saya jadi pengin nich" gumam Ana tak jelas karena napasnya yang makin berat dan diselingi suara orang bercinta dari TV yang makin kencang.
"Gimana kalau kupegang payudaramu" usulku.
"Hush, ngaco kamu Tika, kita ini sama-sama cewek tau" jawabnya sambil monyong, namun itu justru menambah gairah saya semakin tinggi.
"Daripada kamu megang sendiri, hayoo" jawab saya tak mau kalah sambil meraba payudaranya.
"Jangan, Tika.. Jangan.." teriaknya keras karena kaget payudaranya saya pegang. Namun teriakannya tak membuat saya jera, bahkan telinganya yang sensitif saya cium dengan lembut.
"Kurang ajar kamu, sst.." tolaknya lemah dengan mendesis.
"Mmh.."

Pergumulan saya dengan Ana berlangsung seru, hingga beberapa menit Levana masih memberontak, tetapi karena gairahnya sudah naik dan ditambah lagi dengan ciuman dan remasan saya pada daerah sensitifnya, akhirnya Ana menyerah juga. Bahkan dengan sigap membalas mencium bibir saya dengan ganas sambil meraba vagina saya yang sudah mulai basah sejak tadi.

"Sst.. Mmh.. Tunggu.." potong saya menghentikan ciuman dan serangannya Ana.
"Hahh, ada apa Ka?"
"Buka dastermu.." pinta saya untuknya agar membuka daster, sementara saya juga telah membuka dasterku sendiri hingga bugil.
"Wah, susumu besar juga ya?" kata Levana kagum melihat payudara saya yang sudah tegak, sambil juga melepaskan dasternya, bahkan celana dalamnya pun ikut dilepaskan juga hingga kami menjadi sama-sama bugil.

Dan kami pun kembali saling berciuman di sofa tanpa mempedulikan film jepang itu. Saya mengambil inisiatif untuk memulai mencium payudaranya.

"Sst.. Sst.."
"Mmh.. gantian.." rintih Ana karena tidak dapat menahan ciuman dan jilatan lidah saya pada payudaranya.

Maka saya pun berganti posisi dengan Ana yang menjilat payudara saya dengan semangat hingga vagina saya juga ikut dibelai, bahkan jari-jarinya yang lentik keluar masuk ke dalam lubang vagina saya dengan cepat hingga saya mengalami orgasme yang pertama.

"Mmh.. Enak.. Na, cepetan.. Sst.." rintih saya karena tak tahan lagi dengan permainan Ana yang begitu hebat, bahkan Ana sekarang menjilat vagina saya dengan liar hingga beberapa menit, saya semakin mendorong vagina saya ke arah mulutnya yang sedang menghisap bagian dalam.
"Sstss.. pinggirnya.. ssts.. Ya.. yang i.. tu.." rintih saya terpatah-patah.

Tiba-tiba Levana menghentikan permainannya..

"Ada apa Na?"
"Kita coba yang seperti di film, mau khan?" usulnya.
"Boleh saja.." jawab saya senang karena memang senang dengan gaya enam sembilan.

Gaya enam sembilan itu maksudnya saya yang berada di posisi atas menghadap Levana yang berada di posisi bawah dengan saling menjilat vagina masing-masing, bahkan saking enaknya hingga kepala saya terjepit oleh Levana yang rupanya juga telah mengalami orgasme yang pertama. Kami melakukan pergumulan itu di sofa hingga dua jam dan rupanya Levana pun puas atas permainan itu.

"Hahh, lega rasanya.."
"Gimana, enak nggak?"
"Enak juga ya"
"Mau lagi nggak?"
"Mau dong kalau caranya gitu" jawab Ana manja sambil mencium bibir saya gemas.

Malam itu saya dan Levana menghabiskan permainan yang seru itu di kamar, bahkan Ana tak henti-hentinya meremas payudara saya dengan gemas, kadang-kadang saya puaskan Levana dengan alat kelamin pria plastik, tentu saja alatnya yang bisa bergetar hingga itu menambah nikmat percintaan saya dengan Ana. Beberapa ronde kami lalui hingga pagi, juga di kamar mandi.

*****

Keesokannya, seperti biasa saya sudah bersiap ke kantor dengan Levana.

"Ayo Na, udah siap belum?"
"Udah boss, ayo" gandeng Ana mesra sambil mencium bibir saya lembut.
"Hush, nanti dilihat orang lho"
"Iya ya.."

Maka sejak itu, saya dan Levana sering bercinta di rumahnya atau rumah saya, bahkan pernah beberapa kali kami bercinta di dalam mobil. Pada saat hari libur, Levana mengajak saya dan beberapa temannya ikut berdarmawisata ke pulau Bali dan Lombok. Salah satu di antaranya bernama Fifiani yang orang Malang.

"Tika, kamu ikut tour besok nggak?" tanya Levana.
"Tentu dong, yang ke Bali dan Lombok khan?" jawabku.
"Iya dong, eh.. kenalin nich, teman saya" ujar Levana memperkenalkan temannya.
"Fifiani" katanya memperkenalkan diri.
"Kartika Sari" jawab saya sambil menjabat tangannya yang kuning langsat itu.
"Ayo Na, sampai besok ya" jawab Levana menggandeng Fifiani.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, saya dengan beberapa teman kantor jadi berwisata ke pulau Bali dan Lombok, juga ada Fifiani dan Levana. Dari obrolan kami, saya ketahui bahwa Fifiani itu umurnya baru 23 tahun, 172 cm/53 cm, dengan payudara 34C, orangnya cukup ramah dan sopan. Levana pernah bercerita pada saya bahwa Fifiani adalah seorang lesbian sejati, sudah pernah beberapa kali pacaran, namun kandas di jalan hingga hatinya hancur lebur.

"Ana, sini bentar Na" panggil saya pada Ana.
"Ada apa Tik"
"Tukeran duduk ya, Fifiani di sini dan tas ini di tempatmu, gimana?" usulku.
"Enak saja, kapan lagi kesempatan gini datang"
"Please dong, khan kamu udah lama kenal ama Fifiani"
"Iya dech, cuman aku boleh liat dong di sebelah.." canda Ana sambil mencolek payudara saya dengan gemas.

Akhirnya dalam bis itu, saya yang mulanya duduk di belakang dengan tas besar entah siapa yang punya, dapat kesempatan duduk dengan Fifiani yang cantik. Levana tak ketinggalan duduk di sebelah dengan tas besar yang sudah saya pindahkan. Fifiani dalam perjalanan itu memakai rok jins hitam dengan kaos merah mudanya, sungguh serasi dengan bentuk tubuhnya yang proporsional.

Penjelajahan Sensualitas 01

Fani menghempaskan pantatnya di sofa lalu duduk bersila sambil menenggak air putih dari gelasnya. "Udah selesai belum?" tanyanya pada Ema yang duduk di lantai mengerjakan soal-soal latihan matematika di meja ruang tamu rumah Fani. "Dikit lagi kok," jawab Ema tanpa mengangkat wajah dari buku-buku di depannya.

Fani mengamati wajah Ema yang serius menyelesaikan tugasnya. Walaupun berambut pendek cepak seperti lelaki, namun Ema tetap tak bisa menyembunyikan kecantikan wajahnya, yang ditunjang oleh tubuhnya yang langsing dengan sepasang buah dada yang cukup besar, berkembang lebih cepat daripada para gadis kelas 1 SMP sebayanya. Fani memang punya alasan tersendiri bersedia mengajari Ema matematika di rumahnya menjelang ulangan umum ini. Walaupun menjadi incaran banyak cowok di sekolahnya, tak satu pun mendapat sambutan dari Fani. Pasalnya gadis cantik berambut panjang yang baru saja berkembang remaja dan mulai mempunyai hasrat seksual ini ternyata tak tertarik kepada lawan jenis, ia lebih menyukai berdekatan dan bersentuhan dengan sesama gadis. Saat Ema, adik kelas yang memang sudah lama ia sukai ini meminta Fani yang memang terkenal paling pintar di antara murid-murid kelas 2 untuk mengajarinya matematika, Fani tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

"Udah nih!" tukas Ema mendadak, menyentakkan Fani dari lamunannya. Fani menatap Ema yang mengacungkan buku di depannya sambil tersenyum, lesung pipitnya tercetak begitu dalam di pipinya yang putih mulus itu, membuat wajahnya menjadi semakin menggemaskan. Sambil menyambar buku itu, Fani membuang jauh-jauh pikirannya yang melayang ke mana-mana, "Sini gue periksa!" tukasnya.

Hampir selesai Fani memeriksa pekerjaan "muridnya" ini ketika mendadak ibunya muncul di ruang tamu menjelaskan bahwa ia akan menyusul ayah Fani ke kantor sambil membawa adik Fani yang masih kecil, lalu dari sana langsung pergi ke Sukabumi karena ada saudara mereka yang sakit keras. Fani diminta menjaga rumah baik-baik bersama Iroh, sang pembantu rumah tangga. Telah terdidik mandiri sejak kecil, Fani tak merasa berat dengan keadaan ini. Tak lama, ibu dan adiknya pergi naik taksi dan Fani pun menyelesaikan memeriksa latihan Ema.

"Lumayan, cuma satu yang salah. Lu cepet ngerti juga ya, Em?" kata Fani.
Ema tersenyum malu-malu mendengar pujian ini, lalu pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang malam.
"Eh, jangan dulu dong! Emang yang salah ini nggak mau dikoreksi dulu? Sekalian deh gue jelasin kesalahannya, biar lu ngerti," kata Fani.
"Tapi entar gue pulang kemaleman, Fan," jawab Ema bingung.
"Gini aja. Lu telepon aja nyokap lu. Bilang lu nginep di sini malem ini. Sekalian nemenin gue," balas Fani.
Walaupun nada bicaranya biasa saja, dalam hati Fani sangat berharap Ema menyambut usulnya ini.
"Kalo dikasih, ye?" jawab Ema membuat Fani girang.

Ema yang mengagumi kakak kelasnya yang cantik dan pintar ini sebenarnya memang senang diajak menginap. Maka ia pun menelepon ke rumahnya dan ternyata diizinkan untuk menginap. Dengan gembira, Fani merangkul leher Ema, dan mengajaknya ke meja makan untuk makan malam. Lengannya jatuh dengan santai di dada Ema selagi mereka berjalan. Walau tampak santai, sebenarnya Fani sangat berdebar-debar merasakan buah dada lembut adik kelasnya ini bergesek-gesek dengan tangannya. Tapi apa lacur, jarak tak jauh membuat Fani terpaksa melepas rangkulannya. Selesai makan, mereka pun melanjutkan pelajaran dengan serius, hingga Fani pun melupakan sensasi gairah singkat yang sempat ia rasakan.

"Udeh dulu ye, Fan?" pinta Ema setelah sekitar 1,5 jam belajar, "Otak gue udeh butek nih!" lanjutnya setengah memohon. "Iya deh. Gue juga udah capek," jawab Fani, "Yuk ah!" katanya sambil berdiri membereskan buku-buku di meja makan. Mereka beranjak ke kamar Fani dan Ema langsung menghenyakkan tubuhnya di ranjang sementara Fani sendiri duduk di kursi meja belajarnya. Mereka mengobrol tak tentu arah beberapa saat ketika akhirnya arah obrolan entah kenapa mulai menyinggung ke arah yang sensitif.

"Ooh, jadi lu udah mens?" kata Fani, lalu dilanjutkan, "Jadi udah doyan cowok dong?"
"Tapi gue masih males cari pacar. Cowok-cowok pada kasar sih! Nggak demen gue!" balas Ema.
Fani yang merasa mendapat angin langsung mengarahkan pembicaraan.
"Lha, gue kirain toket lu gede karena sering dipegang-pegang ama pacar lu."
"Enggak lagi. Ini emang dari sononya begini," jawab Ema sambil menatap buah dadanya, "Kayaknya sih emang keturunan, keluarga gue yang cewek toketnya emang gede-gede."

Fani yang mulai berdebar-debar dengan arah pembicaraan ini merasa mendapat jalan dan terus menekan. Ia membuka kaosnya, menampilkan mini set menutupi buah dadanya yang kecil, walaupun tampak mulai tumbuh. "Kayaknya toket gue nggak gede-gede deh," ujarnya sambil meloloskan mini set dari dadanya, menampilkan putingnya yang berwarna coklat muda, "Gue pengen segede punya lu, Em." Ema terhenyak melihat kakak kelasnya dengan santai bertelanjang dada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah melihat wanita telanjang, bahkan ibunya sendiri.Fani melanjutkan serangannya.
"Coba deh lihat toket lu."
Ema semakin terbelalak.
"Ah, malu ah gue!"
"Idih, ngapain malu lagi! Kan nggak ada cowok," tukas Fani, "Ayo buka aja."

Agak bingung namun bangga dengan perhatian sang kakak kelas, Ema pun akhirnya meloloskan kaos dari tubuhnya, menampilkan BH putih yang menyembunyikan buah dadanya. Fani beranjak ke ranjang dan duduk di belakang Ema, langsung meraih dan melepaskan kait BH Ema. Wajah Ema bersemu merah, apalagi saat Fani melepas BH-nya lalu menarik lengannya, membalikkan badannya hingga kini mereka duduk berhadapan di ranjang, sama-sama bertelanjang dada. Ema tertunduk sementara Fani merasakan darahnya berdesir menyaksikan pemandangan indah sepasang buah dada berukuran 32 di hadapannya ini. Fani menelan ludah berusaha mengendalikan pengalaman seksual pertamanya ini. Ia melihat wajah Ema yang menghindari kontak mata dengannya.
"Em, lu kok malu sih? Toket lu bagus lagi."
Ema melirik Fani, "Segini sih kecil, Fan. Kakak gue pake BH nomor 36B."
"Ya dia kan udah kuliah," tukas Fani, "Untuk usia lu, toket lu tuh udah gede."
Wajah Ema semakin memerah dengan perasaan malu bercampur bangga akan pujian kakak kelasnya yang cantik ini. Sementara di lain pihak, Fani sendiri semakin berdebar-debar dan memberanikan diri melanjutkan eksperimen seksualnya. "Gue pegang, ya?" pinta Fani sambil menatap Ema. Gadis manis berambut cepak ini ternyata masih belum berani menatap Fani dan tak memberi jawaban apa-apa. Fani menganggap Ema tak menolak dan segera meraih dada adik kelasnya ini. Ema menggigit bibir.

"Hi hi hi hi hi.." Ema terkikik saat Fani mengelus-elus buah dadanya dengan jantung berdebar-debar, "Geli, Fan!" lanjut Ema lagi. "Gue mau ngerasain juga dong!" tukas Fani sambil meraih tangan Ema dan menuntunnya ke arah dadanya. Ema kembali menggigit bibir, namun tak memberikan perlawanan. Tangannya menyentuh puting Fani dan ia pun menggerakkan tangannya berputar-putar meraba buah dada Fani. Ema terpesona saat ia melirik wajah kakak kelasnya ini dan tampak Fani memejamkan mata sambil menggigit bibir. Tampak sekali bahwa Fani sangat menikmati sentuhannya. "Enak ya, Fan?" tanya Ema setengah bingung, Fani hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mata, "Coba lu raba gue lagi dong," pinta Ema penasaran. Kedua gadis itu pun saling meraba buah dada masing-masing beberapa saat. Tampak Fani sangat menikmati sensasi seksual pertamanya ini. Kulit telanjang mereka sama-sama tampak merinding.

Fani melepaskan tangannya dari dada Ema, lalu menghela napas panjang, menikmati dengan sepenuh hati rangsangan gairah pertamanya ini, sementara Ema kembali terkikik geli. Fani bangkit dan menarik lengan Ema agar mengikutinya berdiri. "Lu mau tahu nggak rasanya kalo pacaran ama cowok?" tanya Fani yang membuat Ema bingung tak mengerti. Fani melanjutkan, "Gue juga belom pernah. Kita cobain yuk?!" Ema semakin tak paham maksud Fani, namun diam saja saat Fani membungkukkan badannya dan langsung mengulum puting Ema dengan lembut. Ema tersentak dan sontak mundur sambil mendorong kepala Fani, "Gila lu, Fan! Geli lagi! Lihat tuh gue sampe merinding!" tukas Ema menunjukkan seluruh kulit tubuhnya yang memang berbintik-bintik merinding. Tetap dalam posisi membungkuk, Fani melirik sang adik kelas sambil berkata, "Namanya juga baru nyobain. Lu rasain aja dulu. Kata orang-orang enak."

Fani merengkuh pinggang Ema dan menariknya mendekat, sementara Ema yang kebingungan dengan pengalaman pertama yang baginya sangat aneh ini tak kuasa melawan. Dengan jantung berdebar penuh perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Fani kembali menempelkan bibir mungilnya yang basah itu pada puting Ema dan dengan lembut memasukkan puting berwarna gelap itu ke dalam mulutnya. Ia mengulum puting Ema dengan lembut sementara Ema menggigit bibir menahan rasa geli hebat yang kembali membuat seluruh tubuhnya merinding. Tak lama hingga Ema merasakan rasa geli berubah menjadi perasaan berdesir yang tak ia pahami dan tak bisa ia jelaskan. Setiap hisapan Fani memberikan semacam perasaan tersetrum ringan yang nikmat dan lenguhan kecil terlepas dari bibirnya tanpa terkendali, "Uhh.."

Terkesiap mendengar ini, Fani menghentikan hisapannya dan bangkit menatap Ema, "Enak ya, Em?" tanyanya dengan polos dan tulus. Ema tak bisa menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. "Terus terang, gue juga suka banget ngisepin pentil lu," lanjut Fani lagi, "Gue nggak bisa jelasin perasaan gue, tapi pokoknya enak banget deh, terangsang banget." Ema kembali hanya mengangguk tanpa bisa bicara. Kini Fani menarik lengan Ema dan mendudukkannya di pinggir ranjang, sementara ia sendiri berlutut di lantai, "Gue terusin ya?" katanya lembut.

Temanku, Kekasihku, Saudaraku

Perkenalkan namaku Maya aku punya teman bernama Jenny. Kami sudah berteman sejak SMA kalau dihitung2 sekarang sekitar 15 tahun. Dan kami selalu terbuka dalam segala hal. Persahabatan kami boleh dibilang sangat dekat bahkan kami sudah begitu akrab dengan saudara dan orang tua masing2 sudah seperti saudara selayaknya. Begitupun dengan kedua orang tua kami dan saudara2 kami sangat akrab satu sama lain.

Setelah kami lulus kami tinggal di kota yang berbeda. Dia melanjutkan kuliah sedangkan aku lebih memilih bekerja secara langsung karena kemampuan ekonomi keluarga yang tidak mendukung.

Tapi pekerjaan aku banyak berurusan ke kota tempat tinggal dia sehingga kami kerap ketemu walaupun hanya untuk makan siang dan sekali2 aku menginap di kostnya karena letih menempuh perjalan yang agak jauh dengan sepeda motor ataupun hanya untuk sekedar tidur2 an melapas lelah. Dia sampai memberikan aku kunci cadangan kalau2 dia tidak ada di tempat dan aku mau kesana.

Kerap kalau aku gajian aku membeli sesuatu untuk dia sekedar hadiah atau kadang kami makan ketempat yang agak lumayanlah untuk ukuran anak kost.

Suatu hari ketika aku ke tempat dia aku lihat dia sedang tiduran, berselimut.

"Lho jam segini kok tiduran? Kamu sakit ya?" sambil aku raba keningnya agak panas.

"Kamu sudah makan belum?" Tanya aku lagi

"Ga kepingin masih mual2?

"Kok mual kamu ngidam toh? He..he" aku candain dia sambil aku raba badannya basah semua.

"Baju kamu basah. Ganti dulu gih" sambil aku ambilin baju di almari dia.

Ini pertama kali aku liat dia telanjang di depan aku walaupun kami sudah temanan cukup lama. Memang badannya putih mulus beda sama aku yang kulitnya asia banget. (Kata orang kopi lebih mahal dari gula …tapi ga nyombong bule banyak yang suka boo sering muji katanya badanku seksi dengan payudara yang bisa dibilang lumayan lah…)

Habis itu dia tiduran lagi dan aku selimutin dia.

"Aku keluar dulu beli bubur ayam ya? Kamu minta apa lagi?" dia Cuma senyum dan menggeleng sambil bilang "Hati-hati !!".

aku suapin dia sambil memberikan minum teh hangat. Baru aku makan.

"Kamu hari ini jangan pulang ya, tidur disini saja!" pintanya.

"Ya liat kamu begini ga mungkinlah aku pulang. Tapi aku pinjam baju kamu biar ini besok bisa dipake kerja lagi".

Malam ini tidak seperti biasanya aku tidur disini, aku berbaring di sebelah dia sambil membaca buku dan dia tertidur lebih awal. Biasanya kami ngobrol sampe larut.

Tiba-tiba aku liat dia agak gelisah tidurnya dengan keringat mengalir di kening. Tanpa tersadar aku elus2 kepala dia untuk menenangkan. Dan dia terbangun.

"Kamu kok tidurnya gelisah banget ada apa?" sambil aku ambil tissue dan mengelap keringat dia. Dia hanya memandang aku sebentar kemudian melanjutkan tidurnya. Dan akupun ikut berbaring di sebelahnya. Dan tanganku masing mengelus elus rambutnya.

Aku tidak tau ada suatu perasaan aneh yang blm pernah aku rasakan walaupun kami sudah dekat begitu lama. Tiba2 dia terbangun lagi. Dan secara spontan dia meletakkan kepalanya di dada aku.

Dengan sedikit bingung aku Tanya lagi "Kamu ada apa kok tidurnya begini?"

"Ya pingin aja, biar lebih tenangan kamu ga suka ya"

Aku cuman tersenyum sambil tangan aku yang satunya pegang tangan dia dan yang satunya tetap mengelus2 rambut dia.

Tanpa sadar aku kecup kening dia. Mungkin terbawa suasana. Dia hanya melihat dan tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku lihat.

Tiba-tiba dia bilang "Aku sayang banget sama kamu. Kamu gimana?"

Deg….aku agak kaget dan aku jawab "Ya sayang lah".

Tangannya sedikit bergerak mengelus2 payudara aku, aku jadi agak terangsang karena tidak pakai bra. Tapi aku biarkan saja. Lama-lama nafasku agak cepat dan diapun begitu. Lalu aku turun dan mengecup bibirnya.

Tidak aku sangka dia membalas. Kami berpagutan lama sekali saling mempermainkan lidah kami berdua.

Dengan secepat kilat aku ubah posisi agar dia di bawah aku bergerak menciumi lehernya dia terus mendesah. Ssshhhhhhhhh……tanganku yang kiri bergrilya menuju payudaranya untuk meremas-remas sedangkan yang kanan tetap mengelus rambutnya. Lalu aku naik, aku gigit2 kecil kupingnya ku kecup dan kupermainkan lidah disana dia semakin menggelora ougghhhhh….sambil tanganku tetap memilin putingnya. Kecupanku pindah lagi ke lehernya dan kemudian satu persatu aku lepas pakainnya dan juga pakaiannku.

Aku turun lagi menuju ke payudaranya yang kanan sambil aku cium-cium aku tarik2 putingnya dan tanganku yang kiri memilin putingnya sambil sesekali meremas.

Dia mendesah ooouuughhhhhh sayang…..aku suka ini terus…oughhhh aku sayang kamu

Mendengar kata-kata itu aku menjadi lebih bernafsu. Aku ciumi payudaranya bergantian, aku kulum, aku tarik2 seperti bayi netek tangan yang satunya tetap meremas dan dia tambah mengigau kepalakupun makin di tekan ke teteknya. Terusin sayang oughhhhh…..ooooughhhhh shhhhhh…….

Akhirnya tanganku yang kiri aku turunkan dan menjalar ke bawah bermain2 di permukaan V nya. Dia semakin menggelinjang dan aku semakin bernafsu melihat rona mukanya akupun semakin liar menghisap, menarik, meremas dan kadang mempermainkan lidahku di putingnya sambil tanganku yang dibawah meraba area V nya. Ouugghhhhhh sayang……ooughhhh aku ga tahan dan tiba2 dia mendapatkan orgasmenya yang pertama.

Kemudian sasaranku turun. Aku ciumi dari perutrnya kemudian aku permainkan lidah di pusarnya, dia sedikit kegelian sambil tanganku yang satu tetap meremas tetenya.

Aku semakin ke bawah dan sampilah di selangkangannya. Aku ciumin pahanya kiri kanan, terus makin ke bawah ke daerah V nya aku permainkan dengan lidah dia semakin menggeliat, memohon, dan pandangan matanya membuat aku semakin bernafsu melihat dia begitu memohon.

Oooughhhhh sayang masukin jari kamu plssss aku pingin……

Aku masih mempermainkan lidah di sekeliling V nya dan tanganku yang satu mempermainkan tetenya meremas, menarik putingnya kadang aku pilin2. tangan yang satu tetap bermain di permukaan V nya.

Oughhhh sayang….masukin jari kamu dong plsssss!!!

Aku suka sekali melihat dia memohon dan akhirnya aku tidak tega. Aku masukin 2 jari sambil aku permainkan lidah aku di klentitnya. Aku tusuk2 permukaannya pakai lidah sedangkan tanganku bermain di area dalam. Keluar masuk seirama dengan lidah aku.

Dia mengerang, menjerit pantatnya sesekali mengangkat dan kadang bergoyang dengan liarnya.

Kepala aku ditekan dengan ganasnya sampai aku sulit bernafas. Aku gerakkan kepalaku naik turun sambil menusukkan lidah aku di area Vnya dan mengocoknya dengan jari.

Oughhhhhh…aaaaggghhhh sayang jarinya jangan dilepasin, kocok aku pls…aku suka ini….akkkhhhhhh

Pantanya semakin liar naik turun kadang memutar dan tangannya kadang menjambak kadang menekan kepala.

Tiba tiba dia aughhhh sayang…badannya bergetar dan dia orgasme dia menyiram aku dengan cairan kepuasannya.

Ini tidak aku hentikan sekarang aku isap kuat2 semua cairannya dan aku tarik2 kelentitnya. Dia meronta, kadang2 kepalanya mengangkat melihat aksi yang aku lakukan dan tanganya tetap menekan2 kepalaku seolah2 tidak mau dilepaskan.

"Oughhh sayang ini milik kamu semua" dan jariku tetap di dalam bermain2 dan kadang dia menjepit dengan kuatnya. Aku permainkan lagi lidah aku. Aku tusuk dengan sekuatnya bersamaan dengan jari dia merontah oooughhhhh…..

Berikutnya aku meminta dia menungging…

"Sayang kamu nungging ya????"

Dan dia pun menungging dalam keadaan dia begitu aku isap seluruh daerah Vnya dari belakang dan aku sedot cairan kepuasan yang masih tersisa. Kemudian aku permainkan lidah aku dari belakang. Dia menggelinjang dan berteriak oughhhhh sayang….

Kemudian aku masukkan lagi 2 jari dari belakang sambil terus aku ciumi dia jariku dengan kuat menyodoknya dari belakang dia semakin liar pinggulnya, badannya semua bergerak, dan tangaku yang satunya mempermainkan teteknya.

Dia mengigau menjepit sayang….kocok yang dalam ouughhh aku suka

akupun memenuhi keinginannya sambil lidah tetap bermain2 dari belakang. Tiba2 dia meremas bantal dan dia menempelkan wajahnya di bantal dia berusaha menjerit aaaauuugggggggghhhhhhhh……saaaa aa…..yyyaaaangggg aaaaggghhhhhh cairannya keluar banyak sekali sampai meleleh di tanganku. Akhirnya aku masukkan lagi kepala aku keselangkangannya.

Kemudian kami sama2 berbaring kelelahan. Dia tersenyum dan aku cium keningnya.

Kamu suka? Aku Tanya dia. "Iya..tks sayang" dan dia mengecup bibir aku

Akhirnya kamipun tertidur sambil berpelukan.

Besoknya aku bangun pagi2 sekali setelah membersihkan badan aku langsung keluar mencari sarapan untuk kami berdua dan sambil membeli obat penurun panas.

Kami sarapan bersama dan sebelum aku berangkat kerja aku cium keningnya tapi ternyata dia lebih ganas dengan mencium bibirku. Trus dia memberikan senyum "Tks untuk yang semalam". Akupun tersenyum sambil menyuruhnya meminum obat.

Hubungan kami berlanjut begitu lama dan bersukur tanpa pernah ada masalah. Aku kasi dia kebebasan untuk bergaul dan dia juga begitu kami sangat menghargai dan menikmati hubungan ini dan kami tetap keept agar jangan sampai orang lain tahu. Aku menjadi lebih sering tinggal di kostnya secara tidak langsung pekerjaan aku yang bertambah banyak jadi aku pulang kadang 2 atau tiga hari sekali.

Hampir setiap malam kami berekspresi mewujudkan kasih sayang kami.

Pernah suatu hari aku ambil cuti 2 hari yang bertepatan dengan libur dia kuliah. Kami pergi ke tempat yang kami sudah idam2kan sejak SMA karena keindahannya. Kami menyawa hotel.

Aku berendam di kamar mandi tiba-tiba dia datang. Dia menyabuni seluruh badan aku dan yang paling lama dia menyabuni tetekku. Kadang ditekan, kadang di remas membuat aku tidak tahan. Aku tarik dia ke bathtub, kami berciuman sangat lama kemudian aku raba kebawah, dia mulai mendesah…ssshhhhh oughhhh

Aku permainkan permukaan V nya sebelum aku masukkan 2 jari sambil bibir kami tetap berpagutan dan tetek kami beradu membuat sensasi yang berbeda.

Kemudian dia menjerit dan dia orgasme.

Aku begitu bahagia bila melihat dia puas.

Dan kamipun melanjutkan mandi.

Malamnya kami bertempur agak sedikit gila dengan inspirasi yang baru.

Aku senderkan dia ke tembok, aku mencium dia dengan agak ganas karena permintaan dia mau sedikit liar malam ini.

Aku mencium bibirnya, lehernya, kupingnya sambil tete kami tetap beradu dan saling menekan.

Kemudian aku angkat satu kakinya aku masukkan jari kesana aku permainkan maju mundur ternyata rasanya lebih menekan dia menjerit, dan menarik kepala aku sambil mencium dengan lebih ganas

Terkadang dia melepaskan pagutan kami hanya untuk mendesah aooughhhh…oooughhh….

Lalu aku dorong dia ke pinggir tempat tidur sambil kakinya tetap menggelantung

Aku buka pahanya lebar-lebar. Aku masukkan 2 jari kanan ke Vnya dan 1 jari telunjuk ke anusnya sambil aku tusuk dengan lidah area V nya

Dia kaget dan menjerit, tapi aku diamkan jariku sebentar untuk membuat dia rileks sambil terus kucium V nya akhirnya aku gerakkan kedua jariku pelan2

Dia mulai merontah tidak karuan, mendesah oooughhh sayanggg pantatnya naik turun makin lama kocokanku makin cepat bibirku tidak berhenti melumat V nyadia berteriak, mengerang, menekan kepalaku ssshhhhh ouuggghhhh sayang jangan tinggalin aku…oouughhhh

Akhirnya sampai pada suatu titik dia tutup wajahnya dengan bantal dia gigit dan berteriak sambil pantatnya bergoyang naik turun tidak teratur.

Dia orgasme..orgasme paling dalam karena mendapakan serangan dari dua arah.

Aku cium keningnya. Sambil tersenyum. "Kamu suka?" aku Tanya

Dia langsung memeluk aku sambil bilang "I LOVE U"

"I LOVE U TOO ….." sambil aku peluk dia

Setelah dia lulus kuliah dia mendapat pekerjaan di hotel dan aku kebetulan mendapat tugas belajar 1thn keluar daerah. Jadi kami agak jarang bertemu tapi kami tetap melakukan komunikasi via telp. Kadang kalau sama2 pingin kami melakukan Phone Sex dan herannya kami bisa sama2 puas.

Sampai pada suatu saat dia mengatakan bahwa dia mencintai seseorang. Pertama ada rasa takut kehilangan.. sedih…sampai aku tutup telpnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia telpon berkali2 aku tidak mau menjawab. Fikiranku tidak karuan. Ada rasa marah

Lama aku berfikir tentang hal ini. Aku mencintai dia bukan berati bisa memiliki dalam keadaan begini. Dia berhak memiliki masa depan yang lebih baik dan aku harus support itu.

Kemudian aku telpon dia dan menjelaskan semuanya. Dia sangat bahagia.

Dan aku berjanji kalau pulang nanti mau bertemu mereka berdua.

Saat bertemu ada sedikit rasa cemburu tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan itu. Kami hanya bercanda sambil menikmati makan malam.

3 thn mereka pacaran akhirnya mereka menikah juga. Aku sangat bahagia bahkan aku turut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka. Dan sebagai hadiah aku memberikan mereka voucer hotel utk bulan madu.

6 bln setelah pernikahan mereka suaminya berangkat ke negaranya dia orang binis jadi kadang 2 bulan disini 3 bln di negaranya. Lama2 dia goyah juga menghadapi situasi begini.

Dia sering curhat, sampai masalah sedetilnya.

Suatu hari dia menelpon aku saat itu aku libur. Dia bilang mau curhat dan akupun datang ke tempatnya.

Dia menceritakan permasalahannya melihat mukanya sangat sedih aku reflek memeluknya dan mencium keningnya.

Lama sekali aku memeluknya dan aku merasa sangat rindu memperlakukan dia begini. Hanya ingin memeluknya dan mengecup keningnya.

Dia melarang aku pulang malam itu, katanya sudah kangen tidak pernah tidur bareng. Dan akupun memenuhi permintaannya.

Malamnya kami nonton TV berdua dan dia duduk di sampingku. Tiba2 dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Aku elus2kepalanya rasanya agak canggung tapi aku rindu. Dan dia membimbing tanganku ke teteknya. Dia bilang "Aku kangen seperti dulu"

Tanpa aku sadari aku meremas, aku mencium kupingnya aku lumat kemudian aku kebibirnya lidah akmi beradu dengan ganasnya dan tanganku beralih keperutnya aku elus2

Dia mendesah dan kamipun membuka pakaian aku tatap dia lama aku cium keningnya kemudian matanya bibirnya dan terus sampai dia bilang ouughhhhhhh

Aku permainkan tanganku di bawah kemudian akupun turun menuju ke area V nya

Aku permainkan disana sangat lama aku pagut, aku hisap aku tusukkan lidahku, dan jariku bermain2 di permukaan. Dia merintih…memohon …puasin aku plsss kayak dulu…

Aku naik lagi aku ciumin tetenya, aku remas dengan ganasnya, aku cium, aku tarik, aku sedot dan dia tetap merintih…memohon

Aku turn kembali ke Vnya yang sudah basah aku masukkan 2 jari dan dia mendengus oooughhhhhh……kemudian aku masukkan lidah aku bersamaan dengan jari aku permainkan aku kocok, sambil tangan yang satunya meremas tetenya. Aku kocok makin keras ..makin cepat dan dia semakin liar pantatnya naik turun tanganya menekan aku sodok dia semakin keras. Sampai akhirnya dia menjerit panjang. Sayaaaaaangggg akkkkkk …..u dappp…pat aoughhhh

Aku tidak berhenti, aku mau bikin dia benar2 puas. Bibirku tetap di Vnya tanganku tetap mengocok dan telunjuk kiriku ikut masuk ke anusnya, dia kaget ouuughhhhhhh sayanggggggg…..aku diamkan sesaat sambil tetap mencium Vnya

Kemudian aku kocok bersamaan anus,v dan lidah aku, aku lihat dia makin menggelepar dia menikmati sekali dan aku suka itu.

Matanya memandang sayu terkadang kepalanya diangkat ouughhh terusin…terusin…

Kemudian diapun menjerit dan mengeluarkan cairan yang menyemprot mukaku.

Lama tidak merasakan ini dan kamipun berpelukan.

Saat suaminya datang tidak ada rasa cemburu sedikitpun dihati ini. Aku ikut senang. Terkadang kami jalan bertiga bahkan akhirnya suaminya menjadi salah satu costumer bisnis aku.

Hubungan kami makin erat, dan kami tetap mencintai tetapi cinta yang lain.

Sampai kemudian dia memutuskan untuk ikut suaminya.

Itulah akhir dari cerita aku. Walaupun sudah lama berlalu tetapi aku tetap keep dia di hati as my best friend, as my sister, as my lovely u are the best for me.

Aku senang kamu bahagia.

Dan semoga aku segera menemukan kebahagiaan aku juga.

Love n peace

Kembang Liar Dari Madiun - 4

Makan siang di Pulau Bidadari terasa sangat nikmat. Juru masak menyajikan ikan kerapu bakar dengan sambalnya yang sangat sedap, 2 buah lobster besar yang dikukus dan diberi saus tiram dengan tomat dan lada hitam, salad mangga campur udang kukus. Kulihat putra-putri Mbak Ambar sangat kelaparan sepulang berselancar tadi. Kami makan enak secukupnya. Aku sendiri tidak makan terlampau banyak, pikiranku ke sedapnya nonok Mbak Ambar tadi membuat makanku tidak begitu berselera. Sementara Anneke yang memang dasarnya gembul, senang aku makan sedikit, dia habiskan ikan bakar dan bersihkan kepala lobster yang masih sarat berdaging itu Saat dia menjilati tempurung lobster yang kemerahan oleh bumbu tomat itu aku bayangkan bagaimana sedapnya dia menjilati celah bokong Mbak Ambar tadi. Aku menelan ludahku.

Beberapa saat sesudah selesai makan aku lihat Mbak Ambar ngomong-omong dengan manager pulau dan anak buahnya. Mereka akan ke pulau Edam untuk mengambil bubu ikan yang secara rutin setiap minggu diambil hasil tangkapannya. Anak-anaknya kepingin ikut untuk snorkeling di sana. Mbak Ambar tidak kuatir dengan anak-anaknya yang sudah sangat paham tentang hal-hal yang berkaitan dengan laut. Mereka tahu apa yang boleh dan tidak boleh selama melakukan skin divingnya. Anak-anak yang juga akan didampingi kembali oleh petugas yang memang khusus melayani tamu-tamu pulau untuk snorkelling atau skin diving di sekitar Kepulauan Seribu ini. Tentu saja Mbak Ambar memerlukan kepastian menyangkut keselamatan dan keamanan anak-anaknya. Dan itu berarti dia bisa leluasa untuk bercumbu dengan aku dan Anneke tanpa harus khawatir tentang anak-anaknya.

Kini sambil menyaksikan persiapan dan menunggu keberangkatan mereka kami bertiga duduk di pasir putih di bawah pohon ketapang yang teduh. Kami benar-benar dirundung dendam birahi sejak percumbuan ber-tiga yang terhenti di benteng tua VOC tadi. Setiap kali mata-mata kami saling menatap penuh rindu dan khayal untuk selekasnya bisa saling menyentuh kembali. Kami telah memadu janji bahwa sepanjang waktu di Pulau Bidadari ini merupakan waktu-waktu cinta segi 3 kami yang tak akan terpisahkan.

Tiba-tiba kami tergiring untuk melakukan aktifitas seksual secara terbatas dalam bentuk saling berpandang mata, saling menyentuh dan saling membisikkan kata-kata cinta dalam bahasa erotis penuh nyala birahi. Orang-orang yang bercinta lewat phone sex atau chatting atau mailing, adalah orang-orang yang memiliki kreatifitas dan daya imaginasi tinggi untuk melakukan eksplorasi birahi hanya berdasarkan suara atau tulisan partnernya. Adapun yang kami lakukan kini memiliki kondisi dan sarana yang jauh lebih lengkap. Kami bisa saling memandang berdekatan, saling menyentuh halus dan saling menunjukkan ekspresi wajah dalam menyatakan ungkapan cinta kami tanpa mengundang kecurigaan orang-orang lain di sekitar kami. Dengan mengeksploitasi daya kreatifitas dan imajinasi seksual, kami langsung terhanyut dalam cinta pandangan mata, sentuhan dan ungkapan kata-kata penuh nafsu birahi. Tamparan-tamparan erotis langsung melanda perasaan kami. Derita dan siksa nikmat langsung merampas degup jantung dan nafas-nafas kami.

Begitulah yang terjadi saat Mbak Ambar menyibak rambut Anneke, meniup telinganya dan berbisik, maukah Anneke dengan tetap memakai celana dalamnya menduduki wajahnya? Kemudian bolehkah dia menghirupi aroma, mencium dan melumati celana dalmnya hingga kuyup oleh ludahnya? Anneke sesaat memandang Mbak Ambar kemudian menengok ke aku kemudian meremas tangan Mbak Ambar dan menjawab dalam bisikkan pula. Anneke akan memenuhi permintaan Mbak Ambar apabila aku bersedia melepasi celana dalamnya yang kuyup oleh ludah Mbak Ambar untuk kemudian mengisep-isep basahnya.

Hatiku yang tergetar mendengar seronok Anneke ganti bertanya dalam serak tenggorokanku, maukah Mbak Ambar membuang hajatnya di depanku dan Anneke, kemudian memberikan pantatnya kepadaku untuk kuceboki dengan lidahku. Kutambahkan pula agar Anneke terlebih dahulu meludahi lubang pantat dan bukit bokong Mbak Ambar sebelum aku mulai menjilatinya?

Mendengar suara serakku Anneke langsung cerah wajahnya, dia sangat terangsang dengan ungkapan-ungkapan erotis cinta ala hewaniah yang keluar dari mulutku. Dan kini hak Anneke untuk bicara, bahwa dia mau melakukan apa yang aku minta apabila aku bersedia mengencingi mulutnya. Dia sangat kehausan dan ingin minum langsung dari pancuran kencingku.

Mendengar ucapan Anneke aku menggelinjang, aku merasakan nonokku membasah. Aku melihat Mbak Ambar juga sangat gelisah. Dia menyambung bahwa dia akan membuang hajatnya di depanku dan Anneke asal tangan-tangan lentikku mau meremasi kotorannya dan membersihkan serpihan yang menempel di jari-jariku dengan lumatan mulutku seperti seseorang yang sehabis makan membersihkan makanan yang tertinggal di jari-jarinya. Anneke kembali menyambung bahwa dia juga ingin meremasi kotoranku kemudian mengusapi tubuhnya dengan tangannya yang penuh serpihan kotoran tersebut.

Dengan matanya yang dirasuki nyala birahi, Mbak Ambar kembali berbisik, maukah aku jadi budaknya? Dan menjadikan wajahku sebagai alas kakinya? Bersediakah aku setiap pagi menunggu Mbak Ambar melepas hajat paginya kemudian memandikan dia dengan lidahku dengan cara menjilati lehernya, ketiaknya, selangkangannya dan seterusnya hingga seluruh celah tubuhnya bersih oleh lidahku?

Ah, benar kata para ahli cinta. Apabila seseorang sedang jatuh cinta, maka apapun yang keluar dari tubuh orang yang dicintainya akan nikmat rasanya. Dan walaupun masih sebatas kata-kata tentang aroma ketiak, wanginya selangkangan, aroma pantat dan dubur, rasa kecut dari kuning pekat celana dalam atau BH yang belum dicuci, asin keringat, manis atau gurihnya ludah, pesingnya air kencing bahkan juga bau dan rasa kotoran dari orang yang dicintainya, aku langsung merinding dan bergetar saat mendengar ucapan Mbak Ambar padaku. Jantungku berdegup kencang membayangkan bagaimana aku melumati anusnya yang masih tersisa serpihan-serpihan kotoran beban paginya. Aku memandang Mbak Ambar dengan penuh nanar. Nonokku langsung membasah oleh cairan birahiku.

Demikian pula Anneke, saat mendengar bisikkan Mbak Ambar untukku dia langsung gemetar menahan gelegak nafsunya.. Aku tak tahan melihat bibirnya yang terbuka menunggu bibirku melumatinya. Dia meremas dan mencakar betisku menahan desakan birahinya sambil menyambung bisikannya.
"Mbak Marini, aku ingin kembali minum langsung dari memek Mbak, saat cairannya membanjir dari orgasme yang Mbak peroleh".
"Dan sudikah Mbak Marini kencing di depanku dan Mbak Ambar?".
"Kami ingin mencuci muka kami dan minum air kencing Mbak Marini".
Mbak Ambar yang mendengar bisikan Anneke menggigit bibirnya. Dia memandang aku dan mengerdipkan matanya yang mentatakan keinginannaya sebagaimana yang dikatakan Anneke. Bahkan dia setuju dan memperdengarkan kembali suara lembut dari bibirnya.
"Nanti Anneke dan Mbak Marini ikut saat aku buang air besar. Aku tidak akan cebok kecuali dengan lidah Mbak Marini".
"Dan aku akan meludahi dulu bokong dan lubang dubur Mbak Ambar sebelum Mbak Marini menjilatinya", sergah Anneke.

Demikianlah omongan kami yang meloncat-loncat liar dan acak-acakan tetapi sarat dengan pesan nafsu birahi yang penuh rindu dendam. Ucapan-ucapan seronok dan kotor yang keluar dari mulut-mulut mungil dan cantik kami mendongkrak libido dan membuat darah dan hati kami panas-dingin.

Perahu di dermaga nampaknya telah siap untuk bertolak, Mbak Ambar bergegas mendekat untuk melepas anaknya, aku lihat betapa bokongnya yang sintal semakin sintal dengan celana hotpants putih lembutnya. Sungguh dia menjadi bidadari di Pulau Bidadari ini. Tangan Anneke meremasi jemariku yang langsung kutarik ke mulutku, kulumati jari-jarinya, dia mendesah.
"Mbak Marini, aku ingin ngentoti pantat Mbak Ambar, aku ingin melahap pahanya, betisnya. Aku dendam banget dengan kecantikannya. Rasanya aku tak mau terpisahkan darinya".

Sementara perahu menuju ke Pulau Edam bergerak menjauh, Mbak Ambar berteriak memanggil kami,
"Ayo, kita keliling pulau lagi", kami tahu maksudnya.
Anneke bangkit dan mengangkatku berdiri. Kami mengikuti jalannya Mbak Ambar. Sesiang itu kami habiskan waktu untuk saling bercumbu di tempat-tempat sunyi sekeliling pulau sambil menikmati segarnya angin laut Kepulauan Seribu.
Dan saat aku kebelet untuk kencing dengan sepenuh nafsu Mbak Ambar dan Anneke benar-benar berebut menampung dengan tangannya kemudian meminumnya dan mencuci tubuh mereka dengan air kencingku. Demikian pula ketika Mbak Ambar kebelet kencing aku dan Anneke minum kencingnya, bahkan Mbak Ambar langsung menyiramkan pancuran kencingnya ke mulut dan tubuh kami. Cairan pekat kuning itu meresap ke BH-ku. Aku sengaja simpan dan tak pernah mencucinya hingga kini.

Waktu malamnya Mbak Ambar tidak bisa menyertai kami. Dia mesti bersama anaknya di pondoknya. Aku dan Anneke menghabiskan malam dengan penuh cumbu rayu, telanjang melepas semua baju-baju, dengan membuka semua jendela dan pintu-pintu. Alam pulau dan laut Pulau Seribu yang ramah memberikan kepuasan rindu birahi pada kami. Beberapa kali kami meraih orgasme.

Pagi harinya, saat matahari terbit memancar menghangatkan tubuh kami yang tergolek berjemur di bangku-bangku panjang di depan pondok kami Mbak Ambar datang.
"Hey, aku habis buang air dan belum kubersihkan pantatku".
Kami langsung tahu dan ingat akan janjiku yang selalu siap jadi budaknya untuk membersihkan beban paginya. Anneke langsung bangkit dan menarik tanganku mengikuti Mbak Ambar memasuki cottage kami. Dan pagi itu sesudah Anneke membuang ludahnya di seputar lubang dubur Mbak Ambar dia mengambil dildonya untuk dimainkan kedalam kemaluannya sambil mendekatkan wajahnya untuk menyaksikan bagaimana aku melaksanakan janjiku. Dan Mbak Ambar sendiri langsung menggelinjang sambil mendesah dan merintih saat lidahku menyentuh analnya.Tangan dan jari-jarinya menggosok-gosok dan mengocoki bibir dan lubang kemaluannya dengan cepat.

Aku merasakan sebuah sensasi erotik penuh nafsu hewaniah yang demikian mendesaki libidoku. Aku menjalankan tugasku dengan sangat sangat terhanyut hingga aku mendapatkan orgasmeku walaupun tak ada yang menyentuh nonokku. Aku langsung jatuh terkulai. Aku mendapatkan kepuasan tak terperi dari apa yang diberikan Mbak Ambar padaku. Masih sempat kudengar desahan dan rintihan histeris dari bibir-bibir cantik Mbak Ambar dan Anneke yang disertai tangan dan jari-jari mereka yang bergerak-gerak cepat menggosok dan menusuki kemaluannya. Mereka sedang diburu nafsu birahinya yang sekaligus mengejar orgasmenya. Dan beberapa detik kemudian Mbak Ambar dan Anneke menyusul rubuh terkulai di sampingku. Itulah sarapan pertama kami sebelum kentongan restauran pulau memanggil untuk sarapan bersama. Dan itu pulalah kesempatan pertamaku yang kulakukan dengan penuh terpaan sensasi erotikku. Aku benar-benar merasakan betapa cintaku pada Mbak Ambar tak bisa kuungkapkan dalam kata-kata lagi. Dan dengan cintaku yang menggebu itu apapun yang keluar dari tubuh Mbak Ambar terasa sedap bagiku.

Pagi itu sesudah selesai sarapan pagi bersama di restoran yang ramah itu kami bersiap untuk kembali ke Jakarta. Kami tak sempat bercumbu lagi dengan Mbak Ambarwati, tetapi pertemuan dengannya memberikan aku khasanah baru, apapun yang keluar dari dia, merupakan kenikmatan erotis yang tak pernah kulupakan.

Sepanjang pelayaran pulang menuju Jakarta kami menyaksikan kebahagiaan keluarga manis-manis itu. Mbak Ambarwati, ibu muda yang cantik penuh pesona bersama putra-putrinya yang jago layar dan snorkelling telah mendapatkan kesenangan dan kegembiraannya.

Sementara itu Anneke dan aku berbahagia karena pengalaman baru yang kami dapatkan dari Pulau Bidadari selalu menyertai saat saling melepas rindu birahi. Hal-hal yang kami alami bersama Mbak Ambar di pulau itu kami lakukan kembali saat kami tenggelam dalam cumbu. Dan Anneke kembang liar dari Madiun itu kian nampak matang dan dewasa. Dia bukan lagi sekedar seorang mayoret yang mempesona atau anak Paskibraka yang sensual, tetapi Anneke telah siap menjadi seorang perempuan eksekutif di kantornya yang baru di Jakarta.

Besok dia sudah mulai masuk kerja. Dia kini berkonsentrasi penuh untuk memulai karirnya sebagai seorang professional yang menuntutnya untuk selalu enerjik, penuh kreatifitas dan imajinasi.

Kembang Liar Dari Madiun - 1

Sesuai dengan perkiraanku, suatu hari, pukul 6.30 pagi, di minggu terakhir bulan Mei, kembali aku mendengar ketukan di pintu yang disusul suara salam yang lembut. Aku yakin itu suar Anneke, si kembang dari Madiun yang selama hampir 3 minggu terakhir membuat hatiku demikian menderita, limbung dan sangat merindukannya. Aku yang saat itu sedang membuat minuman untuk sarapan Mas Adit, bergegas ke depan membuka pintu. Dan Anneke langsung menghambur dan memelukku dengan sangat eratnya.
"Mbak Marini, aku kangen banget", diciumnya pipi dan ujung bibirku dengan penuh kegemasan.
Dia juga peluk Mas Adit yang kakak sepupunya. Kami langsung ajak Anneke untuk makan pagi bersama.

Anneke membawa kembali pula keindahan, kecantikkan dan sensualnya. Rasanya rumahku langsung menjadi cerah. Matahari pagi menerpa bunga-bunga di tamanku. Kupu-kupu dan kumbang beterbangan riang mengawinkan kepala putik dengan bunga sarinya untuk mengambil madunya. Sayap-sayap lembutnya kesana-kemari memotong-motong berkas cahaya matahari yang jatuh ke rerumputan basah embun pagi. Nampak setangkai kecil bunga rerumputan liar terjaga memercikkan tetes bening embun paginya. Anneke langsung menyejukkan hatiku yang duka lara. Kami ngobrol dan bercanda hingga Mas Adit siap untuk berangkat ke kantornya.

Saat aku di kamar untuk sesuatu hal Anneke masuk dan memberikan sebuah bungkusan indah.
"Oleh-oleh khusus buat Mbak".
Tanpa menunggu ucapan terima kasihku, dia langsung berkelebat meninggalkan kamar untuk menemani Mas Adit yang sedang membaca koran pagi di ruang depan. Aku penasaran, kubuka oleh-oleh Anneke itu. Kurang ajar si Anneke ini. Kutemui dalam bungkusan indah itu celana dalam dan BH kumal dengan bau kecut dan pesing yang menyengat dengan secarik kertas bertulisan.
"Mbak Marini yang jelita, Ini celana dalam dan BH baru, lho. Aku telah memakainya selama 1 minggu tanpa pernah aku lepas hingga pagi tadi sesaat aku turun dari KA dan langsung ke toilet di Stasiun Gambir. Menurut mbah dukun, ini sangat manjur untuk mengobati tangan Mbak yang sakit karena cubitanku tempo hari. Semoga bisa menyembuhkan secara kilat. Anneke, yang terus menerus merana dalam kerinduan pada Mbak Marini", Wow..
Cepat kudekapkan gombal-gombal itu ke dadaku, kutengok ke pintu nggak ada orang, kemudian kubekapkan celana dalam pesing dan BH kecut itu ke hidungku dan kuhirup dalam-dalam baunya. Oohh, Anneke-ku.

Tepat padap pukul 7.30 Mas Adit meninggalkan rumah menuju kantornya. Sesudah mobilnya menghilang di belokan gang, Anneke menarik tanganku untuk segera masuk rumah. Begitu menutup pintu depan kami langsung berpagutan dalam gairah birahi dan kerinduan yang menyala-nyala.

Anneke mendorong aku hingga sama-sama rebah ke sofa ruang tamu. Tangan-tangan kami langsung menggerilya bagian-bagian sensual tubuh kami. Kerinduan selama 3 minggu ingin kami tebus dan tumpahkan saat itu pula. Tetapi aku ingat Anneke pasti lelah sesudah perjalanan semalaman. Aku ajak dia untuk menyimpan sebagian besar kerinduan ini untuk kita tumpahkan nanti sesudah bugar kembali. Kuraih tangannya menuju ke dapur. Banyak yang menyenangkan di sana untuk kita kerjakan berdua.

Di dapur Anneke bertanya, apakah sakit akibat cubitan di tanganku sudah sembuh.
"Aku langsung buka hadiah cintamu, aku tengok kanan-kiri nggak ada orang, aku bekapkan ke hidungku dan kuhirup dalam-dalam aroma parfum Madiunmu, uh, seketika lenyap seluruh penyakitku".
Anneke tertawa tergelak-gelak. Sampai saatnya makan siang kami di dapur dan membenahi rumah sambil terus melempar bermacam humor dan tawa. Sesekali bibirnya mendarat di bibirku dan bibirku mendarat di bibirnya. Sambil membersihkan isi lemari esku Anneke membanggakan masakan Koreanya, sisa daging has-ku dia buat "bulgogi", fillet kakapku dirubah jadi "modum unthang" atau sayur kakap merah untuk penyegarnya dia buat "kimchee", acar sawi putih. Dia memang senang masak. Siang itu kami kembali pesta kecil. Kuhabiskan berbagai juice buah yang tersisa. Anneke segar kembali, tak nampak sisa-sisa perjalanannya.

Usai makan siang sambil memberikan kesempatan makanan turun ke lambung kami ngobrol di ruang keluarga. Kami duduk berhimpit saling merangkul pinggul. Kuamati wajah manis Anneke, aku mempertanyakan kenapa sih, wajah manisnya selalu saja membayang di mataku. Kuraba tulang pipinya yang meninggi kemudian lekuk pertemuan antara hidung dengan bibirnya yang sangat sensual, kemudian pinggiran bibirnya yang mencuat seksi banget. Saat ujung jariku sampai di tepian bibirnya itu tiba-tiba mulutnya cepat mencaplok jariku dan menggigitnya, aku berteriak kesakitan sambil mencubit geregetan pada paha Anneke. Ganti dia yang berteriak kesakitan dan lari menghindar. Aku bangkit menyusulnya. Anneke lari menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke ranjang. Aku menyusulnya dengan menindihnya serta langsung memagut lehernya. Dia mendongak kegelian. Tangannya menahan tubuhku tetapi kemudian berlanjut untuk memelukku. Kami bergumul. Pagutan di lehernya tak kulepaskan hingga dia mendesah dan merintih penuh kenikmatan birahi.

"Mbak Marini ngangenin banget, sih".
Sambil mengangkat sedikit tubuhku untuk menggeser lumatan bibirku dari lehernya ke bibirnya. Dan arus birahi kami mulai saling mengalir. Kami mulai melumat bibir-bibir kami. Kami saling bertukar lidah dan ludah. Erangan dan desahan menggiring nafsu birahi kami mengalir lembut seirama kecupan-kecupan antar mulut kami. Dan aku merasakan kini saatnya untuk melepas semua dendam dan luka rindu yang telah menumpuk sepanjang 3 minggu sejak kepulangannya ke Madiun. Kulepasi kancing-kancing dan kulucuti blus dan BH-nya, kulepasi kancing dan resluiting jeans-nya kemudian kuperosotkan sekaligus berikut celana dalamnya dan kutarik lepas dari tungkai kakinya. Dia juga melucuti pakaianku hingga kami sama telanjang bulat.

Walaupun aku sudah sering mengamatinya saat mengintip di pintu kamar mandinya tetapi kini saat aku langsung bisa menyentuhnya aku amat terpesona dengan pahanya yang sangat sensual. Guratan besar yang seakan muncul hanya dengan sekali tarik dari kuas pelukis membentuk kontras kontur paha Anneke diatas lembaran sprei ranjangnya yang ungu tua yang kupasang sebelumnya. Keindahannya melaju tanpa putus hingga ke lututnya dan terus melaju ke betisnya. Aku sebut saja pesona tungkai perawan Anneke.

Kemudian aku kembali melumat lehernya dengan sedikt kudorong agar memiringkan tubuhnya. Aku menciumi kuduknya kemudian menggeser ke belakang telinganya.
Aku membisikkan kerinduanku, "Anneke, ijinkan aku melumati setiap pori tubuhmu.., aku sangat merindukan kamu..".
Dia tahu aku demikian menderita merindukan dia. Dan dia tahu saat ini aku ingin bertindak dominan atas dia. Dia hanya mengangguk. Dia menyimpan suaranya untuk lebih memusatkan rasa nikmat jilatan dan kecupan bibirku pada belakang telinganya yang kemudian menyisir kembali ke kuduknya.

Kecupan dan jilatanku turun ke bawah hingga punggungnya dan belikatnya. Aku rasakan gelinjang Anneke yang meggeliat menahan kegelian yang menderanya. Aku ingin benar-benar melumat setiap pori di tubuhnya tanpa ada yang kelewatan. Untuk sementara aku hentikan eksplorasi bagian atas tubuhnya. Aku melata turun dari ranjangnya. Aku merosot ke lantai sambil meraih sebelah tungkai kakinya yang jangkung panjang itu. Aku ingin memberikan kenikmatan tertinggi untuk Anneke..

Bibirku melahap jari-jari kakinya yang sangat lembut itu. Kulumati satu-satu, lidahku menari-nari di celah-celahnya. Anneke langsung menjerit tertahan sambil menarik kuat-kuat kakinya. Namun segala upaya menyingkirkan lumatan bibirku pada jari-jari kakinya takkan kupenuhi. Dekapan kuat tanganku pada tungkainya membuat Anneke harus menyerah walaupun gelinjangnya terus menerus memberontak untuk melepas kegelian yang melanda kakinya itu. Apalagi saat lidah dan bibirku menyisir tumitnya, pinggiran dan permukaan telapak kakinya, tendangan kaki mayoret dan anggota Paskibraka ini nyaris membuatku terpental ke lantai. Dia menggelinjang hebat. Dengan nafasnya yang memburu dia juga bangkit dari tidurnya untuk membebaskan kakinya dari pagutanku. Kepalaku diraihnya untuk dilepaskan dari kakinya tetapi tidak berhasil. Rintihan yang menyayat minta ampun atas nikmat birahi yang melandanya membuat aku sendiri terbawa arus dan tenggelam hanyut oleh gelombang nafsu seksualku.

Kini aku merambat ke betisnya yang sangat aku kagumi indah dan sensualnya. Aku perlakukan betis Anneke bak porselin China. Aku menyentuhkan bibirku dengan lembut kepermukaannya. Saat aku mulai mengecupnya aku perlakukan bak anggur tua dari Chevilla. Saat aku sedikit menggigitnya aku perlakukan bak kulit telor chenderawasih burung dari surga itu. Saat lidahku mulai menjilatinya kuperlakukan bak salju yang turun ke pucuk-pucuk cemara di pegunungan Austria. Pokoknya aku serasa keliling dunia dengan betis Anneke ini. Jangan tanya lagi tentang tingkah dan perlawanan Anneke. Dia benar-benar dihantam badai dahsyat dengan gelombang nikmat birahinya yang tak bertara. Kembali dia bangkit dan merangsek dengan tenaga besarnya untuk menjambak keras-keras rambutku agar kepalaku copot dari pagutan di betisnya ini. Aku tidak menyerah. Rasa sakit dan pedih pada kulit kepalaku tidak mempengaruhi belitan tanganku pada tungkainya. Akan benar-benar kupertahankan dominasiku atasnya agar tak lepas sedikitpun. Aku tahu dia akan menggoreskan torehan luka indah pada kenangan birahinya. Aku tahu kenikmatan yang melanda dia sekarang ini tak pernah dia raih sebelumnya.

Pada gilirannya gigitan, kecupan dan jilatan lidahku merambah ke lututnya. Di sini pori dan kulitnya yang bertumpu pada tulang lutut penuh dengan saraf-saraf peka yang tak boleh begitu saja disentuh sapuan lidah. Dan saat lidahku tak mau tahu, Anneke berguling memutar tubuhnya tanpa mau kompromi lagi. Aku ikut terguling. Kali ini kaki sebelah lainnya benar-benar menendang dan menekan kepalaku. Untung aku bisa mengelak. Dengan sigap kutangkap kaki-kaki mayoret ini. Tubuhku mulai kugunakan untuk menindihnya dan jilatan lidahku kunaikkan ke ujung pahanya. Aku sedikit tambahkan tenaga pada kecupan dan gigitan di ujung pahanya. Aku mau tinggalkan cupang-cupang yang menandai kehadiranku di sana. Dan kali ini Anneke yang sudah putus asa melawanku, tingkahnya melemah.

Ah, Anneke. Kini dia menangis minta agar aku menghentikan perlakuanku padanya. Dia mohon aku sudi melepaskan pagutan-pagutanku. Dia minta agar aku menjauh darinya. Tapi dari tingkah tangannya yang tengah menjambaki dengan penuh gemas rambutku aku pastikan dia sedang memasuki keadaan trans, semacam keadaan setengah sadar yang disebabkan telah hanyut tenggelam jauh dalam ke lubuk nikmat yang paling dalam. Dia bukan ingin aku melepaskan semuanya, tetapi ingin agar aku lebih lebih mengketatkan jeratan dan pagutan-pagutanku. Dia terus menangis dengan tangannya yang terus meremasi dengan gemas rambutku. Situasiku kini lebih tenang.

Diantara Dua Kenikmatan

Mungkin ada baiknya apabila aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Ivy, aku adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang tinggal di kota Bandung. Ini adalah untuk pertama kalinya aku menulis artikel, jadi mohon maaf apabila tulisanku disini masih kacau.

Aku akan menceritakan salah satu pengalaman pribadiku yang tidak pernah terlupakan seumur hidupku. Mungkin apabila aku dikatakan lesbi agak kurang tepat, karena selama ini aku masih tertarik dengan pria. Tapi ada satu keanehan dalam sifatku yang terkadang terangsang ketika melihat sesama jenis, apalagi apabila ia memakai baju yang ketat, atau baju yang sedikit transparan.

Aku memiliki seorang kekasih yang berinisial W. Aku menjalin hubungan dengannya sejak bangku SMA. Hubunganku dengannya sebenarnya belum terlalu jauh. Paling jauh kami hanya melakukan petting dengan masih mengenakan pakaian dalam. Tapi dalam hal yang satu ini seringkali aku tidak terpuaskan. Kekasihku selalu 'keluar' sebelum aku sempat mengalami orgasme.

Singkat cerita, aku menjadi bosan dan mulai mencari-cari pelampiasan. Pada awalnya, ketika suatu malam, kekasihku baru saja pulang dari rumahku setelah kami melakukan petting. Dan seperti biasanya, Ia sudah 'keluar' sebelum sempat aku mengalami orgasme. Malam itu aku begitu kesal. Sampai akhirnya ketika aku sedang tidur-tiduran, dan perasaan itu datang kembali. Horny yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku memulai berfantasi tentang hubungan seksual bersama seorang pria kekar, yang begitu jantan dan dapat membuatku orgasme sampai berkali-kali.

Tanpa kusadari tanganku mulai meremas-remas buah dadaku sendiri. Aku sangat terangsang saat itu. Aku sendiri sebenarnya tidak menginginkan untuk bermasturbasi, tetapi dorongan itu sangat kuat, aku hanya merasakan sebuah kenikmatan baru. Sambil terus berfantasi, aku mulai membuka baju kaosku sampai aku hanya menggunakan BH dan celana dalam saja (aku mempunyai kebiasaan hanya memakai kaos tanpa celana apabila aku sedang berada di rumah). Aku meremas-remas, mengelus-elus lembut payudaraku, sambil sesekali memainkan puting susuku. Nafasku mulai tak teratur, tangan kananku mulai bergerak ke bawah, menelusuri perutku, lalu berhenti sebentar di daerah pusarku, lalu memainkannya sebentar, lalu kulanjutkan lagi kebawah, mengelus-elus lembut bagian kemaluanku yang masih tertutup celana dalamku yang berwarna putih dan terbuat dari katun itu. Aku merasakan rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sekalipun dengan kekasihku sendiri.

Setelah bermain cukup lama di atas celana dalamku, aku mulai meraba-raba masuk ke dalam celana dalamku. Kuelus lembut rambut-rambut halusku yang selama ini rajin kucukur. Kumainkan klitorisku yang sejak tadi sudah menonjol. Kurasakan kelembaban kemaluanku yang sedari tadi sudah terangsang. Aku menggesek-gesekkan jariku di klitorisku. Sampai tubuhku bergetar tak karuan. Ketika aku mulai memainkan bibir kemaluanku, begitu terkejutnya aku ketika tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan cepat, dan ternyata sahabatku yang berinisial S. Betapa terkejut dan malunya aku saat itu karena pada saat itu aku sedang dalam posisi terlentang di tempat tidur dengan hanya menggunakan celana dalam dan bra yang sudah tersingkap, ditambah posisi tangan kananku yang berada di dalam celana dalamku sendiri. Begitu juga S, ia hanya berdiri kaku dan tak berkata sepatah kata pun.

S adalah seorang gadis bertubuh ideal, sampai kadang-kadang aku iri dengan tubuhnya itu. Pinggulnya yang besar, buah dadanya yang ideal (34B) dengan tinggi tubuh sekitar 160 cm, perut langsing. Cukup membuat iri para gadis yang melihatnya.

Setelah beberapa detik kami saling membisu, akhirnya ia memecahkan suasana dengan senyum nakalnya sambil berkata, "Lagi Ngapain Vy?"
Aku hanya dapat menjawab dengan terbata-bata, "Eng.. ngg.. ngga ngapa-ngapain kok.."
Dia hanya membalas ucapanku dengan tersenyum nakal sambil menghampiri tubuhku yang sedang terlentang dan setengah telanjang. Tanpa berkata apa-apa ia mulai mengelus-elus buah dadaku.
Aku sempat tersentak kaget tapi ia berkata, "Santai aja, tadi belom puas ya?"
Aku pada awalnya masih risih ketika ia memulainya, tapi entah mengapa aku hanya diam saja keenakan menerima elusan-elusannya itu. Ia mulai membuka BH-ku dan mulai mencium lembut kedua buah dadaku. Tidak lama kemudian aku sudah terangsang dibuatnya, nafasku mulai tak teratur.

Setelah beberapa menit ia mencium dan menjilati kedua buah dadaku, ia mulai membuka celana dalamku. Ia mulai menjilati mulai dari ibu jari kakiku, naik terus ke betis, ke paha, sampai pangkal pahaku. Menerima perlakuannya itu aku benar-benar terangsang. Badanku mulai gelisah, bergerak ke kiri-kanan mengimbangi jilatan-jilatannya. Ia berhenti sejenak, lalu ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya. Ketika itu pula aku melihat kedua buah dadanya yang putih kencang, dan puting susunya yang berwarna coklat muda. Seketika itu juga tanpa kusadari aku jadi tambah terangsang. Terlebih-lebih ketika ia membuka celana dalamnya. Oh, yang kurasakan pada saat itu darahku berdesir dari jantungku menuju kemaluanku yang membuat kemaluanku terasa berdenyut-denyut dibuatnya.

Setelah selesai membuka seluruh pakaiannya, ia kembali naik ke atas tempat tidurku dan kembali menjilati pangkal pahaku sambil sesekali meremas payudaraku. Lalu ia mulai menjilati bibir kemaluanku yang membuatku seperti tersetrum arus listrik, badanku mulai mengejang kenikmatan. Ia menjilati bibir kemaluanku cukup lama sampai ia akhirnya mulai menjilati klitorisku sambil sesekali menggigit kecil klitorisku yang membuatku berkelonjotan.

Setelah agak lama Ia mulai mencoba memasukkan jarinya ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Ia memutar-mutar jari tengahnya di mulut liang kewanitaanku beberapa kali sampai akhirnya ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang kewanitaanku dengan perlahan. Leguhan kenikmatan pun keluar dari bibir tipisku. Ia mulai menggerak-gerakkan jari tengahnya maju-mundur dengan irama yang semakin lama semakin cepat. "Ahh.." suara desahan kenikmatan pun tak kuasa kubendung untuk keluar dari bibirku ini. Semakin dalam ia memasukkan jarinya ke liang kewanitaanku, semakin tak kuasa diriku menahan kenikmatan itu sampai akhirnya seluruh tubuhku seperti dialiri suatu hawa kenikmatan yang berpusat pada vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Jeritan yang tertahan disertai tubuh yang menggelinjang kenikmatan hanya dapat kutahan dengan memagut bibir tipisku sambil mencengkram erat bed cover ranjangku. Sungguh suatu perasaan yang sangat luar biasa. Aku hanya terkulai lemas walaupun dalam hati kecil ini masih mengharapkan untuk yang selanjutnya.

Melihat diriku sudah mencapai orgasme, S pun mulai mengarahkan tanganku ke arah buah dadanya yang putih mulus itu. Aku pun langsung menyambutnya dengan elusan-elusan lembut di sekeliling puting susunya, secara perlahan-lahan kuusap, terus ke arah tengah buah dadanya, sampai akhirnya kuusap lembut kedua puting susunya yang sudah menegang sedari tadi. Kukulum kedua jari telunjukku, kubasahi dengan ludahku, lalu kuteruskan memberikan stimulasi di kedua puting susunya. Leguhan yang keluar dari bibirnya semakin membuatku terangsang untuk memberinya stimulasi yang lebih hebat. Lalu aku pun duduk tepat di depannya dan mulai menjilati daun telinga kirinya sambil tetap kedua tanganku memberikan stimulasi di kedua buah dadanya. Kujilat sambil sesekali kugigit-gigit kecil daun telinganya, sambil terus turun ke arah leher, pundak, lalu ke tengah-tengah antara kedua buah dadanya, lalu menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kiri. Kujilat terus sampai menuju puting susunya. Lalu aku berhenti di sana, kujilat, kumainkan lidahku di sana sambil sesekali kuhisap dan kugigit-gigit kecil.

Tubuhnya pun mulai terlihat berkeringat, gerakan-gerakannya semakin gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, suara leguhan dan desahan pun tak urung keluar dari bibirnya itu. Setelah itu aku menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kanan, kulakukan persis sama seperti ketika kustimulasi buah dadanya yang sebelah kiri. Setelah cukup lama lidahku pun mulai bergerak turun ke arah perutnya yang langsing dan putih mulus, terus ke bawah sampai ke pusarnya. Lalu kujilat-jilat pusarnya yang mengakibatkan tubuhnya semakin berkeringat dan berkelonjotan. Dari pusar aku meneruskan lidahku ke bawah, ke arah kemaluannya. Kujilat lembut rambut-rambut kemaluannya, lalu lidahku kuarahkan ke pangkal pahanya. Kucium-cium lembut pangkal pahanya yang membuatnya kegelian. Kusentuh dengan jariku bibir kemaluannya yang sudah basah oleh cairan pelumas yang dikeluarkan oleh vaginanya akibat rangsangan-rangsangan yang tadi kuberikan. Kugesek-gesekkan jariku di sana. Leguhan yang keluar dari bibirnya pun semakin menjadi-jadi mengimbangi semakin banyaknya pula cairan yang keluar dari kemaluannya.

Setelah agak lama jariku kugesek-gesekkan bibir kemaluannya, dengan suaranya yang mendesah, ia pun memintaku untuk menjilati liang kewanitaannya. Tanpa berpikir panjang, aku pun mulai menjilati bibir kemaluannya walaupun saat itulah untuk pertama kalinya aku menjilat bibir kemaluan seorang wanita. Leguhan dan desah nafasnya semakin memburu. Lalu dengan kedua jariku, kutarik lipatan vaginanya ke atas sampai dapat kulihat klitorisnya yang berwarna pink itu, lalu kujilat-jilat dan kuhisap lembut. Tetesan keringatnya pun semakin membasahi tubuh indahnya itu.

Lalu ia menarik tubuhku dan mengajakku untuk membentuk posisi 69 dengan posisiku yang berada di atas. Terus terang, pada saat menstimulasinya kemaluanku pun sudah sangat basah akibat terangsang hebat, walaupun ini adalah untuk pertama kalinya aku berhubungan dengan sejenis. Sambil menjilati klitorisku ia memasukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah itu dan menggerak-gerakkan jarinya maju-mundur. Menerima perlakuan itu membuat diriku pun tidak mau kalah dan terus menstimulasi kemaluannya semakin hebat.

Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang menandakan orgasmenya telah tiba. Ia menghentikan kegiatannya menstimulasi kemaluanku dan mendekap pinggulku erat sambil meremas kedua pantatku disertai leguhan panjang nikmat dari bibirnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah lalu ia menyuruhku mengganti posisi membentuk posisi menyerupai huruf X, dimana kemaluan kami bertemu di tengah-tengah. Kami pun seakan telah terbiasa dengan posisi tersebut mulai menggerak-gerakkan pinggang kami hingga kemaluan kami saling bergesekan satu sama lain. Sensasi rasa yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Nafas kami berdua semakin memburu mengimbangi gesekan-gesekan di kemaluan kami yang semakin lama semakin cepat. Posisi ini kami lakukan sambil ia menjilat-jilat telapak kakiku, lalu ia pun mengisap-isap jari-jari kakiku yang menambah rangsangan di tubuhku.

Setelah sekitar 10 menit kami dalam posisi itu, aku pun berteriak dengan nafas yang terengah-engah dan memberitahukannya bahwa aku sebentar lagi keluar karena aku merasakan kemaluanku seperti berdenyut-denyut. Ia pun membalas dengan menjawab bahwa ia pun sebentar lagi akan keluar dan mengusulkan untuk mengeluarkannya bersama-sama. Dalam hitungan detik tubuh kami menggelinjang secara bersamaan tersengat hawa kenikmatan yang menjalar di tubuh kami berdua sampai akhirnya kami berdua terkulai lemas di atas ranjangku dengan nafas terengah-engah dan ranjang yang membasah terkena keringat kami berdua.

Setelah nafas kami mulai normal, dengan tubuh masih telanjang ia memeluk lembut tubuhku lalu mengecup bibirku dengan lembut, lalu setelah itu ia mengecup keningku sambil berkata, "Vy, kamu hebat! makasih ya.."

Cukup lama kami tiduran sambil berpelukan sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon rumahnya dan memberitahukan bahwa ia akan menginap di rumahku. Malam itu kami tidur bersama di bawah satu selimut tanpa mengenakan selembar benang pun di tubuh. Sampai sekarang pun ia masih sering menginap di rumahku dan kami pun sering melakukannya dengan berbagai posisi dan variasi. Pernah juga S datang dan membawa sebuah dlido (penis mainan) yang bervibrator sepanjang 20 cm dengan diameter 3 cm dan kami pun sempat bermain-main dengan alat itu. Sekarang ini sudah sekitar 2 minggu kami tidak berkomunikasi lagi. Ia sibuk dengan kegiatannya sendiri dan begitu juga denganku. Demikian cerita nyata saya yang dapat saya ceritakan walaupun dengan tulisan yang jauh dari sempurna ini karena terus terang ini adalah pengalamanku yang pertama kali menulis kisah nyata di sini.

Pengalamanku Dengan Ita - 2

Liang vaginaku sudah basah sekali, demikian pula liang vagina Ita saat jari-jari tanganku menyusup di celah belahan vaginanya. Kami melakukan semua itu di bawah siraman shower, hingga beberapa saat kemudian Ita memutuskan untuk melanjutkannya di tempat tidur saja.

Selesai mengeringkan tubuh kami dengan apa adanya, kami pun bergumul di tempat tidur. Ita langsung melumat bibirku, dan aku pasrah saja saat bibir Ita melumat bibirku. Herannya aku tidak merasa jijik saat bibirku dikulum oleh sesama jenisku, bahkan aku sangat menikmatinya.

Ciumannya memang berbeda dengan cowok, beda yang paling menyolok adalah adanya kelembutan pada ciuman bibir Ita, kami sudah sama-sama diselimuti hawa nafsu hingga kami pun bergumul layaknya sepasang kasih yang sedang dilanda asmara, Ita bertindak lebih agresif dengan menjilat bagian leherku, sesekali bibirnya memberi kecupan di tubuhku.

Mulut Ita terus beraksi di sekujur tubuhku, payudaraku tak luput dari lumatannya, puting susuku dimainkan dengan ujung lidahnya. Aku jadi benar-benar horny, liang vaginaku kembali basah karena luapan birahiku, aku hanya dapat mengelus selangkangan Ita yang ternyata juga sudah mulai dibasahi oleh cairan yang mengalir keluar dari dalam rahimnya.

Kumainkan ujung jariku di atas klitoris Ita hingga membuat cairan bening yang membasahi liang vaginanya lebih deras mengalir keluar, kuselipkan ujung jariku dan kugesekkan naik turun dari atas ke bawah di sela lipatan bibir vaginanya. Ita jadi lebih bernafsu sekali tampaknya, jilatan lidahnya terus mengarah ke bagian bawah tubuhku.

Tangan Ita meremas-remas payudaraku sambil mulutnya tetap menjilat menjalari bagian perutku, ujung lidah Ita sengaja dikorekkannya di pusarku, sesekali bibirnya mengecup pusarku hingga aku merasa geli bercampur nikmat, kemudian Ita mengawali menjilat vaginaku, aku pun melakukan hal yang sama padanya dalam posisi 69.

Aku terus terang sangat terangsang saat menjilati vagina Ita yang mulus tanpa bulu kemaluan itu, kukecup klitorisnya dan kumainkan dengan ujung lidahku. Cairan sedikit kental yang membasahi vagina Ita kujilat dan kutelan bersama ludah yang membasahi rongga mulutku.

Dapat kurasakan Ita sangat menikmati sekali jilatanku, dia pun tak kalah piawainya melumat habis bibir vaginaku, ujung lidahnya dijulurkan dan ditancapkannya ke dalam liang vaginaku, dapat kurasakan ujung lidahnya menyentuh bagian dalam dinding vaginaku yang juga sudah sangat basah oleh cairan yang mengalir deras dari dalam rahimku. Mulut Ita mengulum klitorisku, sambil ujung lidahnya sengaja dimainkannya di situ.

Entah dari mana diambilnya, tiba-tiba tangannya sudah menggenggam sebuah alat yang berbentuk seperti batang kemaluan pria yang terdiri dari dua sisi bertolak belakang. Panjang dan besar sekali batang kemaluan mainan itu, bila dibandingkan dengan aslinya yang selama ini pernah kulihat, terbuat dari bahan semacam silikon atau mungkin sejenis plastik elastis.

Ita langsung memasukkan ujung batang kemaluan mainan itu ke dalam liang vaginaku sambil diputar dan dikocoknya, aku mengalami kenikmatan yang luar biasa. Liang vaginaku jadi tersumbat penuh oleh benda yang mirip sekali dengan batang kemaluan asli itu, ujungnya menyentuh-nyentuh benjolan daging sebesar ibu jari yang tumbuh di dalam liang vaginaku.

Aku hanya dapat mengeluh panjang sambil menghentikan jilatanku pada vagina Ita, aku tidak mempu melakukan sesuatu kecuali merintih dan menggeliat sambil menikmati batang kemaluan mainan yang keluar masuk memompa liang vaginaku. Punggungku terangkat dan kugoyangkan mengikuti irama kocokan batang kemaluan mainan yang besar dan panjang itu.

Ita rupanya mengetahui bahwa aku sudah akan mencapai puncak hingga tangannya mengocokkan batang kemaluan mainan tadi lebih cepat lagi. Rasanya luar biasa sekali, lebih heboh daripada aslinya, dan aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini, sebelumnya memang aku juga pernah melihatnya saat menonton BF, namun tidak pernah terbayang sebelumnya kalau aku ternyata akhirnya juga dapat menikmati memakai alat tersebut.

Tubuhku menggigil dan terguncang hebat, akhirnya aku mencapai puncaknya, kurasakan semburan cairan dari dalam rahimku muncrat keluar membasahi liang vaginaku. Mengetahui bahwa aku sudah mengalami orgasme, Ita langsung menjilati klitorisku sambil tetap mengocokkan batang kemaluan mainan tadi.

"Aa.. Aacch! Ayoo.. Itt..! Teruu.. Uuss..!" rrangku sambil terus melepaskan semburan lendir dari dalam liang vaginaku.

Vaginaku berkedut-kedut saat melepaskan hasratku sementara bibir Ita tetap menempel ketat di klitorisku sambil ujung lidahnya sengaja menggelitiknya. Kemudian Ita juga memasukkan ujung batang kemaluan mainan yang sisi satunya ke liang vaginanya sendiri sehingga posisi vagina kami saling berhadapan dan masing-masing tersumpal oleh ujung mainan yang berbentuk batang kemaluan itu.

Tangan Ita memegang dan mengocok-ngocok batang kemaluan mainan tersebut, saat ujung yang satu masuk lebih dalam ke liang vaginaku, di bagian ujung lain yang berada di dalam liang vagina Ita jadi sedikit tercabut. Demikian pula sebaliknya, bila di bagian ujung yang terbenam di dalam liang vagina Ita tertancap lebih dalam lagi, maka di bagian yang terbenam dalam liang vaginaku jadi sedikit tercabut, demikian terus menerus saat dikocok oleh Ita. Posisiku tetap telentang sementara Ita sedikit berjongkok di atas tubuhku.

Nikmat sekali, aku terus terang baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Tangan Ita terus membantu memegang dan mengocok batang kemaluan mainan tersebut. Ita memainkannya dengan piawai sekali sehingga kami akhirnya mengalami orgasme secara hampir bersamaan. Pada saat selesai orgasme, Ita langsung mencabut alat itu dan kembali melumat vaginaku.

Dengan tanpa merasa jijik sama sekali Ita menjilat habis dan menelan semua cairan yang membasahi liang vaginaku. Aku pun tidak mau kalah dengannya, kujilat pula vaginanya hingga kami akhirnya kembali melakukan posisi 69. Ita rupanya mempunyai kesamaan denganku, sangat suka saat klitorisnya dijilat, apa lagi saat ujung klitorisnya dimainkan dengan ujung lidah.

Ini adalah sungguh suatu pengalaman yang luar biasa bersama Ita yang pasti juga membaca kisahku ini. Selesai melampiaskan segala bentuk kepuasan bersama, kami tertidur tanpa mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuh montok kami, dan kami baru terbangun saat udara dingin di Trawas mulai menghembus dan merayapi tubuh dan menyusup ke dalam tulang.

Ita memberikan sebuah kimono untuk kupakai, sedang Ita sendiri hanya memakai hem yang longgar dan agak panjang, sehingga lebih mirip dengan rok mini yang berbentuk hem. Gila betul Ita ini, pikirku, karena selain itu ia sudah tidak mengenakan apa-apa lagi, sehingga bagian selangkangannya dapat terlihat dengan jelas saat dia berjalan, karena ujung hem yang ia kenakan ujungnya hanya menutupi tepat di bagian selangkangannya.

Mungkin ini juga dikarenakan Ita sudah terbiasa dan tidak terusik dengan keberadaan Pak Djo, yang memang sejak Ita masih kecil sudah ikut mengasuh Ita hingga dia terbiasa cuek saja dengan penampilannya seperti itu saat ada Pak Djo, dan kulihat Pak Djo juga biasa-biasa saja saat kami berada dalam satu ruangan, ketika Pak Djo harus mengantarkan minuman untuk kami.

Untuk makan malam, Ita meminta Pak Djo membelikan ayam goreng di sebuah restoran. Pak Djo pergi cukup lama dengan mengendarai ojek, karena tempatnya cukup jauh dari villa yang kami tempati. Pada saat menunggu kedatangan Pak Djo kami berdua menonton BF koleksi Ita.

Rupanya Ita banyak menyimpan BF di villanya, ada tempat tersembunyi yang hanya dia yang mengetahui tempatnya untuk menyimpan BF, dan berbagai peralatan masturbasi. Ita punya berbagai macam dan bentuk mainan yang berbentuk alat kelamin pria, ada pula vibrator, memakai baterai yang bisa berputar meliuk-liuk sambil bergetar.

Ita mengambil salah satu yang bisa bergetar dan meliuk-liuk, bentuknya transparan, di dalamnya ada banyak semacam bola-bola yang akan bergeser saat berputar melingkar bagaikan mata bor. Di bagian atasnya ada tonjolan panjang dan lunak sekali, bisa bergetar hebat saat vibrator dinyalakan, fungsinya ternyata untuk mengorek-ngorek klitoris kita (kaum wanita tentunya) saat batang kemaluan mainan tersebut ditancapkan ke dalam liang vagina. Gila!, pikirku dalam hati, bagaimana Ita bisa mendapatkan benda-benda seperti itu?

Ita menyalakan TV-nya, sementara dia menyuruhku telentang di sofa yang panjang, aku seperti terhipnotis saja layaknya dan menuruti semua perintah Ita. Lalu dia berjongkok di samping sofa dekat selangkanganku. Kimonoku disingkapnya sedikit ke atas sehingga bagian bawah tubuhku terpampang jelas, karena aku tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam kimono yang kukenakan.

Ita membuka pahaku lebar-lebar, kakiku yang kiri diletakkan di atas sandaran sofa, sementara kaki kananku diarahkan ke bawah sofa sehingga selangkanganku terbuka lebar dan vaginaku terpampang jelas di hadapannya. Ita mulai menyalakan vibrator di tangannya, dan kulihat batang kemaluan mainan yang dipegangnya sejak tadi itu mulai menggeliat berputar melingkar dengan tempo tetap.

Butiran yang ada di dalamnya ikur terputar, ujungnya digesekkan ke belahan bibir vaginaku, dapat kurasakan ujung batang kemaluan mainan itu bergetar dan berputar di belahan bibir baginaku. Ita menggesek-gesekkan ujungnya naik turun di sela-sela lipatan bibir vaginaku, sesekali berhenti di ujung klitorisku dan ditekankan sedikit.

Bisa dibayangkan bagaimana rasa yang menyelimuti bagian luar vaginaku yang langsung seketika itu juga menjadi basah. Hal ini memudahkan Ita untuk mulai menyusupkan batang kemaluan mainan itu masuk ke dalam lipatan bibir vaginaku, dapat kurasakan ujungnya mulai masuk ke dalam liang vaginaku.

Bagaikan mata bor yang besar berputar pelan sambil bergetar memasuki liang vaginaku lebih dalam lagi, aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, kuremas-remas payudaraku sendiri sambil memilin-milin puting susuku. Batang kemaluan mainan itu akhirnya benar-benar masuk membenam di dalam liang vaginaku, kurasakan ujungnya menempel, menekan dan berputar di tonjolan daging kecil sebesar ibu jari yang tumbuh di dalam liang vaginaku. Ita menarik dan membenamkannya kembali, mengocok terus makin lama makin cepat.

Ujung tipis yang bergetar di bagian luar vaginaku menyentuh ujung klitorisku, aku merasakan setiap inci dinding vaginaku mendapat rangsangan hebat, liukan batang kemaluan mainan itu membuat dinding bagian dalam vaginaku bergetar, cairan yang membasahi liang vaginaku makin lama makin banyak.

Aku hampir pingsan rasanya karena merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tidak memerlukan waktu yang lama hingga aku mengalami orgasme yang hebat sekali. Ita tampak tersenyum puas setelah berhasil mengerjaiku dengan alat koleksinya.

"Kamu mau alat ini?" tanya Ita padaku sambil menawarkan alat yang baru digunakannya untuk memuaskanku.
"Ini untuk kamu saja. Kalau kamu mau, besok boleh kamu bawa pulang" imbuh Ita sambil menyodorkan batang kemaluan mainannya yang baru saja membuatku orgasme.

Demikianlah kisah petualanganku dengan sesama wanita.