Showing posts with label Setengah baya. Show all posts
Showing posts with label Setengah baya. Show all posts

Monday, August 22, 2011

petugas pajak

« Rumah Tua
Cinta Sang Bidadari Buat Alfi 3 »
Petugas Pajak Itu Ternyata…

Desember 11, 2010 oleh shusaku
Fifi

Fifi

Namaku Fifi (umur 20 tahun), masih kuliah di sebuah universitas swasta terkemuka di ibukota. Badanku mungil dengan paha dan pantatku padat berisi kulitku putih mulus, cuma buah dadaku tidak terlalu besar seperti buah dada anak ABG saja. Sampai saat ini aku masih belum punya pacar dan teman laki-laki. Aku sangat mendambakan belaian laki karena sebagai seorang wanita yang sudah cukup umur sudah waktunya aku merasakan kehangatan laki-laki, kadang kalau aku melihat film-film porno di internet nafsuku timbul dan terangsang sekali kepingin sekali merasakan yang namanya kenikmatan seksual. Memang sering aku lihat film gituan untuk hiburan dan aku terangsang sambil kumainkan vaginaku kelentitnya kuraba raba jariku masukkan. Nikmat sekali rasanya sampai keluar cairannya dan aku orgasme. Hampir tiap hari aku melihatnya dan pasti aku orgasme. Seandainya aku punya pacar dan bercumbu seperti itu pasti nikmat. Sungguh aku mendambakan kehangatan laki-laki. Merasakan tangan pacarku meraba raba dan menjilat jilat vaginaku, meremasi dadaku dan aku meremas remas kemaluannya dan melumatnya lalu bersetubuh seperti di film itu sungguh nikmat aku kepingin banget merasakannya.

Aku di rumah senang pakai pakaian yang seksi, celana pendek yang amat pendek sekali sampai kelihatan pangkal pahaku dan bawah pantatku. Kadang aku tak pakai cd dan bh juga bajuku tanpa lengan sehingga ketiakku yang mulus kelihatan aku amat senang lihat tubuhku di cermin amat seksi, putih mulus pahaku padat dan putih ketiakku juga putih tak berambut. Laki-laki siapapun kalau melihat keadaanku begini pasti akan terangsang dan mau meraba raba tubuhku. Saat itu beberapa hari terakhir ada seorang petugas dari kantor pajak yang beberapa kali datang ke rumahku untuk mengurus pajak dengan papaku. Namanya, kita sebut saja dengan Om GT, umurnya 30an, orangnya tidak tergolong cakep, malah di bawah rata-rata atau kasarnya jelek. Rambut cepak, kumis tipis dan badannya agak tambun. Kadang-kadang dia curi-curi pandang kemulusan pahaku dan ketiakku. Aku merasakan kalau dia tertarik dengan tubuhku, akupun senang kalau dia terangsang dengan tubuhku berarti aku masih bisa menarik perhatian laki-laki. Naluri liarku menginginkan diriku dicumbunya, dipeluknya dan diraba raba. Sering kulihat tonjolan celananya kupikir itunya pasti lumayan besar rupanya dia terangsang melihat pahaku dan aku pun ikut terangsang kalau membayangkannya.


Sungguh aku kepingin meremas benda menonjol di selangkangannya itu dan kuingin dia meremas remas punyaku, tapi bagaimana untuk mulai itu? Sebagai wanita aku malu untuk memintanya, maka kutunggu dia yang memulai dulu dan aku tinggal menyambutnya. Saat pas dia main kerumahku aku coba merangsangnya dengan dudukku yang agak seksi sambil kusilangkan kakiku sehingga celanaku makin tertarik ke atas dan pahaku yang putih mulus makin banyak kelihatan. Kadang kubuka sedikit kakiku sehingga cdku kelihatan, dia meliriknya dan menikmati kemulusan pahaku. Kulihat tonjolan celananya makin menonjol rupanya dia terangsang juga.akupun dalam hati senang juga dia tertarik melihat kemulusan tubuhku tapi dia tidak berani bereaksi selanjutnya atau dia mungkin sungkan dan tak berani takut aku tak mau. Kalau pas aku duduk di lantai buka laptop dan dia duduk di atas kursi dia makin dapat menikmati kemulusan pahaku apalagi kalau aku duduk bersila makin ketarik ke atas celanaku dan selangkangan dan cdku kelihatan sedikit. Laki-laki mana yang tidak kepingin merasakan kehangatan selangkanganku yang mulus ini, hal itu terlihat jelas karena dia semakin senang melihatnya. Suatu sore dia datang ke rumahku pas aku duduk di lantai dengan laptopku. Kebetulan papaku belum pulang. Dengan basa basi dia tanya papaku ke mana, terus dia duduk juga di lantai di samping kiri belakangku dan tanya aku lagi ngerjain apa? Ini kesempatan buat aku merangsangnya lagi, siapa tahu dia bereaksi karena dia tahu aku sendirian di rumah.Dudukku makin kubuat merangsang, kaki kiri kuangkat untuk menopang tanganku pahaku makin kelihatan semua sampai pangkalnya. Sekarang dia dapat memelototi pahaku dari dekat, terdengar napasnya memburu, aku pun semakin senang saja. Pura-pura aku menggaruk pahaku dan selangkanganku supaya dia makin terangsang, dan dia tanya apa pahaku gatal digigit nyamuk? dia mau ambilkan minyak gosok katanya dan mau mengoleskan ke pahaku. Tapi aku pura-pura tak mau supaya aku tidak dianggap cewek yang mudah diraba raba, padahal aku sangat kepingin dia meraba pahaku Rupanya dia sudah terangsang lalu dia berkata kalau dia mau lihat film porno di internet. Aku juga pura-pura tak mau lihat film gituan dan menyingkir berdiri supaya dia sendiri yang lihat. Pura pura lagi aku. Setelah dia buka film itu dan menontonnya lalu dia berkata.

”Sini dong Fi sama-sama nonton seru lo filmnya!” ajaknya

Aku pun pura-pura menolak dan biar dia yang nonton sendiri.

”Sini lihat, ndak apa-apa Fi kamu kan sudah dewasa, ndak apa-apa kan lihat film ginian” katanya lagi mencoba merangsangku
Om GT (muka sengaja disensor karena malu katanya)

Om GT (muka sengaja disensor karena malu katanya)

Akupun mendekat dan pura-pura aku terkejut melihatnya

“hii hii kok gitu ya? sudah ah om, stop, geli aku“ kataku pura-pura tak mau lihat dan aku mau menyingkir

Tiba-tiba tanganku dipegangnya dan disuruh duduk di samping nya seraya tanganku masih dipegangnya telapak tanganku diremasnya. Aku pura-pura menolak dan menarik tanganku, tapi dalam hati aku senang dia mulai berani aku pun menikmati remasan tangannya yang sudah lama aku kepingin merasakan tangan laki-laki terus tanganku diremas sambil dia berkata katanya dia terangsang dengan film itu. Tangannya mulai meraba lenganku dan mengelus elusnya, enak juga lenganku dielusnya naik ke atas sampai belahan ketiakku dan mulai diciumnya pundakku. Aku masih tetap pura-pura meronta dan tak mau, masih jual mahal aku padahal begini ini yang aku nantikan. Elusannya makin nikmat kurasakan dan terangsang aku dibuatnya. Aku sudah tidak pura-pura meronta lagi, makin berani om GT mulai mencium belakang ketiakku dan dia coba mengangkat tanganku supaya dia dapat mencium ketiakku.

”oh oh geli om,jangan jangan” desahku kegelian

Sungguh senang aku dia mau mencium ketiakku dan dia tetap memaksa mengangkat tanganku lalu ketiakku diciumnya dibenamkannya hidungnya dalam-dalam sambil menghirup aroma ketiakku.

”Fi, harum lo ketiakmu dan mulus lembut hangat, om senang lo sama ketiakmu” rayunya sedangkan aku kegelian dan terangsang enak juga ketiakku diciumnya.

Dia tak puas-puasnya terus mencium ketiakku.

”wangi lo ketiakmu, om seneng bisa cium ketiakmu sudah dari dulu om pengen merasakan ketiakmu, om terangsang lo kalau sedang lihat ketiakmu” katanya lagi

Memang ketiakku amat merangsang laki-laki yang melihatnya dan ketiakku selalu wangi setiap saat. Dia mulai meraba raba dadaku yang tak pakai bh dan diciumnya leherku pipiku terus kebelahan dadaku,aku menggelinjang nikmat dan menahan geli.

Terus dia mencium dadaku yang masih terbungkus baju,lalu tangannya lewat bawah bajuku mulai masuk ke arah payudaraku.

Pura-pura lagi aku mencegahnya dia meremas langsung payudaraku padahal aku sangat ingin merasakan tangannya meremas payudaraku dan menjilat putingnya lalu menyedotnya. Aku kan pura-pura saja supaya dia makin penasaran dan aku jual mahal jaga gengsi padahal dari tadi vaginaku sudah basah. Ahirnya tangannya dengan leluasa meremas remas buah dadaku yang padat ini, diremasnya makin kuat dan aku merasa kesakitan. Kusuruh dia meremasnya pelan sedikit. Aku makin mengelinjang menahan napsu payudaraku dirangsang demikian dan bagaimana kalau nanti payudaraku sudah dikulumnya dan dihisapinya apa aku kuat menahannya.

”Aahh…om om geli aku, sudah…sudah…geli om!” desahku mengerang nikmat.

Laki-laki kalau dengar erangan cewek biasanya makin bernapsu. Mendengar eranganku dia makin bernapsu meremas payudaraku kiri dan kanan. Napasnya makin memburu dia berusaha mau mengecup bibirku pura-pura kuhindari dan dia mencium pipiku. Diciumnya terus pipiku dan aku makin terangsang pasrah saja bibirku mulai dikecupnya dan dilumatnya aku pun tak tahan membalasnya. Lidahku dilumatnya, aku baru sekarang merasakannya dan enak juga saling melumat bibir dan lidah bertukar air liur. Tanganku merangkul erat di belakang kepalanya tak mau melepas kenikmatan ini. Aku dan dia makin napsu sambil satu tangannya meraba raba paha bagian dalam hampir dekat selangkangan dan cdku nikmat mengairahkan rabaannya. Dia menikmati sekali kehangatan dan kemulusan selangkanganku katanya selangkanganku hangat lembut dia kepingin menciumnya dan menjilatnya. Makin tak kuat aku menerima rangsangan ini sungguh nikmat rasanya sulit dibayangkan. Aku orgasme lagi makin basah vaginaku dan kebelet pipis rasanya.

”om aku pipis dulu, kebelet banget nih!”kataku terengah engah merasakan kenikmatan ini.

Juga aku mau ganti cdku karena sudah amat basah sekali, malu aku kalau om GT nanti mau mencium selangkanganku dan tahu aku sudah orgasme. Di kamar mandi kulihat cdku sudah banyak cairan nikmatku vaginaku, kusabuni sampai bersih biar nanti kalau dicium om GT wangi baunya dan om GT makin senang mencium dan menjilatnya. Aku kepingin sekali vaginaku dijilat jilat kayak di film dan mau tahu rasanya apa nikmat, sambil lidahnya masuk menjilat jilat di dalam vaginaku…uuuhh…membayangkannya saja sudah horny berat.

Aku pun tak pakai cd lagi. Cdku kugantung saja di gantungan supaya cepat kering. Ganti om GT sekarang mau pipis, aduh cdku ada di gantungan pasti dia tahu kalau cdku basah. Aku disuruh duduk di pangkuannya dan tanganku disuruh merangkul pundaknya karena dia mau mencium ketiakku. Terasa kemaluan om GT tegang dan hangat tertekan bokongku, enak juga dipangku om GT terasa penisnya berdenyut, kepingin rasanya vaginaku dapat menekannya dan kurubah dudukku supaya vaginaku pas dapat menekan penisnya Aduh enak rasanya vaginaku merasakan tonjolan penisnya hangat dan berdenyut denyut di bawah vaginaku. Ketiakku diciumnya dan dibenamkannya hidungnya dalam-dalam sambil menghirup aroma ketiakku yang harum. Dia sungguh menikmati kelembutan dan harumnya ketiakku katanya hangat lembut dan merangsang sekali. Aku juga menikmati rangsangan ini dan senang ketiakku dicium ciumnya sambil tangannya mulai meraba raba selangkanganku lagi menyentuh tepi vaginaku yang sudah tak ber cd dan dia tahu kalau aku sudah tak pakai cd. Perasaan geli bercampur nikmat selangkanganku dielus elusnya dengan lembut. Aku tak tahan kepingin tangannya meraba vaginaku tapi dia tetap asik dengan selangkanganku. Katanya selangkanganku lembut dan halus dia kepingin mencium dan menjilatnya. Mendengar itu aku makin terangsang vaginaku mulai basah, kubuka kakiku supaya dia mau meraba vaginaku kuarahkan tangannya ke vaginaku, lalu dirabanya dan dielus elus sungguh enak dan merangsang aku menggelinjang keenakan dan tak sadar aku mendesah sambil pantat kugoyang goyang makin menekan penisnya dengan vaginaku. Tangannya mulai meraba kelentitku dan ditekannya sambil dipilin pilin geli dan enak rasanya aku mau orgasme lagi. Jarinya mulai meraba bibir dalam vaginaku yang semakin basah, makin menggelinjang aku mendesah nikmat mau aku jarinya cepat masuk ke dalam dan menusuk nusuk di dalam. Aku kepingin sekali merasakan vaginaku dicolek colek alangkah enaknya nanti.

“Aahhh…om, enak om cepet dimasukin om aaahh…aahh” aku mendesis keenakan sambil kaki kurapatkan dan kubuka menahan kegelian di vaginaku.

”Fi enak ya,sudah keluar ya,mau om jilat vaginanya,boleh ya?” bisiknya di telingaku

Mendengar bisikannya aku makin tak tahan lalu kulumat bibirnya dan lidahku diisep nya. Enak sekali makin melayang rasanya nikmat dan aku keluar lagi sampai seperti orang ngompol. Tangannya tak masuk-masuk ke vaginaku hanya meraba raba bibirnya dan kelentitku begini saja sudah enak sekali apalagi kalau penisnya om GT yang sedang tegang dan sekarang aku duduki dan kutekan dengan pantatku hingga masuk ke dalam vaginaku dan keluar masuk.

Ooh alangkah enaknya, kepingin rasanya aku disetubuhinya sampai aku orgasme berkali kali. Aku sudah tidak perduli kalau vaginaku belum pernah dimasuki penis dan masih perawan. Lalu aku disuruh turun dari pangkuannya dan duduk di sofa dan dia duduk di bawah mau mencium dan menjilat vaginaku. Ini yang aku tunggu-tunggu bagaimana enaknya vaginaku dicium dan dijilat jilatnya,tapi aku malu vaginaku sudah basah dan banyak cairannya,

”om aku cebok dulu ya, vaginaku basah lo?”.

Tapi dia mencegahnya katanya lebih nikmat dalam keadaan basah dan aromanya asli vaginaku. Kakiku dibukanya satu dinaikkan ke sofa sekarang vaginaku terasa terbuka lebar tapi masih pakai celana. Diciumnya pahaku kiri kanan terus paha bagian dalam dekat selangkanganku. Aku makin merinding nikmat dan merintih keenakkan. Nikmat rasanya selangkanganku kena hembusan napasnya, selangkanganku diciumnya lama sekali katanya dia nikmat dan lembut selangkanganku. Katanya dari dulu dia kepingin sekali mencium selangkanganku sekarang keturutan katanya, lalu celanaku dikuakkan nya sehingga vaginaku sudah bebas menantang untuk dicium dan dijilatnya. Dipandangnya dengan napsu vaginaku yang selamanya belum pernah dilihat orang lain. Vaginaku mulus dan bersih mengairahkan untuk dijilat katanya, lalu mulai diciumnya hidungnya masuk kesela sela bibir vaginaku sambil digesek gesek naik turun. Aku menggelinjang geli dan nikmat, beruntung sekali om GT yang pertama bisa mencium vaginaku aku senang ada yang mencium vaginaku.

“oh enak sekali…dijilat sekarang dong om” pintaku merajuk kepingin lidahnya bermain di dalam vaginaku.

Tapi dia masih asik mencium vaginaku, tak puas-puasnya dia mereguk aroma vaginaku.

”Fi vaginamu harum dan hangat, om senang lo dapet cium vaginamu ini” katanya membuatku makin terangsang saja.

Lalu dia mulai menjulurkan lidahnya dan disapunya bibir vaginaku sambil digigitnya dengan bibirnya,wah enak sekali rasanya lalu kelentitku dikulumnya sambil lidahnya menjilat jilatnya. Sungguh nikmat rasanya mau pipis rasanya vaginaku berdenyut, lidahnya mulai masuk ke dalam sampai vaginaku dan di dalam terasa meliuk liuk nikmat sampai aku mengangkat pantatku supaya makin dalam lidahnya masuk.

Aduh sungguh nikmat rasanya tak terkirakan, makin menggelinjang aku merinding seluruh tubuhku merasakan kenikmatan ini. Aku keluar lagi dan makin diisepnya cairan vaginaku dan direguknya dengan nikmat. Katanya dia senang sekarang dapat merasakan cairan vaginaku yang gurih. Tak puas-puasnya om GT menjilati vaginaku. Aku pun makin mengelinjang seperti kesetrum tak kepalang rasanya pahaku mengapit kepalanya saking tak tahannya dan aku orgasme lagi langsung disedotnya cairanku. Vaginaku terasa panas dan agak perih sedikit.mau rasanya penis om GT dimasukkan ke vaginaku aku sudah tak tahan untuk disetubuhinya. Setelah puas melumat vaginaku, aku disuruhnya meremas remas penisnya, ganti dia duduk di sofa aku duduk di sampingnya sambil meremas remas penisnya tapi masih diluar celananya. Terasa sudah tegang dan besar. om GT mendesah desah enak katanya diremas remas olehku. Kepingin aku melihat penisnya dan meremasnya langsung, kumasukkan tanganku ke celananya dan kubuka. Penisnya besar menggairahkan kepalanya seperti helm tentara dan berwarna ungu, kulitnya agak coklat tidak hitam kuremas dan kukocok pelan. Baru kali ini aku memegang kemaluan laki-laki, terasa hangat di tanganku lubangnya kuraba terasa basah dan om GT makin mendesah keenakan. Akupun ikut terangsang dan vaginaku terasa berkedut kepingin dimasuki penisnya. Aku meneguk liur mau rasanya menjilat dan melumatnya tapi aku malu memulainya. Kutunggu dia menyuruhnya sambil kuremas remas. Bibirku dan bibirnya saling melumat tangannya meraba raba selangkangan dan vaginaku jarinya masuk makin lengkap enaknya dan makin basah vaginaku. Tak sabar aku mau melumat dan menjilat penisnya, akhirnya penisnya kujilat terasa asin tapi enak menggairahkan terasa hangat di mulutku. 3/4 penisnya masuk mulutku lidahku menjilat jilat kepalanya, kulumat dengan bibirku dan kutarik keluar masuk sambil disedot dan kuputar putar enak rasanya mengemut penis itu. Om GT mengelinjang dan mendesah nikmat katanya dia senang aku mau mengemut penisnya, akupun senang juga sampai tak puas-puasnya mengemut penisnya yang semakin menegang mau orgasme.

Disuruhnya aku berhenti karena mau orgasme tapi aku tetap mengemutnya supaya aku dapat merasakan orgasmenya di mulutku, ingin aku merasakan maninya yang kata orang amat enak dan obat awet muda kulit tambah halus. Penisnya makin tegang dan panas berdenyut sudah sampai puncaknya orgasme, makin menggelinjang dan mendesah dia dan terasa maninya menyemprot dalam mulutku tambah kusedot supaya tuntas keluarnya. Waau enak rasanya, puas aku.

”Aduh Fi enak sekali emutanmu sayang ,nikmat sekali, sipp dah!!” katanya dan dia tanya kok aku pinter sekali mengemutnya, apa pernah pengalaman?

Kujawab aku tak pernah sebelumnya cuma aku sering lihat di film caranya. Dia tanya apa aku menikmatinya? Aku pun mengangguk malu dan kubilang hal ini jadi rahasia kita saja tak boleh orang lain tahu karena aku malu sudah mengemut penisnya. Dia mencium pipiku dengan sayang dan kapan-kapan dia mau lagi kalau aku bersedia kubalas dia kurangkul sambil kubisiki aku sayang dan mau jadi pacarnya,tak sadar rupanya aku jatuh cinta sama om GT karena dia dapat memberiku kenikmatan tadi.

Selanjutnya gairah seksku makin menggebu gebu sejak pengalaman pertama itu untuk memuaskan napsuku jariku yang meremas remas dan masuk ke vaginaku.mau rasanya bercumbu lagi dengan om GT dan aku kepingin disetubuhinya sampai aku puas. Hari-hari selanjutnya persetubuhan dengan om GT kembali. Sebagai balasan atas pelayananku, om GT menitipkan pesan untuk papaku bahwa urusan perpajakannya akan segera selesai sebentar lagi dan ia juga memberikan potongan harga istimewa. Pada suatu hari, mamaku lagi pergi dengan temannya terus ku beranikan telepon om GT untuk dia ke rumah karena napsuku sudah tak bisa ditahan lagi

”Hallo om, lagi ngapain sekarang?” tanyaku menahan malu sedikit.

”oh Fifi ,ada apa Fi ? aku lagi tak ada kerjaan.” balasnya.

”main sini dong om aku lagi sendirian mamaku pergi” kuberanikan berkata begitu dengan hati berdebar-debar. Tak lama kemudian om GT datang langsung aku dipeluknya dan pipiku diciumnya dengan mesra kubalas dengan rangkulanku. Sambil mendesah aku berkata kalau aku kangen sama dia, bibirku dilumatnya lidahku diisepnya. Sambil lidahnya masuk kumulutku mencari liurku lalu diteguknya dengan napsu, terasa penisnya sudah tegang menyentuh perutku, kuraih dan kuremas remas lembut dia mendesah enak katanya penisnya kuremas begitu dan ketiakku diciumnya. Hidungnya dibenamkan menikmati aroma ketiakku yang lembut tak berbulu. Aku menggelinjang kegelian nikmat, lalu tangannya mulai meraba raba pahaku terus naik membelai selangkanganku enak rasanya selangkanganku dibelai belai membangkitkan gairahku.

Sedikit dia menyentuh cdku yang sudah mulai basah itu membuat aku penasaran kepingin rasanya dia terus meraba raba vaginaku dan memasukkan jarinya. Ooh aku kepingin sekali vaginaku diobok oboknya. Semakin mendesah aku dan mengerang penuh nikmat, tapi om GT masih asik mencium ketiak dan belahan dadaku sambil dia berbisik mesra kalau dia senang denganku. Dia sungguh menikmati kemulusan tubuhku baru kali ini dia dapat merasakan kemulusan tubuh seorang wanita, dari istrinya ia tidak pernah mendapatkan kenikmatan seks seperti ini katanya. Aku pun makin tersanjung dan senang seandainya sekarang dia mau menyetubuhiku aku pun bersedia dan akan aku nikmati tusukan penisnya sampai aku orgasme berkali-kali dan dia orgasme di dalam vaginaku dan tak akan kulepas penisnya sampai dia betul-betul tuntas orgasmenya.

”Om ayo om ngentot di kamarku ya, aku pengin ngerasai kontol ini” tanpa sadar aku berkata begitu sambil tanganku sudah masuk celananya dan meremas remas penisnya yang semakin tegang itu.

Kuajak dia masuk kamarku dan aku merebahkan di tempat tidur dengan kaki kubuka lebar menantangnya sambil celana pendekku kutarik ke atas sampai selangkanganku terpampang dengan mengairahkan. Dia mulai mencium pahaku dari bawah sampai naik ke selangkanganku. Diciumnya dengan napsu selangkanganku digesek geseknya hidungnya ke selangkanganku yang lembut sambil menghirup aromanya yang katanya amat mengairahkan. Kukuakkan celanaku supaya dia dapat cium cdku lalu dia mau melepas celanaku aku pun senang ditelanjanginya. Kuangkat pantatku supaya celanaku gampang dilepas. Sensasi rasanya aku ditelanjangi olehnya tapi cdku masih belum dilepasnya karena dia mau menikmati cdku untuk di cium dan diisepnya. Untung aku pakai cd yang mini yang hanya menutupi sebagian saja vaginaku. Diciumnya cdku dibenamkan hidungnya seraya menghirup aroma vaginaku yang selalu kurawat.

“Eemmm…emmm, enak dan wangi hangat!” katanya

Apa aku senang cdku dicium begini? dia tanya aku. Aku hanya mengangguk menahan nikmat dan geli sekali. Cdku makin basah tapi om GT tak perduli malah dia makin bernapsu menciumnya. Aku sudah tak tahan makin kubuka kakiku lebar-lebar dan cdku kukuakkan supaya langsung vaginaku yang diciumnya. Ooooh sekarang dia sudah menciumnya terasa hidungnya masuk ke belahan vaginaku tak perduli sudah banyak lendirku makin bernapsu dia menciumnya. Katanya vaginaku wangi dan enak, belum pernah dia lihat vagina yang begitu indah kaya vaginaku ini, lalu lidahnya menjilat jilatnya. Oohh enak rasanya makin mengerang dan mendesah aku

”ooooh seee ommm seee eenaaak, jilat terus ooh!!” aku meracau keenakan dan makin basah saja, lalu kakiku dinaikkan ke atas untuk melepas cdku

Sekarang vaginaku sudah bebas menantang dan merekah dia mendesis melihat vaginaku yang merekah. Indah dan merangsang sambil dinikmatinya dan dilihatnya lama sekali sambil diielusnya dengan lembut. Mulai lidahnya menjilat dari bawah dekat anusku.

“Aaw…aw…geli ah om!!” aku kegelian kena lidahnya terus menelusuri belahan vaginaku ke bawah lagi makin dekat anusku naik lagi sambil bibirnya melumat bibir vaginaku

Nikmat sekali, sekarang anusku dijilat jilatnya lidahnya bermain main lama di sana. Serasa melayang aku kegelian dia tak merasa jijik menjilat anusku. Jilatannya menyebabkan aku makin mendesah keenakan. Kakiku kupegang rapat nempel di dadaku sehingga vaginaku makin menonjol dan merekah lidahnya mulai masuk dan menjilat jilat di dalam lendirku makin banyak keluar. Pantatku diganjalnya dengan bantal supaya aku tak capek. Sungguh enak rasanya vaginaku terasa di dalam ada ular yang meliuk liuk. Wah nikmat sekali baru sekarang aku merasakan kenikmatan ini, lendirku makin banyak keluar dan diisepnya sampai habis. Katanya dia senang dapat merasakan air perawanku. Sekarang dia mau aku mengemut penisnya, dia naik dan mengangkangi kepalaku diganjalnya kepalaku dengan bantal. Kujilat kepalanya dulu dan lobang kencingnya dia meringis kegelian kena jilatanku. Kemudian kuemut emut penisnya dengan lahap sampai 3/4nya masuk mulutku dan kuurut dengan bibirku sambil lidah ku menjilat jilat, kukocok dengan tanganku dengan pelan supaya om GT tambah enak,

”Ooooh Fi enak banget lo emutanmu ini, om rasanya mau keluar” erangnya

Terasa penisnya makin keras. Lalu aku minta gaya 69 saja karena vaginaku kepingin dijilatnya lagi. Aku di atas vaginaku di atas mukanya dijilat dan lidahnya bermain di dalam. Aduh enak sekali sambil aku mengemut penisnya, kenikmatan dobel vaginaku enak dan mulutku enak. Rupanya om GT mau orgasme, kakinya menghentak hentak, mulutku sudah tak muat karena penisnya makin besar dan keras maka terpaksa emutanku sampai lehernya dan kuurut dengan bibirku sambil kusedot sampai terlepas kuemut lagi sambil kukenyot sambil kuputar putar sambil lidah ku menjilat. Enak sekali penisnya aku amat menikmatinya.

“Fi enak emutanmu sayang, terus dikenyot…om mau keluar “erangnya keenakan kena kenyotanku

Entah mengapa aku begitu pintar mengemut penisnya padahal baru beberapa kali ini aku ngemut penis. Mungkin dorongan napsuku yang membuat aku bernapsu melumat penisnya, lagian vaginaku di jilatinya sampai aku keluar berkali kali. Sungguh nikmat sekali permainan ini, enak tak kepalang. Aku minta sekarang om GT menusuk vaginaku dengan penisnya karena vaginaku sudah tak tahan gatalnya. Aku telentang dan kubuka kakiku lebar-lebar sambil mendesah

“Ayo om…entot aku, udah gak tahan nih!!“aku memohon dengan sangat dan tak perduli lagi harga diriku.

Penisnya digesek gesek ke bibir vaginaku dan mulai masuk pelan-pelan kepalanya saja sudah enak rasanya. Kakiku kunaikkan ke pinggangnya, pantatku kunaikan supaya aku bisa menekan penisnya makin masuk. Blees aw aw enak sekali terasa vaginaku sesak dimasuki penisnya.aduh enaknya, terus makin masuk penisnya sampai tinggal pangkalnya. Aku kesakitan sedikit vaginaku tapi sebentar saja sekarang malah enak karena penisnya keluar masuk mengesek vaginaku. Om GT pun memejamkan matanya keenakan penisnya merasakan kehangatan vaginaku.

”Fi enak lo vaginamu enak lo,kamu masih perawan kan?” bisiknya sambil dia melumat bibirku

Aku makin merangkulnya dengan erat sambil merasakan penisnya keluar masuk vaginaku. Enak sekali makin licin keluar masuknya karena lendirku sudah banyak keluar sampai berbunyi ceprot ceprot. Kugoyang pantatku supaya tambah enak penisnya mengaduk aduk vaginaku.

Ketiakku dicium dan dijilatnya sehingga aku makin mengelinjang. Terus om GT mengoyangku penisnya keluar masuk dengan lancar karena licin, aku pun menikmatinya. Ternyata sungguh enak bersetubuh itu. Lalu dia mau orgasme dan dia tanya apa dia boleh orgasme di dalam vaginaku? dia takut aku hamil. Kujawab keluarin di dalam aja karena aku mau merasakan semprottan maninya di dalam vaginaku karena kalau orang bersetubuh paling enak kalau sama-sama orgasme. Om GT makin mengerang dan menghentak hentak penisnya. Crot…dia orgasme dan mengerang terasa penisnya makin membesar dan berdenyut berkali kali menuntaskan keluarnya di dalam vaginaku terasa mengalir air hangat enak sekali sampai vaginaku menjepit penisnya dengan kuat karena aku juga keluar. Aku puas sekali. Om GT memang hebat. Puas aku sekarang dapat merasakan orgasme sesungguhnya dengan bersetubuh, nikmat sekali permainan om GT, mau rasanya tiap hari aku disetubuhinya. Setelah puas bersenggama, kami berbaring berpelukan di ranjangku. Kali ini dia sudah lebih terbuka padaku dan mulailah ia curhat padaku. Ia berterima kasih padaku karena aku adalah wanita yang mampu membangkitkan kembali gairahnya terhadap wanita. Pengakuannya cukup membuatku tercengang, ternyata ia sudah lama kehilangan gairah terhadap istirnya sendiri yang frigid. Yang lebih mengejutkan adalah ia juga ternyata menyukai sesama pria, cinta sejatinya adalah seorang pengusaha kaya raya dan juga ketua parpol besar di negeri ini berinisial AB. Pertemuannya dengan AB berawal ketika ia mengurus tunggakan pajak dari perusahaan AB yang jumlahnya tidak sedikit. Dari jasanya memanipulasi pajak, AB memberi om GT imbalan berlimpah. Dari situ pula mereka mulai saling suka satu sama lain. Keduanya sering kali bertemu di hotel dan berakhir dengan hubungan sesama jenis di kamar. Entah mengapa om GT begitu blak-blakan mengaku padaku sampai menceritakan hal yang paling pribadinya dengan AB seperti misalnya kadang ia menyodomi AB dan kadang sebaliknya, sampai aku agak risih mendengarnya. Ia memperlihatkan padaku fotonya bersama AB sedang berpelukan mesra. Ia berkata bahwa foto itu diambil di Belanda ketika berlibur, di sana mereka serasa bebas mengekspresikan cinta mereka, tidak terkukung seperti di tanah air. Di tengah ceritanya ia menitikkan air mata, ia berkata bahwa ia benar-benar mencintai AB, tapi kondisi sosial dan posisi AB sebagai salah seorang yang berpengaruh di negeri ini tidak memungkinkan untuk meneruskan hubungan mereka lebih jauh sehingga selama ini om GT rela dirinya menjadi kekasih gelap pria dari AB. Hubungan terlarang sesama jenis mereka terus berlangsung tapi dengan sangat hati-hati. Dengan hartanya yang berlimpah, AB menunjang kehidupan om GT sehingga secara ekonomi om GT sangat berkelimpahan hingga sanggup membeli sebuah rumah mewah, gajinya sebagai pegawai negeri golongan 3A seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tunjangan yang diberikan AB ditambah lagi imbalan dari pekerjaan sampingannya menggelapkan pajak. Ceritanya mau tidak mau membuatku tersentuh juga, meskipun cinta sesama jenis yang diharamkan sebagian orang dan terlibat pekerjaan kotor, ternyata mereka pun masih bisa saling mencintai. Aku memeluk om GT dan mengelus kepalanya untuk menghiburnya. Aku bertanya padanya kenapa ia mau berterus terang padaku mengenai hal yang sensitif seperti ini. Ia menjawab bahwa ia butuh tempat untuk mencurahkan perasaannya, dan ia merasa aku cocok untuk itu dan percaya aku bisa jaga rahasia. Aku pun menyanggupinya dan tidak akan mengatakan pada siapapun apa yang kuketahui itu. Ia pun berterima kasih padaku karena hatinya lebih lega setelah curhat. Hari ini sungguh penuh kejutan, ternyata orang yang diam-diam menjadi partner seksku adalah seorang biseks dan kekasih gelap dari seorang figur yang sangat dikenal masyarakat.

Beberapa bulan kemudian aku mendengar berita om GT menghilang dan diburu aparat karena ditetapkan sebagai tersangka penggelapan pajak. Ia tertangkap di Singapura beberapa hari kemudian dan ditahan oleh pihak berwajib. Selama beberapa minggu om GT menjadi bintang di media massa baik cetak maupun elektronik. Hingga akhirnya 1-2 bulan kemudian namanya tidak banyak terdengar lagi di media. Suatu hari sebuah nomor tak dikenal masuk ke hapeku, setelah kuangkat ternyata orang itu adalah om GT, katanya ia kepingin bertemu denganku dan bersetubuh lagi. Tentu saja awalnya aku kaget karena kan katanya dia sedang di penjara, bagaimana mungkin bisa bebas keluar untuk bertemu denganku? Ia menjelaskan padaku bahwa semua itu mudah saja, di negeri ini asalkan ada uang apa sih yang tidak bisa didapat, dengan uangnya ia telah menyuap para petugas yang menjaganya sehingga dapat keluar penjara untuk sesekali refreshing. Selama keluar dari penjara ia selalu mengenakan wig dan kacamata untuk menyamar agar tidak mudah dikenali orang. Di telepon ia kembali curhat padaku bahwa yang menyebabkannya seperti ini adalah seorang pejabat tinggi di kepolisian yang juga pernah menerima sebagian uang haramnya. Rupanya pejabat kepolisian berinisial SD itu juga penyuka sesama jenis dan menaruh hati pada om GT. Tapi om GT yang mencintai AB tidak bisa menerima cinta dari SD, mereka hanya pernah melakukannya sebatas hubungan badan sesama jenis saja, tapi om GT mengaku tidak pernah mencintai SD sedikitpun. Suatu hari setelah melakukan oral seks di kantor SD, ia menyatakan rasa cintanya pada om GT tapi om GT menolaknya sehingga membuat SD tersinggung dan marah. Tak lama kemudian SD terlibat kasus dan dalam penyidikannya ia menyebut nama om GT terlibat dalam mafia pajak. Dari sini lah nama om GT mulai santer diberitakan media hingga akhirnya menjadi tahanan seperti sekarang ini. Begitu dalam cintanya pada AB, sampai di persidangan ia tidak ingin membuat AB terlibat dalam kasus ini, ia selalu menolak jika perbutatan kriminalnya dikait-kaitkan dengan AB. Ia juga berkilah keluar dari penjara bukan bermaksud untuk kabur tapi hanya refreshing saja, karena pak SD pun juga sering keluar dari penjara untuk bertemu keluarga bahkan juga pernah masuk hotel dan membooking pria tampan untuk berkencan dengannya, kabar burung mengatakan bahwa selebritis pria seperti Bertrand Antolin dan Roger Danuarta termasuk di antara yang pernah berkencan dengan SD. Setelah bicara panjang lebar akhirnya om GT menutup pembicaraan dan menyuruhku menunggu di rumah karena ia akan datang. Aku geleng-geleng kepala setelah menutup telepon darinya, wah…wah…benar-benar kacau negeri ini, APA KATA DUNIA!!??

Suami Seksualku

Sehabis menikah aku langsung mengikuti suami tinggal di Ibu Kota, Jakarta. Sebagai pegawai negeri suamiku hanya bisa kontrak rumah petak untuk tempat kami berteduh dan seseorang memiliki alamat untuk pulang. Sangat beda rasanya rumah di kota asalku Salatiga dimana hubungan antar manusia masih demikian kental dan saling manusia memanusiakan antara satu terhadap yang lain. Sementara di Jakarta yang aku rasakan pertemuan antar manusia semata-mata lebih didorong oleh adanya kebutuhan duniawi. Hubungan akan berarti baik apabila seseorang bisa memberikan manfaat dunia lebih besar dari yang lain. Di Jakarta orang lebih berhitung pada masalah jumlah dengan mengorbankan mutu. Kalau aku bisa memberi lebih banyak dari yang lain berarti aku lebih baik dari yang lain, dan pantas menerima sikap hormat yang lebih tinggi dari yang lain.

Demikianlah suamiku yang dosen Universitas Negeri yang notabene pegawai negeri dengan embel-embel Ir. di depan namanya plus MM di belakangnya tidak mampu meraih penampilan dan nilai yang layak di tengah masyarakat di sekitarku.


Di sebelah rumahku, tinggal keluarga Mas Tondy. Keluarga Mas Tondy sudah tinggal di kawasan itu selama lebih dari 5 tahun. Kami adalah tetangga baru bagi mereka. Walaupun begitu, kami bertetangga cukup akrab dan sangat harmonis hubungan antara 2 keluarga ini. Mas Tondy sendiri adalah penjaga gudang di daerah Cakung yang mengkontrak petak di sebelah kananku rumahku. Aku akui keluarga itu lebih memiliki nilai karena tampilan dunianya jauh lebih dari tampilan kami. Walaupun mengontrak, tapi gaya hidup Mas Tondy beserta keluarga, tak kalah dengan keluarga kami, yang notabene memiliki pendidikan yang lebih baik dari mereka. Itulah kenyataan metropolitan yang kadang susah dipahami akal sehat. Bagaimana sebuah keluarga kelas menengah ke bawah bisa bersaing dengan keluarga yang lumayan mapan seperti kami.

Kebutuhan MCK (mandi, cuci dan kakus) kami berhimpitan hanya dibatasi oleh selembar gedek yang rawan bolong-bolong. Hanya sikap morallah yang membatasi kami dalam arti yang lebih jauh. Bagi kami, khususnya bagi aku dan Dik Narti istri Mas Tondy tetangga sebelah, sumur adalah segala-galanya. Hampir 90% waktu kami habiskan di seputar sumur dan MCK-nya itu. Suami kami masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Bedanya kalau suamiku, Mas Naryo, seharian siang dia nggak ada di rumah, sementara kalau Dik Narti seharian malamnya suaminya jaga gudang di Cakung.

Antara para suami kami praktis jarang jumpa berpapasan karena waktu kesibukannya yang saling terbalik. Sementara kami para istri juga kesibukan melayani suaminya jatuh pada waktu yang berbeda pula. Sebagai suami istri muda, Dik Narti baru keluar dari kamarnya menuju ke sumur baru sekitar jam 11 siang. Tentu dia harus siap melayani berbagai kebutuhan suaminya yang baru pulang setiap jam 6 pagi itu. Aku sendiri sebagaimana yang lain bercengkerama dengan suamiku pada malam harinya sepulang dari pekerjaannya. Kemungkinan penyimpangan hanya terjadi pada saat-saat tertentu, misalnya salah satu dari pasangan di antara kami ada yang sakit atau bepergian atau karena sebab yang lain. Suasana seperti itu juga terjadi di keluarga tetangga sekitar kami. Pada pagi hari rata-rata sepi. Anak-anak kami pergi ke sekolah yang berbeda jadwal dan para suami hampir seharian penuh mencari sandang pangan.

Telah 5 hari Dik Narti pulang ke desanya dengan maksud menjemput adik lelakinya untuk diajak membantu di Jakarta. Kulihat Mas Tondy menyiapkan sendiri segala kebutuhan sehari-harinya yang mulai dia lakukan sekitar jam 10 atau 11 pagi, seusai tidur sepulang jaga malam. Dia mencuci pakaiannya, membersihkan rumah, mencuci perabot dapur dan sebagainya. Mau tidak mau aku sering berpapasan di seputar sumur yang memang kami pakai berdua keluarga. Walaupun begitu kami jarang saling bicara. Aku lebih senang begitu. Aku takut omongan tetangga yang gampang usil. Mas Tondy hampir seharian selalu berpakaian minimum dengan alasan udara Jakarta yang panas. Tanpa "ewuh pekewuh" dia selalu hanya bercelana pendek dan melepas kemeja kausnya. Aku suka mencuri pandang. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang itu tampak gagah; tegap, padat, kekar dan berotot. Mungkin pekerjaannya yang sebagai penjaga gudang memang pantas memiliki tubuh seperti itu. Tubuh yang diam-diam kuimpi-impikan dalam setiap khayalan seksku kalau sedang bermasturbasi, saat Mas Naryo sedang kerja tentunya.

Menurutku, Mas Tondy hanya cocok jadi suamiku. Selain tinggi tubuh kami yang di atas rata-rata, juga karena kami masing-masing punya tubuh indah terawat. Tubuh Dik Narti sendiri tidak seseksi tubuhku karena aku punya jadwal tetap berolahraga di sebuah pusat kebugaran. Sementara tubuh Mas Naryo sudah jelas kalah set dari tubuh suami tetanggaku itu. Walaupun sama-sama tegap dan kekar, tapi tubuh Mas Naryo tidak berlekak-lekuk dengan otot, seperti halnya tubuh Mas Tondy. Kadang aku suka berkhayal kotor kalau melihat Mas Tondy asyik mencuci pakaian kotornya dengan hanya mengenakan celana boxer ketat. Bagaimana rasanya ditiduri lelaki macho nan jantan seperti dia ya? apakah ukuran kontolnya juga sama dengan ukuran kontol suamiku? ah, lelaki macho seperti dia mah, pasti barangnya gede punya. Pasti panjang, keras dan berotot. Tak kalah dengan otot-otot kekar yang menghiasi bagian tubuhnya yang lain. Memikirkan hal itu, aku merasa suka pusing sendiri....


Pagi itu aku sedang masak di dapurku yang sempit. Panasnya udara Jakarta memaksa aku sendiri mondar-mandir di dapur dan sumur hanya menggunakan kutang dan kain yang kuikatkan seenaknya. Membuat auratku yang indah ini terpampang menggoda. Ketika itulah, tiba-tiba Mas Tondy muncul di pintu.

"Mbakyu Larsih, aku mau minta tolong sedikit, nih", sambil terus nyelonong memasuki rumahku. Aku kaget, mau apa dia. Kulihat wajahnya yang ganteng itu tampak kemerahan dengan matanya yang seperti kucing lapar melihat ikan asin menatap mataku. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Adakah yang sangat penting sehingga dia harus masuk ke rumahku tanpa permisi lebih dahulu? Antara khawatir dan ingin menolong tetangga aku bangun berdiri mengikuti langkahnya,

"Ada apa, Mas Tondy?", aku melihat sorot matanya yang semakin menakutkanku...

"Jangan marah, ya Mbak. Masalahnya aku bener-bener nggak tahan, nih. Dik Narti khan sudah 5 hari pulang kampung. Aa.. kkuu.., mm.. maaf.., ya, Mbak, tadi pagi saat pulang jaga malam aku mendengar Mbak dan Mas Naryo masih ada di kamar sedang asyik masyuk".

Deg, hatiku. Kenapa Mas Tondy teganya ngomong begitu padaku. Aku nggak sempat berpikir lebih jauh saat dengan serta merta dia meraih tubuhku dengan tangannya yang kuat membungkam mulutku kemudian beringsut merebahkan aku ke kasur.

Kamarku yang memang hanya terpisah oleh dinding gedek dapurku membuatnya mudah untuk melampiaskan hawa nafsunya. Dengan sigapnya dia jejalkan gombal dari kantongnya ke mulutku yang aku rasa telah dia siapkan sebelumnya. Kemudian dengan kekuatan ototnya ditelikungnya tanganku untuk dia ikatkan ke ranjangku. Aku langsung dilanda ketakutan yang amat sangat. Aku ingat suamiku, ingat sanak keluargaku. Mungkinkan Mas Tondy mau membunuhku? Tetapi justru ketakutanku itulah yang membuat aku lemas dan langsung menyerah.

"mBak Larsih nggak usah takut, aku nggak akan nyakitin mBak, kok. Aku hanya perlu sebentar saja. Aku sudah pengin banget, nih. Tadi pagi saat Mas Naryo menyetubuhi mBak Larsih aku ngintip dari balik dinding", dia berbisik dengan tajam ke telingaku untuk meyakinkan bahwa aku nggak akan disakitinya,
"Aku nggak tahan, mBak, tolongin aku, Mbak..", dia langsung merangsek buah dadaku dengan buasnya. Aku melawannya karena hal semacam ini tak pernah sama sekali terbit dalam pikiranku dan bayanganku.

"Aku nggak tahan bener, mBak.. Tolongin aku, mBak..", kini ketiakku dia ruyaki sambil menyedoti dan menciumi habis-habisan. Dengan tanganku yang terikat sisa tenagaku sama sekali nggak sebanding dengan penjaga gudang berotot ini. Dengan kasar penuh nafsu kain penutup tubuhku dia tarik dan lepasi dengan mudahnya. Tangannya yang kasar dan kokoh itu langsung mengelus-elusi pahaku. Kemudian dengan cepat juga jari-jarinya menyeruak kekemaluanku. Aduh, nggak pernah terpikir olehku akan ada lelaki selain suamiku yang menyentuh barang kehormatanku ini. Aku tidak begitu saja bisa menerima kenyatan ini. Aku menangis pilu walaupun hanya air mataku saja yang menampakkan tangisku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sebagai tanda penolakanku akan perbuatan Mas Tondy ini. Aku anggap dia sudah sangat keterlaluan. Berlaku senonoh. Tidak menghormati aku, suamiku, keluargaku. Aku sangat takut akan aib yang akn menimpa kami.

Tetapi Mas Tondy terus membisiki aku, "Tenang mBak Larsih, nggak apa-apa. Jangan takut, nggak ada yang bakalan tahu. Hanya kita berdua saja yang tahu. Aku berjanji untuk seumur hidupku hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja". Benarkah? Penjaga gudang ini ternyata memang lihai membuatku terlena. Benar atau tidak kata-katanya itu ternyata mampu memberikan aku kesejukan. Setidak-tidaknya melerai rasa takutku bahwa dia akan melukaiku. Seakan-akan aku diberinya pilihan, melawan dengan risiko dia akan bertindak brutal, atau menyerah pasrah dengan risiko aku harus melayani nafsu birahinya. Menyadari keterbatasanku saat ini, maka pilihan kedualah yang aku pilih. Hal-hal lain soal nantilah, yang penting aku selamat lebih dahulu.

Kini aku mulai merasakan secara rinci apa yang sedang dia lakukan padaku. Jari-jarinya yang kasar terus menari-nari di kemaluanku terasa sangat menggelikan saraf-saraf peka birahiku. Aku mulai merasakan kenikmatan. Aku merasakan jari-jari Mas Tondy sangat pintar membangkitkan kehausan birahi para wanita.

Melihat aku bersikap menyerah dan pasrah dia semakin ganas melumati ketiak yang kemudian melata bergeser ke leherku, ke tepian kupingku, lalu ke payudaraku.

"mBak Larsih, mBak sangat cantik sekali. Aku tadi pagi mengintip mBak yang sedang digauli Mas Naryo, oh, mBak.., aku nggak tahan melihat wajah mBak yang menggelinjang menerima kenikmatan dari Mas Naryo. Sekarang mBak mesti nyobain kenikmatan dari aku, ya, mBak?"

Kemudian dengan pelan tetapi pasti Mas Tondy membelah selangkanganku. Dia menempatkan tubuh atletisnya tepat di antara selangkanganku. Dan dengan sekejap aku merasakan sesuatu yang hangat panas mendesak-desaki kemaluanku. Aku sudah tahu, itu kontolnya. Tapi yang membuatku kaget, ukuran kontolnya ternyata sama persis seperti bayanganku selama ini.

Rasa pasrah dan menyerahku hanya memberikan aku satu pilihan, nikmatilah! Akupun pasrah... mencoba mencari kenikmatannya. Saat Mas Tondy terus mendesakkan kontol pisang tanduknya dengan cara mendorong menaik-turunkan tubuhnya memompakan kontolnya ke kemaluanku, dengan refleks aku membalasnya dengan memainkan pantatku.

Aku memutar-mutar bokongku kemudian menaik turunkannya untuk menjemput kontolnya. Aku merasakan rasa gatal yang luar biasa nikmat terasa di lubang vaginaku. Aku juga mulai merasakan cairan birahiku yang membanjir di dalam lubang vaginaku. Dan itu juga langsung diketahui oleh Mas Tondy yang semakin cepat dan keras mendesakkan kontolnya ke kemaluanku.

Dan tanpa ayal lagi, akhirnya seluruh batangan kontol Mas Tondy tenggelam dilahap kemaluanku. Hoohh.., aku tidak menduga bahwa aku akan mendapatkan kenikmatan yang sangat luar biasa di pagi hari ini. Kontol super Mas Tondi yang berada dalam terkaman nonokku keluar masuk menggelitiki dinding-dinding peka vaginaku. Aku menggelinjang, mendesah dan merintih lirih. Aku ikut memompa mengimbamgi pompaan Mas Tondy.

Mas Tondy menatapku sesaat sementara kontolnya terus memompa memekku. Kemudian dia lepaskan sumpal mulutku untuk selanjutnya dia daratkan bibirnya ke bibirku. Kami saling melumat. Aku merasa sangat kehausan. Lepas dari sumpal itu sungguh melegakan. Dan kini sikapku adalah ingin memberikan sepenuhnya kepuasan kepada Mas Tondy. Aku sudah memasuki gerbang nafsuku sendiri. Aku sudah lupa dengan tanggung jawab moralku sebagai istri dari Mas Naryo. Yang ada dipikiranku saat ini adalah perasaan ingin menikmati peristiwa ini sepuas-puasnya. Aku sangat ingin meraih nikmatnya madu pemerkosaan lelaki jantan ini di tubuhku. Aku melumat habis-habisan bibir seksinya. Aku hisap-hisap lidahnya, aku sedoti ludahnya. Aku mengerang dan meracau,

"Mas Tondy, maafin aku, ya.., aku tadi takut banget.., Mas Tondy, uuhh.. Kontolmu ennaakk banget.. Mas Tondy, maafin mBak Larsih, ya.. Mas Tondii.. teruszzhh.. ennhhaakk bangett..",

dan Tondy terus memompakan kontolnya ke memekku dengan mantap sekali. Kami telah meraih irama persanggamaan bersama. Kami sedang mengejar kepuasan puncak dari persanggamaan ini.

Akhirnya tali yang mengikat tangankupun dilepaskannya. Kini tak ada lagi pemerkosaan. Yang ada adalah kesepakatan bersama untuk meraih puncak nikmat birahi. Keringat mulai membanjir dari tubuh-tubuh kami. Mas Tondy menggenjot dan aku menjemput. Kakiku kunaikkan ke pundaknya yang kokoh hingga kontol Mas Tondy terasa mentok menyentuh rahimku. Nikmat yang kurasakan sungguh luar biasa. Dari penyebab awalnya dimana norma sopan dan adab tak lagi dijadikan batasan membuat aku juga bisa berlaku saenakku, kini kurenggut kepala Mas Tondy yang berambut cepak itu. Kudekatkan ke wajahku dan kukenyoti bibirnya sambil kukasari kepalanya. Nonokku yang gatalnya semakin nggak ketulungan membuat aku jadi buas, binal dan liar... suatu peristiwa yang tak pernah terjadi saat aku bersanggama dengan suamiku selama ini. Mungkin ini pengaruh dari tubuhnya yang atletis itu, atau aroma keringatnya yang maskulin itu, atau nikmatnya dientot dengan kontolnya yang dahsyat itu? aku tak tahu....

Aku menggelinjang-gelinjang dengan sangat hebatnya. Aku berteriak histeris tertahan sebagai wujud pelampiasan nafsu birahiku yang tak terkendali ini. Aku ingin dipuaskan sejadi-jadinya. Aku berguling ke atas. Dengan rambutku yang telah lepas terurai dari ikatannya dan dengan keringat yang semakin membasah mengucur dari tubuhku, aku tumpakin tubuh Mas Tondy. Aku desakkan habis-habisan nonokku ke kontolnya untuk menggaruk lebih keras kegatalan birahi di dalamnya. Aku sangat gelisah dan resah menunggu hadirnya orgasmeku. Setiap kali aku mendongak dan menyibakkan rambutku kemudian kembali menunduk histeris. Tangan-tanganku mencekal bukit otot di dada Mas Tondy hingga kuku-kukuku menancap dalam ke dagingnya. Mas Tondypun seakan tak mau kalah. Dia membenamkan wajah tampannya ke payudaraku untuk menyusui kedua belah payudaraku yang ranum itu sepuasnya. Sementara di bawah sana, rasa gatal yang sangat nikmat mendesaki nonokku.Aku tahu ini sebagai tanda bahwa tak akan lama cairan birahiku akan tumpah ruah. Aku sudah demikian lupa diriku.

Akhirnya kami sama-sama mencapai kepuasan puncak kami. Cairan hangat yang menyemprot dari kontol Mas Tondy ke dalam nonokku langsung disambut dengan muntahan berlimpah cairan birahi nonokku. Aku langsung tersungkur sementara kedutan-kedutan kontol Mas Tondy belum sepenuhnya usai.
Untuk sesaat kami memang beristirahat. Namun nafsu birahi yang masih berakar kuat di tubuh kami masing-maisng mendorong kami untuk melakukannya lagi dan lagi. Siang hari itu kami habiskan bak pengantin baru. Kami bercinta sepuasnya dalam berbagai gaya dan tempat di rumah itu, diakhiri dengan gaya anjing yang spektakuler di ranjangku.

Siang itu untuk pertama kalinya aku berhasil meraih orgasmeku berkali-kali. Satu hal yang tak akan pernah rasanya kudapatkan kalau aku bercinta dengan suamiku sendiri. Nyaris 2 jam kami bercinta, aku terkapar terbadai kelelahan di pelukan Mas Tondy.


Tiba-tiba aku dilanda perasaan sangat menyesal. Aku seharusnya tak melakukannya. Aku merasa benar-benar kotor. Namun, saat aku masih melamun dalam penyesalan, tiba-tiba Mas Tondy bangkit dari ranjangku. Dia mencium keningku dan berlalu. Kudengar bisikan terima kasih dari bibirnya. Tiba-tiba aku merasa ingin sekali lagi menangkapnya untuk mengecup bibir seksinya sekali lagi, tapi dia telah hilang di balik pintu.

Siang itu aku tidak masak. Rasa penat disekujur tubuhku akibat disenggamai lelaki gagah itu membuatku bermalasan sepanjang hari itu. Saat Mas Naryo pulang sore harinya, kulihat dia membawa bungkusan plastik di tangannya. Dia membawa mie goreng dan puyunghai kesukaanku. Seakan aku melupakan apa yang telah terjadi siang tadi kini aku duduk makan bersama suamiku dengan perasaan penuh galau. Pada Mas Naryo aku sampaikan keinginanku untuk beberapa waktu aku pulang mudik. Aku bilang sudah kangen sama sanak famili di Salatiga. Mas Naryo menatap aku, menatap mataku. Dia berusaha membaca relung hatiku. Dia setuju aku pulang. Dia menyadari bahwa aku masih dalam proses adaptasi dalam menyelami kehidupan Jakarta. Dia akan menjemputku saat kembali ke Jakarta nanti.

Rupanya permintaanku pulang dia sambut dengan sebuah rencana yang memberikan kejutan bagiku. Sesudah barang tiga minggu dengan penuh rindu aku menunggu jemputan Mas Naryo, dia menelponku. Dia bilang bahwa tidak bisa datang menjemputku karena kesibukkan di kampusnya. Tetapi dia telah mengirimkan 5 lembar tiket Garuda yang bisa aku ambil di kantor Garuda Semarang. Dia minta supaya aku mengajak serta kedua orang tuaku dan 2 orang adikku yang sedang liburan sekolah. Sesuai dengan hari yang ditetapkan Mas Naryo menjemputku di bandara Sukarno Hatta dengan sebuah Kijang baru. Aku heran ternyata Mas Naryo bisa menyopir mobil sendiri.

Dan kejutan yang paling hebat dari Mas Naryo adalah saat mobil Kijang ini tidak meluncur ke rumah yang kukenal sebagai rumah kami selama ini. Melalui jalan tol Jagorawi Mas Naryo membawa mobilnya ke kompleks perumahan dosen di Cibubur. Kami memasuki rumah baru kami yang besar dan luas. Segala barang-barang dari rumah lama telah dipindahkan seluruhnya ke rumah baru ini. Aku melihat bagaimana orang tuaku dan adik-adikku menyambut gembira atas limpahan rejeki dan rahmat kepada kami. Di depan mereka Mas Naryo merangkul aku dan mencium pipiku yang kusambut dengan sepenuh hangat hatiku. Aku membulatkan tekadku untuk sepenuhnya mengabdi dan mendukung segala usaha dan karier Mas Naryo suamiku.


Namun hubungan mesumku dengan Mas Tondy tak berakhir begitu saja. Walaupun kami sudah tinggal berjauhan, kerinduan untuk mengulangi peristiwa indah di hari itu selalu terpatri kuat di benakku dan di benak Mas Tondy. Tak heran sejak peristiwa nikmat di rumah kontrakanku itu, secara teratur kami masih berhubungan. Kami sering bertemu untuk menyalurkan nafsu hewaniah kami di mana saja kami mau. Di hotel, motel, puncak, Carita, dan tempat-tempat perselingkuhan lainnya.

Akupun baru sadar sekarang, Mas Naryo adalah suami sahku, tetapi Mas Tondylah suami seksualku yang sebenarnya...
(Diceritakan kembali oleh Larsih Sunaryo)

Jakarta, akhir Mei 2003

E N D

Tuesday, July 12, 2011

"Gara gara ayam goreng malah dapet tante"

Pada waktu itu aku pulang dari kampus sekitar pukul 20:00 karena ada kuliah malam. Sesampainya di tempat kost, perutku minta diisi. Aku langsung saja pergi ke warung tempat langgananku di depan rumah. Warung itu milik Ibu Sari, umurnya 30 tahun. Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti. Lalu aku langsung masuk ke dalam warungnya.
“Tante..?”
“Eee.. Dik Sony, mau makan ya?”
“Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?”
“Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.”
“Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas.
“Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?”

“Terserah Tante aja dech..”
“Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?”
“Mari saya bantu Tante.”
Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya..
“Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..”
“Ya Tante..” jawabku.
Lalu Tante Sari masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus.
Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat.
“Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?”
“Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur.
Setelah sampai di pintu dapur.
“Ada apa Tante?” tanyaku.
“E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?”
“Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Sari yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah.
“Dik Sony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam.
“Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku.
“Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..”
Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa.
“Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%.
“Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya.
“Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China.
“Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?”
“Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung.
“Sama-sama Tante..” kataku.
“Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya.
“Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu.
Disaat makan, terlintas di pikiranku tubuh Tante Sari yang telanjang. Oh, betapa bahagianya mandi berdua dengannya. Aku tidak bisa konsentrasi dengan makanku. Pikiran kotor itu menyergap lagi, dan tak kuasa aku menolaknya. Tante Sari tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi telah tertutup, aku membayangkan bagaimana tangan Tante Sari mengusap lembut seluruh tubuhnya dengan sabun yang wangi, mulai dari wajahnya yang cantik, lalu pipinya yang mulus, bibirnya yang sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok, perut dan pusarnya, terus vaginanya, bokongnya yang montok, pahanya yang putih dan mulus itu. Aku lalu langsung saja mengambil sebuah kursi agar bisa mengintip lewat kaca di atas pintu itu. Di situ tampak jelas sekali.
Tante Sari tampak mulai mengangkat ujung kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Tubuhnya tinggal terbalut celana pendek dan BH, itu pun tak berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dia melepaskan celana pendek yang dikenakannya, dan dia tidak memakai CD. Kemudian dia melepaskan BH-nya dan meloncatlah susunya yang besar itu. Lalu, dengan diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun LUX, lalu tangannya meremas kedua susunya dan berputar-putar di ujungnya. Kejantananku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar sekitar 50%. Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Tante Sari meneruskan gosokannya di daerah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyungging.
Beberapa saat kemudian..
“Ayo, Dik Sony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!” tiba-tiba terdengar suara dari Tante Sari dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan.
“Maaf yah Tante. Sony tidak sengaja lho,” sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Tante Sari tersenyum manis sekali dan..
“Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gicu?”
“Baik Tante..” kataku sambil menutup pintu.
“Dik Sony.. burungnya bangun ya?”
“Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Sony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante..”
“Ah nggak pa-pa kok Dik Sony, itu wajar..”
“Dik Sony pernah ngesex belum?”
“Eee.. belum Tante..”
“Jadi, Dik Sony masih perjaka ya, wow ngetop dong..”
“Akhh.. Tante jadi malu, Sony.”
Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Sari juga memperhatikan.
“Dik Sony, burungnya masih bangun ya?”
Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Sari mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku.
“Wow besar juga burungmu, Dik Sony..” sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.
“Dik Sony.. boleh dong Tante liat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Sari sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku.
“Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Sony.” kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Sari dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu. “Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough..” desahku sambil bersandar di dinding.
Setelah itu, Tante Sari memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku. Aku kaget, tiba-tiba Tante Sari menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Sari nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku.
“Dik Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!”
Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Kulahap dengan rakus vagina Tante Sari, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya.
“Ough Sonn.. ough..” desah Tante Sari sambil meremas-remas susunya.
“Terus Son.. Sonn..” aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.
Kemudian Tante Sari tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas.
“Ayo Dik Sony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Son?”
“Tante udah nggak tahan ya?” kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang, vaginanya dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan penisku di bibir vaginanya.
“Aoghh..” teriak Tante Sari.
“Kenapa Tante..?” tanyaku kaget.
“Nggak.. Nggak apa-apa kok Son.. teruskan.. teruskan..”
Aku masukkan kepala penisku di vaginanya.
“Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?”
” Nggak pa-pa Son.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok..”
Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Sari sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari.
“Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Son.. terus Son.. oughh..” desah Tante Sari, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Sari. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Sari.
Tiba-tiba Tante Sari terduduk sambil memelukku dan mencakarku.
“Oughh Son.. ough.. luar biasa.. oughh.. Sonn..” katanya sambil merem melek.
“Kayaknya aku mau orgasme.. ough..” penisku tetap menancap di vagina Tante Sari.
“Dik Sony udah mau keluar ya?”
Aku menggeleng, kemudian Tante Sari terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Sari semakin mendesah, “Ough.. Sonn..” tiba-tiba Tante Sari memelukku sedikit agak mencakar punggungku.
“Oughh.. Sonn.. aku keluar lagi..”
Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Sari.
“Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?”
“Terseraahh.. Soonn..” desah Tante Sari.
Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Sari, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Sari orgasme kembali lalu dia gigit dadaku, “Oughh..”
“Dik Sony.. Sonn.. kamu memang hebat..”
Aku kembali mangenakann CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Sari masih tetap telanjang, terlentang di lantai.
“Dik Sony.. kalo mau beli makan malam lagi yah.. jam-jam sekian aja ya..” kata Tante Sari menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak.
“Tante ingin Dik Sony sering makan di rumah Tante ya..” kata Tante Sari sambil tersenyum genit.
Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi. Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara “Ayam Goreng” aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Sari. Dunia ini memang indah.

Peselingkuhan istriku

Pukul 14.00, Selasa

Begitu buka pintu, istriku langsung berhadapan dengan seorang lelaki dengan perawakan sedang. Nampak matanya tajam menembusi mata istriku. Sesaat istriku terpana. Belum seutuhnya menyadari keadaan ketika lelaki itu mengucapkan, ‘Selamat siang, buu ..’, yang secara reflek dijawabnya ‘selamat siang’. ‘Madu bu, madu asli Sumbawa, bagus untuk kesehatan sekeluarga. Murah saja bu, buat ongkos pulang’. Begitu lelaki itu langsung terus nyerocos.
Dan istriku, nggak tahu kenapa, dia tidak begitu mendengarkan omongannya tapi justru memperhatikan sosok lelaki tersebut. Tampak olehnya lelaki dibalut kulit kehitaman, alisnya tebal. Dan matanya yang tajam itu begitu terasa menusuki matanya. Dan anehnya jantungnya langsung deg-degan. Dia merasakan ada pesona membakar yang langsung melanda hatinya, perasaannya. Lelaki itu setengah baya, kira-kira 35 tahunan. Dengan baju kotak-kotak dan celana khakinya yang walaupun nampak agak kasar dan kumuh, lelaki itu begitu jantan. Dan itulah yang memuat jantung istriku deg-degan berdebar.
Tak pernah perasaan macam itu hadir di hati istriku. Sepanjang ini dia merupakan type istri yang sangat setia. Sebagai seorang perempuan tak pernah selintaspun hadir dalam hati dan pikirannya mengenai lelaki lain kecuali suaminya yang sangat dicintai dan hormatinya.
Tetapi kenapa sekarang ini tiba-tiba ada perasaan lain menghadapi lelaki ini. Pandangan mata lelaki itu, kenapa membuat jantungnya berdebar. Dan ahh .., lantas saat itu hadir kerinduannya pada sang suami. Bayangan belaian suami yang menelusuri tubuhnya. Hendusan nafasnya yang meniupi telinganya hingga bergidik birahinya bangkit bergetar.

‘Bu, koq ibu nampak pucat, sakit ..??’, tiba-tiba istriku tersedar, ‘ ..e ..ng..ngg..gak, nggak .. pa pa .. Ah maaf, silahkan masukk .., mari sini, silahkan duduk .. ‘, jawab istriku dengan gugup dan serta merta menyilahkan lelaki asing itu untuk memasuki rumahnya, yang kemudian langsung disusul perasaan menyesal, kenapa dia persilahkan orang asing memasuki kerumah dan bahkan mempersilahkan duduk. Rupanya istriku menjadi salah tingkah. Sesaat dia ingin menahan, ‘..eehh ..’, terpikir untuk mencabut ajakan masuk rumah tadi, tetapi ..perasaannya nggak enak setelah lelaki dengan botol-botol madunya itu masuk menaruh bawaannya dan duduk di sofa panjang ruang tamu. Sekali lagi dia ingat suaminya. Suaminya yang sering duduk di sofa tersebut sambil membaca koran atau majalah. Pada saat-saat seperti itu dia biasanya mendekat, menaruh tangannya dipangkuannya yang langsung disambut oleh suaminya dengan begitu mesra, dirangkulnya dan diciuminya. Terkadang ah .. belaian mesra kemudian berlanjut menjadi asyik masuk sebagaimana lelaki dan perempuan yang suami istri.
Dan lelaki asing itu sekarang duduk di sofa yang sama. Sesaat timbul rasa takut, siapa tahu dia mempunyai maksud-maksud jahat. Tetapi matanya itu, walaupun sosoknya agak kasar dari matanya itu nampaknya lelaki asing ini baik. Istriku merasa tidak perlu menampakkan cemas menghadapinya. ‘Duduk dulu ya mas, ..mau minum apa??’ eehh ..bahkan selanjutnya dia juga menawarkan minum. Dan tanpa menunggu jawabannya istriku langsung ke dapur membuatkan minuman.
Saat hendak menyuguhkan, nalurinya mengingatkan untuk sedikit dandan, menata rambutnya, bajunya. Dia menuju ke kamar, kedepan kaca dan meja rias. Dipenghujung usianya yang 42 th. dirinya masih cantik, sebagaimana komentar banyak orang. Dia menyisir, menggunakan bando, memantas-mantaskan roknya, blusnya. Dan tidak lupa ..crot crot, sedikit minyak wangi di tubuhnya. Selintas terpikir ..mau apaa ini ..adakah jiwa petualangan di hatinya?? Mau ngapain kamu jengg ..?? Begitu pikirnya ..
‘Ah, ibu jadi repot nih ..’, begitu basa-basi lelaki asing itu. ‘Nggaak ..ada koq, silahkan minum..’, dia sepertinya sengaja melemparkan senyuman, kemudian dia balik ke dapur mengembalikan nampan. Saat hendak balik menemui tamunya, terpikir ingin iseng sedikit. Dia masuk ke kamar. Ada celah kecil dari kamar dimana dia bisa mengintip lelaki itu.
Nampak olehnya lelaki itu mengambil cangkir teh dan menyeruput isinya .. Jelas kini. Kekumuhannya, mungkin karena menjadi orang jalanan, tidak mempengaruhi tampilannya yang sangat jantan. Wajahnya tidak cakep tetapi nampak wajah yang tegas dengan sedikit guratan kesungguhan pada dahinya dan kelopak bawah matanya. Dan pandangan matanya itu lhoo .. Aahh .., kenapa lelaki seperti itu cuma kerja jadi pedagang keliling jual madu .. Tetapi yah, ..siapa tahu .. Jakarta yang keras macam ini membuat sesorang harus berjuang untuk hidupnya ..dan melakukan apa saja yang suka atau tidak suka harus dilakukan untuk mempertahankan hidup.
Kini nampak dia itu duduk sedikit santai. Bersandar di jok sofa, kakinya selonjor kelantai dengan sedikit merenggangkan pahanya. Ahh .. Istriku kembali ingat suaminya ..begitulah duduknya sesaat pulang dari kantor. Debar jantung istriku bangkit kembali. Dia perhatikan celana khaki yang agaknya dekil itu. Tepat di daerah selangkangannya, nampak tonjolan menggunung. Dan yang membuat istriku semakin penasaran adalah, dengan tangannya yang nampak berotot, sesekali lelaki itu mengelusi tonjolan tersebut sambil matanya setengah meram seakan menikmati.
Uhh ..kenapa lelaki itu berbuat demikian..ah ..mungkin hanyalah kebiasaan. Tetapi bagi istriku hal tersebut membuat darahnya terpacu ke atas. Wajahnya menjadi nanar, matanya pasti memerah dan tanpa sengaja, lidahnya menjilati bibirnya dan kemudian menggigitnya. Dia menahan suatu gejolak ..gejolak birahi.. Perasaan yang sama seperti saat suaminya membelai kemudian mengendusi lehernya, hadir dari belakang celah sempit di kamarnya saat dia mengintip lelaki asing itu. Eehh .. kenapa sih aku ini ..? Setengah heran masih bertanya pada diri ..
Tiba-tiba terlintas olehnya akan ulah ngintipnya itu. Sejak SMP diantara teman-temannya dia sering disebut sebagai petualang. Memang, walaupun anak perempuan dia senang sekali dengan hal-hal petualangan. Dia naik gunung, jalan menyelusuri sungai, panjat tebing dsb. Bahkan di kotanya dia diangkat menjadi salah satu pengurus klub pecinta alam. Sudah begitu lama itu berlalu. Sejak berumah tangga kesenangan petualangan itu pupus sendiri. Sudah lupa. Dan kini, saat ngintip tamu asingnya itu dia ingat jiwa petualangan itu lagi. ‘Masih adakah jiwa itu padaku?’, setengah bertanya dalam hatinya.
Dan jawabannya adalah hati yang gemetar dan jantung yang degupnya sangat keras hingga seakan tubuhnya bergoyang. Dia ingat saat-saat ber-ada di suatu peristiwa panjat tebing. Saat itu dia harus menembus satu celah sulit, dan berhasil. Saat seperti itu ketegangan yang amat dirasakan memacu adrenalinnya. Dan ketegangan semacam itu saat ini dia rasakan kembali. Kerinduan akan petualangan masa muda tiba-tiba menyeruak dan menembusi relung-relung hati dan pikirannya. Kerinduan yang kembali memacu adrenalinnya.
Dan dia nggak bisa menolak kerinduan petualangan itu. Dia pengin. Pengin merasakan lagi, setidak-tidaknya untuk kali ini saja. Dia pengin kembali bertualang, merasakan adrenalinnya terpacu kembali. Tapi kali ini tantangannya beda. Bukan karang terjal. Bukan pucuk-pucuk gunung. Bukan pula jeram riam sungai-sungai. Kali ini adalah lelaki asing di lobang pengintaian itulah sasarannya. Dan inilah kesempatannya, mumpung suami sedang keluar kota dan pelayan kecilnya sedang menginap liburan di tempat kakaknya. Dan lelaki itu alangkah seksinya untuk begitu saja dilewatkan. Dari bulu alisnya yang hitam tebal dia bayangkan bagian-bagian tubuh lelaki itu juga akan menghitam dan tebal penuh bulu. Uhh ..bayangan itu .., fantasinya.., khayalannya macam itu .. sepertinya bukan baru sekarang munculnya.
Jauh didalam lubuk hatinya, selama ini sesungguhnyalah dia merindukan lelaki lain di luar suaminya. Lelaki lain yang lebih jantan, mungkin juga lebih kasar, lelaki yang lebih seksi yang bisa membangkitkan nafsu seksualnya ..yang lebih memahami gejolak birahinya. Dengan suaminya .. dia rasakan selama ini nggak pernah benar-benar mendapatkan sesuatu yang selalu ditunggu setiap perempuan, orgasme. Kepuasan puncak dalam hubungan seksual.
Sayang, walaupun tidak berarti kurang cinta dan hormatnya, suaminya tidak menunjukkan perhatiannya secara sungguh untuk hal ini. Dia kelewat sibuk dengan urusannya. Dia pikir perempuan hanya butuh materi, uang, perhiasan atau mobil, sebagaimana yang dia selalu penuhi untuk membahagiakan istrinya.
Begitulah kalau birahi menyerang seseorang. Segala hambatan dan rintangan berusaha ditembusi. Setiap yang salah dicari kambing hitamnya untuk mendapatkan pembenaran tingkah dirinya sendiri. Nafsu birahi hampir selalu egoistik. Dan kini, ketetapan istriku telah penuh. Kembali bertualang. Harus dapat. Dan sekarang. Inilah saat yang tepat dan untuk sasaran yang juga tepat. Masalahnya tinggal bagaimana cara melaksanakannya. Bagaimana dengan perasaan suaminya, seandainya suatu saat dia mengetahui .. aah .. ‘Jangan lagi bimbang’, Begitulah keputusannya. Dorongan nafsu yang sangat kuat membuat dia enggan untuk menghindar. Semua lainnya dia abaikan. Biarlah nalurinya nanti yang akan mencari jawaban. Dengan kepercayaan pada nalurinya itu, istriku menjadi lebih santai. Pelan-pelan disusupkannya tangannya ke dalam blusnya. Dia mainkan puting susunya. Dia bayangkan lelaki asing itu sesaat lagi akan mengisapnya. Lidahnya akan menjilati dan giginya akan menggigitinya. Ooohh, ampuunn ..nikmaatt ..
Khawatir berlama-lama sendirian, istriku beranjak keluar kamar untuk menemui tamunya. Tetapi sebelum keluar, naluri petualangannya mulai memberikan sinyal. Dia melangkah menuju lemari bajunya. Diambilnya rok model ‘midi kulot’ dengan sedikit belahan pada ujung bawahnya yang mudah terlepas dari pinggulnya dan siap telanjang. Dengan sekali menarik resluitingnya dijamin rok itu akan langsung lepas ke lantai. Dan untuk atasannya, dia pilih blus dengan kain halus yang tipis. Kain itu akan mudah menampakkan kontur tubuhnya, buah dada dan bahunya yang bidang. ‘Kamu sangat seksi dengan baju itu, jeng’, begitu pujian suaminya suatu kesempatan.
*****
Pukul 14.12, Selasa
Berapa harga madunya, Mas ..?’, dia membuka omongan. Dan membuat lelaki tamu asingnya itu mendongak serta memperhatikan kehadirannya yang telah berganti pakaian untuk tamunya. Nampak keterperanjatan sesaat di matanya sebelum dia menjawab, ..’Hmm ..terserah ibu sajalah ..’,
‘Lhoo, koq terserah .., n’tar Mas rugi lhoo ..’, sambil mendekat hingga sangat dekat, kemudian meraih salah satu botol madu, dengan maksud lain, yaitu menebarkan aroma parfum merangsangnya sebelum kemudian mengasongkan bokongnya ke kursi di depan tamunya. ‘Ahh nggaakk.. bbuat ibu sih nggak pa pa ..khan sya uu.. dah dissu.. ssuu..guhin minum segala ..’. Sahut penjual madu itu. Nah ..kelihatan sudah, suaranya nampak tergetar, walaupun dia berusaha untuk berkesan akrab dan menguasai diri. Dan ..matanya tidak lagi mampu lepas dari tubuh istriku. Memang kuakui, walaupun sudah cukup umur istriku masih amat seksi di mata para lelaki. Aku sendiri tak puas-puasnya selalu memandanginya, sampai dia suka merasa malu. Apa lagi kalau udah pakai baju lembut tipis dengan kulot sebagaimana yang nampak saat ini.
Istriku menyadari bahwa lelaki ini memperhatikan penampilannya. Aroma minyak wangi yang cukup semerbak pasti membuat tamu asingnya ini kelimpungan. Pasti dia memahami tingkah perempuan. Lelaki dengan tampilan macam dia pasti banyak perempuan yang memburunya. Dia pasti memiliki pengalaman dan memahami, kalau seorang perempuan yang saat pertemuan pertama tadi masih amburadul, kemudian sesaat masuk ke kamarnya dan keluar lagi menjadi rapi dan wangi, biasanya mempunyai kemauan dan harapan khusus. Hal macam ini pasti tidak asing bagi dia, lelaki jantan yang perempuan manapun melihat langsung terdongkrak birahinya.
‘Apa sih khasiatnya madu ..??’, istriku bergaya genit manja setengah bertanya se-akan tidak tahu, memancing dan berharap bisa terjadinya dialog yang ..sebagaimana kalau bicara khasiat madu di antara para lelaki. ‘Banyak bu, .. Secara umum ini bagus untuk kesehatan .., dari anak-anak sampai dewasa baik minum ini ..’. ‘Secara khusus? ..apa?’, ‘Ah, ibu ..khan suami ibu juga tahu ..ini termasuk jamu sehat dan kuat buat bapak-bapak’.
Whoo ..pancingan omongan telah dilemparkan dan nampaknya umpan mulai dimakan. Bicara kekuatan lelaki. ‘Tapi, saya nggak pernah lihat buktinya, tuh ..!’, sanggah pura-pura istriku dengan umpan yang lebih kuat. ‘Tapi madu ini lain bu, .. Ini diambil khusus dari hutan. Ini yang namanya madu hutan. Lebahnya bisa menyerang siapapun yang mendekat. Para pengambil madu ini harus memilik keberanian dan pengalaman’.
Wahh .. bagaimana caranya menggiring buruan ini .., istriku berfikir keras. Dengan pura-pura serius mendengarkan, dia mulai bermain, melenggokkan bahu dan sesaat kemudian merenggangkan pahanya. Sementara tukang madu tadi mencuri pandang ke mata istriku, salah tingkah. Kemudian tangannya yang memegang botol madunya mengelus-elus leher botolnya, macam seseorang mengelus-elus alat vital. Tingkah tersebut nampak sangat erotis di mata istriku. Dan tukang madu itu rupanya juga sadar ..menggiring pembicaraan dan suaranya mulai terdengar parau, sementara tangannya terus mengelusi leher botol itu. ‘Bbb..bbu, ini buat bapak .. Bapak mana Bu ..?’, tiba-tiba dia menanyai suaminya .., setengah berbisik .., ‘Bapak sedang tugas ke Medan sampai hari Minggu nanti ..’, suara istriku juga ikut parau ..dan hatinya bergetar bersorak .., dia sudah yakin mangsanya masuk dalam jeratannya.

Mbok Rasmiani Pembantuku Yang Hot

Ini kisah nyata yang ingin ku share bagi semua teman teman ku sehingga tidak mengulang kesalahan yang kubuat Ceritra ku bermula di sekitar tahun akhir tahun2001, aku adalah seorang pria berumur 36 tahun beristri seorang arsitek Kehidupan keluarga kami tidak ada permasalahan sama sekali kami hidup sangat harmonis dengan empat orang anak dua putra dan dua putri . Sekitar bulan Oktober 2001 karena merasa sudah cukup berhasil dalam bisnis aku mulai lengah ingin bermain main sejenak melepas ketegangan hidup ku dengan mulai routine minum alcohol bier setiap hari bahkan mulai memberanikan diri mendatangi panti panti pijat walau alasannya hanya ingin sekedar meremas remas payudara mengeluti tubuh pemijat tanpa ada niatan menyetubuhinya sama sekali sampai kadang kalau tidak tahan di onani dengan tangan atau dihisap oelh sipemijat dan kebiasaan itu terus berlanjut berulang ulang berpuluh kali artinya aku telah mulai menyimpan ketegangan tersembunyi sampai ……………………………………

Suatu ketika punggungku merasa nyeri sehingga membutuhkan dipijat kala dirumah saat itu yang ada hanya pembantuku mbok rasmiani dari jember seorang janda satu anak berumur sekitar 30 tahun yang sangat montok tetek gede pantat gede bodan moleg rambut panjang yang sudah bekerja denganku sejak tahun 1994 jadi hampir 9 tahun. Baru kusadarai bahwa ada sesuatu yang harus kunikmati kugarap dirumah takala istriku tidak dirumah .
Mulai saat Kala itu setiap ada kesempatan kosong langsung aku menyergapnya yang dimulai dari sofa dilantai atas pada awalnya aku hanya berhasil meremas teteknya dari luar dan mendapat perlawanan yang sangat sengit. Tapi usahaku berlanjut sampai tanganku berhasil menyelinap masuk kedalam kausnya berhasil menyentuh payudaranya didalam cukup sampai disitu dengan perlawan keras tidak bia mencapai bagian bawahnya. Perjuangan dilanjutnya selalu ada kemajuan sampai kugapai putting susunya disana langsung perlawanannya melemas walau hanya boleh sampai disitu meremas remas dari dalam. Perjuangan dilanjutkan sampai aku berhasil dan diijinkan membuka mengeluar payudaranya dari baju kaosnya dan diijinkan menjilat jilat menghisap putting susunya nya sepuasnya , sampai cukup lama aku menikmati progress ini tanpa berhasil mengutak atik bagian bawahnya .
Disuatu hari diakhir bulan November 2001 seperti biasa hal routine Mbok Rasmi masuk kekamarku membawa baju untuk dirapikan didalam lemari pakaian ku, aku mempunyai akal taktik jitu untuk bisa mulai mengutak atik vaginanya , pada hari itu aku tidak mulai dari atas atau dari payudara tapi langsung berlutut menciumi pantatnya dan meremas remas pantatnya dari bawah dan belakang ternyata strategi serangan bawah ini cukup jitu, dia lengah tanapa disadari tanganku merayap dari bawah mulai betis naik kepaha dan berhasil menyelusup masuk kecelana dalamnya tanpa bisa dihalangi karena tangannya tidak cukup jauh bias menghalangi merintangi tanganku yang bergerak dari bawah dan itulah hari pertama aku berhasil menggosok gosok vaginanya dan disana pulalah awal dari keterangsanga Mbok Rasmi yang tidak dapat terbendung baginya semuanya sudah diserahkan kecuali bersetubuh .
Sampai diawal januari 2002 saat akau pulang kantor kudapati dia sedang bersih di kamar makan karena ruma kosong kutarik dia kekamar kulucuti celana dalamnya selagi berdiri langsung kujilati vaginannya sampai dia menjerit jerit keeenakan setelah itu keadaan berubah lebih fatal dan tidak kusangka sampai aku terkejut sekali ………………………………
Diawal Februari 2002 kembali saat aku pulang dari kantor dan rumah kosong cuman ada dia di ruang makan ketika aku duduk tiba tangan ku ditarik dan diajak kelantai atas selanjutnya dia masuk kekamarnya langsung membuka celana dalamnya dan keluar langsung berbaring sambil mengangkangkan pahanya dan langsung berkata “ cepat masukin “ dan aku menjawab “benar nich” dan dia menjawab “ ya cepat aku sudah biasa kok” aku malah jadi panic dan lemas namun aku ingat persiapan yang pernah kupersiapkan , aku turun kelantai bawah dan mengambil kondom memasangkannya ke penisku dan naik kelantai atas. Terlihat kekecewaan yang sangat mendalam di wajah mbok rasmi “ loh kok pake begituan” aku diam saja dan menyodorkan penisku untuk dimasukan kedalam vaginanya namun yang terjadi penisku lemas malah terjadi ejakulasi dini tanpa sempat penetrasi dan aku pergi meninggalkannya begitu saja .
Sejak saat itu terjadi perubahan sikap pada mbok rasmi dia sengaja berpakai seksi didepanku bahkan pernah suatu pagi saat dia membersihkan kolam ikan dengan sengaja celana jeans yang dipakainya sengaja dibuka kancingnya sehingga setiap dia menunduk membungkuk celananya jeansnya lolos turun merosot kebawah maka terlihatlah seluruh pantatnya dengan celana dalam merahnya yang sengaja dipamerkan diumbar didepanku karena aku bisa melihatnya dari tangga atas hal tersebut terjadi berulang ulang , yang ternyata hal itu malah membuat ku panic.
Dan diakhir Februari 2002 terjadilah mala petaka itu disuatu sore ketika rumah kosong namun ada putraku no 2 yang sedang pergi bermain kerumah tetangganya, kukira ini kesempatan emas maka seperti biasa kusergap dia dari belakang dan kukeluarkan payudaranya dari kaosnya maunya kujilati namun tepat saat itu anak ku nomor 2 datang dan melihat semua kejadian itu. Aku panic bingung depresi memikirkan kemungkinan pengaduannya pada ibunya yang masih belum pulang kerja malam itu. Langsung saja dia kuajak keluar makan mie kesukaannya dan menyewa film video kesukaaannya sepuasnya maksudku agar dia melupakan apa yang dia lihat .
Namun kecemasanku sudah tidak bisa dihindari mengarah pada depresi sementara libidoku makin memuncak sampai terasa saraf internalku terkena aku kehilangan orientasi bingung mual panic stress cemas ketakutan tegang sekali , sampai suatu hari aku tidak bisa berfikir lagi penisku seperti mau meledak ngilu sampai rumah kupangggil mbok rasmi kusuruh kocok penisku sampai ejakulasi sambil kukocok vaginanya, permasalahan berlanjut mungkin sudah diatur nasib malamnya terjadilah keanehan suatu hal yang tidak pernah terjadi istriku menarik ku ketempat tidur mengajak ku berhubungan badan hal yang belum pernah terjadi bahkan dia merangsang ku sampai menghisap dan penisku sama sekali tidak bisa bangun , …….. aku impotent lengkaplah kepanikan ku.
Sejak saat itu aku mengalami depresi berat takut ketahuan pengaduan dari anakku no 2 impotent libido , sementara mebok rasmi semamakin atraktif berpakaian benar benar mencemaskanku . puncaknya aku merasa mual yang tidak terkira sampai akhirnya ………………………………………. Aku mengambil keputusan nekat aku mengaku ……………. Didepan istriku dengan harapan dapat melonggarkan depresiku malah terjadi luar biasa parah ,
Istriku sangat terkejut menangis marah dan langsung minta cerai dia meninggalkanku ke Jakarta tidak tahu kapan kembali, disinilah perjuangan ku untuk mengembalikan keharmonisan keluargaku menyembuhkan depresiku waktunya cukup lama sampai Januari 2004 sekitar 2 tahun lamanya aku berobat ke dokter jiwa setiap bulan selama 2 tahun habis biaya cukup banyak juga berobat keparanormal pendeta dan Tuhan Maha Pengampun istriku telah kembali kepelukanku dan mengampuni yang sudah lewat .
Namun ada sesuatu yang kusesali sebetulnya kalau aku bisa lebih rapi dan bersabar hal diatas tidak perlu terjadi aku bisa mengakhirinya dengan happy ending every body happy istriku tidak perlu tahu hubunganku dengan mbok rasmi berlanjut tapi tidak perlu terlalu intens. Maka kumulai lagi usaha ku kali ini menjadi jauh lebih sulit karena mbok rasmi sudah sangat takut dengan ancaman ultimatum istriku terjadilah perlawanan yang sangat dasyat berbulan bulan kegagalan yang kudapati sekedar menyentuh mencolek saja dia langsung bereaksi sampai aku hamper putus asa .
Sampai dipertengahan Januari 2003 sekitar pk 10 00 pagi kudengar salah seorang pembantuku yang lain keluar membeli makanan dan pembantuku yang lain cuti jadi berarti tinggal kami berdua suatu kesempatan yang sangat langka , langsung kucari dia ternyata da didapur dari belekang langsung kusergap dengan sasaran menelanjangi dadanya dan mengulum putingnya ada perlawanan namun kuselesaikan dengan alasan tidak ada siapa siapa apa yang kau takutkan , terjadilah episode lama berulang lagi aku menikmati dadanya sambil kusodorkon penisku dia tidak menolak gayung bersambut kami saling meremas sampai pembantuku yang lain datang dari membeli makanan. Aku menang aku berhasil perjuanganku tidak sia sia selanjutnya hanya bagaimana bisa menyentuh vaginanya .
Sampai disuatu sore istriku sedang kerja dirumah lengkap, aku panggil dia kusuruh dia kekebun dengan alasan membuka gerbang , kutanya mana simarni pembantu lainnya dijawab sedang mandi artinya aman, langsung kutarik dia lemas menurut saja kebelakang pagar sudah tidak ada perlawaan teteknya diserahkan bebas sebebasnya padaku namun pinggang kebawah masih dijaga. Aku tenang kujilati kuhisap kuremas habis habisan payudaranya samapi kelihatan dia sudah sanhat terangsang tanganku merayap kebawah kubuka kancing jeans dan tanganku langsung menyelinap memasuku celana dalamnya menggapai vagina dengan bulu lebatnya malah dia meregangkan kaki mengangkang membiarkan agar tangan ku semamkin leluasa bermain dalam vaginannya artinya Mission Complete Happy Ending . Kusudahi sampai disana sudah Cukup Enough sampai hari ini sudah minggu ke 5 atau 35 hari aku sama sekali tidak menyentuh dia sehingga terjadilah Cooling Down. Yang penting nanti kapan saja aku membutuhkannya rumah kosong tidak ada seorang anakku dirumah aku punya stok Payudara Besar Montohk Kencang Terimakasih …… ….Semuanya

Di rumah orangtuaku

Sekedar untuk mengingatkan para pembaca sekali lagi, namaku Irma tapi biasa dipanggil I’in oleh orang di rumah. Aku sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan. Saat ini usiaku 34 tahun dan adik bungsuku Tita 21 tahun. Aku sangat menjaga bentuk tubuhku, dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 59 kg, tidak ada yang menyangka kalau aku sudah memiliki 2 orang anak yaitu Echa 6 dan Dita 3 tahun. Kalau kata suamiku, teman-temannya sering memuji tubuhku, terutama pada bagian pinggul dan payudaraku yang berukuran 34B hingga terlihat sangat seksi jika sedang mengenakan baju yang pressed body.
Percumbuanku dengan Hasan terus berlanjut tanpa pernah ada halangan yang benar-benar mengganggu, seperti jika suamiku datang dari kota tempat dia bekerja, atau “tamu” wanita yang datang rutin tiap bulannya. Setiap kali bercumbu dengannya aku selalu mendapatkan kenikmatan orgasme yang tak terhingga, mulai dari gaya yang baru sampai tempat-tempat yang selama ini tak pernah kukira akan dapat melakukan hubungan sex di sana hingga itu membuatku semakin merasa terikat dan sulit untuk dapat lepas darinya.
Salah satu tempat yang sangat berkesan olehku adalah saat kami berdua melakukannya di rumah orang tuaku. Itu semua berawal dari keberangkatan kedua orang tuaku kekota Bpp karena ada keluarga yang akan menikah, rencananya mereka akan menginap satu malam di sana. Atas permintaan Tita, aku dan kedua anakku diminta bermalam karena dia takut kalau harus sendirian. Selain itu atas izin ayah kami, Hasan diminta Tita untuk bermalam dan keberadaanku di sana bertindak untuk menjaga kalau sampai mereka kelepasan.
Ternyata Hasan memiliki kejutan yang dia persiapkan begitu mendengar kalau aku juga akan ikut bermalam di sana. Malam itu sekitar jam 20:10, kami baru saja selesai makan malam. Setelah menyikat gigi, aku menidurkan kedua anakku di kamar yang dulu kutempati. Setelah 10 menit aku yakin kalau kedua anakku telah tertidur pulas, aku mematikan lampu dan keluar pelan-pelan dari kamar itu.
Saat sampai di depan TV aku mencari Tita, tapi dia tidak ada di sana sementara Hasan sedang asyik di sofa sambil tidur-tiduran di sana. Lalu aku mencarinya di dapur, kuketuk pintu WC, di sana tidak ada juga. Akhirnya aku kembali ke ruang tengah.
“Geser dikit San.. Kamu lihat Tita nggak..?” tanyaku padanya.
“Sudah tidur Kak..” jawab Hasan sambil duduk.
“Tumben sudah pulas jam segini.. Biasanya juga jam 10? komentarku.
Hasan tersenyum mendengar perkataanku, lalu dia merapatkan posisi duduknya ke tubuhku. Sementara matanya menatap tajam ke arahku dari atas sampai ke bawah. Walau tahu sedang dipelototi aku pura-pura cuek sambil menonton TV.
Malam itu aku mengenakan T-shirt tipis tanpa lengan yang lebih mirip singlet warna putih dengan dalaman BH warna hitam. T-shirt itu agak longgar, tapi tidak dapat menyembunyikan bentuk lekukan yang menonjol di dadaku. Tipisnya kain T-shirt dan BH yang kupakai membuat bentuk puting susuku secara samar bisa terlihat. Dengan belahan dada T-shirt yang rendah membuat kedua payudaraku akan terlihat dengan jelas jika sedang membungkuk sedikit saja.
Bawahanku adalah celana ketat selutut yang juga warna putih. Celana ketat itu memamerkan keindahan garis tubuhku pada bagian bawah. Lekukan pinggul dan pantatku yang sekal tercetak secara nyata di celana yang kukenakan saat itu. Sebenarnya aku memakai semua itu untuk menyenangkan Hasan, tapi aku tak mau mengatakannya karena aku sengaja ingin membuatnya menjadi panas dingin. Selain itu aku tak ada rencana untuk bercinta dengannya karena kondisi yang kurang mendukung, apa mau dikata rencana tinggal rencana.
“Kakak seksi banget malam ini.. Aku jadi terangsang nih” bisik Hasan di telingaku sebelah kiri.
“Jangan San.. ini di rumah ayah..” aku menolak sambil mendorong dadanya dengan kedua tanganku.
“Nggak apa Kak.. Toh mereka juga nggak bakal tahu..” kata Hasan sambil meremas payudaraku.
“Mmmh.. Tapi.. Ada.. Tita di kamar.. Kalo dia.. Akkh.. Bangun.. Gimana..?” ujarku sambil mencoba menahan kedua tangannya yang mencoba menelusup ke dalam T-shirt yang aku kenakan.
“Tenang aja Kak.. Aku udah masukin obat tidur ke dalam teh yang dia minum tadi.. Kalo kakak nggak mau.. Aku tidur sama Tita aja dah..”
Mendengar perkataannya itu, aku kaget bukan kepalang. Selain masalah obat tidur, aku takut kalau Hasan akan benar-benar meniduri Tita malam ini. Selang beberapa waktu aku tenggelam dalam pikiranku, dan saat aku sadar ternyata tubuhku bagian atas tinggal tertutup oleh BH yang kaitannya telah terlepas.
“Oke San.. Kakak mau.. Tapi jangan disini..” pintaku pada Hasan.
“Terserah kakak aja..” kata Hasan sambil menghentikan kegiatannya.
“Setengah jam lagi kamu masuk ke kamar.. Kakak mau siap-siap dulu..”
Hasan mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya yang sedang menindihku yang sudah setengah telanjang. Setelah mengenakan kembali BH dan T-Shirt yang tadi dipreteli oleh Hasan, aku langsung berdiri. Saat hendak melangkah, tiba-tiba Hasan merangkul pinggulku, kepalanya langsung tenggelam di pangkal pahaku sementara kedua tangannya meremas pantatku. Aku mendesah saat merasakan lidahnya yang menusuk-nusuk celana tipis yang kukenakan. Selang 5 menit kemudian Hasan melepaskan tubuhku dan membiarkan aku berjalan ke kamar.
Masuk ke kamar orang tuaku, pintu langsung kututup dan kulepaskan semua kain yang melekat di tubuhku kemudian dengan setengah berlari aku masuk ke toilet yang terdapat di kamar tersebut. Kuambil sabun sirih khusus untuk membersihkan alat vital wanita lalu kubersihkan kelaminku dengan sabun itu. Sekitar sepuluh menit kemudian aku keluar dan langsung duduk di meja rias ibuku. Kuperhatikan tubuhku di cermin, sepasang payudara berukuran 34B yang montok dan kenyal menggelantung indah dan menggairahkan. Kuturunkan mataku ke bawah, liang senggamaku yang merah terlihat dengan jelas tanpa terganggu oleh rambut kemaluan yang baru tumbuh pendek. Itu karena beberapa hari yang lalu rambut itu telah dicukur habis oleh suamiku.
Kuambil parfum khusus wanita milik ibu dan kusemprotkan ke beberapa bagian tubuh. Seluruh bagian leher, ketiak, payudara, perut dan paha. Semua itu adalah bagian tubuh yang biasa dijilat Hasan jika sedang mencumbuku. Tanpa mengenakan dalaman, kukenakan kimono tidur milik ibuku dan mengikat tali di pinggangnya. Kukecilkan volume cahaya kamar agar menjadi lebih romantis. Saat akan bercinta dengan suami saja aku tak pernah melakukan persiapan seperti saat itu, Hasan benar-benar telah membiusku. Setelah itu aku naik ke atas kasur. Kupeluk guling sambil menunggu Hasan masuk, aku merasa deg-degan seperti saat melalui malam pertamaku dengan suami.
Selang beberapa waktu kemudian kudengar pintu kamar diketuk, kupejamkan mata sambil bergulung ke arah kanan. Kemudian terdengar suara pintu dibuka lalu ditutup kembali, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Hasan memanggil-manggil namaku, tapi aku pura-pura tertidur dan tak menjawabnya. Kurasakan kasur agak bergerak, rupanya Hasan sudah naik ke atasnya. Tangannya menyentuh bahuku dan menggoyangnya, aku masih berpura-pura tertidur.
Kemudian dia mengubah posisi tubuhku dengan menelentangkannya, guling yang sedang kupeluk diambilnya. Setelah itu terasa tali kimonoku ditariknya, dan saat Hasan membuka kimono yang kukenakan, hawa dingin ruangan menyengat tubuhku bagian depan. Tak ada gerakan setelah itu, tapi aku yakin kalau saat ini Hasan sedang memandangi tubuhku bagian depan yang sudah terbuka lebar.
Selama beberapa saat aku tidak merasakan ada gerakan, ini membuatku hendak membuka mata karena penasaran. Tiba-tiba aku merasakan angin hangat pada pangkal pahaku, kubuka mataku sedikit, ternyata angin hangat tadi disebabkan oleh Hasan yang bernafas di selangkanganku. Pasti dia sedang menikmati wangi sabun sirih yang kupakai barusan. Hembusan nafas dari hidungnya bertiup ke arah pintu liang vaginaku. Ini menimbulkan sensasi nikmat tersendiri dalam tubuhku.
Hasan terus menghembuskan nafasnya di bagian bawah perutku, rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu dan merangsang tubuhku. Aku mencoba bertahan dan melawan kenikmatan yang terus menyerang, tapi tubuhku berkata lain. Kurasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar dari lubang kemaluanku, padahal Hasan hanya menghembuskan nafas saja tanpa melakukan penetrasi yang lain.
Seiring keluarnya cairan hangat dari liang kenikmatanku, udara hangat dari hidung Hasan mulai naik ke atas. Udara itu berputar-putar sejenak di lubang pusar, kemudian menjelajahi setiap jengkal kedua payudaraku, bergerak ke atas lagi hingga ke leher. Di sini dia bergerak bolak-balik dari kanan ke kiri. Semua perbuatan Hasan itu membuatku semakin terangsang dan hampir saja kehilangan kontrol, berkali-kali aku ingin mengerang saat hidungnya menggesek-gesek puting susuku.
“Sampai kapan mau tidur Kak..?” bisik Hasan di telinga kiriku sementara salah satu tangannya memelintir puting susuku sebelah kanan.
“Aucch.. Sshh.. Ampuun Saan.. Aku dah banguunn” erangku sambil membuka kedua kelopak mata.
Astaga ternyata Hasan sudah hanya mengenakan CD. Wajah Hasan tampak jelas sekali di hadapanku, ada senyum nakal penuh kemenangan di sana. Kubalas senyumnya dan dengan penuh hasrat kulingkarkan kedua tanganku di lehernya. Kutarik wajah Hasan lebih mendekat ke arahku sampai bibir kami berdua bertemu dan langsung beradu.
Bibir Hasan langsung saja melumat bibirku seakan ingin menelannya, lidahnya menusuk ke dalam rongga mulutku dan mencari-cari lidahku. Aku tak mau kalah, kujulurkan lidahku untuk menggelitik rongga mulut Hasan, ia terpejam merasakan seranganku. Tapi dia tak membiarkan aku mengendalikan permainan kami malam itu, dia melepaskan ciumannya dari bibirku dan menciumi wajahku sesuka hati. Sesekali dia mengulum bibirku, lalu menjilati wajahku. Aku semakin mengeratkan rangkulan tanganku pada lehernya.
Ingin rasanya aku menjerit sekeras mungkin saat merasakan cumbuannya yang semakin liar saja, setelah menggerayang ke leher bibirnya terus turun hingga sampai ke atas payudaraku. Aku menahan nafas manakala bibirnya mulai menciumi kulit di seputar buah dadaku. Lidahnya menari-nari dengan bebas menelusuri kemulusan kulit sepasang payudaraku yang sekal dan menggairahkan. Nafas Hasan menderu semakin kencang disertai suara kecipak mulutnya yang dengan penuh hasrat melumat payudaraku yang montok seolah ingin merasakan setiap inci kekenyalannya.
Dari bibirku meluncur desisan dan rintihan nikmat, sementara tanganku meremas rambut Hasan dan menekan kepalanya ke dadaku. Rangsangan maha dahsyat menghajar tubuhku manakala bibir Hasan mulai menjilat dan mengulum puting susuku yang telah mengeras. Dengan lihai lidahnya menyapu seluruh permukaan putingku secara bergantian, aku mengerang halus tiap kali bibir Hasan berhenti di salah satu puting susuku. Kemudian ia mulai menyedot-nyedot putingku yang malang itu sebelum mengakhirinya dengan sebuah gigitan halus dan menariknya perlahan dengan giginya yang putih.
Saat Hasan melakukan itu, puting susuku yang lain tidak dibiarkannya menganggur begitu saja. Dengan nakal jari-jari tangan Hasan memilin dan memelintir puting susuku ini. Dan jika dia telah menggigit salah satu di antaranya, maka tangannya akan memencet puting yang lain dan menariknya dengan penuh gairah. Dan itu dilakukan Hasan bergantian kepada kedua puting susuku secara berulang-ulang. Perbuatannya itu makin membuatku lupa daratan dan serasa melayang-layang di awan.

Ki Bejo

“Dewi, gua dengar, di daerah dusun luar kota ada orang pinter yang hebat loe, eloe coba aja ke sana, mungkin dia bisa bantu” begitu kata Cindy teman kantorku. Aku menatapnya dan berkata “sekarang udah zaman komputer, masa sih eloe nyuruh gua percaya, sama dukun?” kataKu dengan arogan.

“loh, apa salahnya di coba, apa loe mau sendiri terus, Ki Bejo itu dukun hebat, sudah banyak yang berhasil” kata Cindy lagi.

Aku diam, pikiranku menerawang jauh, memang aku tak penah mau jadi perwan tua, umurku sudah 30 tahun, tapi tak ada seorang cowokku yang tertarik padaKu. Padahal, aku tidak jelek. wajahku ayu, kulitku putih. Latar belakang pendidikanKu juga tidak jelek, dengan S1 ekonomi. Aku juga dari keluarga baik baik, dengan ekonomi cukup mapan.

“eh koq melamun sih” kata Cindy lagi. “ah engak koq, aku lagi mikirin, kerjaan, besok bos mau meeting” kataku asal jawab. “ah, eloe, kerjaan mulu, eloe mesti pikirin juga diri eleo dong, lihat gua, umur gua lebih mudah dari eleo, anak gua udah dua, kapan eloe mau punya anak, Dewi, Dewi…” kata Cindy yang terus nyerocos kaya senapan mesin.

Aku masih diam, mendengar nasehat teman baikku ini. “udah deh, eloe coba konsultasi ama Ki Bejo, nih alamatnya” kata Cindy lalu menyebutkan alamat Ki Bejo. Aku pura pura, acuh, tapi otakku mememori seluruh ucapannya.

“Dewi, kalau mau, gua akan temanin eloe pergi ke sana” kata Cindy lagi. “udah deh, Cindy, gua gak percaya ama gitu gituan” , kataKu. Cindy menghela nafas, “yah, sudah deh, tapi kalau eloe berubah pikiran eloe bilang aja yah.

Saat itu, lewat Anto, Teman kantorku juga, dia menjabat kepala mekanik. Dia seusia dengan ku, dia juga lajang dan wajahnya tampan. Aku sudah berkali kali menarik perhatiannya, tapi dia tampaknya acuh padaKu.

“Hai, Cindy, gimana kabarnya anak eleo” katanya menyapa Cindy. “he he baik baik, anak eloe gimana” kata Cindy. “ah eleo, lagi gua design “jawab Anto bercanda.

Anto berlalu, begitu saja di depanku, seakan akan aku tak ada di situ. Ada rasa kesal di hatiku. Memang benar kata Cindy, aku harus mencoba, kesaktian Ki Bejo, tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Hari jum’at, malamnya sepulang dari kantor aku melarikan mobilku, memasuki jalan tol dan melaju kencang. Sambil mendengarkan lagu lagu romantis, mobilku melaju cepat. Sampai bertemu pintu keluar, yand di sebutkan Cindy.

Mobilku terus berjalan, dan jalan di perkampungan itu agak rusak. Jalan tak beraspal, penuh debu, dan kerikil. Aku sampai tersesar, dan bertanya tanya orang. Sampai orang terakhir “pak, numpang tanya, rumah Ki Bejo di mana yah?”.

“oh, Ki Bejo dukun sakti itu yah” katanya. Aku mengangguk, wah mungkin Ki Bejo ini benar benar sakti pikirKu. “itu, ibu lurus saja, nanti lihat rumah catnya hijau putih, nah itu rumahnya” kata orang itu.

Setelah mengucapakan terima kasih mobilku terus melaju pelan, sampai bertemu rumah berciri sama dengan yang di ucapkan orang itu. Aku memarkirkan mobilKu. Memasuki terus rumah, itu dan mengetuk pintu.

“yah, ada apa bu” kata seorang lelaki muda,berumur tak lebih dari 17 tahun. “anu dik, Ki Bejo ada?” tanyaKu. “oh, ada tunggu yah, silakan duduk dulu, saya panggilkan bapak” kata anak muda itu, sambil mempersilakan saya duduk.

Mataku melihat sekeliling ruang tamu itu, rumah itu tergolong mewah untuk ukuran kampung. Tak lama munculah lelaki tua berumur sekitar 60 tahunan. Tubuhnya masih tampak kuat. Hanya rambutnya sebagian sudah memutih. Kulitnya hitam legam.

Wajah orang itu agak menyeramkan, lebih cocok menjadi preman di banding dukun. Jari jari yang besar, di penuhi cin-cin dengan batu berwarna warni.

“selamat malam, ada yang bisa saya bantu” katanya. Aku masih agak shock melihat penampilan dirinya. “eh, anu pak.. anu “katku terbata. Ki Bejo tersenyum.

Anak muda itu kembali keluar dengan membawa, segelas air “silakan bu” katanya. Aku melihat anak muda. “ini anak saya,” kata Ki Bejo. Anak itu segera masuk kembali. Aku melihat perbedaan yang nyata, anak itu ganteng, dan kulitnya putih, koq bapaknya seperti ini yah pikirKu.

Setelah berbasi basi, dan tampaknya Ki Bejo jauh lebih ramah, di banding penampilannya, Aku lalu mengutarakan maksud kedatanganKu. “oh, masalah itu, itu masalah muda, aya kita ke kamar praktekKu” kata Ki Bejo.

Aku mengikuti dia, masuk ke sebuah kamar, berukuran cukup luas. Ki Bejo duduk bersila di hapadannya ada meja, yang di atasnya terletak baskom berisi bunga bungaan. Ada anglo, dengan arang yang membara, Ada kasur, dengan alas putih di situ serta beberapa keris dan berbagai pernak pernik perdukunan, yang terlihat berbau mistik.

Tangan Ki Bejo mengambil menyan, segemgam menyan itu di taruh di atas arang yang membara, asap mengepul dengan bau menyegat, memenuhi ruang itu. Kepalaku tersa berkunang, kunang. Dan mulut Ki Bejo berkomat kamit.

“jodoh kamu ada, cuma tertutup, sinar aura kamu gelap” kata Ki Bejo. Aku hanya mengangguk. “Kalau kamu mau Aku bisa menolong kamu, dan aku jamin berhasil” kata Ki Bejo lagi. Aku tersenyum “saya mau Ki, tolong saya”.

“Baik, sekarang, lepaskan baju kamu” kata Ki Bejo. Aku kaget mendengar kata kata Ki Bejo. Naluriku langsung berkata tidak, tapi tanganku mulai mengangkat kaos T-shirtKu. Dan aku perlahan membuka celana jeanku. Kini aku berdiri dengan hanya memakai Bra dan celana dalam saja. Mata Ki Bejo menatap liar tubuhKu Dia menghapiriku. Mulutnya berkomat kamit, tangannya bergerak gerak, aneh sepeti menari di depanKu.

“coba, lepas BH kamu “perintah Ki Bejo. Saat itu tanganku segera melepas kait BH kream Ku tanpa berpikir. Mata Ki Bejo, seperti melahap buah dadaku yang mengantung terbuka. Tangannya segera meraba buah dadaKu. Mulutnya masih terus berkomat kamit, dengan bahasa yang sama sekali aku tak mengerti.

Yang saat ini Aku rasakan ada desakan kuat di rahimKu. Aku merasa vaginaKu mulai berreaksi, aku terangsang. Tangan tangan Ki Bejo terus meraba raba buah dadaKu. Dia meremas, dan memainkan putting susuku. Putting susuku pun menerima perlakuan ini dan agak menegang.

Dan tiba tiba, jarinya menekan selangkangan celana dalamKu. “aghhhh “jeritku. Aku semakin terhanyut, dalam birahi yang di berikan Ki Bejo.

Ki Bejo kemudian membaringkan ku di kasur, di ruang itu. Aku benar bena rke hilangan pikiran jernihku, Entah kenapa aku menurut saja. “sekarangkan, kamu bayangkan lelaki yang kau inginkan” kata Ki Bejo.

Setelah berbaring, Ki Bejo dengan nafsu sekali melumat bibirku. Dia menciumku dengan penuh nafsu. Lidahnya juga terus berusaha mesuk ke mulutku. Berputar di sana, menyentuh langit langit mulutKu. Mengelitik, dan memberiku rangsangan yang hebat.

Lidahnya juga menjilati leher, kuping dan pipiku. Ada rasa jijik, tapi Aku tak bisa menolak, Aku hanya memejamkan mata, membayangkan kalau Anto yang melakuan ini semua pada diriku.

Lidah lidah Ki Bejo terus turun hingga ke buah dadaKu. menjilati putting susuKu yang semakin mengeras, dan menyedotnya dengan lembut, membuat aku makin terlena. Vaginaku rasanya terus berdenyut, dan lendir nafsuku mengalir deras membasahi celana dalam creamku.

Sambil terus menyusu, Ki Bejo juga memainkan selangkangan celana dalamKu. Aku menjadi begitu hot. “asss, ohh Ki, Ki Bejo, saya tak tahan Ki” kataKu.

Aku benar benar terangsang, seumur hidupku, aku baru kali ini merasakan, hal ini. Memang terkadang aku melakuan masturbasi, kalau birahiku meninggi, tapi rasanya tak seperti ini. Rasa nikmat ini benar benar membuatku gila.

Dan Ki Bejo terus saja, memainkan buah dadaKU, dan selangkangan celana dalamKu. Pemainannya ini terus membawaku ke puncak kenikmatanKu. Aku benar benar tak tahan lagi, Aku menjerit penuh kenikmatan, tubuhku bergetar hebat. “Ki Bejo, ahh saya tak tahan …”.

Ki Bejo diam sebentar, menatap tubuhku yang mengejet, menikmati orgasmeku. Kemudian, yang kulihat, Ki Bejo sudah berbugil ria. Tongkat saktinya bergatung bebas, membuatku bergidik. Penisnya besar, hitam. “ayo, buka mulut kamu” katanya sambil mendekatkan penisnya ke wajahKu.

Aku seperti di sirep, mulutku terbuka lebar, dan penis itu bermain di dalam mulutku. Ki Bejo, memegang kepalaKu, membelai rambutku yang hitam, dan sebahu, yang selalu aku rawat dengan baik.

Penisnya terus begerak dalam mulutku. Entah kenapa, aku sangat menikmatinya. Tanpa di suruh, aku melakukan gerak seperti di filem filem porno. Ki Bejo juga sangat menikmatinya. Dia mengeram, kenikmatan.

Penisnya terus bergerak maju dan mundur, Aku sediri, dengan nasfu menyedot nyedot kepala penisnya. “ohhh … “dan sperma Ki Bejo memenuhi mulutku. “cepat, telan p-e-j-u Ku, jangan di buang, itu obat” kata Ki Bejo.

Aku menelan spermanya, yang berbau anyir, dan membuatku ingin muntah.

Ki Bejo lalu dengan tenangnya melepas celana dalamku, melebarkan kakiKu, menatap liar pangkal pahaku. Bukit kemaluanku yang berbulu, itu jadi santapan matanya. Jarinya kemudian, bergerak memaikan klitorisku. Aku kembali mendesah. Rasa gatel dan nikmat, kembali menyerang klitorisKu.

Sementara itu dia juga memainkan batang penisnya yang sudah mulai membesar kembali

Dan penis itu mulai mendekat ke vaginaKu. Hatiku menjerit, menolak perlakuan itu. Tapi tubuhku bagai patung, diam saja, tak protes. Perlahan ujung penisnya mulai membuka liang vaginaku yang perawan itu.

Lendir lendir nikmat yang membasahi liang vaginaku memudahkan usahanya. Penis itu bergerak masuk, membuatKu merasa pedih. Dan terus mendesak masuk “sakit, sakit”. Jeritku pelan.

Tanpa peduli, Ki Bejo merobek selaput darahKu. Dia terus bergerak, maju dan mundur Penis besarnya mengisi ruang ruang dalam liang sagamaKu. Rasa perih dan sakit mendera vaginaKu. Aku mengigit bibirku menahan sakit di vaginaKu.

Tanpa peduli ke adaanku yang mengerang kesakitan Ki Bejo terus mengoyang tubuhKu. Sebentar kemudian dia mencabut penisnya tubuhku di baliknya, pinggulku di angkatnya Dari belakang, penis itu memasuki tubuhKu. Dan Aku merakan sakit kembali mendera vaginaKu.

Dengan posisi ini aku merasakan penis Ki Bejo semakin besar. Melesak dalam liang vaginaku, bergerak keluar masuk dengan cepat.

Ki Bejo dengan penuh nafsu terus merodok vaginaKu. Dia mendengus seperti banteng yang siap menanduk mangsanya. Turus begerak, membuat tubuhku semakin mengerang

Hampir 15 menit kemudian, setelah peluh membasahi tubuhnya Ki Bejo mengerang. Aku merasakan cairan spermanya tumpah ruah dalam rahimku.

Aku tersungkur, terberaing tengkurap di kasur itu. Aku lemas sekali. Di sprei berwarna putih tampak jelas, noda merah, darah perawanku. Air mataku menitik, bathinku menganggis. Kesucianku yang ku jaga selama ini telah di renggut dukun cabul ini.

Ki Bejo berjalan ke mejanya. dia mengambil segelas air, dia berkomat kamit. “nih, minum air ini, habiskan” katanya. Aku meminum air itu, dan setelah itu, tenagaku seperti pulih kembali. Aku segera berpakaian kembali. Dan segera pergi dari tempat itu tanpa permisi.

Semakin mobilku menjauh dari rumah Ki Bejo, aku semakin sadar. Dan Aku kembali menangis di mobilku, Aku telah menjadi korban penipuan dukun cabul.

Setibanya di rumah, aku membuka seluruh pakaianku, dan di selangkangan celana dalamku terdapat noda darah, kembali air mataku menitik. Aku segera membasuh tubuh membersihkan dari kotoran Ki Bejo.

Malam itu aku tidur dengan mata sembab. Aku tertidur karena ke lelahan.

Di kantor esok harinya, aku seperti tak bergairah. Aku tak bisa bekerja dengan baik. “tok tok tok, pintu ruang kantor di ketuk seseorang. “yah, masuk aja “jawab Ku.

“maaf Dewi, eh bu Dewi, saya mau lihat laporan pembelian, spare pert mesin,yang bulan lalu?” kata Anto. Aku menatapnya, tak biasanya dia minta laporan pembelian. Karena memang bukan tugas dia. Tapi aku langsung mengangguk, dan mencari file pembelian.

“ini pak Anto” kataKu sambil mememberikan file itu padanya. Dia menatapku, aku merasakan kehangatan dari bola matanya. “terima kasih Bu Dewi.” dia menerima file itu, lalu berjalan ke pintu. Dia berhenti sebentar, membalikan badannya lagi “eh maaf Bu Dewi, apa eh.. maksud saya” katanya agak gugup.

“ada apa pak Anto, koq kayak bingung” kataku. “eh, anu, saya ada undangan pesta pernikahan teman saya, maksud saya, apa Bu Dewi ada acara entar malam, apa boleh saya ajak Bu Dewi ke pesta teman saya itu” katanya.

Jantung saya berdebar, kata katanya seperti lamaran buat saya, saya tersenyum, “ah Pak Anto, saya entar malam gak ada acara” kataKu dengan perasaan berbunga bunga.

“jadi, Bu Dewi, bersedia menemani saya ke pesta itu?” tanya Anto lagi. Aku menganggukan kepala. “terima kasih Bu Dewi, nanti malam saya jemput yah” katanya yang tampaknya juga gembira sekali.

Saat itu aku termenung, apa semua ini, dari Ki Bejo. Apa dia benar benar begitu sakti.

Jam 5.00 sore aku sudah tiba di rumah. Begitu di kamar, aku melepas seluruh pakaianku, bercermin menatap bayang bayang tubuhku di cermin. Aku mengagumi sendiri bentuk indah tubuhKu.

Hpku berbunyi tepat pukul 5.30. Aku menerima Hp itu, dari Anto. “Bu Dewi, apa sudah siap, saya sedang menuju ke sana”. “oh sudah sudah siap “jawabku, dan segera masuk ke kamar mandi, begitu pembicaraan selesai.

Tepat jam 7.00 mobil BMW Anto telah ada di depan rumahKu, aku masuk ke dalam mobilnya. Aku tersenyum dan dia juga tersenyum. Mobilnya pun berjalan pelan. Dia banyak berbicara padaKu. “Dewi, apa kamu sudah punya pacar ? “tanya Anto tiba tiba

Aku mengeleng “belum, saya belum punya pacar” kataKu. Anto tersenyum, lalu berkata “Dewi, kita sama sama telah berumur, kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita berpacaran saja” kata Anto.

Hatiku dag dig dug, rasa senang, melanda diriku, saat itu juga aku resmi menjadi pacarAnto. Rupa undangan pernikahan itu cuma pura pura, Anto memang ingin mengajakku keluar, untuk menyatakan cintanya.

Kini di kantor hari hariku lebih ceria. Tiga bulan sudah kita melewati masa pacaran yang penuh kebahagian. Saat malam minggu Anto mengajakku menginap di Villanya di puncak. Aku tak keberatan, toh Anto sudah meminangku, dan orang tuaku setuju sekali. Kita tinggal menunggu hari untuk melangsungkan pesta pernikanan kita.

Di Villa itu, rasa dingin menyelimuti ku. Anto memelukku erat, memberiku rasa hangat. Bibir kami menempel erat, seakan tak bisa lepas. Tangan Anto pun mulai menjamah buah dadaKu. Aku mulai merasakan kenikmatan dari calon suamiku.

Tangan Anto terus menyusup di balik bujuku, dan memainkan putting susuKu. Saat itu kepalaku rasanya pusing, dan tiba tiba terbayang Ki Bejo. Saat itu diriku menjadi tak enak. Birahi agak menurun. Aku tak suci lagi, bagaimana jika Anto tak bisa menerima diriku.

Anto terus saja menstimulasi tubuhKu. Bajuku dilepasnya, dan kini aku sudah hampir bugil total. Anto terus menjilati buah dadaKu. Rasa birahi perlahan bangkit kembali Anto pun mulai membuka celana dalamku.

Dia sendiri membuka celananya. Aku menatap penisnya yang jauh lebih kecil dari milik Ki Bejo. Dia mendekat, dan membuka lebar kakiKu. Dia mau melakukan penetrasi. “Anto, apa tidak kita tunggu sampai menikah nanti” kataKu. Sambil mencium keningku Anto berkata “sayang, sejak aku menyatakan cintaku, aku sudah menganggap kamu istri saya sayang”.

Tiba tiba penis itu telah masuk, aku pura pura menjerit “aduh, sakit sekali Anto”. Padahal Aku tidak merasakan apa apa, aku merasa hambar. Anto terus bergoyang, dengan nafsu, penisnya bergerak dengan cepat keluar masuk.

Aku pun terus mendesah, walaupun tak merasakan apa apa. Anto terus mengoyang tubuhku. Udara dingin pegunungan itu, tak mampu membendung peluh yang membasahi tubuhnya. Anto mengeram, dan dia melepas spermanya.

“Oh, sayang aku sangat menikmatinya” katanya sambil menciumi bibirku dengan mesra. Setelah itu Anto terbaring kelelahan, tak lama dia tertidur.

Aku termenung di toilet, aku heran aku tak merasakan apa apa, ada nafsu, vaginaku berlendir, tapi aku tak bisa merasakan penis Anto. Vagina seperti mati rasa. Apa yang terjadi dengan diriku. Saat itu bayang bayang Ki Bejo membayangi diriku lagi.

Aku hanya berharap, aku terlalu tegang karena sudah tak suci lagi.

Esoknya pagi pagi Anto telah bangun. Dia mencium keningku,” selamat pagi Dewi sayang”. Aku pun tersenyum. Dan Anto sama sekali tak menanyakan soal keperawanan ku. Ini membuatku menjadi tenang.

Setelah itu, Anto kembali mencumbuKu. Kini dengan tanpa beban, Aku bisa terangsang dan menikmati setiap sentuhannya. Tapi tetap saja aku tak bisa merasakan penis Anto. Sama sekali mati rasa, seakan akan, penis Anto tak ada. Dan bayang bayang Ki Bejo selalu menghapiriku. Ini membuatku sangat menderita. Anto membuat birahi yang memuncak, tapi tak terselesaikan.

Aku tak bisa membicarakan hal ini dengan Anto. Aku hanya bisa berpura pura menikmati permainannya.

Hari itu, aku sudah berencana, ingin menanyakan masalah ini pada Ki Bejo. Sepulang dari kantor kembali aku memacu mobilku ke tempat Ki Bejo. Menyusuri jalan jalan berdebu, sampai tiba di rumah Ki Bejo.

“ada masalah apalagi, neng, apa ilmuKu tak berhasil ? “tanya Ki Bejo. Aku mengutarakan kondisiku. Ki Bejo mengajak Aku ke kamarnya lagi.

Kembali kepala pening karena asap menyan yang mengepul. “sini, biar saya periksa” kata Ki Bejo. Sambil membuka bajuku juga bra Ku. Dia melihat buah dadaKu “hmm, kilihatannya normal aja”. Kemudian dia juga membuka celanaKu berikut celana dalamnya.

Sambil duduk, tangan Ki Bejo, membuka belahan vaginaKu. “Hmm, normal aja” katanya berguman. Lalu lidahnya menjulur, dan klitorisku menjadi sasarannya. nafsuku tiba tiba menjadi tinggi. “oahhh Ki, ada apa dengan kemaluan saya “desahKu.

Lidah Ki Bejo terus merangsang syaraf syaraf sensitif di vaginaKu. Lendir kenikmatanku mengalir deras. “oh Ki, enak sekali, terus Ki, enak sekali “desahku. Aku benar benar merasa gatel di klitorisku. Setelah bermain tak terpuaskan dengan Anto, sekarang aku benra benar merasakan nikmat.

Lidah Ki Bejo aktif sekali, dan tubuhku bergetar, menerima rangsangannya. Rangsangan yang tidak ku dapati dari Anto. Sebentar saja, tubuhku bergetar hebat. Aku kejang kejang, Aku tenggelam dalam kenikmatan Ki Bejo.

Setelah membiarkan aku sebentar, kembali tangan Ki Bejo meraba raba bagian dadaKu. Putting susuku juga tak luput menerima sensasi nikmat Ki Bejo. Birahi perlahan naik lagi. Dan tanganku juga meraba raba selangkannya. “Ki, saya mau ini” kataKu.

Ki Bejo mengeluarkan senjatanya, dan membiarkan Aku memainkannya. Tanganku seperti gemas sekali, mengocok ngocok penis besar Ki Bejo. Sampai Aku merasakan gatel di Klitorisku, dan Aku memintanya “Ki, ayo masukin aja, aku udah gak tahan “pintaku.

Dan Ki Bejo membalikan tubuhKu. Aku tahu dia ingin memasukannya dari belakang aku langsung menungging. Aku mendesah, ketika ujung penisnya menyentuh klitoriKu Ki Bejo dengan lembut mengesek ujung penisnya di Klitorisku. Aku mendesah “ohh Ki, udah gak tahan, masukin aja..” pintaku merengek.

Pelahan Ki Bejo mendorong masuk penisnya. Aku merasakannya, tiap tiap centi, daging itu menerobos masuk ke kemaluanku. Aku mengerang nikmat, begitu juga Ki Bejo, merasakan jepitan erat vaginaku. Tubuhnya bergerak, seiring penisnya keluar masuk vaginaku.

Aku benar benar merasakan nikmat bersetubuh, dengan seorang pria. Sebentar saja tubuhku kembali bergetar hebat. Aku menerima puncak kenikmat itu dari Ki Bejo.

Tahu, aku tengah menikmati orgasmeKu, Ki Bejo diam sesaat, lalu mulai bergerak dengan lembut. perlahan menaikan kembali birahi. dan turus mengocok dengan cepat.

Membawaku ke puncak nikmatku lagi.

Tiga kali aku di buatnya orgasme, sampai dia pun mengerang, menikmati orgasmenya di vaginaKu. Tubuhku pun menjadi lemas.

Setelah, aku berpakaian, dan merapikan pakaiaanKu. Aku kembali menanyakan masalahKu. Ki Bejo membelai rambutku, “Sudahlah, saya akan coba, membantu kamu”.

Dalam perjalan pulang, mobilku berjalan lambat. Aku berpikir, kenapa aku begitu suka permainan sex Ki Bejo. Aku sepertinya ke tagihan oleh permainannya.

Aku seperti ingin membatalkan pernikahanKu dengan Anto. Dari pada menikah, tapi bathinku tersiksa, lebih baik aku sendiri pikirKu.

Hari pernikahanku akhirnya tiba juga. Dimana Aku dan Anto menjadi raja dan ratu sehari. Anto pun telah menyediakan tempat bernaung untuk ku. Sebuah rumah yang cantik di perumah yang cukup ternama.

Pesta perkawinanku juga tergolong mewah, dengan di hadir lebih dari seribu orang, kerabat ku dan Anto, serta orang tua kami.

Malam harinya, Aku bercinta dengan Anto secara resmi. Sama seperti sebelumnya, vaginaKu mati rasa. Aku terangsang, menikmati cumbuan suamiku, tapi ketika nafsuku sudah tinggi, sewaktu Anto melakukan penetrasi, aku tak merasakan apa apa.

Tidak ada rasa sakit dan tidak ada rasa nikmat. Sangat berbeda dengan Ki Bejo.

Setelah Anto ejakulasi, dan Aku belum apa apa, Aku berbaring saja. Hatiku gembira menerima sosok Anto sebagai suamiKu. Anto suami yang baik. Tapi Badanku menolak Anto. Badanku seperti milik Ki Bejo.

Di saat ini, sepertinya Aku ingin melarikan mobilku dengan kencang menuju rumah Ki Bejo, dan melampiaskan birahiku padanya.

Malam pengantin ini membuat hatiku bahagia, tapi badanku menangis kecewa

Entah apa yang akan terjadi besok.

Setelah melewati malam pengantin dengan kekecewaan, Aku semakin merasa jemu dengan suamiku Anto. Di lain pihak aku juga merasa kasih sayang dia. Sebagai pengantin baru, Anto sangat memeperhatikan Aku.

Anto bahkan tidak mengizinkan Aku untuk berkantor lagi. “Mami, sekarang mami, di rumah saja, ngapain cape cape kerja,biar papi yang cari duit, mami mau berapa “begitu katanya. Teman teman ku mengatakan aku sangat beruntung bisa bersuamikan Anto.

Aku tak tahu, perasaanku dengan Anto, hambar. Hampir tiap malam aku bercinta dengan Anto. Tiap malam pula aku kecewa. Lebih baik jika Anto tidak mengajakku bercinta. Lebih baik kita tidur saja, itu pikirku dalam hati.

Tapi tidak, Anto mencumbuku, membuatku terangsang. Aku tak bisa menolak suamiku sendiri. Anto membuatku sangat terangsang dengan cumbuan cumbuan mesranya, tapi aku tak bisa terpuaskan, aku tak bisa orgasme.

Berapa lama pun Anto mengoyang vaginaku dengan penisnya, tetap Aku tak merasakan apa apa. Seperti ada sesuatu yang menjaga vaginaku, menahan orgasmeku.

Ini membuat Aku kesal dengan Anto. Apa lagi setelah itu dia biasanya terlelap membawa kenikmatannya sendiri. Sedang Aku hanya bisa, termenung. Di saat seperti ini yang ada di bayangan sosok Ki Bejo, dengan penisnya.

Aku segera menghindar, Aku melakuan sesuatu, menonton televisi, atau apa saja. Aku tak mau memikirkan Ki Bejo, Aku milik suamiku, aku harus setia, itu yang selalu aku tanamkan dalam diriku.

Pagi itu, setelah sarapan suami siap aiap berangkat ke kantor. Dia mencium keningku, lalu dia meremas pantatku, sambil berbisik “mami, semalam goyangan papi hebat gak?”. Aku tersenyum “hebat pi, hebat “jawabku. “entar malam papi goyang lagi yah” katanya. Aku hanya mengangguk, dalam hatiku lebih baik tidak usah bercinta.

Apa aku harus hidup dalam kepura puraan. Kenapa vaginaku tak bisa menerima penisnya. Kenapa mati rasa, kenapa. Ki Bejo, apa yang kau lakukan terhadap diriku ?

Setelah Aku mandi, Aku berencana akan ke Dr Genekolog (ahli kebindanan ). Aku tak mau lagi ke Ki Bejo. Aku mau yang logic pikirku.

“yah selamat siang, ada masalah apa “tanya Dokter itu. “begini dok, saya tak bisa merasakan penis suami saya” kata saya. Dokter itu tersenyum “maksud ibu, tak bisa terangsang ? “tanya Dokter itu lagi.

“bukan, saya terangsang, bahkan sangat terangsang, tapi waktu suami saya mulai, vagina saya mati rasa, tak merasakan penis suami saya..” kata saya. “tak merasakan penis.. hmmm hmm “Dokter itu berguman sendiri.

“kalau ibu menyentuh vagina ibu, apa ibu merasakannya ? “tanya Dokter itu lagi. Aku menatap Dokter itu, sepertinya dia tak percaya pada cerita saya, sepertinya saya mengada ada. “tentu saja, saya bisa merasakan jari saya Dokter” kata saya.

Dokter itu mangut mangut “jadi ibu bisa merasakan jari ibu di vagina ibu, tapi tak bisa merasakan penis suami ibu di vagina ibu”. Intonasi nya seperti mengejek. Aku menatap Dokter itu lagi, “saya sungguh sungguh Dokter, saya tidak bercanda”.

“oh, maaf bukan begitu maksud saya, saya baru kali ini mendapat kasus seperti ini” kata Dokter itu. Aku diam. “Ok, begini, ibu silakan berbaring, saya coba periksa” kata Dokter itu kemudian.

Aku menurutinya, aku berbaring. “maaf Bu, saya harus memeriksa vagina Ibu” kata Dokter itu. Aku mengerti, aku melepas celana dalam ku. Dokter itu mulai memakai sarung tangan karetnya. Dia mulai memeriksa vaginaku.

Dia membuka bibir vaginaku, lalu jarinya di masukan ke vaginaku. Sebentar kemudian dia mencabut jarinya. “Ibu, bisa merasakan jari saya “tanya Dokter itu. “ya, bisa Dok” kataKu. “saya, rasa vagina ibu normal normal saja, mungkin ini hanya pskikologis saja, karena ibu kan pengantin baru” kata Dokter itu.

“maksud Dokter saya steress” kata saya. “yah mungkin” kata Dokter itu. Aku benar benar tak puas atas jawaban Dokter ini.

Tiba tiba, aku melihat tubuh Dokter itu mengejang. Kemudian dia bengong sebentar. “Dok, kenapa ?’ tanya saya keheranan melihat tingkahnya. “oh tidak apa apa” katanya.

“Coba saya periksa sekali lagi, untuk lebih jelasnya” kata Dokter itu. Dia melepas sarung tangan karetnya. Lalu jarinya membuka bibir kemaluan saya. Jarinya memainkan klitoris saya. Sekarang saya merasakan sesuatu yang lain.

Jari jarinya terus memainkan klitoris saya, saya mengigit bibir saya, lendir saya mulai merembes keluar liang vagina saya. Dengan adanya lendir saya, jari jari itu lebih terasa, di klitorisku yang makin membesar. Bibir vaginaku juga terasa menebal akibat rangsangan nikmat yang di beri Dokter itu. Sensasi ini, seperti yang di berikan Ki Bejo.

Semakin lama diriku makin terhanyut, mataku terpejam, tanganku mencengkram pingir ranjang praktek dokter itu. “bagaimana, bu apa ibu, bisa merasakan nikmatnya” kata Dokter itu. “hmm, haa, hmm “hanya itu suara yang keluar dari mulutku.

Lidah Dokter itu juga menjilati vaginaku. Tubuhku mengeliat, kenikmatan, lendir yang keluar liang vaginaku semakin menjadi. Tubuhku terus gemetar “ohh, Dokter saya merasakan, ahh, ahhh, nikmat.. saya tak tahan, ahhh”. Lidah Dokter itu terus mengaduk aduk vaginaku.

Tubuhku mengeliat, dan akhirnya menegang kejang, Aku menerima orgasme yang aku rindukan selama ini. “Lihat, vagina anda normal saja kan” kata Dokter itu.

“Sekarang saya akan periksa t-e-t-e ibu yah” kata Dokter itu yang tanpa permisi membuka bajuku. Buah dadaku di remas remas, dan putting susuku di mainkan sesuka dia. Tubuhku mengelinjing, kenikmatan. Lidahnya juga menjilati putting susuku.

“ahh, Dokter, saya nafsu sekali, isep pentil saya dong..” pintaku dengan tak malu malu. Dokter itu juga sangat bernafsu dengan tubuhku. Dia menyedot putting susuku, dengan nafsu. Aku benar benar nikmat, dan mulutku terus mengerang ngerang, kenikmatan.

Puas bermain dengan buah dadaku, Dokter itu menyodorkan penisnya ke mulutku. Penis yang sebesar penis suamiku itu aku kulum dengan nafsu. Aku menyedot nyedot, mengocok, dan terus membuat Dokter itu mengerang kenikmatan.

Doket itu terus mengocok penisnya di mulutku, maju mundur dengan cepat, sampai aku merasakan penis itu diam, dan mulutku penuh dengan spemarnya. Dia mencabut penisnya yang telah layu itu keluar dari mulutku.

Dia berjalan, dan memegang kakiku, lalu membuka kakiku selebar mungkin. Wajahnya sepertinya berubah, Dokter itu menjadi sangar. Penisnya dengan begitu cepat telah menegang kembali.

Dan dia mulai melesakkan penisnya masuk ke vaginaku. Aku merasakan penisnya memenuhi relung relung di dalam vaginaku. Aku merasakan penisnya besar sekali. Padahal tadi jelas jelas, aku melihat penisnya hanya sebesar penis suamiku.

Aku merasa nikmat yang luar biasa, aku mengerang. Aku mendesah, tubuhku terus mengeliat, pinggulku bergoyang, seirama desakkan penis Dokter itu. Aku terus mendesah. Tak lama tubuhku, menegang “ohhh gatel, aku keluarrr”.

Tanpa memberiku waktu, untuk menikmati orgasme, Dokter itu terus mengoyang tubuhku. Aku mengelijing, ngilu. Sebentar kemudian, dengan aktifnya penis Dokter itu yang terus mengesek dinding vaginaku, nafsu ku bangkit lagi.

Lima menit berikutnya aku mencapai puncak kenikmatan kembali. Hampir tiap lima menit rasanya tubuhku mengejang, merasakan puncak nikmatku. Entah berapa kali, aku berorgasme, sampai Dokter itu melepas spermanya di dalam liang vaginaku.

Setelah Dokter itu melepas, batang penisnya dari liang vaginaku. Aku kembali mengenakan pakaianku. “nah, bagaimana, berasakan, berarti anda memang suka sama penis orang lain” kata Dokter itu. “ha, apa maksudnya Dokter?” tanyaku.

“yah, kamu memang tipe istri yang suka selingkuh, kamu doyan n-g-e-n-t-o-t sama orang lain ha.. ha.. ha.. “ejekan Dokter itu membuat panas hatiku. Aku segera keluar dari ruang praktik Dokter itu, dan langsung berlari pulang.

Di rumah, aku menangis, hatiku pedih, baru kali ini aku di rendahkan orang seperti itu. Tapi aku juga merasakan nikmat yang luar biasa, yang di berikan Dokter itu. Aku memenuhi bathtub ku dengan air hangat, lalu aku berendam. Aku memejamkan mata, aku lebih merasa bersalah terhadap suamiku sekarang. Apa kata kata dokter itu benar.

Sensor hindungku seperti menangkap bau menyan. Aku membuka mataku, tak ada apa, hanya imajinasiku saja pikirku. Kembali aku menenangkan diri, air hangat ini membuat otot otot ku menjadi rilex.

Tida tiba, aku merasa seperti ada yang mengelitik vaginaku. Aku langsung berdiri, memegang vaginaku, aku tak menemukan sesuatu, bulu kudukku sontak berdiri. Apa apa ini. Tida tiba tubuhku kaku, aku tak bisa mengerakan anggota tubuhku, bibirku terkunci, aku seperti patung.

Dalam keadaan tegang itu, aku merasa jelas sekali seperti ada sosok yang tak nampak mata sedang merabai vaginaku. Benda seperti jari jari tangan itu menyelinap masuk ke tubuhku, bermain di dalam liangku. Anehnya, aku merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Dalam keadaan tubuh yang kaku, lendir kenikmatan ku keluar begitu saja.

Semua organ sex ku, menjadi sangat terangsang. Aku benar benar nikmat, samapi tak bisa menahan kenikmatan itu, tiba tiba tubuhku terbebas dari ke-kaku-annya, tubuhku bergetar hebat, “ohhhh ahhhhh”.

Tubuhku terjatuh dalam bathtub, terpeleset, rebah. Kini tubuh kembali merasakan air hangat di bathtubku. Mataku terasa berat sekali, rasa ngantuk menyerangku, aku seperti melayang, dalam setengah sadar aku mendenga suara yang ku kenal, sayup sayup Ki Bejo berkata “bagai mana Dewi, apa kau merasa nikmat dengan permainanan ku tadi, kau memang istri yang suka selingkuh ha.. ha..ha.. “

“mami, mami..”. Aku merasa tubuhku di goyang, di bangunkan, aku membuka mataku, aku melihat suami dengan wajahnya yang kawatir. “mami, kamu kenapa sayang, ayo bangun,” kata suamiku menarik tanganku.

Tapi tubuh seakan lemas tak bertulang, “papi.. mami sakit, pusing…” suaraku lemah. Suamiku langsung mengendongku, membawaku ke kamar, dan memaringkan tubuhku di ranjang.. Tubuh tak bisa bergerak, suaraku sesak, tapi kesadaranku tetap tinggi. Bola mataku bisa melihat jelas, wajah kawatir suamiku.

Tangannya sibuk menekan tombol Hp nya. Dia menelpon Dokter Benny, dokter keluarganya. Selagi menunggu ke datangan Dokter Benny suami saya dengan penuh kasih sayang, membelai rambutku, dia mencium keningku.

Hatiku menjerit, Anto maafkan diriku. Setelah Dokter Benny tiba, tubuh langsung di periksa. “bagaiman dok, apa istri saya kena stroke ? “tanya suamiku dengan cemas.

“tekanan darah normal, detak jantung juga normal, tak ada tanda tanda stroke” kata Dokter Benny.

“lalu apa, penyakitnya Dok ? “tanya suamiku. Dokter Benny tampak bingung juga, dia berkata “Untuk sememtara, saya menguda istri anda ke lelahan”. Suami tampak tak puas dengan jawaban Dokter Benny. “begini saja, saya akan memberi resep, kita lihat besok, jika tidak ada perubahan, bawa istri kamu ke rumah sakit” kata Dokter Benny.

Besoknya Aku di bawa suamiku ke rumah sakit, Tubuhku masih lemas, tapi aku sudah bisa mengerakkan anggota tubuhku. Dari hasil pemeriksaan USG, dan hasil tes Lab, tubuhku normal saja. Ini yang membuat suamiku bingung.

Aku tahu penyakitku, aku tahu penyebabnya Ki Bejo, dia menginginkan kehangatan tubuhku, dia tak mau melepaskan tubuhku. Dalam keadaan setengah sadar di bathtub beberapa hari yang lalu, aku seperti berbicara dengan Ki Bejo.

Ada semacam telepati, Ki Bejo menginginkan tubuhku, dan Dialah yang membuat tubuhku suka dengannya. Walaupun jiwaku, hatiku tidak sudi.. Tapi tubuh menginginkan Ki Bejo. Dia tak akan melepaskan tubuhku.

“Mami, tadi Cindy menyarankan membawa kamu ke orang pintar, dia ada kenal namanya Ki Bejo” kata suamiku. Kepalaku seperti di pukul palu besar. “papi, masa sih, papi percaya sama, dukun” kataku. “kalau memang bisa menyembuhkan mami, apa salahnya dukun” kata suamiku lagi. “tidak mau” kataku.

Selagi suami saya mandi, saya menelpon Cindy. “Cindy eleo gila yah, kenapa kasih tau Anto masalah Ki Bejo?”. “tenang Dewi, gua ngak bilang eloe dapet jodoh dari Ki Bejo koq ““eleo engak tahu yah, gua di..” aku menghentikan kata kataku.

Aku tak pernah menceritakan tentang hubungan ku dengan Ki Bejo. Kalau aku bicara takutnya akan menjadi bumerang unutuk ku. Dewi pun bertanya “tahu apa ?, kamu kan dapet Anto dari dia, kenapa tak minta tolong sama dia?”. Aku menarik nafas “yah sudah deh” kataku langsung memutus hubungan telepon itu.

Keesokan harinya, tanpa ku ketahui suamiku, pulang dengan membawa Ki Bejo.

“mami, itu aku bawa Ki Bejo, dia akan mencoba mengobati kamu” kata suamiku. “ha, Ki Bejo, aku gak mau, aku gak percaya dukun” kataku protes. “sudalah mi, di cobakan ngak ada salahnya” kata suami merayuku. Benar benar Ki Bejoo tak mau melepaskan diriku.

Aku mengalah, dan suamiku membawa Ki Bejo masuk ke kamarku. Ki Bejo tersenyum melihatku, aku memandang rendah dirinya. “saya akan periksa istri bapak” kata Ki Bejo kepada suamiku. “silakan pak” kata suamiku.

Ki Bejo memegang tanganku. sambil mulutnya berkomat kamit. “wah, istri anda di ikuti barang halus” kata Ki Bejo. “wah, bisa di tolong Ki?” tanya suamiku. “oh ini hal mudah..” kata Ki Bejo.

“saya minta berdua dengan istri anda, selama pengobatan tidak boleh ada yang ganggu jika konsentrasi saya terganggu jiwa istri anda akan terancam, mengerti” kata Ki Bejo.

“saya mengerti Ki” kata suami saya tanpa curiga.

“mami, saya tinggal dulu yah, biar lah kita kasih sesempatan sama ki Bejo” kata suamiku. Aku diam saja, mau bilang tidak rasanya tidak mungkin.

Setelah suami meninggalkan kama, Ki Bejo langgsung mengunci pintu kamarku. Aku benar benar tak bisa apa apa, kini aku harus ditiduri Ki Bejo di ranjang ku dan suamiku sendiri.

Ki Bejo mendekat, Aku melotot “jangan macam macam, aku akan teriak “ancamku.

“kau lupa yah, dari siapa kau mendapat suamimu” kata Ki Bejo sambil membuka celananya. Penisnya yang besar mengacung tepat di wajahku. Setelah melihat penisnya tubuh seketika mendapat tenaga extra. Aku seperti tak bisa mengatur tubuhku.

Aku meraih batang penisnya tegak itu, memainkan dengan nafsu. Lalu aku membuka mulutku lebar lebar, dan aku mengulum penisnya. Penis itu aku sedoot sedot, sepreti anak kecil yang mengharapkan susu dari ibunya..

Ki Bejo memegang kepalaku, dan terus mengocok batang penisnya di mulutku. Kira kira lima belas menit, Ki Bejo memuntahkan spermanya dalam mulutku. Bagai orang ke hausan air maninya aku telan. Rasanya kerongkongan ku dingin dan suara serak ku hilang.

Ki Bejo pun tanpa segan memreteli pakaianku satu persatu. kini dengan senyum penuh nafsu Ki Bejo menatap tubuhku, yang hanya memakai celana dalam pink. Lidahnya terus membangkitkan nafsu birahiku di seputar buah dadaku. Aku tak bisa apa apa, aku seperti wanita haus belaian sex, dari Ki Bejo.

Klitorisku rasanya mulai gatel, lendir pun mulai membasahi selangkangan celana dalamku. Sambil terus menjilati buah dadaku dengan nafsu jarinyapun bermain di selangkangan celana dalamku. Tanpa sadar, aku melebarkan kakiku sendir, sehingga jari Ki Bejo leluasa memainkan selangkangan celana dalamku.

Sentuhan jari Ki Bejo sangat terasa menembus celana dalamku. Lendir terus membasahi celana dalamku. Klitorisku makin terasa gatel. Aku mulai tak tahan, aku mendesah pelan “shhh, Ki aku gak tahan..”. Ki Bejo terus memainkan tubuhku “yah, Dewi, akuilah kamu membutuhkan diriku, kamu membutuhkan kepuasan dariku “

Aku mengerang erang kenikmatan “yah Ki, aku butuh, aku mau Ki.. aku mau..”. Jari Ki Bejo makin cepat, bergetar di selangkangan celana dalamku, yang kian basah. Tubuhku melengkung, aku mencapai puncak birahi.

Tanpa melepas celana dalamku, Ki Bejo memasukan penisnya dengan menyingkap celana dalamku ke samping. “ahhh.. Ki…”. “kamu suka Dewi..” kata ki Bejo setelah seluruh batang penis besarnya menancap di liang sagamaKu. “oh Ki, saya suka. ayo goyang Ki “pintaku.

Ki Bejo pun bergerak, maju dan mundur, penisnya yang besar itu merodok liang vaginaku dengan nafu yang tinggi. Aku mendesah desah, nikmatnya tak bisa kubayangkan. Gesekkan penis besarnya, membuat klitorisku menjadi membengkak. karena nikmat.

Ki Bejo terus mengoyang liang vaginaku, aku benar benar di buatnya melayang, tak lama tubuhku mengejang, mencapai puncak birahiku. Beberapa kali aku mencapai puncakku, sampai Ki Bejo juga menyumburkan spermanya di liangku.

Setelah batang penisnya tercabut, Ki Bejo merapikan celana dalamku, dan dia membiarkan spermanya di dalam liang vaginaku. Aku sama sekali tak keberatan. Anehnya aku malah merasakan vaginaku menjadi sensitif.

Tubuhku kembali normal seperti sediakala. Malah terasa lebih sehat. Ki Bejo menyuruhku berpakaian kembali lalu dia memanggil suamiku.

“Lihat istri anda telah sembuh” kata Ki Bejo. Suamiku menghampiri diriku “wah, bagaimana Mi, apa sudah mendingan”. “yah, aku jauh lebih baik “jawabku.

Suamiku pun mengucapkan terima kasih pada Ki Bejo.

“Begini, sekarang istri anda telah sembuh, tapi mahluk halus yang berhasil saya keluarkan dari tubuh istri anda, bisa balik lagi” kata Ki Bejo. “wah jadi bagaimana Ki ? “tanya suami saya. “yah, saya harus menjaganya untuk beberapa waktu, di sini” kata Ki Bejo.

“oh terima kasih Ki, KI Bejo bisa tinggal di kama atas, kusus buat tamu kata suamiku.“kata suamiku. “baiklah” kata Ki Bejo.

Kemudian mereka ke luar dari kamar ku, dan suamiku membawa Ki Bejo ke kamar atas.

Tanganku menyelinap ke balik celana dalamku, meraba vaginaku yang basah oleh sperma Ki Bejo, meraba klitorisku sendiri, dan merasa nikmat.

Melihat kondisi tubuhku yang sudah pulih kembali, suamiku tampak gembira sekali.

Malam itu dia mencumbuku, sudah seminggu ini aku tak bisa melayaninya. Malan ini suamiku menagih. Aku bercumbu hingga terangsang tinggi.

Tapi tetap saja, setelah penis itu dalam vaginaku aku tak merasakannya. Suamiku mendasah kenikmat, memuji muji betapa nikmat liang vaginaku, sedang aku sendiri tak pernah merasakan nikmatnya penis suamiku.

Akhirnya suamiku mencapai puncak kenimatannya. dangan menyiram banyak sperma di rahimku.Aku hanya tersenyum. Tak lama suami yang ke lelahan itu telah terlelap.

Kakiku langsung melangkah kecil, perlahan gagang pintukamarku aku buka, aku berjalan mengendap endap ke kamar atas.

Ki Bejo, seperti sudah tahu, dia sudah bersiap siap. Aku melepas gaun tidurku.” katakan apa yang ada di hatimu” kata Ki Bejo. “Ki, puaskan diriku, aku ingin Ki “pintaku.

Ki Bejo merangkul diriku, menyuruh aku menunging, penisnya yang telah siap itu, di masukan dari belakang. “heemm” kata dengan desah yang ku tahan. “Dewi, menjeritlah, betapa keras jeritan mu suamimu tak akan bangun ha ha ha” kata Ki Bejo

Penis itu terus mengesek dinding vaginaku, aku menjerit, mengerang nikmat. Samapi aku benar benar merasa puas.

Setelah nafsuku terpuaskan, aku segera mengenakan pakai-an ku kembali. “Ki Bejo, apa Ki Bejo bisa mengemudikan mobil?” tanyaku. Ki Bejo tersenyum, sambil dia mengelus elus punggungku.

Aku berjalan menurunin tangga rumahku, dan kembali ke kamar tidurku. Kali ini aku tertidur dengan membawa kenikmatanku.

Esok pagi tubuhku terasa segar sekali.wajahku juga berseri seri. “mami, wah mami benar benar sudah sehat sekarang” kata suamiku. Aku memeluknya, dan mencium suamiku.

“pi, bagaimana kalau Ki Bejo, kita jadikan sopir pribadi, Ki Bejo sudah setuju tuh” kataKu. “Oh, kalau dia mau tentu saja boleh” kata suamiku.

Aku mencium pipi suami ku.