Showing posts with label sesama pria. Show all posts
Showing posts with label sesama pria. Show all posts

Thursday, May 26, 2011

Pernik-pernik Kencan Gay di Jakarta

Sementara pinggulnya naik turun, kontolnya menembusi mulutku. Aku tahu Anto ingin ejakulasi dalam mulutku. Aku terima. Aku jemput dengan memompakan mulutku pada kemaluannya itu. Hingga..

"Aarrcchh.. Maass.. Amppuunn.. Maass.. Aarrcchh..." genjotan pinggulnya mengencang, sodokkan kontolnya menyentuh gerbang tengorokanku. Aku menahan dengan sikuku agar tak tersedak. Sperma Anto muncrat keras dan panas dalam mulutku. Kurasakan 6 atau 7 kedutan kontolnya pada setiap kali menyemprot.

Kukeluarkan rokok Jarumku sambil istrirahat ngobrol menunggu semangat lanjutan berasyik masyuk ini. Kami tetap salin raba dan pijit. Aku bilang paling senang dengan ukuran kontol macam dia punya ini. Akujuga bilang paling senang menciumi ketiak dan lubang pantat.

"Mau nggak kamu nembak aku?" tanyanya.

Dia pengin aku melakukan penetrasi pada pantatnya. Dan sesudah istirahat itu kami kembali memulai. Aku kembali telentang dan kutarik dia untuk berposisi duduk pada wajahku. Analnya yang terbuka langsung mengenai hidung kemudian bibirku. Aroma anal yang khas macam inilah yang selalu aku rindukan. Aku mengendus-endusi, menjilat dan menyedoti lubang tainya.

"Hh.. Hhcch.. Uucchh.. Aarrhh..." demikan dengus atau desah Anto menerima nikmat jilatan dan ciuman di pantatnya. Aku membuat lubang tainya membasah oleh ludahku.

Kemudian aku bangkit dan menyuruh Anto telentang. Aku langsung menindih untuk melakukan penetrasi pada lubang pantatnya. Kakinya kulipat dan kuminta ditakupka ke punggungku. Dengan cara ini kemaluanku terasa pas dan tepat di mulut analnya. Dengan ludah yang kubalurkan pada jari-jariku aku mulai melicinkan bibir-bibir anal Anto ini.

Kini kudesakkan kemaluanku ke lubang nikmat Anto. Dia menjerit sambil meringis,

"Dduuhh.. ssaakiitt.. Dd..." suara macam itu sungguh merdu di telinga yang sedang dilanda nafsu syahwat macam aku kini. Aneh minta 'ditembak' namun berteriak sakit. Itulah kenikmatannya.

Aku memang nggak bisa kelamaan iseng macam begini. Besok mesti ngantor. Sekitar jam 8 malam kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

*****

[Gunting Rambut]


Mangkal Aman dan Gratis

Sudah lebih sebulan aku telat potong rambut. Rasanya sudah risih. Saat pulang kantor aku mampir di Mall Ciputra Slipi. Di lantai 3 ada salon Rudy. Aku sering melihat tukang cukurnya keren-keren. Sebelum aku masuk mendaftar aku ngintip dulu di kaca etalase. Rupanya jam begini tak banyak orang potong rambut. Kuperhatikan ada sekita 20 kursi cukur hanya 3 yang sedang terisi. Praktis para pemotong rambutnyapun pada nganggur menunggu pelanggan. Aku perhatikan satu-satu di antara mereka hingga kulihat dia, belakangan kutahu namanya Farhan, pria muda tampan jangkung. Akhirnya kutetapkan masuk. Saat mendaftar aku pesan minta dia yang mencukurku. Dan terjadilah.

Pada awalnya aku tak banyak bicara. Pasang stel pendiam.

"Mau potong gaya apa Oom?" tanya Farhan.
"Kalau gaya Clay Aiken masih pantas nggak buat aku?" jawabku bercanda.
"Beres Oom. Pantes banget deh. Sejak Oom ngintip tadi aku juga mikir, tuh Oom koq ngganteng amat. Potongan macam Clay pasti ciocok buat Oom," Woow.. Ternyata dia senang nyerocos.

"Oo, jadi kamu sudah ngelihat aku tadi, ya? Aku juga milih yang paling tampan loh. Aku minta sama reseptionis tadi,"
"Ah, bsa aja Oom. Terima kasih, Oom. Mau minum apa nih?"
"Ehhmm.. Coca Cola deh. Tapi bener khan? Kamu paling tampan?"

Suasana dan komunikasi sudah semakin memanas. Pemburu dan buruannya sudah semakin mendekati kesepakatan. Tangan Farhan sudah berani menjepit gundukan di selangkanganku saat menjumput kain penutup potongan rambut. Aku memang sudah ngaceng. Wewangian yang keluar dari tubuh Farhan. Aroma tahunerapi dari keringatnya sangat membangkitkan gairah libidoku.

"Aku pengin ngajak makan kamu Farhan," aku menyerang dengan desakan.
"Nanti aku pulang jam 5, Oom. Aku tunggu di depan MD lantai bawah?" respon positip yang langsung kuterima.

Pulang kantor aku bergegas. Tepat jam 5 sore itu aku sudah berada di depan MD. Mana si Farhan? Ah, itu dia. Rupanya baru turun dari salonnya. Kulambaikan tanganku. Dia melihatnya. Saat di mobil aku langsung tanya,

"Bagaimana kalau kita makan Steak Abuba di Kebayoran? Dari sana kita ke Motel Pulo Mas. OK?" Dia setuju dan aku meluncur ke sana. Sepanjang jalan kami saling elus, raba dan remas. Hal ini justru membuat rencana jadi berubah. Farhan yang jadi sangat ngebet dan usul,

"Oom, makannya di kamar saja. Kita langsung ke Motel Pulo Mas saja," aku jelas setuju. Kugenjot mobil masuk Tol menuju arah Tanjung Priok. Keluar di Cempaka Putih berputar balik menuju Motel Pulo Mas. Dduhh.. Nafsu birahi yang tak sabar.

Ternyata Motel Pulo Mas sangat laris. Kami ngantre dan parkir di taman. Apa boleh buat. Sementara menunggu, 'foreplay' berjalan terus. Kami saling melepas kancing celana dan menarik keluar kemaluan-kemaluan kami. Saling pijit, elus, raba, remas, peras. Dan pada akhirnya juga saling menjilat, menggigit dan kulum. Dan apa yang kemudian terjadi?

Kami relah berasyik masyuk dan meraih kepuasan. Kami saling mengalami ejakulasi yang nyemprot muncrat dan tumpah ke mulut-mulut kami. Aku menikmati sperma segar Farhan dan sebaliknya Farhan menikmati spermaku. Dan akibatnya rasa lapar langsung menimpa kami. Sekali lagi, apa boleh buat. Kami meninggalkan motel tanpa pernah masuk ke kamarnya. Kami mendapatkan tempat aman dan nyaman dengan gratis. Dan pada akhirnya kami berpisah di Abuba Steak sesudah masing-masing melahap 2 porsi sherloin 200 gram dari New Zealand.

*****

[Bioskop Ajang Kencan]


Toleransi Yunior untuk Senior


Inilah pertama kalinya aku kencan sesama pria di bioskop. Yang ngajak seorang bapak-bapak. Pak Wena, usianya hampir 60 tahun. Kami bertemu beberapa menit yang lalu di toilet lantai 4 Atrium Senen.

Setelah saling pandang mata dan mengernyitkan alis,

"Dik, kita nonton di seberang yok" Aku tahu itu adalah Bioskop Mulia tempat para gay Jakarta berasyik ria saling peras, remas, lumat, isep, kulum dan teguk sperma. Pak Wena nampak sangat 'ngebet' melihati aku. Belakangan aku baru tahu bahwa dia adalah staf ahli salah satu departemen RI. Dia adalah profesor dalam bidang ilmu sosial.

Sesudah ngantre (Pak Wena minta aku yang antre, khawatir bawahannya yang melihatnya), kami memasuki ruang gelap untuk mencapai kursi kami. Seorang petugas dengan lampu senternya mengantar hingga kami duduk. Aku sengaja pilih deretan kursi kosong. Namun siang itu ternyata tak banyak penonton. Dari sekitar 100 kursi rasanya hanya sekitar 10 atau 15 kursi saja yang terisi.

Begitu duduk Pak Wena langsung mengamplok aku. Dia ciumi leherku, bahuku, tengkukku dan kemudian melumat-lumat bibirku. Tangannya sangat terampil. Sambil mencium dia lepasi kancing zip celanaku dan menariknya ke bawah. Dengan sedikit mengangkat pantat aaku membantu agar memudahkan celanaku merosot. Tangan Pak Wena langsung merogohi kemaluanku,

"Gede banget, Dik. Boleh dong aku jilat-jilat?!," katanya sambil melepas kacamatanya dan kemudian merunduk menjemput arah selangkanganku. Dia menjilati dan mulai mengisep, menjilat dan mengulum kontolku. Aku serasa terbang. Syahwat dan jilatan Pak Wena memberikan nikmat tak terhingga. Orang tua macam Pak Wena sangat sabar. Kurasakan ujung lidahnya menggelitik pelan di ujung lubang kencingku.

Untuk memberikan sensasi padanya aku remasi kepalanya. Kujambak tarik rambutnya untuk menunjukkan birahiku yang melanda. Aku mengeluarkan desahan ke dekat kupingnya. Jilatan Pak Wena pada batang kontolku nampak semakin menggila.

Sesudah cukup pegal menunduk Pak Wena bangkit dan memberikan kesempatan padaku. Aku raba dan remasi selangkangannya. Kurasakan kontol Pak tua ini masih seperti batu panas. Aku lepaskan resluitingnya dan kutarik merosot celananya. Kini aku ganti melumat. Kontol Pak Wena kuhela keluar dari celana dalamnya dan ku kulum. Precumnya terasa sangat asin. Aku mengerang penuh nikmat. Pak Wena ganti mengelusi punggung dan rambutku.

Akhirnya kurasakan kontol Pak tua ini semakin tegang dan membesar. Pasti keinginan untuk tumpah sudah mendesaki syahwat Pak Wena. Aku memompa lebih kencang dan mempersempit jepitan bibirku.

Dengan geliat dan desahan tak tertolak Pak Wena meremas punggungku. Aku bersiap untuk menerima tumpahan sperma Pak tua. Dan.. Aarrcchh.. Nikmatnyaa.. Mulutku yang penuh terjejali kontol Pak tua kini menerima lahar panas sperma kentalnya. Aku merasakn gurihnya, pahitnya, asinnya, lengket dan kentalnya. Semua sperma Pak Wena kutelan ludas tanpa cecer. Aku sangat menyukai situasi macam begini.

Sesudah istirahat sejenak kembali Pak Wena merangsang nafsuku. Kontolku dielusi, diremas dan dikocok-kocoknya hingga kembali tegar berdiri. Namun aku merasakan Pak Wena tidak lagi bergairah sebagaimana awalnya tadi. Aku agak kasihan juga. Sebaiknya aku toleransi dan memaklumi faktor usianya,

"Kalau bapak capek, sudah saja. Kita kembali saja ke Atrium, OK?" ternyata dia langsung setuju. Namun kami sepakat langsung berpisah begitu keluar dari bioskop itu. Aku sendiri kembali ke Atrium untuk kembali memburu atau diburu pria lain.

Sekian dulu, lain waktu nyambung lagi

Apakah Aku Akan Terus Jadi Gay

Kisah ini merupakan kisah yang aku alami setelah mengalami peristiwa yang tak pernah kulupakan seumur hidupku. Bagi Anda yang belum membaca cerita pertama dari Geo dengan judul “Mengapa Aku Gay” silakan baca karangan kisah tersebut karena kisah berikut ini adalah akibat dari kisah sebelumnya.
*****
Beberapa hari setelah peristiwa sejati yang aku alami itu, jiwaku sangat terguncang dan goyah. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat lagi. Aku sangat merasa berdosa dan menyesal telah melakukannya dan mengapa aku tidak tahan dengan godaan itu. Aku begitu larut di dalam situasinya sehingga aku tidak ingat lagi dengan apa kata hatiku. Terus terang, aku sebelumnya adalah seorang yang taat dengan norma agama dan aku tahu bahwa seks di luar nikah adalah pantang apalagi jika itu adalah seks sesama jenis.
Gejolak dalam hati saya kian hari kian membawa saya ke dalam pergulatan dan perdebatan antara hati nurani dengan apa yang telah menjadi kenyataan atas diriku. Hati nuraniku berkata “aku tidak ingin jadi gay” tapi aku sendiri tidak bisa memungkiri apa yang telah terjadi atas diriku dan aku tidak bisa berdusta dan membohongi perasaan hatiku sendiri. Akhirnya tinggallah goresan luka yang amat menyedihkan dalam batin saya yang sangat dalam, hatiku sangat bimbang.. Apakah kuharus menjadi gay dan menikmati hidupku atau apakah kuharus melawan perasaan dan keadaan diriku sendiri? Inilah masalah yang sangat besar yang pernah aku alami, kala harus menentukan sikap hidup. Aku berada di antara persimpangan dua arah yang sangat menentukan jalan hidupku.
Aku sudah berusaha untuk hidup dan mencintai seorang wanita, tapi apa daya perasaan itu selalu menghantui saya dan tidak bisa aku hindari kala aku melihat seorang cowok ganteng didepanku.
Sahabatku yang aku percaya selama ini, ternyata dia pergi meninggalkan aku kala ia mengetahui bahwa aku berubah total. Kala aku curhat dan mengatakan bahwa aku menjadi gay, ia malah meninggalkan aku dengan alasan ia tidak mau menjadi gay juga seperti aku. Dia menganggap aku sebagai seorang yang kena “virus gay” yang katanya dapat menular ke orang lain, apalagi dia statusnya sebagai teman dekat saya. Tentu saja kepergian sahabatku yang sangat aku percayai itu kian menambah luka dan goresan dalam lubuk hatiku. Oh Tuhan, apakah yang harus aku lakukan lagi? Mengapa aku menjalani semua ini? Mengapa harus aku? Atau apakah ini jalan dan garis hidupku? Inikah takdirku?
Akh.. Tidak, ini bukan takdir. Aku yakin Tuhan punya rencana yang indah dalam hidupku di dunia ini. Rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan dan bukan rancangan untuk menjadikan umatnya menjadi gay. Aku tidak menyalahkan Tuhan; Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi aku menyalahkan diriku yang tidak bisa mengendalikan diri sendiri.
Jalan manakah yang aku harus tempuh? Apakah kuharus menikmati hidupku atau bagaimana? Jika aku menikmati hidup apa adanya, maka aku harus menjadi gay tapi jika tidak maka hidupku akan penuh dengan kepura-puraan dan aku tidak bisa hidup dengan memasang “topeng” selama-lamanya. Kiranya Tuhan memberikan jawaban yang terbaik.
“Tok.. Tok.. Tok.. Geo? Bisa aku masuk?” ujar suara yang sangat aku kenal dari balik pintu kamarku. Ya, pemiliknya adalah Sandy. Aku kaget dan segera berdiri menghapus air mataku sambil menuju pintu.
“Hai Sandy, ada apa?” tanyaku
“Geo, kamu kenapa? kok mata kamu sayu gitu? lagi ada masalah ya.. Boleh nggak kamu cerita.. Siapa tahu aku bisa bantu!”
“Iya nih San. Aku lagi bingung!” Aku mengajaknya duduk di atas tepi ranjang dan mengajaknya berbicara.
“Ada apa Geo?”
“San, aku bingung apakah aku harus jadi gay atau bagaimana?” tanyaku sambil menatap matanya. Sandy lalu meletakkan tangannya di atas pundakku dan menepuk-nepuknya. “Geo, kamu nggak bisa bohongin diri kamu sendiri. Kamu nggak bisa menghindar dari perasaan hati kamu sendiri. Kalau memang perasaan itu ada dalam hati kamu, kamu nggak bisa pungkiri bahwa kamu sebenarnya adalah seorang gay” jelasnya.
Aku hanya diam dan menatap kosong ke arah lantai.
“Geo, dulu aku juga sama seperti kamu, aku sangat bimbang dan penuh dengan seribu macam pertanyaan yang sangat membuat aku terpukul kala harus menentukan jalan hidupku. Ya.. Apa yang aku alami dulu sama seperti apa yang kamu alami sekarang Geo. Tapi semua itu ada waktunya kok. ” katanya.
“Oh ya?” aku penasaran dan ingin mengetahui apa keputusan Sandy selanjutnya waktu itu.
“Terus.. Apa keputusan kamu?” tanyaku penasaran.
“Aku memutuskan untuk menjalani hidup apa adanya dan biarlah waktu yang mengubah semuanya. Aku tidak mau pura-pura jadi normal, tertarik sama cewek.. Padahal aku tidak tertarik sama sekali. Aku harus jadi diriku sendiri. Aku tidak mau jadi orang lain. Ya.. Yang terjadi ya terjadilah.. ” jelasnya.
“Jadi.. Itu keputusan kamu?”
“Iya Geo”
“Kamu tidak merasa menyesal mengambil jalan itu?”
“Tidak. Karena aku sudah berprinsip bahwa aku adalah aku dan aku bukan orang lain. Aku adalah diriku sendiri apa adanya”
“Prinsip yang bagus” kataku sambil mengangguk-angguk.
“Geo, kalau kamu takut menjadi gay dan hidup pura-pura, kamu tidak akan pernah menikmati tuh yang namanya hidup”
“Oh ya?”
“Ya.. ” jawabnya sambil senyum menghiasi raut wajahnya yang bersih dan manis.
“San.. Kamu memang sahabat yang baik. Kamu tahu nggak, sahabatku pergi meninggalkan aku saat aku bilang kalau aku jadi gay”
“Ha? dia bukan tipe sahabat sejati kalau begitu. Dia pergi meninggalkan kamu saat mengalami masa-masa pahit. Dia cuman ingin manisnya saja dari kamu”
“Katanya.. Dia nggak mau tertular virus gue!”
Sandy tertawa terbahak-bahak. “Virus? kalau begitu itu tergantung daya tahan tubuhnya dong terhadap virus, apakah dia juga kebal atau tidak” Sandy kembali duduk di dekatku dan memeluk aku erat-erat.
Aku merasakan damai dan kasih yang penuh dari pelukan Sandy. Pelukan yang membuat hatiku damai dan aman dari goncangan hidup. Dia kemudian membisikkan kata: “Geo, kamu harus jadi diri sendiri, bukan orang lain!” suaranya yang lembut mengiang mesra dan lembut di telingaku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, tiba-tiba saja gairahku kembali bangkit dan ingin melakukan hal itu dengan Sandy.
Aku mulai mencium pipi Sandy yang manis dan bersih putih itu. Sandy kemudian membalasnya dengan mencium keningku dan menciumi pipiku. Tiba-tiba saja ciuman tersebut berubah jadi ciuman bergairah. Kurasakan getar-getar birahi dalam diriku mulai mengalir dan membangkitkan nafsuku. Dan Sandy pun demikian. Ia mulai mengajakku berdiri sambil berciuman. Kami sangat menikmati ciuman mesra ini. Aku mulai menjilati bibirnya dan sesekali mengulum bibirnya yang seksi. Kedua tangan kami saling merangkul di pinggang dan saling merapatkan tubuh satu sama lain. Namun, ciuman itu terus berlanjut. Sandy lalu menelusuri rongga mulutku dengan lidahnya kesana kemari. Aku merasa sangat bergairah dan terus bergairah dengan ciuman ini. Ini adalah ciuman yang sangat menyenangkan dan mengasyikkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ciuman yang lama.. Sambil menikmati bibir masing-masing, kedua tangaanku mulai membuka kancing baju Sandy. Begitupun dengan Dia, Sandy mulai melorotkan celana panjangku.
Dan tak lama kemudian kami hanya memakai celana dalam saja.
Kini kami dilanda nafsu yang sangat besar. Kami lalu melanjutkannya di atas tempat tidur. Sandy lalu mengangkatku dan membaringkan aku di atas tepi ranjang, lalu mukai menggigit-gigit kecil penisku yang masih dibungkus dengan kain merah. Aku hanya menggelinjang dan menikmati dan merasakan setiap gigitan dan sentuhan mulutnya. Sandy lalu menggigit kain CD-ku lalu menariknya ke bawah dengan mulutnya. Yah.. Ia mengeluarkan CD-ku dengan memakai mulutnya. Maka tampaklah penisku yang tegang berdiri berwarna kemerah-merahan. Kulihat kepala penis Sandy yang juga mnyembul dari dalam CD-nya membuatku kian bergairah. Aku lalu bangkit dari tidur dan mendorong tubuh Sndy ke atas ranjang dan melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan dengan aku tadi. Aku lalu menunduk dan mengigit-gigit penis berbungkus celana dalam warna hitam itu. Ya, rasanya keras juga untuk digigit. Penis Sandy memang sudah mengeras dan berwarna merah kecoklat-coklatan. Aku terus menikmatinya walau masih berbalut dan akhirnya aku menarik pula CD itu keluar dengan gigitanku hingga tampak pula milik Sandy yang besar dan berdiri kokoh. Aku tak sabar ingin menindih tubuhnya dan merasakan kehangatan tubuhnya.
Aku lalu bangkit dan menindih tubuhnya di atas ranjang penuh gairah. Aku kembali menciumi pipinya dan merasakan hangatnya hawa tubuh Sandy menyerap ke dalam tubuhku. Kurasakan benjolan penis Sandy yang sangat mengganjal di bawah perutku. Aku lalu bergeser ke bawah sedikit sehingga penisku bertemu dengan penisnya dan “akh.. Akh.. ” nikmat sekali. SAndy lalu menggoyangkan pantatnya naik turun walau aku menindihnya namun tetap saja bagian tubuh bawahnya tetap bisa ia goyangkan. Kemudian aku menggesek-gesekkan penisku di atas penisnya sambil tetap menikmati ciuman mulut dengannya.
Sandy dengan tak sabarnya, segera mendorong tubuhku hingga aku sekarang berada di posisi bawah. Ia lalu memasukkan penisnya di sela kedua pahaku dan menjepitnya lalu ia mengayunkannya naik turun. Ku merasakan benda tumpul itu hangat menggelitik dan menggoda-goda ujung sarafku.
Tak lama kemudian, kami berganti posisi. Kami lalu mengambil posisi 69 alias oral seks. Ia memutar tubuhnya di atas tubuhku dan walau aku harus menahan berat badannya yang kira-kira 55 kilogram itu, aku tidak merasa terbebani. Kini penis tanpa bulu-bulu halus itu berada tepat di atas wajahku. L Kedua bola menggantung itu kini berada dekat mulutku dan tanpa membuang waktu, segera saja kulahap mentah-mentah kedua buah itu dan nikmat sekali, lebih nikmat dari jus buah biasa. Sesekali aku mengerang dan menggelinjang kala Sandy sengaja mengelitik atau mencolek pinggangku dengan jari telunjuknya tapi aku tidak bisa bergerak karena aku ditindihnya. Namun Sandy juga kadang mengisapku dengan keras hingga terasa sampai di ujung-ujung saraf kelaminku.
Kami terus melakukan oral seks hingga merasa puas. Aku terus saja mengulum milik Sandy yang kira-kira 18 cm itu dan sesekali aku mengigit kecil benda keras itu.
“Akh.. Nikmatnya dunia ini.. ” kataku dalam hati. Tapi hampir kami tidak pernah saling berbicara mengeluarkan suara satu sama lain, hanya sesekali senyum saat pandangan mata bertemu dengan pandangan mata.
Selang beberapa puluh menit kemudian, kami lalu mengganti posisi. Sandy bangkit dan kini aku tidak merasa tertindih lagi oleh tubuh beratnya itu. Namun, selama oral tersebut, aku tidak merasakan beban berat tersebut, mungkin karena aku konsen dengan apa yang aku rasakan. Sandy lalu kembali mengisap-isap penuh gairah dan nafsu atas kedua puting susuku
“Akh.. Terusin.. Enak juga.. Isap yang keras, San!” bisikku sambil menggeliat. Namun itu hanya berlangsung beberapa menit. Kemudian aku bangkit dan kembali menindih tubuh Sandy. Aku bergeser ke bawah hingga aku mendapatkan penisnya yang sudah berwarna merah tua dan hangat. Aku lalu kemblai mengulumnya dan mengisapnya keras-keras. Aku melahapnya hingga ke ujung pangkalnya dan
“Akh.. Ahk.. Ahk.. ” aku tersedak dengan kepala penis Sandy yang menyentuh pangkal kerongkonganku. Tapi aku hanya menelan ludah dan kembali mengulum penis itu layaknya ice cream tapi ini lebih enak dari pada ice cream sendiri. Sesekali juga aku menggigit-gigitnya dengan halus, hingga Sandy mengerang dan menggeliat keenakan.
“Ya.. Terusin Geo, terusin.. Enak banget.. Akh.. Akh.. Aku mau keluar nih” ungkap Sandy.
Aku lalu menghentikan kegiatanku sementara dan menunggu hingga Sandy merasa aman lagi dari rasa mau muncrat. Ya.. Ini aku lakukan agar ml-nya berlangsung lama. Sambil menunggu penis kamu “loyo” kami saling berpandangan mata dan menikmati wajah masing-masing. Beberapa menit kemudian, penis kami mulai sewtegah loyo dan kini kembali kamu melakukan making love.
Aku lalu mengambil oil pelicin lalu mengoleskannya pada penisku dan menuangkannya di atas penis Sandy yang kembali menegang. Aku lalu menggeser tubuh Sandy hingga ke tepi ranjang sedangkan aku berdiri di tepinya sambil berdiri di atas lantai lalu membuka lebar kedua paha Sandy dan mengosok-gosokkan penisku ke bibir analnya. Sandy hanya menggelinjang dan menikmati sentuhan yang aku berikan. Karena aku tak sabaran lagi, aku lalu memasukkan penisku ke dalam analnya. Ya.. Susah juga pertamanya. Walau Sandy sudah tidak perjaka lagi, namun analnya masih susah ditembus. Aku lalu memasukkan jari tengah kedua tanganku lalu menarik bibir analnya ke arah yang berlawanan dan memasukkan penisku yang sudah mengeras dan licin. Akhirnya, kepala penisku sekarang sudah masuk. Tapi Sandy merasa kesakitan,
“Pelan-pelan Geo, aku agak sakit nih.. ”
“Oke.. ” Aku lalu melepaskan keuda jari tengahku dari dalamnya dan meletakkan kedua tungkai Sandy di atas kedua bahuku lalu aku mulai memeluk dan merapatkan kedua pahanya ke dadaku dan mengayunkan dengan sangat perlahan-lahan penisku keluar masuk anal Sandy.
“Akh.. Akh.. Enaknya”
“Ya.. Lebih kenceng lagi, Geo!” ujar Sandy
Aku lalu mulai mengayunkan penisku dengan agak cepat dari sebelumnya dan kian lama kian cepat dan cepat..
“Terus.. Akh.. Akh.. Terusin, Geo. Lebih kencang lagi dong!”
Aku lalu memasukkan penisku hingga ke pangkalnya ludes sudah masuk menembus anal Sandy. Aku mengguncangnya dengan kian cepat dan keras hingga tubuh Sandy ikut berguncang di atas ranjang. Aku mulai berkeringat dan tak lama kemudian..
“Akh.. Akh.. Akh.. Croot.. Croot.. Croot”
Aku mengeluarkan spermaku dan menembakkan peluru panas itu jauh ke dalam tubuh Sandy. Kurasakan waktu aku muncrat, Sandy menjepit erat penisku dengan otot bibir analnya. Penisku masuk hingga ke pangkalnya saat itu dan akh nikmat sekali rasanya. Aku mencapai puncak kenikmatan itu dan aku tidak melewatkan apa yang aku rasakan saat itu. Saat yang singkat itu aku mencoba unutk merasakannya semaksimal mungkin.
Akhirnya, aku mengeluarkan penisku dari dalam anal Sandy dan tampak spermaku keluar beberapa tetes dari dalamnya hingga membasahi lantai. Aku lalu duduk dan berbaring di sampingnya. Kemudian Andy bangkit dan mulai melakukan apa yang aku lakukan tadi. Dia lalu mengangkat pantatku naik setinggi mungkin mendekati penisnya karena dia berdiri di atas ranjang-tidak sama seperti aku tadi yang berdiri di atas lantai-dan aku tidur terlentang di atas ranjang. Akh, aku merasakan tubuhku terbalik. Lalu Sandy membuka lebar lubang analku dengan kedua jarinya lalu memasukkan penisnya dan..
“Akh.. ” Aku mengeluh kesakitan karena Sandy langsung saja mendorong penisnya hingga ke pangkalnya saat kepala penisnya, ulai masuk hingga aku kesakitan yang amat. Sandy kemudian menghela nafas dan wow.. Tidak pernah aku bayangkan, Sandy mengangkat badanku naik dengan kedua tangannya yang kuat hingga aku kini digendongnya sambil penisnya berada dalam analku. “Akh.. Fantastis San. Kamu hebat!” ungkapku.
Kami lalu berciuman. Aku sangat kaget dengan ini. Sandy melakukan apa yang tak pernah aku bayangkan. Ternyata dia sanggup mengangkat tubuhku.
Dengan posisi tetap seperti ini, Sandy membawaku dan dia duduk di atas sofa. Ternyata gaya ini sama seperti gaya yang ia lakukan sama Ivan dulu. Kini Sandy duduk di atas sofa dan aku duduk diatas ke dua pahanya menghadap ke arahnya dengan penisnya tetap berada dalam lubang analku. Aku lalu mulai mengayunkan pantatku turun naik secara perlahan sesuai dengan apa yang aku ingin rasakan. Karena aku masih merasa sakit, aku hanya melakukannya dengan naik-turun secara pelan-pelan dan ini diikuti dengan gerakan naik turun oleh Sandy walau dia dibawah. Semikn lama semakin hilng rasa sakit itu dan aku kini kian kencang naik-turunnya.
“Posisi yang sangat bagus dan fantastis, San!” ujarku.
Sandy hanya tersenyum dan menjilati dada dan puting susuku. Tapi penisku sendiri mulai bangkit lagi setelah selang beberapa menit loyo dan terkulai lemas, tapi kini penisku bangun lagi dan mulai menegang.
Selang sekitar dua puluh menit kemudian..
“Geo, aku mau keluar nih, coba kamu angkat pantatmu, aku ingin muncrat di luar”
Aku lalu mengangkat pantatku ke atas sehingga penis Sandy keluar di bawah lalu Sandy mengocok-ngocok penisnya sendiri dan..
“Akh.. Croot.. Croot.. Croott.. ”
Sandy memuncratkan spermanya di anatara sela badanku dan badannya sehingga kedua badan kami basah oleh hangatnya cairan sperma Sandy.
Setelah itu, kami berpelukan erat dan mesra penuh kasih sayang.
Akhirnya, making love keduaku selesai. Aku sekarang sudah dua kali melakukannya. Pertama dengan Richard dan kedua dengan Sandy. Semuanya menyenangkan dan memuaskan.
Bagaimana dengan perasaan hati nuraniku? Pertanyaan itu kembali menghantui hidupku, mungkin hanya making love yang akan menghilangkannya dari pikiranku.
“Ah.. Aku harus jadi diri sendiri. Aku ingin menikmati hidupku sebagai seorang gay, aku tidak bisa membohongi perasaan hatiku sendiri. Aku adalah aku dan aku adalah seorang gay” kataku dalam hati.

Kursus Singkat yang Menyenangkan

Sebagai junior employee dan baru berkarir di sebuah instansi, aku ditugaskan ikut kursus singkat selama dua bulan di Denpasar, Bali. Ini tentu menggembirakan. Bayanganku, di Bali pasti mudah menemukan yang indah-indah. Oleh karenanya keberangkatanku ini kusiapkan sebaik mungkin. Dari Balikpapan dan transit di Surabaya bagiku cukup untuk istirahat dan membuatku tertidur sesaat, sampai ban Airbus itu menggerinyit mencium landasan pacu Juanda, aku tersentak dari tidurku. Beberapa saat kami melanjutkan lagi penerbangan ke Denpasar. Ketika pesawatku mendarat, ah, bau dupa setanggi itu begitu nyata di hadapanku. Kini aku menginjak pulau Bali, pulau para dewa berada, dan pulau surga di Indonesia.
"Benarkah? Denpasar, aku datang..!" seruku dalam hati, give me your best service.
Aku telah lama mendambakan menemukan seorang cowok yang macho, atletis, seksi, dan belum disunat. Aku ingin menemukan sensasi baru. Kupikir di Bali inilah akan kudapatkan itu.
"Mungkinkah aku memperoleh itu di sini?" tanyaku dalam hati.

Besoknya, setelah semalam tidur di penginapan, aku mencari kost yang cocok dan menemukannya di Jalan Tukad Banyusari. Aku memperoleh kost yang cukup tenang, dengan keluarga yang hangat dan menyenangkan. Satu per satu anggota keluarganya dikenalkan, sampai pada anaknya yang cowok masih SMA, bernama Nyoman (sebut saja begitu, nama aslinya tidak usah kusebutkan, aku kasihan dengannya, dan yang terpenting, that is our secret, ok). Aku terpana waktu Nyoman menyalamiku. Ia kelihatan biasa-biasa saja, tapi aku merasa jantungku demikian berdebar. Anak itu sangat sopan waktu berkenalan denganku. Ia ganteng, atletis, dengan tinggi sekitar 170 cm, dan yang terpenting dia seksi. Kulihat di seragam abu-abu SMA-nya cukup nyata tonjolan kelelakiannya, membuatku semakin mantap untuk menemukan kehangatan padanya.
"Nyoman, aku harus dapat kamu!" seruku dalam hati.
Ya, aku harus dapatkan dia. Aku jatuh cinta pada Nyoman, pada pandangan pertama.

Sama keluarga itu aku akrab. Aku juga biasa iseng mencoba menganyam janur yang diperlukan keluarga itu untuk berbagai keperluan, jadinya aku tidak merasa asing. Yang paling kurasakan sulit di sana adalah soal makan. Untuk itu biasanya sekitar jam 7 malam kuajak Nyoman menemaniku makan di sebuah warung yang bersih dan bersuasana nyaman. Aku merasa sangat dekat dengan Nyoman karena setiap kali kuajak, dia tidak pernah menolak. Dengan senang hati aku selalu diboncengnya. Dan aku sangat menikmati memeluknya dari belakang, merasakan kehangatannya. Aku juga suka mengelus pahanya yang kekar dibalut jeans sobek kesukaannya, dan sering pula kusengaja menyentuh bukit cowoknya yang menonjol itu. Nyoman sama sekali tidak mengomentari kenekatanku itu, sehingga aku sering merasa penasaran. Baginya, kenekatanku itu sama sekali no comment.

Beberapa waktu kursus berlangsung, aku mulai diselimuti rasa bosan. Ditambah lagi menu makanan di tempat kursus yang tidak variatif membuatku sangat jenuh. Untuk menanggulanginya, aku mengajak Nyoman berenang, karena sejak kuliah aku memang hobby berenang. Sejak aku mulai kerja, aku agak jarang berenang. Nyoman kemudian bersedia. Kami janjian berenang pada hari Minggu. Selama berenang aku sering menatap tubuhnya yang atletis dan seksi dengan mencuri-curi, yang saat itu hanya dililit celana renang yang ketat menonjolkan kelelakiannya. Aku meneguk liur setiap kali ia naik ke pinggir kolam untuk istirahat.

Setelah kami cukup puas berenang, kami ke kamar ganti. Di situ, aku menemukan sebagian dari apa yang kuidamkan pada Nyoman. Kami sama-sama bugil waktu ganti, dan rupanya itu hal biasa di Bali. Aku tidak dapat menahan gejolakku pada Nyoman ketika kulihat penisnya yang panjang dengan kulup menjulur keriput. Aku begitu bernafsu menyentuh penisnya dengan lembut.
Nyoman hanya berkomentar singkat, "Ah, Kak Rafael nakal," katanya sambil memegang tanganku sopan.
"Nyoman, burungmu masih punya kulup ya?" godaku, walau aku tahu mayoritas orang Bali tidak disunat.
Ia tersenyum, "Iya, di sini cowoknya rata-rata kami tidak disunat, lho," katanya meyakinkanku.
Aku mengangguk, seakan-akan memahami perkataannya. Di hatiku aku merasa idamanku akan terwujud sebentar lagi. Kuputar otak untuk merayu Nyoman.
"Man, nanti kita makan di warung yang biasa ya, habis itu pulang. Aku tidak enak badan nih," kataku memulai aksiku.
Nyoman kemudian memboncengku.

Malamnya aku cepat masuk kamar, kubilang aku masuk angin. Tidak disangka, Ibu Nyoman malah menyuruh si Nyoman ngerokin aku.
"Wow, thaks Mom.." seruku dalam hati.
Aku buru-buru masuk dan merebahkan diri di kasur.
"Kakak, mau enggak nih, Nyoman kerokin," katanya waktu membuka pintu kamarku.
"Ehm.., kamu tidak capek, Man?" tanyaku berpura-pura.
"Capek sedikit sih, tapi kan kasihan kakak, besok harus ikut kegiatan. Saya kan sekolah siang, jadi masih bisa nambah istirahat," katanya meyakinkan.
"Gini aja, Man, kamu tidak usah ngerokin kakak, ya. Kamu cukup pijitin aja deh punggung kakak.." kataku.
Nyoman menurut.

Aku kemudian menelungkupkan badanku, dan Nyoman berdiri di samping ranjang, memijit-mijit otot punggungku. Setelah beberapa menit, kurasakan pijitannya mengendor.
"Kamu capek ya Man?" tanyaku.
"Kalo kamu capek berdiri, dudukin aja badan kakak," kataku.
Nyoman menurut. Didudukinya pahaku, lalu dia memijat badanku. Aku merasakan tonjolan penisnya yang besar itu menyentuh pantatku, menimbulkan getaran yang sensasional. Aku membayangkan betapa nikmatnya bercinta dengan Nyoman. Aku terhanyut dalam ngantukku sesaat. Tiba-tiba aku terjaga dan kurasakan nafasku agak sesak karena menelungkup cukup lama. Kusuruh Nyoman turun dari badanku, dan aku membalikkan badan.
"Udahan nih?" tanyanya.
Aku mengangguk mengiyakan, "Iya, tapi Nyoman temenin Kakak tidur di sini, ya!" pintaku.
Nyoman mengangguk, sambil membaringkan badannya di ranjang.

Malam itu aku tidak dapat tidur. Nyoman kelihatannya sudah jauh meninggalkanku, dalam kenikmatan bertemu sang dewi malam, dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengelus, meraba dan meremas semua apa yang ada pada Nyoman.

Pada saat menjelang dini hari, setelah kupuas menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya yang kekar, aku membisik di telinganya.
"Man, kakak boleh peluk kamu, tidak?" bisikku mengganggu tidurnya.
"Aaah, Kak Rafael nakal lagi. Kalau mau peluk aja Nyoman, tapi Nyoman terus tidur ya!" katanya.
Yes! Nikmat betul memeluk cowok yang kudamba selama berhari-hari, malam itu. Eh, rupanya Nyoman tidak bisa tidur lagi setelah kuganggu. Tangannya kurasakan bergerak-gerak terus, tapi aku tidak peduli. Tanganku mulai menggerayang lagi, kali ini lebih intens ke arah paha, pinggul dan pusarnya. Nafas Nyoman terdengar memburu.

"Kamu tidak tidur ya Man?" Nyoman mengangguk.
Lalu aku kembali memulai aksiku.
"Man, aku pingin sebenarnya dapat cewek Bali," kataku memancing.
"Tapi Kak Raf tidak punya kesempatan banyak, sekarang sudah sedikit waktu lagi, kakak harus kembali. Kalo tidak dapat cewek Bali, gimana kalo cowoknya aja," kataku merayunya.
Nyoman senyum aja, ketika tanganku mulai meraba puting susunya. Aku tambah nekat melihat reaksinya yang pasrah. Kuangkat bajunya, lalu kupelukkan tanganku melalui bawah tengkuknya sehingga kedua tanganku bebas memainkan kedua puting susunya yang kurasakan mengeras. Nyoman kemudian mengusap-usap kedua tanganku. Aku makin nekat. Kutarik ia menghadapku, lalu aku melumatkan ciuman yang menggetarkan ke pipi dan mulutnya tanpa ampun. Lidahnya ikut menari-nari bermain dengan lidahku.
"Nyoman, kamu mau kan, kalo kakak minta kamu mesra-mesraan lebih dari ini sama kakak," kataku memintanya. Nyoman mengangguk dengan mata terpejam. Rupa-rupanya Nyoman sudah benar-benar horny saat itu. Kupikir, inilah saatnya aku leading Nyomanku itu.

Perlahan kukecup lagi kening dan pipinya. Kubuka bajuku dan bajunya yang sudah basah oleh keringat. Kutelusuri badannya dengan bibirku, perlahan, penuh penghayatan, mulai lehernya yang berpeluh, kemudian kedua puting susunya, lalu aku menurunkan kecupan mesraku ke arah perutnya yang menunjukkan kekekaran ototnya, lalu ke arah pinggangnya. Nyoman menggeliat geli, tapi tetap menikmati sentuhan mesraku itu.
"Kak, Nyoman mau diapain sih sama kakak," katanya memelas.
Di telingaku, kalimatnya itu sungguh menggairahkanku.
"Ehm, kakak cuma mau membagi kemesraan dan kehangatan yang kakak punyai," tegasku.
Celana kulotnya yang longgar perlahan kutarik.
"Ehm, gluk" aku meneguk liur. CD-nya kulihat begitu minim, sampai bulu-bulu penghias penisnya merebak keluar. Lalu dengan masih tetap memakai CD, kuciumi sekitar penisnya. Tonjolan lelakinya kelihatan begitu nyata. Bau smegma-nya merebak bercampur bau keringatnya yang rada kecut membuatku semakin penasaran.

Setelah CD-nya basah oleh liurku, perlahan kutarik. Ah, penisnya yang besar itu sudah tegak sekali.
"Kakak, Nyoman mau," bisik Nyoman.
Aku bangkit dan menarik pakaiannya, sehingga ia jadi bugil. Kuminta ia menjulurkan kakinya ke bawah sambil berbaring di pinggir kasur dan mengangkangkan pahanya. Bulu kakinya yang merebak tumbuh di sekitar paha dan penisnya itu menambah gairahku. Penisnya tampak tegang, tapi kepalanya masih terkulum kulup. Ah, penis yang sempurna. Dengan panjang sekitar 17 cm, penis itu nampak begitu mempesona. Cepat kulumatkan lidahku ke bawah batang penisnya.
"Emm, ahh," desah Nyoman tidak karuan.

Kemudian ketika kulupnya kusentuh dengan ujung lidahku, tangannya gelagapan mencari pegangan. Tanganku menarik kulupnya ke arah belakang penisnya, hingga kepalanya yang merah dan besar itu keluar. Kulihat ada smegma di sisi bawah kepala penisnya, dan dengan tisu basah kuseka kepala penisnya itu beberapa kali, gently. Nyoman meregang-regangkan badannya, merasa geli dan nikmat. Lalu dengan sigap kukulum lagi penisnya, dan kumainkan lidahku memelintir penisnya.
"Oh, Kakak, Nyoman ahh.. ehmm," ia betul-betul tidak sanggup berkata-kata lagi ketika merasakan kulumanku.
Butir-butir keringat memercik di paha dan selangkangannya, dan telapak kakinya terasa merengkuh pundakku.

"Kakak, Nyoman udah hampir nih," katanya.
Ah, puncak itu hampir kunikmati sekarang. Aku terus mengulum dan menarikan lidahku di penisnya.
"Ahmm.. ahh.. Kak Raf, Kakak.. ah, Kakak, Nyoman mau keluar nih," jerit Nyoman lirih tertahan, dan sesaat, "Crit.. crit.. crit.." kurasakan luncuran segumpal sperma hangat masuk ke kerongkonganku.
Cepat kureguk curahan sperma Nyoman yang berikutnya, yang berikutnya, terus, terus, terus, aduh, begitu banyaknya, sampai kemudian aku menjilatkan lidahku pada tetes terakhirnya. Ah, betapa nikmatnya. Amis dan kental. Rasa yang sangat kusuka. Penisnya yang keras itu menjadi mengkilat akibat jilatan lidahku yang basah. Aku terhenyak merapat ke sisi badannya. Tanganku kemudian mengusap celanaku, menggesek-gesekkan penisku. Perlahan penis itu menegang dalam sangkarnya.

"Nyoman, suck me, please!" pintaku.
Nyoman yang setengah lemas bangkit dan memulai permainannya. Bibirku adalah awal sasaran kegemesannya. Lidahku dibuat terkulai oleh permainan lidahnya. Perlahan kemudian leher dan tengkukku digeseknya dengan jenggotnya yang mulai tumbuh setelah dicukur dua hari lalu. Terasa kasar, tapi aku enjoy sekali.
"Ehmm, Nyoman, gesek yang lembut ya," pintaku.
Nyoman meneruskan aksinya ke arah perutku yang sensitif. Aku tersentak geli. Nyoman tanpa kuduga kemudian dengan cepat ia memelorotkan celana dan CD-ku, sehingga aku bugil. Penisku yang setengah berdiri dielusnya dengan lembut, lalu diciuminya bagian bawah penisku itu. Keruan saja aku mengerang merasakan kenikmatan yang memang sudah membara.

Nyoman kemudian mengocok penisku perlahan sampai ia jadi keras. Dikulumnya penisku itu, sehingga aku menggelinjang kuat. Penisku betul-betul erect dan menunjukkan kekekarannya. Woow, tak kusangka, Nyoman yang kukira hijau ini, ternyata sanggup bermain oral, permainan favoritku.
"Ah, punya kakak ternyata gede juga nih," katanya.
Ya, dengan panjang sekitar 16 cm, punyaku memang rada kecil dibandingkan punya Nyoman, tapi, itu tidak masalah. Aku sudah sangat terbuai dengan permainan hangat Nyoman. Nyoman dengan cepat menyedot penisku, sampai "Aaah.. Emm.." Spermaku muncrat ke bibir dan pipinya. Nyoman mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Kak Raf, bersihin dong!" pintanya.
Aku melumat bibirnya yang basah oleh spermaku, kujilat cairanku itu, "Eem.., nikmat sekali."

"Man, trims ya. Kakak udah ngutang padamu Man," kataku berbisik.
Nyoman kelihatan sangat capek. Ia hanya mengangguk perlahan.
"Ah, biarkan saja dia menikmati tidurnya itu," pikirku dalam hati.
Kami akhirnya tidur lelap.

Dua malam kemudian Nyoman masuk ke kamarku lagi. Dia menanyakan jalan pemecahan untuk PR matematika. Dengan senang hati kukabulkan permintaannya. Setelah itu ia berdiri dan dengan nakal menggelitikkan jarinya yang kekar ke arah pinggangku.
"Trims ya Kak," katanya.
Kupikir Nyoman mau keluar kamarku setelah itu, tapi ia kemudian malah berbaring di ranjangku.
"Kakak, Nyoman mau tanya nih," katanya.
"Mau tidak Kakak merasakan lagi apa kita rasakan kemarin?"
Aku tersentak kaget.
"Eh, Kakak mau dong," jawabku.
"Tapi.."
"Tidak tapi-tapian!"
"Kakak kan bilang, Kakak udah ngutang sama Nyoman, kan? nah, sekarang Kakak harus bayar. OK, ya, mau?"
Aku mengangguk. Tiba- iba pintu kamar ditutup dan dikuncinya.

"Kak, malam ini biarkan Nyoman menunjukkan bahwa Nyoman juga bisa," katanya.
Lalu tangannya dengan sigap menarik bajuku, hampir memaksa, lalu celana jeansku, lalu CD-ku. Ah, Nyoman begitu paham memainkan aksinya di seluruh badanku seperti yang sangat kuimpikan. Di tengah permainan itu Nyoman mulai membuka pakaiannya. Penisnya yang menjulur panjang itu membuat darahku mendidih. Kurasakan pelukan liarnya di badanku menunjukkan gairahnya yang memuncak. Aku disodorinya satu tube lotion, lalu kuoleskan di selangkangannya.
"Fuck me, Rafaelku!" bisiknya.
Kuusapkan lotion itu pada kepala penisku yang menegang dan pada lobang anusnya. Lalu, jari tengahku kumasukkan perlahan untuk membuka anusnya yang kurasakan sangat sempit. "Ssrejj.." kumulai penetrasi tangankuku. So slowly, but sure. Satu jari, lalu lama-lama, dua jari. Nyoman merintih. Nampaknya, ini sodomi pertamanya.

Setelah anusnya cukup membuka, penisku kudorong perlahan, lalu kugoyang.
"Kakak, goyang yang keras, terus.. terus.." katanya berbisik.
Aku memainkan penisku maju mundur, dan mengocok penis Nyoman yang kurasakan sangat keras. Bunyi kulup waktu dikocok jelas terdengar, "Clup, clup.. clup.. clup.."
Suasana itu begitu menegangkanku, hingga spermaku kurasakan mau keluar.
"Man, aku mau sampai nih," desahku lirih.
Nyoman mendorong tubuhku dan melepaskan penetrasiku, lalu dikulumnya penisku, disedotnya, dan lidahnya dimainkannya menari-nari memainkan batang penisku yang sangat erect itu.
"Ahh.." jeritku.
Tanganku mencengkeram pinggir kasur dengan kuat ketika spermaku memuncrat dari penisku. Nyoman malam ini tidak mau lagi menyisakan tumpahnya spermaku barang setetespun. Cairan nikmat itu dijilatnya sampai bersih.
"Ahh.. mm.." aku mendesah.

Nyoman menarik rambutku. Ia mengangkang di sisi kepalaku, sambil tangannya mengocok penisnya yang kulihat sama erect-nya dengan penisku tadi.
"Kak, spermaku nanti dijilat lagi ya!" pintanya.
Tidak lama kemudian, kurasakan cipratan hangat spermanya di bibirku. Aku membuka mulutku, untuk menunggu curahan selanjutnya. Nyoman merintih lirih di sisiku. Kuraih batang penisnya, lalu kusedot lembut. Ia menggelinjang liar. Ia lemas. Kemudian badannya direbahkannya menindihku. Kepalanya terkulai sambil mencium penisku yang sudah loyo dari tadi. Ia memelukku dalam posisi 69. Kembali kami tertidur hingga pagi.

Pagi itu kubangunkan ia dari tidur lelapnya.
"Man, udah pagi nih," bisikku.
Aku bergegas mandi. Ia menggeliatkan badannya ketika aku masuk lagi ke kamar.
Kubisiki kupingnya, "Nyoman, Kak Rafael ternyata tidak salah pilih kost, kost Nyoman ini penuh layanan, dan nanti jadi kenangan manis," kataku merayunya.
Nyoman tersenyum. "Kak Rafael, sebetulnya kakak juga memberikan kenangan manis sama Nyoman," katanya.
"Kakak udah benar-benar mengajarkan bagaimana seharusnya Nyoman melayani Kakak. Nyoman belajar banyak sama Kakak. Itu juga jadi kenangan manis buat Nyoman," katanya.

Tidak terasa dua bulan telah lewat. Kursusku kurampungkan tepat pada waktunya. Ketika aku akan berangkat kembali ke Balikpapan, aku sekali lagi minta kehangatan Nyoman, agar jadi kenangan indahku. Yah, kami kemudian memainkan lagi permainan cinta yang mempesona itu. Bagai dua pengembara yang dahaga, kami mereguk cinta itu sepuasnya. Mereguk madu amis dan kental kami.

Believe it. It's my true story. Tell me what do you think about it, just in my e-mail. OK! Lima e-mail pertama yang mencantumkan nama dan alamat pengirim yang jelas, akan saya kirimin cinderamata khas daerahku. Sure! Saat ini aku ada di Bandung.

Cinta Kilat Gay Jakarta – 4

Dari Bagian 3


"Mass.. Aku ingin dientot mulutku, mass..", racaunya.

Kepalanya terus berputar menggeleng mengantarkan keinginan mulutnya melumati kontolku. Aku agak heran, ketika masih di luar tadi rasanya aku yang sangat ngebet padanya. Ternyata kini dialah yang begitu haus melumati kemaluanku.

"Sejak Mas turun dari taksi tadi, aku sudah langsung naksir, lho. Mas seksi sekali. Dan aku sudah tebak kontol Mas pasti gedee.. sekali".

Aku senang memberi kepuasan padanya. Aku entot mulutnya hingga spermaku yang muncrat-muncrat ditelannya habis. Aku juga mengisap kontolnya yang bersih itu. Aku ciumi sepuasku. Aku minum spermanya pula. Aku merasakan betapa kental dan manis pejuh Sofyan dalam mulutku.

Menjelang pulang dia bilang masih ingin menikmati syahwat bersama aku. Kami saling bertukar No. HP. Kami janji akan berjumpa sebelum pelantikan Presiden Baru Pilihan Rakyat untuk periode tahun 2004-2009.


Minum Pejuh Supir Metro Mini


Aku kebelet kencing di terminal Senen. Sebelum aku naik metro mini untuk pulang ke Rawamangun aku perlu menyempatkan diri untuk buang air kecil. Sesudah tanya sana-sini dimana ada toilet umum dalam hari panas yang terik aku berjalan ke sana untuk buang air kecil. Di pintu masuk kulihat ada penjaga untuk menerima bayaran dari setiap orang yang kencing, atau berak atau mandi di toilet tersebut.

Dalam aroma pesing sebagaimana umumnya toilet umum, aku kencing di tempat yang sangat sederhana. Nempel ke dinding pipa air paralon yang memanjang dengan lubang airnya yang terus mengalir membersihkan dinding keramik yang terus menerus siap dikencingi siapa saja sepanjang hari. Di bawahnya memanjang pula selokan yang menampung air kencing.

Beberapa orang telah lebih dahulu kencing di sana dan aku masuk ke celah kosong di samping seseorang. Aku mengeluarkan kemaluanku yang sudah sangat kebelet dari celanaku. Dan ssrr.. Duh.. Legaa.. Rasanya.

Tiba-tiba orang di sampingku itu menengok ke wilayah kencingku. Dia melihati kontolku yang lagi memancurkan kencingnya. Aku jadi penasaran. Ada apa? Dan tanpa kusadari aku sendiri juga melihati kontolnya. Namu aku tidak melihatnya sedang kencing. Orang ini sedang memijit-mijit atau mengelus-elus kontolnya yang gede dan panjang sekali. Kontolnya sedang ngaceng dan aku yakin dia memang sedang masturbasi. Dia tersenyum nyengir padaku. Nampak matanya sayu dan haus. Dia mengangkat alisnya seakan memberi kode untukku. Kemudian aku mendengar dia berbisik padaku..

"ingin ngeluarin pejuh nih, Mas. Mau nggak bantuin?".

Nggak tahu bagaimana awalnya, tiba-tiba hal yang begitu saja muncul di depan haribaanku ini langsung mencongkel birahiku. Kencingku langsung tersendat karena kontolku jadi ikutan ngaceng. Aku tergetar menyaksikan kontol tuh orang yang segede dan sepanjang itu. Aku nggak pernah melihat kontol seperti itu sebelumnya. Dan yang membuat aku menjadi demikian tercongkel birahiku adalah bonggol kepala kontolnya yang berkilat-kilat serta batangnya yang gede dipenuhi urat-urat yang melingkar-lingkar di seputarnya. Kontol ini kelihatan sangat menahan desakan nafsu syahwatnya.

"Mau nggak?", sekali lagi orang ini berbisik sambil tangannya terus memijiti dan mengelus-elus kontolnya yang semakin mempesona aku.

Aku nggak berani mengeluarkan suaraku. Namun aku juga nggak mampu mengelak dorongan syahwatku. Dengan gemetar yang hebat aku mengangguk-angguk menyetujui permintaannya. Orang ini menggerakkan kepalanya sebagai kode ajakannya. Dia beranjak sambil seakan tetap memegang kontolnya, berbalik masuk ke salah satu WC tertutup yang berderet di belakang kami kencing. Orang ini langsung masuk dan menutup pintunya separuh. Dia menunggu aku untuk menyusulnya. Dan aku sepertinya dalam pengaruh sihirnya, ikut beranjak untuk menyusul masuk ke WC itu.

"Ayo, kamu isep supaya pejuhku cepat keluar", katanya sambil mengunci pintu dan dengan tajam matanya memandangi aku.

Edan.. Tak pernah aku terpojok macam begini. Masak seseorang yang tak kukenal tiba-tiba menyuruh aku untuk mengisep kontolnya.

"Ayoo.. Keburu ada orang nanti..", sambil tangannya meraih bahuku dan menekan agar aku merunduk dan mendekatkan mulutku ke kemaluannya yang gede panjang dan berkilatan bonggolnya itu.

Aku nyaris berontak dan menolak kemauannya. Namun rangsangan yang sangat hebat menyambar hasrat syahwatku. Aku seakan tertelikung oleh nafsuku. Aku terperangkap dalam arus birahi dan dengan tanpa pertimbangan lagi aku berjongkok pada dengkulku di lantai WC yang basah itu. Aku mengangakan mulutku dan menerima sorongan bonggol kepala kontol orang itu.

"Jilati dulu biar cepat keluar", orang itu bisa memerintah aku seenaknya.

Dan dengan segala keblo'onanku hal itu juga kulakukan. Dengan penuh getaran syahwat aku langsung menyapu bonggol kepalan itu dengan lidahku. Aku mengenyami asin-asin precumnya. Aku menikmati bau selangkangannya. Aku juga menikmati tangan kasar orang itu yang meremas-remas pedih rambutku. Aku juga menikmati entotan maju mundur pantatnya saat mendorong tarik kontolnya yang gede ke mulutku.

Dan ketika puncak nikmatnya hadir, orang itu betul-betul bertindak di luar batas padaku. Dia tekan kepalaku kedinding hingga aku jatuh terduduk pada lantai WC yang basah. Dia genjotkan kontolnya mepet ke tenggorokanku hingga aku tersedak tanpa mampu menghindar. Dia semprotkan pejuhnya yang kental ke langit-langit dan gerbang kerongkongan dalam mulutku. Dia bekap hidungku. Dia buat aku tak bisa bernafas sehingga aku terpaksa menelan seluruh spermanya yang dia tumpahkan.

Seperti bayi yang dicekoki jamu oleh ibunya, orang ini mencekoki mulutku dengan berliter-liter pejuhnya. Dia masih terus mengocokkan maju mundur kontolnya ke mulutku sambil membekap hidungku sampai seluruh cadangan air maninya terkuras habis tertelan membasahi kerongkonganku. Dan yang lebih kurang ajar adalah, saat dia merasa telah selesai dan meraih kepuasannya, dia masukkan kontolnya dan menarik resluiting celananya untuk kemudian bergegas pergi meninggalkan aku yang masih terkapar di lantai WC yang basah.

Aku berusaha bangun secepatnya walaupun agak tertatih-tatih. Sesudah membayar Rp. 500 aku berhasil keluar dari toilet itu dengan celanaku yang basah dan bau pesing. Dan kembali di bawah teriknya matahari aku menuju deretan metro mini yang akan membawa aku pulang ke Rawamangun.

Tanpa ragu aku langsung naik angkutan kota yang paling terkenal ini, aku menuju bangku depan agar bau pesingku tidak mengganggu penumpang lainnya. Tak lama metro miniku ini merangkak keluar terminal dan melaju menuju Rawamangun. Sambil meluruskan pinggangku, aku mengangkat kakiku untuk menginjak pijakan di depanku. Aku terkejut saat melihat ke samping kananku. Kurang ajarr.. Sopir ituu.. Dialah orangnya yang telah memaksa aku untuk minum pejuhnya di WC terminal pesing beberapa menit yang lalu.


Dadang, Pengamen Bis Kota

Sekitar jam 5 sore, sepulang kantor aku langsung masuk ke bis kota yang akan membawa aku ke Pulo Gadung dimana rumahku tidak jauh dari sana. Di Cempaka Putih aku melihat seorang pemuda jangkung naik dengan gitarnya. Dia adalah pengamen bis kota.

Walaupun pakaiannya nampak seadanya, T. Shirt dengan celana jeans butut, namun pengamen ini menampakkan posturnya yang seksi. Jangkungnya yang lebih dari 170 cm, wajahnya yang manis dengan rambutnya yang terurai lepas dan sosoknya yang agak bongkok-bongkok itu membuat aku selalu ingin melihatnya setiap aku pulang kerja. Nggak tahu ya.., rasanya aku ingin sekali menciumi atau mengulum kontolnya. Aku bayangkan pemuda jangkung dengan punggung bongkok-bongkok macam itu biasanya kemaluannya gede dan panjang. Aku semakin terobsesi setiap berjumpa dengannya.

Sore ini kebetulan tak ada acara penting di rumah. Aku bisa telepon istriku pulang terlambat dengan alasan ada keperluan bisnis nyari uang tambahan. Dan itu sudah kulakukan begitu aku melihat si jangkung pengamen ini naik ke bis kota yang aku tumpangi. Sore ini aku ingin membuntuti dia, di mana dia turun.

Aku ingin ngajak istirahat untuk minum atau mungkin makan malam. Aku ingin tahu seharian ngamen dia dapat uang berapa? Maukah dia menerima uangku yang mungkin 2 atau 3 kali lebih besar dari pendapatan ngamennya dengan syarat dia memperbolehkan aku menciumi atau mengulum kontolnya. Aku ingin sekali dia menyemprotkan air maninya ke mulutku. Aku ingin minum pejuhnya.

Aku yakin dia akan memenuhi keinginanku dengan imbalan yang aku berikan untuknya. Apa ruginya? Dan dia bisa libur tanpa perlu ngamen barang 2 atau 3 hari. Ternyata di jalan Pemuda sesudah jalan Velodrome dia turun. Aku juga cepat-cepat ikut turun. Sebelum masuk ke gang di sebelah kanan jalan aku memanggilnya,

"Dik, tunggu", dia berhenti menengok ke arahku.

Hari yang sudah mulai gelap membuat kami tidak bisa saling memandang sehingga dia berjalan balik ke tempatku.

"Aku suka lho. Suaranya enak Dik. Latihannya dimana?", aku berbasa basi untuk membuka dialog.

Dia mengelak dikatakan suaranya bagus. Dia bilang tanpa pernah berlatih. Kemampuan menyanyi maupun main gitarnya sekedar asal-asalan saja demi untuk uang makan yang ala kadarnya. Aku merasa mendapat peluang. Dia yang hanya demi makan ala kadarnya tentu akan senang mendapatkan tawaranku.

"Mas tinggal dimana? Baru pulang kerja?", dia kini yang bertanya. Kebetulan. Aku bisa menjawab sesuai skenarioku,
"Iya, nih. Lapar lagi. Bagaimana kalau kita makan sama-sama sambil ngobrol. Biar aku traktir kamu. OK? Dimana makan yang enak nih?", ajakku layaknya cukong.
"Mas suka makan apa?", nampak kalau dia juga setuju untuk makan sama-sama.
"Terserah. Aku suka apa saja koq", jawabku sambil membayangkan pikiranku yang 'aku juga suka makan kontol kamu'.

Aku gemetar. Hasrat syahwatku bergetar. Rasanya aku akan meraih keinginanku. Dia mengajak aku makan Soto Madura di tenda pinggir jalan itu. Aku merangkul pundaknya sambil duduk berhimpit dengannya. Hidungku sudah sempat mencium keringatnya.

"Kamu ganteng lho. Siapa namamu. Sekolahmu di mana?".
"Dadang, Mas. Aku lulusan SMP. Jebolan SMU karena nggak punya uang buat sekolah", aku mendengarkannya sambil mengelus-eluskan tanganku ke pundaknya.

Aku ingin dia tahu aku memperhatikan dan menaruh simpati padanya. Dia sama sekali tidak mengelak. Adakah dia menerima elusanku sebagai elusan sesama pria yang menaruh minat pada dirinya? Seusai makan kami keluar warung. Pada saat itu aku keluarkan lembaran Rp. 100 ribu. Aku tunjukkan kepadanya sambil berkata..

"Mau nggak? Aku ingin mencium kamu", aku nekat berkata langsung begitu.

Aku sudah gemetar oleh hasrat birahiku yang menggebu. Dadang menatapku. Dan aku mendapatkan kejutan darinya. Uangku langsung diambilnya sambil berkata..

"Mas homo ya? Nggak apa-apa Mas. Banyak kok saya ketemu macam Mas. Mereka mengajak aku tidur di hotel. Aku khan nyari uang. Apa salahnya?", jawaban yang lugas dari Dadang sambil mengajak aku untuk ke tempat nginap yang dekat dari situ.
"Mas mau ke Pulo Gadung? Disitu ada losmen. Rp. 40 ribu semalam".

Aku langsung panggil taksi dan mengajak Dadang ke sana. Rupanya hal ini bukan hal yang baru baginya. Dadang sudah sering menerima ajakan dari lelaki haus macam aku. Bahkan dia tahu tempat-tempat mana yang bisa dipakai kencan untuk orang macam aku yang cinta sesama lelaki.

Begitu masuk kamar Losmen Pulo Gadung Indah, aku langsung memeluki pemuda pengamen ini. Aku buka T. Shirtnya untuk menenggelamkan hidungku ke ketiaknya, untuk menggigiti dadanya, untuk mengisep puting susunya. Aku terkam Dadang. Kehausanku akan tubuh sesama lelaki tak mampu kubendung. Aku ingin cepat melumat tubuhnya dengan lidah dan bibirku.

Dan spesial untuk Dadang yang nampak sangat tampan ketika telanjang di depanku, aku juga menciumi pantatnya. Aku sengaja tak lepaskan dulu celana dalam dekilnya. Aku ingin dia nungging dan lidahku merambati pahanya kemudian melata hingga ke pantatnya. Aku ingin biar bibirkulah yang menggigit dan menarik celana dalamnya hingga dia telanjang bulat. Dan aku ingin menciumi lubang pantat pemuda tampan ini. Aku ingin lidahku membersihkan segala yang bau dan tersisa di seputar pantatnya.

Aku dengar bagaimana Dadang meraung menjalani nikmatnya. Aku dengar bagaimana rintihannya terus bersambungan selama lidahku melumati pantatnya. Aku merasakan betapa tangannya mencakar-cakar kepalaku dan meraih-raih rambutku saat nikmat syahwat melandanya.

Pada kesempatan ini aku berhasil membuat Dadang menumpahkan air maninya ke mulutku. Dan aku sangat rakus menikmati cairan kentalnya itu. Dan ketika aku sendiri semakin dekat menuju puncak syahwatku, kupepetkan kontolku sambil mengayun menggosok-gosokkan ke pahanya. Dengan cara itu khayalanku melambung tinggi unyuk menjemput ejakulasiku dan dengan segala dorongan birahiku aku memohon kepada Dadang..

"Daang.. Dadaanng.. Toloonng.. Ludahi mulutku Daanngg.. Ludahi aku Daanng.. Ludahi akkuu..".

Dia nampak kebingungan. Permintaanku terasa aneh buat kupingnya, namun saat aku mengulangi permintaanku, dia nampaknya baru mengerti. Dia balik tubuhku dan tubuhnya menindih aku. Dengan tetap menggoyang pantat dan pinggulku aku telentang sambil terus menggosok-gosokkan kontolku ke tubuhnya atau pantatnya atau pahanya. Aku semakin histeris. Dan Dadang yang wjahnya kini ada di atas wajahku mulai mengeluarkan ludahya. Dia membuang ludah dan busanya ke mulutku yang terus menganga siap menerima buangannya itu.

Dengan sepenuh nikmat syahwatku, spermaku terasa mulai merambati saraf-saraf yang menuju lubang kencingku. Aku pastikan bahwa spermaku akan muncrat sementara mulut Dadang terus membuang ludahnya ke mulutku. Tak bisa kuhindarkan aku meracau hebat. Aku bilang mencintai kontolnya. Aku bilang mau menjilati tubuhnya. Aku bilang mau menceboki pantatnya. Aku bilang.. Aarrcchh..

Akhirnya.. Tunai sudah. Spermaku muncrat-muncrat. Membasahi tubuhku sendiri. Membasahi tubuh Dadang dan juga membasahi seprei ranjang Losmen Pulo Gadung Indah.

kisah asmara sesama pria

“Hari ini kita akan mencatat resensi buku puisi,” kata guru bahasa siang itu.
“Aduh saya lupa bawa bolpoint, nih!” ucapku pada Abi, teman sebelahku.
“Nih.. pake punya saya aja!” Abi menawarkan padaku.
“Terus kamu sendiri pake apa?” aku balik tanya.
“Udah.. tenang saja!” Abi menjawab sambil tersenyum, senyuman biasa tapi dibalik senyuman itu ada sesuatu yang membuat Abi nampak menarik. Seperti biasa, aku makan siang sendiri sebab kalau siang begini orang tuaku sedang bekerja dan kebetulan kakakku lagi ada pentas musik ke luar kota, tinggal aku sendiri saja siang itu di rumah. Setelah kutanggalkan pakaian sekolahku, kini hanya celana pendek dan t-shirt tanpa lengan yang membungkus 178 cm tinggi tubuhku. Selesai makan siang, aku beristirahat sambil mendengarkan musik dari tape yang melantunkan lagu manis berirama R&B dan vokal yang bagus dari tenggorokannya Whitney Houston yang melantunkan “Saving All My Love For You”
“Tok.. tok.. tok,” suara pintu yang diketuk dari luar.
“Siapa.. ya?” dengan malas saya beranjak ke pintu.
“Hai.. siang,” jawaban itu keluar setelah pintu kubuka, dan Abi dengan senyuman manisnya berdiri di hadapanku. Dan aku membalasnya sambil mempersilakan masuk.
Abi sudah biasa ke tempatku, entah itu main, ngobrol atau lainnya. Abi anaknya baik, tidak begitu cakep, perawakannya pun biasa saja bila dibandingkan dengan postur tubuhku yang tinggi 178 cm dan berat 75 kg serta wajah yang gimana.. ya? Abi sering memuji kalau aku sebenarnya tampan. Ah, tapi itu hanya Abi saja yang memuji tapi menurutku Abi lah yang kalau dipandang terus kayaknya ada sesuatu yang menarik atau semacam kharisma, apalagi kalau Abi tersenyum dengan memperlihatkan susunan giginya yang rapi, putih hal seperti ini yang sering membuatku memikirkan Abi.
“Eh.. nih aku bawa film bagus,” Abi menawarkan VCD kepadaku.
“Flim apaan sih,” sambil aku perhatikan sampul VCD, yang ternyata itu adalah Blue Flim, dan aku tersenyum sambil mengajak Abi ke kamarku untuk memutar flim itu, kebetulan di kamarku ada VCD-Player dan Abi mengikutiku masuk ke kamar.
Setelah beberapa saat melihat adegan demi adegan berlangsung dengan panasnya sampai-sampai membangkitkan nafsu birahi yang semestinya enak dinikmati pada malam hari. Aku melirik Abi yang duduk di sampingku dan secara bersaman Abi juga melirikku, dan pada saat pandangan kita beradu, aku merasakan ada suatu sentuhan di atas kulit pahaku yang ternyata itu adalah tangan lembut Abi yang terus memancing birahiku, sedang nafsu birahiku sudah terbakar sejak Abi masuk ke kamarku.
“Kamu tampan sekali,” Abi membisikkan kata itu di telingaku dan aku hanya bisa diam sambil memejamkan mata dan setelah itu Abi terus menciumku dari telinga, pipi terus menyatukan bibirnya dengan bibirku. Aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi yang lembut, sementara bagian bibir kami saling memberikan kenikmatan. Tangan Abi mulai bergerilya menyentuh setiap bagian tubuhku hingga tangan Abi kini sudah berada di balik celanaku dan mulai meremas-remas batang penisku yang sudah mulai tegang sehingga hanya rintihan-rintihan birahi yang keluar dari mulutku, yang membuat Abi semakin terbakar nafsu. Hingga tanpa sadar Abi sudah mulai melepaskan pakaianku, dan kini aku terlentang di atas kasur tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku dan Abi kini mulai menanggalkan pakaiannya hingga aku dengan jelas melihat seluruh tubuh Abi yang ternyata berpostur bagus dengan warna kulit coklat khas Indonesia.
Kini posisi Abi menindih tubuhku dan Abi mulai menyerangku dengan melumat bibirku dan aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi. Abi mulai menurunkan kepalanya dan dengan menggoyangkan lidahnya Abi menjilati seluruh tubuhku, mulai dari bibir, leher, dada, perut sampai akhirnya lidah Abi menyentuh lubang kencing tepat di ujung penisku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara tersebut sambil tubuhku meliuk-liuk bagai ular begitu kurasakan kenikmatan yang di berikan Abi. Belum habis rasa itu, kini Abi memberikan rasa lain yaitu bagian kepala sampai batang penisku mulai dimasukkan ke dalam mulut Abi hingga goyangan kepala Abi turun naik dalam melakukan oral sex. “Akh.. akh.. ah..” hanya itu suara yang bisa kukeluarkan sambil mataku terpejam menikmati permainan oral sex yang disuguhkan Abi.
Abi kemudian menghentikan permainannya, dan kini Abi tidur terlentang di sampingku sambil menyuruhku untuk menindih tubuhnya. Sekarang posisinya, aku yang meninidih tubuh Abi.
“Masukkan.. ya..” pinta Abi sambil memegang penisku dan mulai di arahkan ke lubang pantatnya dengan posisi kakinya terbuka lebar. “Oke.. kalau itu yang kamu inginkan,” sambil mendesah kujawab permintaan Abi, sebelum aku mulai menyerang terlebih dahulu Abi mengolesi penisku dengan air liurnya, aku pun mulai menurunkan pantatku untuk mulai penyerangan tapi begitu bagian kepala penisku mulai masuk. “Aduuh.. jangan teruskan..” Abi menjerit sambil tangannya meremas pantatku agar aku tidak meneruskan seranganku dan tanpa kulepas bagian kepala penisku yang sudah masuk, aku merunduk mencium dan melumat bibir Abi dan Abi membalasnya sambil merangkulkan kedua tangannya ke leherku sambil memejamkan mata dan begitu Abi terbuai dengan permainan bibirku, aku pun perlahan-lahan mulai menurunkan pantatku untuk meneruskan seranganku tanpa melepaskan lumatan bibir, sulit memang tapi akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh penisku ke organ vital Abi, dan Abi pun mengeluarkan rintihan manja.
Dan kini aku mulai mendayung sebuah perahu birahi menuju pantai kenikmatan bersama Abi yang sesekali merintih melantunkan irama birahi. Keringatku pun mulai menghujani tubuh Abi yang berada di bawah tubuhku. Nampaknya jauh sudah kami berlayar di lautan kenikmatan hingga seluruh sendi-sendi dan pembuluh darahku mulai menyatukan protein-protein dan mengirimkannya melalui urat-urat untuk segera dikeluarkan melalui penisku dan pada saat aku berada diujung kenikmatan, seluruh otot-ototku menegang dan aku mulai menghimpit tubuh Abi. Kudekap tubuh Abi kuat-kuat sambil berbisik ke telinga Abi, “Akh.. Bi.. aku mau..” belum habis kata itu kuucapkan, aku langsung melumat bibir Abi sambil menghimpit tubuhnya, dan begitu cairan spermaku membasahi sanubari Abi, aku pun mengatur nafasku setelah mengarungi samudera birahi yang membuat nafasku terengah-engah.
“Puas..?” bisik Abi.
“Hmm.. yah,”sambil senyum kubalas Abi.
“Aku mohon jangan di copot dulu,” pinta Abi.
“Yah..” aku membiarkan penisku yang masih dalam keadaan tegang, tertanam di organ vital Abi, dan kini Abi melakukan onani, dengan posisi masih di bawahku. Aku pun membantu Abi mencapai klimaks dengan cara melumat dan sekekali kugigit puting susu Abi hingga Abi mendesah-desah nikmat hingga akhirnya Abi mulai menegang, mengerang karena Abi mulai mencapai klimaks. Dengan jelas aku melihat bagaimana mimik muka Abi pada saat mengerang menahan kenikmatan yang teramat sangat. Abi begitu manis, jantan, tampan dan kharismanya keluar berbarengan dengan sperma yang ia curahkan hingga membasahi bagian perutnya. Begitu Abi selesai organisme, kucium dan kubisikkan, “Bi.. aku sayang kamu..” dengan lembut kuucapkan itu dan Abi tersenyum sambil merangkul leherku menurunkannya dan mencium bibirku dengan lembut, sementara lagu Whitney Houston terus bergema melantunkan lagu, “I Still Believe You And Me” dan sayup-sayup masuk ke kamarku membuai kami yang masih berpelukan tanpa ditutupi sehelai benang pun. Ditengah-tengah alunan musik itu Abi berbisik, “Iqi.. jangan pernah tinggalkan aku ya?!” lirih ucapan itu keluar dari mulut Abi yang ditempelkan di kuping kananku, dengan mendekap Abi ke dalam pelukanku yang paling dalam dan dengan memberikan rasa kasih sayang tinggi itulah jawaban yang kuberikan.
Dan mulai saat itu resmilah hubungan kami sebagai sepasang merpati yang saling memberikan kasih dan sayang, serta cinta yang sejati sehingga hari-hari yang kami jalani berdua selalu penuh dengan warna-warna syahdu yang membiaskan lukisan cinta diatas kanvas asmara yang kami lukis di dalam hati kami berdua. Hingga detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, bulan, tahun dan terus berjalan sesuai dengan hitungannya sehingga membuat kami tersadar bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Saat-saat berpisah memang sakit tapi itulah kenyataannya. Abi memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang dicintainya, sedangkan aku menyimpan duka dan lara sehingga kuputuskan untuk pergi dari kota kelahiranku dengan membawa kisah romansa asmara merah jambu yang kami ukir pada saat masa-masa romatis hingga kini kuputuskan untuk menetap di kota Yogyakarta sambil berharap datangnya seorang gembala cinta yang menawarkan cintanya padaku walaupun hal itu belum juga datang hingga sekarang, tapi kenangan manis bersama Abi selalu menghiasi bingkai lamunanku. “Ah.. Abi andai sekarang kau ada di sini..”
“Heey.. mikirin apa sih?” tiba-tiba tepukan teguran dari belakangku yang membuyarkan lamunanku.
“Oh.. nggak mikir apa-apa!” spontan kujawab pertanyaan itu sambil membalikkan tubuhku, yang ternyata itu teguran dari Tony teman sekerjaku.
Aku lalu tersenyum kepada Tony dan Tony pun sepertinya ngerti apa yang kupikirkan. Kemudian dengan menyisakan senyuman yang kuberikan pada Tony, aku beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaanku.
“Selamat malam, Bapak mau pesan apa?” dengan ramah aku memberikan pelayanan, untuk memperlihatkan keprofesionalanku sebagai seorang waitter di salah satu cafe di kota Yogyakarta.
Itulah cerita sesungguhnya yang terjadi pada diriku. Cerita ini bukan karangan atau fiksi tapi ini sungguh-sungguh terjadi, dan cerita ini sudah lama saya buat tapi baru kali ini saya menemukan situs yang mau memuat cerita kisah asmara orang Gay, dan saya harap cerita saya ini bisa memberikan warna lain dari cerita-cerita yang ada di situs 17tahun.com. Saya juga membuka komunikasi kepada pembaca yang ingin berkenalan dengan saya, baik korespondensi, tukar cerita, tukar pengalaman hidup atau lainnya tapi saya hanya membenarkan korespondensi lewat alamat e-Mail saja. Saya tunggu tanggapan dari Anda.
TAMAT

Simpanan Mama

Mamaku itu memang hebat. Di usianya yang sudah kepala lima dia masih tetap cantik dan sexy. Di pekerjaanpun ia tetap paten. Karirnya melesat terus. Jabatannya kini sudah wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Karena hidup dengan Mama sejahtera, maka aku memilih untuk tinggal bersamanya sejak ia bercerai dengan Papaku setahun yang lalu.

Papaku yang cuma bekerja sebagai pegawai rendahan, mana bisa memenuhi kebutuhanku yang doyan hura-hura. Jangankan membelikanku mobil, sepeda motor aja Papa enggak bisa. Dua orang adikku juga memilih tinggal bersama Mama. Sama sepertiku, mereka juga doyan hura-hura. Ngabisin duit Mama yang aku enggak tahu gimana caranya, selalu saja ada. Apa yang kami minta selalu bisa dipenuhinya.

Namaku Tomi. Semester enam fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta yang beken di Jakarta. Adikku Mimi. Juga kuliah di fakultas ekonomi satu kampus denganku. Tapi dia masih duduk di semester dua. Adikku yang paling kecil, Toni. Dia masih kelas tiga SMU.

Dari kecil selalu hidup bergelimang harta, dari penghasilan Mamaku, membuat kehidupan glamour sangat melekat pada diri kami. Masing-masing kami dibelikan Mama mobil sebagai alat transportasi. Uang jajan tak pernah kurang. Karena itu aku dan adik-adikku tak pernah protes dengan apapun yang dikerjakan oleh Mamaku. Aku dan adik-adikku selalu kompak membela Mama. Termasuk saat bercerai dengan Papa. Padahal sebab perceraian kedua orangtuaku itu adalah jelas-jelas karena kesalahan Mama. Papa menangkap basah Mama sedang pesta sex dengan tiga orang gigolo muda di hotel!

Meski begitu, aku dan adik-adikku tetap aja kompak membela Mama. Soalnya belain Papa juga enggak ada untungnya. Lagian kelakuanku dan adik-adikku juga enggak beda-beda amat sama Mama. Aku dan Toni pernah bawa perek ke rumah. Si Mimi tahu tentang hal itu dan dia sih santai-santai aja. Soalnya dia juga sering bawa cowok ganteng ke kamarnya.

Setelah bercerai, rumah kami yang megah jadi seperti rumah bordil aja deh. Mama, aku, Mimi, dan Toni, rutin bawa partner sex kemari. Karena kami sama gilanya, jadi asyik. Kalau waktu ada Papa enggak asyik. Papa suka rese. Meski tak bisa memarahi kelakukan binal anak-anaknya, tapi Papa suka ngomel atau ngasih nasehat. Huh, menyebalkan aja Papaku itu.

Dari banyak cowok, si Willy yang paling sering dibawa Mama ke rumah. Dia tuh, kayak suami baru Mama aja jadinya. Hampir tiap hari dia ada di rumah. Paling kalau Mama lagi bosen dan ingin cari variasi pasangan lain, barulah dia ngibrit dari rumahku, balik ke kostnya.

Karena seringnya si Willy di rumah, aku dan adik-adikku jadi akrab dengan dia. Apalagi usianya enggak jauh dariku. Dia juga masih kuliah. Umurnya hanya lebih tua dua tahun dariku. Obrolan kami nyambung. Tentang apa saja. Otomotif, sport, musik, dan pasti ngesex. Hehe. Bisa dibilang, si Willy ini piaraan Mama. Segala biaya hidupnya, Mamaku yang nanggung.

Si Mimi paling senang dengan keberadaan Willy di rumah. Piaraan Mama itu dimanfaatinnya juga buat muasin nafsunya yang binal.

"Habisnya si Willy itu ganteng banget sih. Macho. Mana bodinya oke banget lagi. Belum lagi kontolnya. Gede banget Tom. Ngesexnya gila-gilaan. Pantes aja Mama paling demen ama dia dibandingin ama gigolonya yang lain," kata Mimi padaku suatu hari. Dasar nakal. Dasar maniak tuh si Mimi.

Mendengar cerita si Mimi tentang kontolnya si Willy membuatku penasaran juga. Eits. Jangan salah sangka dulu men. Aku bukan gay. Jelas-jelas aku cowok straight. Cuman, dengar ukuran kontol orang sampai 28 sentimeter kan jelas bikin penasaran. Jangankan aku, cowok lain pasti juga penasaran. Gila aja kontol bisa segede itu!

Selama ini kupikir kontolku sudah paling gede. Panjangnya sekitar delapan belas senti. Susah-susah lho, cari kontol sepanjang punyaku ini di Indonesia. Ternyata punya si Willy malah lebih gila. sampai 28 senti men, selisih sepuluh senti dari punyaku. Ambil penggarisan deh, liat dari titik 0 senti sampai 28 senti, panjang banget kan ukuran segitu.

Meski penasaran, enggak mungkin kan aku permisi ke dia buat liat kontolnya. Gila aja. enggak usah ya. Pernah kepikiran buatku untuk ngintip dia saat ngentot dengan Mamaku atau si Mimi. Tapi males ah. Ngapain juga ngeliat saudara kandung sendiri ngentot. enggak ada seru-serunya. Entar aku jadi incest lagi. Bikin berabe aja.

Namun, yang namanya rezeki memang enggak kemana. Waktu itu malem hari. Hampir dini hari malah. Aku baru pulang. Biasalah, ngabis-ngabisin duit Mama. Semua orang sudah tidur kayaknya. Kerongkonganku rasanya kering banget. Haus. Aku langsung ke dapur, ingin ngambil minuman dari lemari es.

Pas aku nyampe di dapur aku terkesima. Kulihat Mama sedang berbaring telentang di atas meja makan kami. Pakaian atasannya terbuka memamerkan buah dadanya yang masih kencang dan besar. Sementara bagian bawah tubuhnya tak menggenakan penutup apa-apa. Sekitar memeknya yang penuh jembut lebat kulihat belepotan cairan putih kental sampai ke perutnya. Banyak banget. Mama tak sadar dengan kehadiranku, karena saat itu ia sedang memejamkan matanya sambil mendesah-desah.

"Ngg.. Enak banget Will," katanya dengan suara mendesis. Rupanya dia baru aja dientot sama si Willy di atas meja makan itu.

Aku segera mengalihkan tatapanku dari tubuh Mamaku yang mengangkang itu. Entah kenapa, kok aku rasakan aku kayaknya terangsang. Bisa berabe nih. Pandanganku kualihkan ke lemari es. Saat menatap ke arah sana aku kembali kaget. Disana berdiri si Willy. Dia tak menggenakan pakaian apapun menutupi tubuhnya. Badannya yang tinggi dan kekar berotot itu polos. Dia sedang menenggak coca cola dari botol.

Mataku langsung menatap ke arah kontolnya. Gila men. Si Mimi enggak bohong. Di selangkangannya kulihat sebatang kontol dengan ukuran luar biasa. Sedang mengacung tegak ke atas mengkilap karena belepotan spermanya sendiri kayaknya. Batangnya gemuk, segemuk botol coca cola yang sedang dipegangnya. Panjang banget. Kepala kontolnya yang kemerahan seperti jamur melewati pusarnya. Batang gemuk itu penuh urat-urat. Aku sampai melotot melihatnya. Kupandangi kontol itu dengan teliti. Ck.. Ck.. Ck.. Sadis.

"Baru pulang Tom?" kata Willy menegurku.

Ia sudah menyadari kehadiranku rupanya. Aku segera menolehkan pandanganku dari kontolnya. Gawat kalau ia tahu aku sedang serius mengamati detil kontolnya itu.

"He eh. Iya," sahutku sambil mengangguk.

Untung saja lampu di dapur itu bernyala redup. kalau terang benderang, pasti Willy bisa mengetahui kalau wajahku sedang bersemu merah saat itu. Malu.

Mamaku yang sedang berbaring lemas diatas meja makan tiba-tiba melompat bangun. Ia sibuk mencari-cari roknya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang terbuka.

"Eh, Tomi. sudah lama kau datang?" kata Mama dengan ekspresi malu.
"Baru aja ma," sahutku.

Aku beraksi seperti tidak terjadi apa-apa disitu. Segera kuambil minuman dingin dari lemari es. Tubuh Willy yang berkeringat tepat disampingku. Saat mataku melirik ke arah dalam lemari es, mencari minuman, kusempatkan untuk melirik sekali lagi ke arah batang kontol Willy. Kali ini aku bisa melihatnya lebih jelas. Karena ada bantuan penerangan dari lampu lemari es. Gila! Bagus banget bentuk kontolnya, pikirku.

Setelah mendpatkan minuman dingin, aku segera meninggalkan dapur. Tinggallah Mamaku dan Willy disana. Aku tak tahu apakah mereka masih melanjutkan lagi permainan cabul mereka atau tidak. Yang pasti sepanjang jalan menuju kamarku, pikiranku dipenuhi dengan kontol si Willy yang luar biasa itu.

"Gila! Gila!" rutukku dalam hati.

Kok aku bisa mikirin kontol punya cowok lain sih? Ada apa denganku ini? Rasanya malam itu aku susah untuk tidur. Setelah membalik-balikkan badan beratus kali di atas ranjangku yang empuk, barulah aku bisa tertidur. Itupun setelah jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Sebentar lagi pagi menjelang.

Berjumpa dengan Willy keesokan harinya aku jadi rada-rada grogi. Entah kenapa. Mataku jadi suka mencuri pandang ke arah selangkangannya. Aku jadi menyadari, kalau ternyata saat selangkangannya ditutupi celana seperti itu, ukuran tonjolan diselangkangan itu, memang beda dengan punyaku. Jauh lebih menonjol kayaknya. Gila! Gila! Rutukku lagi dalam hati. Kok aku jadi mikirin itu aja sih?!

Si Willy sih enggak ada perubahan. Ia tetap cuek aja seperti biasanya. Ia tak merasa ada yang aneh dengan kejadian semalam. Sepertinya ia tak perduli kalao aku memergokinya telanjang bulat bersama Mamaku. Kayaknya, buatnya itu hal yang lumrah saja. Dasar gigolo profesional dia.

Sebulan berlalu. Dan selama rentang waktu itu, aku jadi pengamat selangkangan Willy jadinya. Entah kenapa, aku selalu berharap akan punya kesempatan lagi untuk ngelihat perkakas gigolo itu. Tapi tak juga pernah kesampaian. Sampai suatu hari.
Aku ingin berenang pagi-pagi di kolam renang yang ada di halaman belakang rumahku. Ketika aku sampai di kolam renang mataku langsung menangkap sebuah tontonan cabul. Si Mimi sedang ngentot dengan Willy. Dasar nekat si Mimi. Padahal Mama kan masih ada di kamarnya pagi-pagi begini.

Adikku yang cantik dan sexy itu sedang nungging di tepi kolam renang. Dibelakangnya Willy asyik menggenjot kontolnya dalam lobang vagina adikku itu. Genjotannya liar dan keras. Menghentak-hentak. Tubuh si Mimi sampai terdorong-dorong ke depan karena hentakan itu. Kelihatannya si Mimi keenakan banget. Bibir bawahnya digigit-gigitnya dengan giginya. Ia menggelinjang-gelinjang sambil merem melek menikmati hajaran kontol Willy yang luar biasa itu di memeknya.

Aku terangsang hebat. Celana renang segitiga yang kukenakan, tak lagi bisa menampung kontolku yang membengkak. Aku tak tahu. Aku terangsang karena apa? Apakah karena melihat persetubuhan mereka, atau karena serius mengamati kontol besar Willy yang keluar masuk vagina si Mimi itu. Entahlah.

Tanganku langsung mengocok batang kontolku yang sudah kukeluarkan dari celana renangku. Kukocok sekuat tenaga. Cepat. Aku ingin segera menumpahkan spermaku.

"Eh, Tom. Ngapain luh?" tiba-tiba kudengar suara Mimi menegurku.

Mataku yang sedang merem melek langsung menatapnya. Kulihat ia menolehkan wajahnya yang cantik memandangku yang sedang berdiri mengangang sambil ngocok. Willy tersenyum memandangku. Mereka tak menghentikan permainan mereka.

"memang lo enggak bisa liat, gue lagi ngapain," jawabku cuek. Willy tertawa kecil mendengar jawabanku.
"Gila lo," kata Mimi. Setelah itu ia kembali asyik menikmati genjotan Willy.

Akhirnya akupun orgasme sambil memandangi Mimi dan Willy yang terus bercinta. Tak lama setelah itu si Willy yang orgasme di mulut Mimi. Sebelum spermanya sempat mencelat dari lobang kencingnya, Willy menyempatkan menyabut kontolnya yang gemuk dan panjang itu dari vagina Mimi. Lalu disuruhnya Mimi membuka mulutnya lebar-lebar menyambut tumpahan sperma Willy yang deras. Aku benar-benar terbius birahi melihat detik-detik Willy menumpahkan spermanya di mulut adikku itu. Entah kenapa nafsuku terasa menggelegak melihat kontol itu menyemburkan spermanya yang deras berulang-ulang. Kupelototi setiap detik orgasme Willy itu tanpa berkedip sama sekali. Aku tak ingin kehilangan momen yang indah itu sedetikpun.

"Gila lo. Adik sendiri ngentot ditonton," kata Mimi padaku.

Saat itu kami bertiga berbaring di tepi kolam renang kelelahan. Kalau orang melihat kami saat itu, mereka tidak mengetahui kalau kami baru saja orgasme tadi. Yang melihat pasti hanya mengira kami sedang berjemur menikmati cahaya matahari di tepi kolam renang.

"Habisnya elo berdua sama gilanya sih. Masak pagi-pagi ngentot disini. Ketahuan Mama gimana?" sahutku.
"Cuek. Mama enggak bakalan bangun. Sebelum ngentotin gua, Mama habis dihajar sama si Willy. Jadi Mama pasti sedang ngorok kecapaian," jawab Mimi yakin.
"Benar Wil?" tanyaku.
"Yap," sahut Willy singkat.

Dasar si Willy. Habis ngentot dengan Mama, masih sanggup ngentoti si Mimi sebinal tadi. Benar-benar profesional nih cowok, pikirku. Itu pengalaman keduaku melihat kontol si Willy. Seru? Belum! Ada pengalaman berikutnya yang lebih seru dari itu.

Ke bagian 2

Pernik-pernik Kencan Gay di Jakarta - 4

Dari bagian 3


Sementara pinggulnya naik turun, kontolnya menembusi mulutku. Aku tahu Anto ingin ejakulasi dalam mulutku. Aku terima. Aku jemput dengan memompakan mulutku pada kemaluannya itu. Hingga..

"Aarrcchh.. Maass.. Amppuunn.. Maass.. Aarrcchh..." genjotan pinggulnya mengencang, sodokkan kontolnya menyentuh gerbang tengorokanku. Aku menahan dengan sikuku agar tak tersedak. Sperma Anto muncrat keras dan panas dalam mulutku. Kurasakan 6 atau 7 kedutan kontolnya pada setiap kali menyemprot.

Kukeluarkan rokok Jarumku sambil istrirahat ngobrol menunggu semangat lanjutan berasyik masyuk ini. Kami tetap salin raba dan pijit. Aku bilang paling senang dengan ukuran kontol macam dia punya ini. Akujuga bilang paling senang menciumi ketiak dan lubang pantat.

"Mau nggak kamu nembak aku?" tanyanya.

Dia pengin aku melakukan penetrasi pada pantatnya. Dan sesudah istirahat itu kami kembali memulai. Aku kembali telentang dan kutarik dia untuk berposisi duduk pada wajahku. Analnya yang terbuka langsung mengenai hidung kemudian bibirku. Aroma anal yang khas macam inilah yang selalu aku rindukan. Aku mengendus-endusi, menjilat dan menyedoti lubang tainya.

"Hh.. Hhcch.. Uucchh.. Aarrhh..." demikan dengus atau desah Anto menerima nikmat jilatan dan ciuman di pantatnya. Aku membuat lubang tainya membasah oleh ludahku.

Kemudian aku bangkit dan menyuruh Anto telentang. Aku langsung menindih untuk melakukan penetrasi pada lubang pantatnya. Kakinya kulipat dan kuminta ditakupka ke punggungku. Dengan cara ini kemaluanku terasa pas dan tepat di mulut analnya. Dengan ludah yang kubalurkan pada jari-jariku aku mulai melicinkan bibir-bibir anal Anto ini.

Kini kudesakkan kemaluanku ke lubang nikmat Anto. Dia menjerit sambil meringis,

"Dduuhh.. ssaakiitt.. Dd..." suara macam itu sungguh merdu di telinga yang sedang dilanda nafsu syahwat macam aku kini. Aneh minta 'ditembak' namun berteriak sakit. Itulah kenikmatannya.

Aku memang nggak bisa kelamaan iseng macam begini. Besok mesti ngantor. Sekitar jam 8 malam kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

*****

[Gunting Rambut]


Mangkal Aman dan Gratis

Sudah lebih sebulan aku telat potong rambut. Rasanya sudah risih. Saat pulang kantor aku mampir di Mall Ciputra Slipi. Di lantai 3 ada salon Rudy. Aku sering melihat tukang cukurnya keren-keren. Sebelum aku masuk mendaftar aku ngintip dulu di kaca etalase. Rupanya jam begini tak banyak orang potong rambut. Kuperhatikan ada sekita 20 kursi cukur hanya 3 yang sedang terisi. Praktis para pemotong rambutnyapun pada nganggur menunggu pelanggan. Aku perhatikan satu-satu di antara mereka hingga kulihat dia, belakangan kutahu namanya Farhan, pria muda tampan jangkung. Akhirnya kutetapkan masuk. Saat mendaftar aku pesan minta dia yang mencukurku. Dan terjadilah.

Pada awalnya aku tak banyak bicara. Pasang stel pendiam.

"Mau potong gaya apa Oom?" tanya Farhan.
"Kalau gaya Clay Aiken masih pantas nggak buat aku?" jawabku bercanda.
"Beres Oom. Pantes banget deh. Sejak Oom ngintip tadi aku juga mikir, tuh Oom koq ngganteng amat. Potongan macam Clay pasti ciocok buat Oom," Woow.. Ternyata dia senang nyerocos.

"Oo, jadi kamu sudah ngelihat aku tadi, ya? Aku juga milih yang paling tampan loh. Aku minta sama reseptionis tadi,"
"Ah, bsa aja Oom. Terima kasih, Oom. Mau minum apa nih?"
"Ehhmm.. Coca Cola deh. Tapi bener khan? Kamu paling tampan?"

Suasana dan komunikasi sudah semakin memanas. Pemburu dan buruannya sudah semakin mendekati kesepakatan. Tangan Farhan sudah berani menjepit gundukan di selangkanganku saat menjumput kain penutup potongan rambut. Aku memang sudah ngaceng. Wewangian yang keluar dari tubuh Farhan. Aroma tahunerapi dari keringatnya sangat membangkitkan gairah libidoku.

"Aku pengin ngajak makan kamu Farhan," aku menyerang dengan desakan.
"Nanti aku pulang jam 5, Oom. Aku tunggu di depan MD lantai bawah?" respon positip yang langsung kuterima.

Pulang kantor aku bergegas. Tepat jam 5 sore itu aku sudah berada di depan MD. Mana si Farhan? Ah, itu dia. Rupanya baru turun dari salonnya. Kulambaikan tanganku. Dia melihatnya. Saat di mobil aku langsung tanya,

"Bagaimana kalau kita makan Steak Abuba di Kebayoran? Dari sana kita ke Motel Pulo Mas. OK?" Dia setuju dan aku meluncur ke sana. Sepanjang jalan kami saling elus, raba dan remas. Hal ini justru membuat rencana jadi berubah. Farhan yang jadi sangat ngebet dan usul,

"Oom, makannya di kamar saja. Kita langsung ke Motel Pulo Mas saja," aku jelas setuju. Kugenjot mobil masuk Tol menuju arah Tanjung Priok. Keluar di Cempaka Putih berputar balik menuju Motel Pulo Mas. Dduhh.. Nafsu birahi yang tak sabar.

Ternyata Motel Pulo Mas sangat laris. Kami ngantre dan parkir di taman. Apa boleh buat. Sementara menunggu, 'foreplay' berjalan terus. Kami saling melepas kancing celana dan menarik keluar kemaluan-kemaluan kami. Saling pijit, elus, raba, remas, peras. Dan pada akhirnya juga saling menjilat, menggigit dan kulum. Dan apa yang kemudian terjadi?

Kami relah berasyik masyuk dan meraih kepuasan. Kami saling mengalami ejakulasi yang nyemprot muncrat dan tumpah ke mulut-mulut kami. Aku menikmati sperma segar Farhan dan sebaliknya Farhan menikmati spermaku. Dan akibatnya rasa lapar langsung menimpa kami. Sekali lagi, apa boleh buat. Kami meninggalkan motel tanpa pernah masuk ke kamarnya. Kami mendapatkan tempat aman dan nyaman dengan gratis. Dan pada akhirnya kami berpisah di Abuba Steak sesudah masing-masing melahap 2 porsi sherloin 200 gram dari New Zealand.

*****

[Bioskop Ajang Kencan]


Toleransi Yunior untuk Senior


Inilah pertama kalinya aku kencan sesama pria di bioskop. Yang ngajak seorang bapak-bapak. Pak Wena, usianya hampir 60 tahun. Kami bertemu beberapa menit yang lalu di toilet lantai 4 Atrium Senen.

Setelah saling pandang mata dan mengernyitkan alis,

"Dik, kita nonton di seberang yok" Aku tahu itu adalah Bioskop Mulia tempat para gay Jakarta berasyik ria saling peras, remas, lumat, isep, kulum dan teguk sperma. Pak Wena nampak sangat 'ngebet' melihati aku. Belakangan aku baru tahu bahwa dia adalah staf ahli salah satu departemen RI. Dia adalah profesor dalam bidang ilmu sosial.

Sesudah ngantre (Pak Wena minta aku yang antre, khawatir bawahannya yang melihatnya), kami memasuki ruang gelap untuk mencapai kursi kami. Seorang petugas dengan lampu senternya mengantar hingga kami duduk. Aku sengaja pilih deretan kursi kosong. Namun siang itu ternyata tak banyak penonton. Dari sekitar 100 kursi rasanya hanya sekitar 10 atau 15 kursi saja yang terisi.

Begitu duduk Pak Wena langsung mengamplok aku. Dia ciumi leherku, bahuku, tengkukku dan kemudian melumat-lumat bibirku. Tangannya sangat terampil. Sambil mencium dia lepasi kancing zip celanaku dan menariknya ke bawah. Dengan sedikit mengangkat pantat aaku membantu agar memudahkan celanaku merosot. Tangan Pak Wena langsung merogohi kemaluanku,

"Gede banget, Dik. Boleh dong aku jilat-jilat?!," katanya sambil melepas kacamatanya dan kemudian merunduk menjemput arah selangkanganku. Dia menjilati dan mulai mengisep, menjilat dan mengulum kontolku. Aku serasa terbang. Syahwat dan jilatan Pak Wena memberikan nikmat tak terhingga. Orang tua macam Pak Wena sangat sabar. Kurasakan ujung lidahnya menggelitik pelan di ujung lubang kencingku.

Untuk memberikan sensasi padanya aku remasi kepalanya. Kujambak tarik rambutnya untuk menunjukkan birahiku yang melanda. Aku mengeluarkan desahan ke dekat kupingnya. Jilatan Pak Wena pada batang kontolku nampak semakin menggila.

Sesudah cukup pegal menunduk Pak Wena bangkit dan memberikan kesempatan padaku. Aku raba dan remasi selangkangannya. Kurasakan kontol Pak tua ini masih seperti batu panas. Aku lepaskan resluitingnya dan kutarik merosot celananya. Kini aku ganti melumat. Kontol Pak Wena kuhela keluar dari celana dalamnya dan ku kulum. Precumnya terasa sangat asin. Aku mengerang penuh nikmat. Pak Wena ganti mengelusi punggung dan rambutku.

Akhirnya kurasakan kontol Pak tua ini semakin tegang dan membesar. Pasti keinginan untuk tumpah sudah mendesaki syahwat Pak Wena. Aku memompa lebih kencang dan mempersempit jepitan bibirku.

Dengan geliat dan desahan tak tertolak Pak Wena meremas punggungku. Aku bersiap untuk menerima tumpahan sperma Pak tua. Dan.. Aarrcchh.. Nikmatnyaa.. Mulutku yang penuh terjejali kontol Pak tua kini menerima lahar panas sperma kentalnya. Aku merasakn gurihnya, pahitnya, asinnya, lengket dan kentalnya. Semua sperma Pak Wena kutelan ludas tanpa cecer. Aku sangat menyukai situasi macam begini.

Sesudah istirahat sejenak kembali Pak Wena merangsang nafsuku. Kontolku dielusi, diremas dan dikocok-kocoknya hingga kembali tegar berdiri. Namun aku merasakan Pak Wena tidak lagi bergairah sebagaimana awalnya tadi. Aku agak kasihan juga. Sebaiknya aku toleransi dan memaklumi faktor usianya,

"Kalau bapak capek, sudah saja. Kita kembali saja ke Atrium, OK?" ternyata dia langsung setuju. Namun kami sepakat langsung berpisah begitu keluar dari bioskop itu. Aku sendiri kembali ke Atrium untuk kembali memburu atau diburu pria lain.

Sekian dulu, lain waktu nyambung lagi


E N D

Pernik-pernik Kencan Gay di Jakarta - 3

Dari bagian 2


Aku meluncurkan mobil ke arah Cempaka Putih. Begitu masuk ke mobil Pak Badrun langsung merabai. Meremas, merogoh dan akhirnya menurunkan kancing celanaku. Dia elusi kontolku. Dia ingin menunduk untuk mencium namun buncit perutnya mengganjal. Terpaksa dia bersabar.

Motel Cempaka Putih nampak lengang. Banyak kamar kosong. Aku minta VIP Room. Memang sudah seharusnya aku mesti men-service Pak Badrun. Dalam ketegangan oleh hasrat birahiku, aku tetap 'concern' dan berharap agar Pak Badrun benar-benar memenuhi harapanku.

Tak ayal lagi. Begitu masuk kamar dan aku mengunci pintu Pak Badrun langsum menerkamku. Diciuminya pipiku, bibirku, kupingku, jidatku kemudian turun ke leher, bahu dada sambil tangannya melepasi kancing-kancing kemejaku. Aku menikmati kepasifanku selaku 'mangsa' yang masuk perangkap 'predator'. Aku hanya merespon. Saat lidahnya menyusur ke mulutku aku menjilat dan menyedotinya. Saat dia melepasi kemejaku aku juga melepasi kemejanya. Saat dia mulai menggigiti dadaku dan mengisep-isep puting susuku aku meraih kepala botaknya dan mengelusi untuk mendongkrak liar libidonya. Saat dia menggigiti lembah ketiakku aku menjerit kecil dan mendesah. Kutunjukkan pada Pak Badrun bahwa apa yang dia lakukan padaku sungguh memberikan nikmat syahwat yang dahsyat untukku.

Pak Badrun benar-benar melahap tubuhku. Setelah akhirnya aku berbugil ria dia balik tubuhku untuk tengkurap. Dia kembali mulai mengendus dan menciumi arah belakang tubuhku. Dia jilat tengkukku. Kemudian turun untuk menciu dan menggigiti kedua belikatku. Waadduuhh.. Sunguh ganas nafsu Pak Barun. Dan sangat nikmatnya menjadi orang yang dikalahkan sebagai mangsa macam sekarang ini. Aku hanya mengerang, mendesah merintih atau berteriak kecil mengikuti alur nafsu birahinya Pak Badrun.

Ketika ciumannya bergerak membelah celah bokongku aku tak mampu menahan diriku lagi. Bakaran birahi yang menyala dalam darahku mengobarkan hasrat syahwatku tanpa bendung. Aku ingin Pak Badrun lebih 'memakan' aku lagi. Aku ingin dia menelan aku bulat-bulat. Aku bergerak menungging dengan pantat yang kuangkat tinggi. Celah pantatku terbuka dan lubang duburku menjemput lumatan bibir Pak Badrun. Dan itu seketika. Kurasakan sapuan macam amplas lidahnya pada bibir analku. Pak Badrun dengan rakusnya menciumi dan menyedot lubang taiku.

Aku merasakan betapa Pak Badrun benar-benar terbakar nafsunya. Puas menjilati pantatku dia merangsek kembali ke atas. Dengan memeluk erat tubuhku dia pagut kudukku. Tanpa kusadari ternyata Pak Badrun telah sepenuhnya bugil. Aku merasakan gesekkan kulit dada dan perutnya yang berbulu lebat menggelitiki seluruh tubuh belakangku yang sama-sama berbugil. Aku merasakan kasar dan rumabi bulunya menyapu permukaan kulitku. Adduuhh.. Pak Badruunn.. Kamu sungguh macam orang yang sering aku khayalkan. Berbugil dan berasyik masyuk dengan lelaki berkulit gelap dan bulu lebat, dengan perutnya yang buncit. Merasakan bau keringatnya, merasakan gesekkan gatal bulu-bulu dada dan perutnya. Sedotan bibir tebalnya.

Dengan mendengus-dengus laiknya macan lapar atas mangsanya dia melepaskan gigitan pada leherku. Kemudian dia lumat-lumat anak rambut pada leher dan belakang kupingku. Aku sungguh 'bergidik'. Saraf-saraf birahiku bergolak membakar darah syahwatku. Namun aku sebatas menunggu. Dalam posisi menunggu ini yang aku buat adalah respon harmonis atas alur hasrat birahi Pak Badrun. Yang kunikmati dari posisi ini adalah aku nggak tahu apa yang akan dilakukan Pak Badrun berikutnya. Sungguh, aku sangat menikmati posisi menungguku ini.

Dan kini hampir kupastikan kontol Pak Badrun telah tidak sabar untuk menembusi lubang duburku. Kepalanya terasa terus menggosok dan mendesaki gerbangnya. Aku mesti melicinkan jalannya. Ini ternyata juga sebagian dari prinsip bisnis. Aku tahu, posisi 'leader' berada di tangan Pak Badrun. Aku mesti 'support'. Akhirnya aku ambil inisiatip. Aku lumuri lubang anusku dengan ludahku untuk membuat pintu anal menjadi licin.

Terus terang hasratku juga sudah mendorong aku untuk bisa selekasnya menikmati tembusan kontol Pak Badrun pada lubang pantatku. Dan kini sesudah lumuran ludahku dengan menyosorkan pantatku aku menjemput agar selekasnya kontol Pak Badrun amblas tertelan duburku. Dan inilah akhirnya. Tangan kokoh Pak Badrun membetot rambutku dan menghela tubuhku bak kuda tunggangnya. Hal itu dia lakukan menyertai amblasnya kontolnya ke haribaan duburku. Bless..

"Dduuhh.. Ampuunn.. Pak Badruunn.. Ampuunn..." desah dan rintihku.

Mendengar desah dan rintihku itu Pak Badrun seperti bensin kena api, hasrat birahinya langsung melonjak. Dengan nafasnya yang terdengar ngas-ngos seperti lokomotip diesel dia genjoti pantatku dengan cepatnya. Dia tak peduli apa tangisku. Dia tak peduli betapa dinding pantatku seakan hendak robek-robek dibuatnya. Kontolnya meyodok-nyodok hingga jauh ke dalam analku.

"Ampuunn Pak Baruunn..." aku menyerah kesakitan. Inilah risiko dari buruan dalam genggaman pemangsa. Pak Badrun melampiaskan seluruh gelora nafsunya pada pantatku.

Saat puncaknya hendak lewat, dimana kehendak birahi telah menyentuhi semua saraf-saraf libido tubuhnya, sambil meremas pedih daging-daging punggung belikatku Pak Badrun berteriak keras namun tetap tertahan,

"Ooaarrcchh.. Dik Ronii.. Enhak bangeett.. Enhaakk bangett..." suara itu mengingatkan aku akan gorilla yang berhasil melumpuhkan lawannya di hutan Tarzan.

Kedutan-kedutan besar aku rasakan pada lubang analku. Kontol Pak Barun mengangguk-angguk menyemprotkan sperma yanga aku rasakan sangat panasnya. Entah berapa banyaknya.

Usai itu dia langsung rubuh ke ranjang. Keringatnya nampak mengucur deras. Nafasnya tersengal panjang. Dia berusaha menangkap sebanyak oksigen yang bisa dihirupnya. Udara AC dalam kamar sempit ini rasanya tak cukup untuk kami berdua.

Demi proyek masa depanku hari itu aku melayani Pak Badrun hingga larut malam. Dia puas-puaskan dirinya dengan menjilati seluruh tubuhku. Dia tinggalkan cupang-cupanya di dadaku, punggungku, leherku, perutku, pahaku, di seputar lubang pantatku. Entah dimana lagi lainnya. Dan entah bagaimana nanti aku mesti mem-pertanggung-jawab-kan pada istriku, pada sekretarisku. Entahlah.

Sebelum berpisah,

"Begini Dik Roni, besok saya tunggu disini lagi deh. Sekalian bawa draft MOU-nya. Nanti saya teken di sini. OK?" Yaa.. Itulah risiko bisnis. Setidaknya aku selalu memiliki harapan.

Dan yang jelas sudah untung memang Pak Badrun. Dan pasti akan untung lagi besok saat aku membawakan draft MOU itu.

*****

[Halte Kencan]

Di balik perdu Monas


Sekitar jam 5 sore sepulang kantor aku senang ber-iseng ria di sepanjang jalan yang kulalui. Aku istilahkan 'tonda'. Itu istilah nelayan yang memancing ikan dengan cara melepas dan menarik umpan di belakang perahunya sementara perahunya terus melaju. Siapa tahu aku juga dapat 'ikan' sepanjang aku melaju dengan motorku.

Biasanya pada waktu pulang kerja ini halte-halte dipenuhi orang-orang yang menunggu kendaraan pulang. Namun diantara mereka juga tidak sedikit yang menunggu macam umpan 'tonda' yang aku lepas ini. Dalam hal begini aku maupun mereka punya bahasa dan trik khas yang saling bersambut. Tunggu saja..

Saat aku melewati halte depan Sarinah tahunamrin kulihat kerumunan orang menunggu. Aku sedikit bikin pelan jalan motorku sambil mataku jelalatan ke arah kerumunan itu. Dan kena! Tuh dia, seorang pemuda. Dia telah melempar angkatan alisnya dan melambai. Dan aku menjawab dengan melambai pula. Mengendorkan gas, menepi dan menunggu pemuda itu menyusulku.

Layaknya seorang sahabat, sekitar 5 s/d 10 detik kami berbasa-basi ngobrol. Kemudian dia naik ke boncengan dan aku kembali meluncur.

"Kemana Dik?" tanyaku dari balik helmku.
"Terserah Mas," jawabnya.

Hari masih terang. Untuk parkir dan berasyik masyuk di taman-taman kota masih belum bisa dilakukan. Sebaiknya aku ajak makan atau minum dulu di deretan tukang makanan di pinggir jalan Sabang. Dia, si pemuda itu, belakangan dia mengenalkan namanya Anto, setuju saja usulan makan minumku. Selama di warung kaki lima itu kami saling mengakrabkan dengan cara saling raba atau genggam. Aku yakin kemaluannya cukup gede. Biasanya lelaki berpostur macam dia, kerempeng dan jangkung, menyimpan kemaluan gede dan panjang.

Sekitar jam 18.30 hari telah gelap. Lampu jalanan benderang di mana-mana. Aku bersama Anto meluncur ke Monas. Dengan motor aku bisa masuk hingga ke rerimbunan tanaman perdu di dekat patung Diponegoro. Dibalik lampu di belakang perdu itu sungguh cukup gelap dan tanpa ada orang yang bisa melihatinya. Dalam hari gelap, jarak 20 m sudah tidak lagi nampak apa yang jelas sedang terjadi. Kami duduk di bak taman batu dan langsung saling meraba dan meremasi. Kontolku sudah sangat ngaceng, demikian pula kontol Anto. Ternyata benar, kontol Anto gede dan panjang. Aku sangat bernafsu untuk kontol macam begini.

"Boleh diisep ya?" pertanyaanku berlagak pilon.
"Boleehh..." kudengar suaranya bergetar.

Ah, ternyata giginya juga gemelutuk. Pasti Anto sangat berberahi namun tertahan. Kurasakan dadanya gemetar. Aku mulai perosotkan kancing zip-nya hingga nampak celana dalamnya yang berwarna terang. Aku mengelesotkan diriku ke lantai untuk menyongsong selangkangannya. Aku menciumi celana dalam dan sekitar paha serta selangkangannya itu. Aroma kelekakian Anto sungguh membuat syahwatku terdongkrak.

"Maass.. Enaakk.. Banggeett..." katanya sambil tak sabar dia angkat pantatnya untuk menarik lepas celana dalamnya. Anto pengin aku selekasnya menciumi kontolnya.
"Dduuhh.. Mmaass..." dia menjambak rambutku saat mulutku mulai mengulum kepalanya yang bulat berkilatan itu. Mulutku penuh disesakinya. Rasa asin menebar dalam rongga mulutku. Aku langsung tenggelam dalam nikmatnya mengulum-ulum kontol gede Anto.

"Teruss.. Mmaass..." dia sedikit mengangkat pantatnya agar aku lebih mudah menelan dan menjilati batang kontolnya itu. Dan ketika suhu birahinya panas dan meledak dia renggut kembali kepalaku dan mekannya agar aku menelan lebih dalam.


Ke bagian 4