Showing posts with label tukar pasangan. Show all posts
Showing posts with label tukar pasangan. Show all posts

Tuesday, March 8, 2011

Istri-istri Kami

Triyono (samaran) adalah sahabat lamaku sejak aku SMA. Kini setelah kami sudah mempunyai anak remaja (umurku 46 tahun) dia masih sahabatku, bahkan istrinya yang bernama Atik (samaran) dan istriku sangat akrab, dan kami rutin selalu ketemu kalau tidak dirumahnya, ya dirumahku.

Bahkan jika aku dan Triyono pergi mancing ketengah laut dengan sewa perahu, tak jarang istriku menginap dirumah menemani istrinya atau sebaliknya (karena anak kami sudah remaja dan mereka kuliah dikota lain).
Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami melakukan yang menurut pandangan orang ketiga adalah hal yang aneh, misalnya ditengah gurauan, kadang kadang Triyono memeluk istriku dan menciumi pipinya berkali kali, didepanku maupun didepan istrinya. Demikian pula sebaliknya ketika kami bercengkarama berempat kadang kadang Atik dengan manja tiduran berbantal pahaku. Tentunya sikap kami ini tidak didepan anak anak yang sudah berangkat remaja.

Bahkan pernah didapur rumahku aku memergoki Triyono mencolek pantat istriku, dan kulihat istriku pura pura marah, aku tahu itu dari raut wajahnya, tentu saja sebagai lelaki normal kadang aku dilanda cemburu. Tetapi kami selalu lebih memegang persahabatan, apalagi akupun sering melakukan hal yang sama terhadap istrinya.

Tentu saja keadaan ini tidak terjadi begitu saja, kami menjalin hubungan kekeluargaan sejak kami menikah. Namun sejauh itu kami tidak pernah melakukan hal hal yang terlalu jauh. Sampai suatu hari terjadilah apa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, setidak tidaknya olehku. Tapi aku yakin ini adalah rencana Triyono dan istrinya yang sudah dipersiapkan (ini kusadari setelah cukup lama peristiwa itu terjadi)

Seperti yang sering kami lakukan, pada hari jumat yang kebetulan hari libur kami berempat ber week end di Villaku didaerah Ciloto. Walaupun tidak terlalu mewah namun villaku ini cukup luas dan cukup nyaman untuk beristirahat di akhir pekan. Kami selalu rutin mengunjunginya paling tidak sebulan sekali, biasanya hanya aku dan istriku, kadang kadang anak anak ikut, atau famili lain.

Kali ini aku mengajak Triyono dan istrinya, tidak ada yang istimewa kami hanya ingin menikmati liburan dan seperti biasanya selesai makan siang dijalan, istriku mampir untuk beli pepes ikan Mas kesukaanku. Sampai di villa sekitar jam jam 2 siang, aku tidur pulas, sampai akhirnya dibangunkan istriku untuk makan malam. Kami makan malam berempat dengan nasi hangat dan pepes ikan.

Selesai makan malam kami menonton TV sambil ngobrol kesana kemari diruang keluarga. Setelah bosan ngobrol, Triyono mengambil inisiatif mengambil kasur dikamarnya dan dihamparkan didepan TV dia dan istrinya menonton TV sambil tiduran, dan akupun berbuat hal yang sama. Atiek masuk kamarnya dan mengganti dasternya dengan baju tidur yang amat tipis tanpa BH dan CD, ini terlihat jelas dari bayangan tubuhnya dibalik gaun tidurnya.

Kulihat dia sangat atraktif mempertontonkan tubuhnya didepanku dan didepan istriku. Kulihat Triyono acuh saja melihat tingkah istrinya. Kamipun menonton TV sambil tiduran, istriku dan Atiek tidur berdampingan ditengah sedangkan aku berada disamping istriku dipinggir. Acara TV terasa membosankan mungkin karena aku tidak bisa konsentrasi, aku lebih terpesona menikmati tubuh yang menggairahkan yang tergolek disamping istriku dan itu membuat adik kecilku dibalik sarung setengah ereksi.

"Pah.., puterin film yang hot.. dong.., aku kedinginan nih.." Atiek menyuruh suaminya memutar film porno.
Aku tahu mereka sering muter film porno karena kami sering tukar menukar film, tapi selama ini kami belum pernah nonton bersama sama.
Sebelum beranjak mengambil film, Triyono basa basi minta ijin istriku "Rin..muter film blue ya.."
"Terserah aja " jawab istriku.

Filmnya cukup bagus dengan latar belakang jaman kekaisaran romawi, adegan sexnya tidak vulgar, dan ini membuat gairahku cepat bangkit. Sarungku sudah terdongkrak keatas sementara kulihat Atiek sering mencuri padang kearah sarungku yang memang sengaja tidak kusembunyikan. Sementara itu istriku sudah memindahkan kepalanya diatas lenganku dan jari tangannya meremas remas jari tanganku. Aku sudah hapal sekali, istriku pasti sudah terangsang.

Triyono menonton film itu dengan memeluk istrinya secara ketat dan tangannya mengusap usap payudara Atiek dari luar baju tidurnya, sesekali diciumnya bibir istrinya dalam dalam. Sementara itu kaki kanan Atiek ditekuk dan pahanya menindih paha istriku, sehingga tak terhindarkan baju tidurnya yang memang pendek makin tersingkap sehingga akupun makin leluasa melahap pahanya yang putih mulus, dan sebagian rambut dipangkal pahanya dengan sudut mataku.

"Mbak Rin,.. Aku jadi pengen nih.." Atiek bicara kepada istriku.
"Ya nggak apa apa, wong Mas nya nyanding koq." Istriku menyahut sambil senyum penuh arti.

Aku makin terangsang, kumiringkan tubuhku menghadap istriku sehingga aku bisa melihat paha mulus Atiek, dan kuselusupkan tanganku dibalik blouse istriku yang tidak ber BH untuk meremas remas buah dadanya, sementara tangannya sudah masuk kesarungku untuk mengelus elus penisku yang sudah berdiri keras. Ia menutup tanganku dengan bantal sehingga gerilya yang kulakukan tidak terlihat oleh Triyono dan Atiek. Walaupun itu sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena mereka sudah tidak memperhatikan kami lagi, keduanya sudah mulai tenggelam dalam percintaan.

Ketika Atiek melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti pakaian suaminya, Triyono menggeser posisinya merapat keistriku, sedangkan Atiek menindihkan tubuhnya yang bugil dari sebelah kanan, sehingga Triyono berdampingan dengan istriku.
Mereka berciuman sambil saling saling mengelus penuh nafsu, kulihat istriku sering melirik mereka dengan gairah, ikut terhanyut dengan adegan panas persis satu jengkal disampingnya.

Tiba tiba Atiek menghentikan pergulatan dengan suaminya dan tangannya meraih blouse depan istriku dan melepas kancingnya.
"Biar adil dong Mbak.." sambil tangannya terus melolosi seluruh pakaian istriku.
Walaupun wajah istriku protes, tapi usaha mencegah tangan Atiek yang nakal, tidak serius sehingga dengan mudah Atiek melucuti pakaian istriku. Sekelebat kulihat mata Triyono melahap seluruh tubuh indah istriku, bahkan ia segera mengeser posisinya merapat ketubuh istriku, sehingga lengannya menempel pada pinggir payudara istriku.

Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku mendominasi pikiranku, kucopot seluruh pakaianku sehingga kami berempat sudah bugil, kuciumi istriku, sambil jariku mengelus vaginanya yang sudah basah. Istriku mendesis desis keenakan tangan kanannya mendekap punggungku erat erat, sedangkan tangan kirinya tertindih tangan Triyono.

Kurasakan elusan lembut sebuah tangan halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian mengarah keselangkangan dan mengelus buah zakarku. Aku sudah menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Atiek lah yang sedang mengelus batang penisku, sambil mulutnya menciumi dada suaminya. Aku yakin Triyono melihat tangan istrinya yang sedang beroperasi di batangku yang keras seperti kayu, tapi dia tampak acuh saja, bahkan kini lengan kanannya telah mendidih susu istriku.
Istriku tidak menyadari atau pura pura tidak tahu bahwa tangan Triyono sudah menindih payudaranya, dan wajahnya dipalingkan kearah yang berlawanan.

Atiek sambil berubah posisi dengan setengah duduk dipaha suaminya dengan selangkangan yang terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya menggosokan gosokkan kemaluan suaminya ke klitorisnya, sementara buahdadanya menggantung diremas remas suaminya.

Posisinya tersebut membuat tubuh Triyono merenggang dari tubuh istriku sehingga tangan kiri istriku yang tertidih menjadi bebas. Dari padangan matanya yang sayu dan pahanya sudah direntangkan, aku tahu baha istriku sudah memberi lampu hijau. Dituntunnya penisku kearah lubang vaginanya, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang menikmati jepitan lobang kemaluan istriku. Sementara aku mengocoknya perlahan lahan, istriku mendesis desis keenakan, kini wajah istriku menghadap kearah Triyono bahkan hanya berjarak sejengkal dengan wajah Triyono namun matanya terpejam.

Atiek sudah terlengkup ditubuh suaminya, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batang suaminya yang sudah melesak ditelan liang kenikmatannya. Sekali kali tangannya meremas bokongku dan istriku melihat aktifitas tangan Atiek ini, tapi rupanya diapun tak ambil peduli. bahkan beberapa kali Triyono mencium mulut istriku yang tengah mendesis, istriku diam saja, walaupun tidak meresponnya. Entah kenapa aku tidak cemburu melihat istriku diciumi oleh Triyono saat sedang kusetubuhi, bahkan aku makin terangsang. Karena kulihat ciuman itu membuat istriku makin bergolak gairahnya. Ini kurasakan dari gerakan dan nafasnya mendengus tidak seperti adat biasanya.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan istriku tak terkendali, bahkan ia membalas menyedot ciuman Triyono, dan pada saat itulah istriku menghentak hentakkan pinggulnya keatas, mulutnya menghisap mulut Triyono dalam dalam sambil merintih. Dia telah orgasme. Ini diluar kebiasaan, istriku biasanya cukup tahan lama, tapi kali ini dia cepat selesai, padahal aku merasa masih tahan lama.

Kuhentikan kocokanku, kucabut penisku, aku masih tanggung tetapi aku memang tidak ingin selesai sekarang, aku masih berharap istriku bangkit lagi setelah istirahat. Kutatap wajah istriku yang penuh kepuasan. Disampingnya kulihat Triyono menggengam tangan istriku.

Melihat aku tegeletak disamping istriku, dengan kemaluan yang masih tegar, Atiek segera tahu bahwa aku belum ejakulasi. Tiba tiba Atiek menghentikan goyangan pinggul, dicopotnya penis suaminya dari vaginanya. Dengan melangkahi tubuh istriku, Atiek segera menghampiriku, kemudian dengan dasternya yang diambil dari sisi kasur dibersihkannya penisku yang penuh lendir istriku.

Dia menindihku dan menciumku. Aku sempat kaget, aku tak menduga kejadian itu, kulirik Triyono tetapi dia hanya melihat tingkah istrinya tanpa reaksi. Istriku juga hanya melirikku sebentar kemudian memejamkan mata kembali, menikmati sisa orgasme yang ia dapat dariku.

Kubalas ciuman Atiek dengan nafsu, tangan kiriku mengelus bokongnya sedangkan tangan kanan meremas buah dadanya. Atiek menjulurkan lidahnya menyambut lidahku, sementara vaginanya yang basah digesek gesekan ke diatas kemaluanku. Tampak Atiek sudah sangat terangsang, sehingga ciuman kami hanya berlangsung sebentar, segera dia menghentikan ciumannya, ditariknya badannya sehingga sekarang posisinya duduk diatas pahaku, sementara belahan kemaluannya menidih pada batang penisku yang rebah diatas perut.

Kulihat belahan kemaluannya yang merah penuh lendir, aku sudah tidak sabar lagi, kuangkat pinggangnya dengan kedua tanganku, Atiek cepat tanggap, sambil mengangkat pantatnya, diambilnya penisku dan diarahkan kelobang vaginanya. Dalam hitungan detik, kemaluanku sudah menyelusup kedalam vagina Atiek. Atiek melenguh pelan, badannya ambruk kedadaku dan wajahnya menempel disamping kepalaku sambil mendesis desis. Kuangkat pinggulku berusaha mengocok kemaluan Atiek, dan diapun mengikuti gerakanku tetapi pinggulnya digoyang memutar sedangkan otot vaginanya menjepit kemaluanku, jepitan dan putaran pinggulnya tidak akalh dengan istriku, kenikmatan menjalar keseluruh penisku.

Sepuluh menit telah berlalu dan kurasakan Atiek mulai mempercepat goyangannya, mulutnya menciumku dan lidahnya menerobos masuk ke mulutku. Nafasnya tersengal, aku segera mengerti bahwa sedang mulai masuk kemasa orgasme. Tanpa menunggu waktu lagi kupercepat kocokanku, karena kemaluankupun sudah berdenyut denyut enak, dan segera akan keluar.

Ketika kurengkuh bokongnya, Atiek merengkuh pundakku makin kencang, dari mulutnya keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia sedang orgasme. Dan segera kulepas pula air maniku menyemprot didalam vaginanya. Kenikmatan yang luar biasa.

Walaupun permainanku sudah berakhir tetapi Atiek tidak mau mencopot kemaluanku dari vaginanya, dia hanya mengeser tubuhnya dari dadaku untuk meringakan tindihan tubuhnya diatas tubuhku. Kesadaranku mulai pulih, kulihat istriku sedang bergumul dengan Triyono. Dengan tubuh yang bugil dia menindih tubuh istriku, mereka berciuman dengan pelan dan dalam, tangan meremas remas buah dada istriku yang tergolong besar dan montok, sementara tangan istriku mengelus bokong Triyono, dan kudengar desahan halus dari mulutnya itu pertanda istriku sudah mulai terangsang lagi.

Melihat istriku terangsang, tiba tiba akupun terangsang kembali. Aku sangat senang istriku menikmati sexnya, Kuhadapkan tubuhku kearah istriku, dan Atiek segera merangkul pinggangku dengan kakinya dari belakang, sambil menikmati sisa orgasme yang kuberikan padanya.

Triyono sedikit mengeser tubuhnya dan tangan yang tadinya meremas tetek istriku turus kebawah, kearah kemaluan istriku, dan istriku mengangkat pinggulnya ketika jari tengan Triyono memutar mutar clitorisnya. Desahan dari mulutnya makin keras.. Triyono mengangkat tubuhnya dan dibukanya lebar lebar paha istriku.

Istriku menoleh kearahku, matanya sayu memandangku seolah minta ijin padaku. Kupandangi dia, dia sangat cantik tak kuasa aku menghalanginya. Kukecup bibirnya kuusap rambutnya tanda bahwa aku menyetujuinya. Dan ketika penis priyono melesak kedalam vaginanya, istriku memejamkan mata keenakan, dan tangannya mengelus elus penisku seirama dengan kocokan yang diberikan Triyono.

Kuciumi bibirnya, pipinya lehernya, atau mana saja yang kudapat karena istriku dalam kenikmatan, selalu kepalanya tidak bisa diam, menoleh kekiri kekanan sambil menjilat jilat bibirnya sendiri. Sementara tangan kanannya mengocok penisku tangan kirinya merangkul pundak Triyono. Tangankupun tak henti hentinya meremas remas buah dadanya. Kudengar pula desisan Triyono menambah suasana jadi makin mengairahkan.

Tiba tiba istriku berhenti menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut dan giginya menggigit bibr bawahnya, dia menoleh kearahku, istriku akan selesai dan sebentar lagi pasti akan melenguh panjang.
"Pah.. aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. eghh.. eegghh"
pada saat itu dia mendongakkan wajahnya keatas, matanya menatap mata Triyono dengan sayu.

Pada saat yang sama, aku tak tahan menahan ejakulasi, digenggaman tangannya. Kulihat Triyono menekan kemaluannya dalam dalam kevagina istriku untuk berejakulasi.. Ketika dia mencabut kemaluanya, kulihat sisa air mani meleleh keluar dari bibir vagina istriku, yang berwarna kemerahan.

Malam ini adalah malam pertama dimana istriku merasakan penis orang lain selain punyaku apalagi dia merasakannya sekaligus dalam selang beberapa menit, sebuah pengalaman yang sangat memuaskan kami berempat.

Sejak itu kami sering melakukannya, sedikitnya sebulan sekali, dan kami berkomitmen ini hanya dilakukan berempat, Bahkan kini muncul ide baru dari Atiek untuk menambah menjadi tiga pasangan. Hanya saat ini kami belum menemukan pasangan yang bisa diajak main. Pengalaman ini ditulis juga atas persetujuan kami semua.

E N D

Tukar Pasangan 02

Terlihat Richard memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nina dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Richard yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya. Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan Richard dan badan Nina terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard pada bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina, terdengar Richard berkata perlahan, "Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?", terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Richard, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan tekanan badan Richard. Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, langsung saja Nina berteriak kecil, "Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih", terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yang mengangkang itu terlihat menggelinjang. Kepala penis Richard yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Richard, sehingga belahan kemaluan Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Richard itu. Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Richard.

Richard menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, "Maaf.., Nin.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!".
"aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn".
Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Richard.
"Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nina masih merasa sakit", sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban Nina, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nina, terlihat muka Nina meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.
Terdengar Richard bertanya lagi, "Niinn.., sakit.., yaa?", Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Nina.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Richard telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Richard, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Richard menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, "Blees", Richard menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nina, "Aduuh", sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Richard di dalam kemaluannya. Richard mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nina sejenak, agar tidak menambah sakit Nina sambil bertanya lagi, "Niinn.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!", Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, "aagghh.., kit!", lalu Richard mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Richard bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nina dalam pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang, "Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh", kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Richard, Nina mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Richard yang masih tetap berayun-ayun itu.

aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.
"Dik.., ayo aku mau kamu", suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lillian masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku hendak menerobos masuk.
"Lill.., kok masih rapet yahh". Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. "Aagghh", mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

"Ahh.., ahh", Lillian makin keras teriakannya.
"Ayo Dik.., terus".
"Enakk.., eemm.., mm!".
Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, "Uuhh..hh.." "Lill.., boleh di dalam.., yaah", aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.
"mm..".

Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.
"Nih.., Lill.., terima yaa".
Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian. Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, "..aagghh.., hhm!", saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami. Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih. "Ahh..". Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping Lillian.

Kini kami menyaksikan bagaimana Richard sedang mempermainkan Nina, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Richard, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Richard terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Richard mengerjai Nina dengan sangat brutal dan kasar. Nina benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Richard menyakiti Nina, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nina ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nina atas apa yang dilakukan oleh Richard terhadapnya.

Richard mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nina berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Nina ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nina sambil memegang belakang kepala Nina, dia membantu kepala Nina bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Nina. Kelihatan Nina telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Richard, hal ini dilakukan Richard kurang lebih 5 menit lamanya.

Richard kemudian berdiri dan mengangkat Nina, sambil berdiri Richard memeluk badan Nina erat-erat. Kelihatan tubuh Nina terkulai lemas dalam pelukan Richard yang ketat itu. Tubuh Nina digendong sambil kedua kaki Nina melingkar pada perut Richard dan langsung Richard memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Nina. Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nina terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Richard menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, "aagghh!", Nina terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Richard. Kaki Nina terlihat merangkul pinggang Richard, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Richard. Richard berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nina. Pantat Nina terlihat merekah dan tiba-tiba Richard memasukkan jarinya ke lubang pantat Nina. "Ooohh!". Mendapat serangan yang demikian serunya dari Richard, badan Nina terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Richard. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

Ketika Richard merasa capai, Nina diturunkan dan Richard duduk pada sofa. Nina diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nina terkangkang di samping paha Richard dan Richard memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina dari bawah. Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Richard memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Nina yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Richard menyentuh paha Nina. Kedua tangan Richard memegang pinggang Nina dan membantu Nina memompa penis Richard secara teratur, setiap kali penis Richard masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Richard. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian Richard mendorong Nina tertelungkup pada sofa dengan pantat Nina agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Richard akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling disukai oleh Nina. Dari belakang pantat Nina, Richard menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nina dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nina dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Nina. Jari jempol tangan kiri Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nina setengah berteriak, "aagghh!", badannya meliuk-liuk mendapat serangan Richard yang dahsyat itu. Badan Nina dicoba ditarik ke depan, tapi Richard tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nina dan mengikuti arah badan Nina bergerak.

Nina benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan, "Ooohhmm.., aaduhh!". Richard mencapai payudara Nina dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan Nina bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, "Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!". Nina mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Richard mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nina, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Nina dari belakang. Sementara badan Nina bergetar-getar dalam orgasmenya, Richard sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Nina ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nina sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Nina agak tenang, Richard mencabut penisnya dan menjilat vagina Nina dari belakang. Vagina Nina dibersihkan oleh lidah Richard. Kemudian badan Nina dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Richard memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nina ikut aktif membantu memasukkan penis Richard ke vaginanya. Kaki Nina diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Richard. Richard terus menerus memompa vagina Nina. Badan Nina yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Richard, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Richard. Kadang-kadang terlihat tangan Nina meraba dan meremas pantat Richard, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Richard. Gerakan pantat Richard bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nina, tiba-tiba, "Ooohh.., oohh!", dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak, Richard menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nina ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nina, pantat Richard terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nina, sambil kedua tangannya mendekap badan Nina erat-erat. Dari mulut Nina terdengar suara keluhan, "Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!", menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Richard kemudian merebahkan diri di atas badan Nina yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nina. Nina melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat. Aku tidak bisa melihat ekspresi Richard karena terhalang olah tubuh Nina. Yang jelas dari sela-sela selangkangan Nina mengalir cairan mani. Kemudian Ninapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Richard dengan mulutnya, itu membuat Richard mengelinjang keenakan. Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.

TAMAT

First 3 some......

Mulanya sih ga terpikir di benak istri bagaimana Threesome itu, tapi akhirnya kesampaian juga. Selama ini istri gw beranggapan bahwa gw cuma berkhayal, ga serius dan juga dia beranggapan bahwa gw yang waktu pacaran cemburuan ga akan rela buat melepas bininya dengan orang lain….ditambah lagi dia ,merasa malu alias kurang Pe De buat melepas baju dihadapan orang lain berhubung merasa sudah berumur dang a bagus lagi bodynya

Hari itu gw pengen ngajak istri sepulang kantor sekitar jam 19.00 buat check in di hotel “N” seputaran Baratajaya Surabaya. Seperti biasa saya sudah menyiapkan lingerie, hardware dan software (gel-cream, mainan dildo, dsb).

Habis jemput dari kantor istri dijalan istri nanya “kemana kok ga kearah rumah…malah kearah lain/”, gw jawab; “ check in yuk”.

Kami masuk ke bedroom dan sambil bersiap gw baca Koran M*MO yang biasanya ga pernah kepikir buat di beli tapi tadi siang gw beli karena kasian sama penjualnya. Sampai di baris iklan pijat kebugaran saya tertuju pada pijat kekar,macho untuk wanita atau pasutri.Gw bilang sama istri: “capek ga?...mau dipanggilin pijat, kalau sekali-kali pijat sama cowo gimana?”

Istri; “iya sih pengen pijat tapi emang kalau sama cowo situ rela?. Matanya seriusss liat ke gw. (hehe gw bingung jawabnya).”

Gw jawab: “huhu…ya ga rela, cemburu pasti. Tapi kok keliatannya asik juga kalau liat istri di kagumi orang lain…”

Istri jawab: “terserah dah, pokok bukan aku yang pengen dipijat laki. Kalaupun sampai terjadi itu gara-gara aku pengen nyenengin suami aja.”

Gw jawab: “coba aja sekali ini….kalau ga sreg yaaa stop aja.”

Saat Istri pergi mandi….Gw cepet-cepet telepon tukang pijat yang ada dikoran (sebelum pikiran istri gw berubah), gw minta kekar oke, tapi harus bersih, tampan dan putih orangnya sesuai selera istri, walaupun GM nya bilang kalau servicenya termasuk all in gw bilang servicenya kali ini hanya massage, peting dikit-dikit, tapi sexual intercourse dengan penetrasi tidak perlu… Cuma bayarnya sama aja sih.

Gat tau apa yang ada di pikiran istri yang jelas sejak gw bilang kalau udah panggil pemijat, dia kelihatan gelisah….. Bel kamar bunyi kira-kira 30 menit setelah itu.

Gw buka pintu kamar dan ada cowo yang berumur akhir 20 an, tinggi 170 cm bersih tampangnya, tidak terlalu putih, rambut lurus dan badan cukup kekar, dia bilang kalau dia dapet panggian buat massage.

Setelah masuk dia bilang pada istri saya buat bersiap-siap, dan si Pemijat mempersiapkan diri dengan melepas bajunya sehingga hanya terlihat berkaos ketat dan bercelana pendek.Istri sudah siap siap di ranjang king size tidur tengkurap hanya dengan BH dan CD dan tertutup selimut. Istri saya umurnya 37 th, tingginya 162 cm, berat 54 kg, toket ukuran 36 B tapi secara overall badan dan mukanya terlihat mungil sehingga sulit bagi orang untuk percaya bahwa istri sya berumur lebih dari 35 tahun. Istri saya lebih cocok dikatakan manis dari pada cantik, kulitnya kuning, bukan putih.

Saya duduk di kursi menghadap keranjang, dengan jarak kira-kira 1.5 meter dari istri saya. Pemijat yan slenjutnya kita sebut bernama P segera berlutut diranjang dan mengeluarkan beberapa cream massage, sepertinya cairan bening…mungkin parafin oil.

Ritual pemijatan dilakukan dari telapak kaki terus naik ke atas, tidak seperti pijat-pijat yang lain, P melakukan pemijatan dengan dua tangan sekaligus memagang kaki kiri dan kanan. Pemijatan dilanjutkan sampai dipaha dan pada saat sampai dipaha sepertinya istri saya sedikit bergerak, geli kali yah..

Selimut penutup sedikit diangkat oleh P, sampai setinggi pantat belakang. Istri tidak menolak ketika sedikitpun ketika P memijat paha dalam…. Pelan dan pasti, maju mundur gerakan tangan P, sampai dekat sekali dengan lipatan CD di selangkangan…..ketika tangan P semakin dekat dengan selangkangan istri, gw merasa sensasi aneh…gw merasa Terangsang….aneh. Ga berapa lama gw melihat CD istri gw basah, gw ngira kalau itu massage oil yang nyerempet kesana tapi kalau dilihat dengan betul sepertinya itu cairan vagina yang merembes keluar….. dan membasahi CD.

P melihat kearah gw… gw mengangguk, pelan-pelan CD istri gw di lepas ke kaki, istri gw terkejut dan menoleh ke gw…. Dia takut gw marah kali ya?. Gw senyum, dan istri gw kembali menelungkupkan kepalanya ke bantal.

Setelah CD istri gw lolos bebas,P kembali memijat, sekarang dia menumbahkan cukup banyak massage oil ke lipatan pantat istri, dengan 2 jari dia menelusuri lipatan pantat tersebut dari atas dan mendekati liang veggie, dan Aooohh …. Terdengar desahan kecil dari mulut istriku ketika kedua jari tangan P masuk ke liang Veggie…. Huuuu gw betul2 keras ereksinya, sepertinya ada yang netes keluar…. Istri saya makin membenamkan mukanya ke bantal.

P menarik jarinya dan menelusur keatas kearah liapatn pantat sekali lagi, dan kembali kebawah kemudian memasukan kembali ke liang veggie istri gw, setiap kali jari jemari itu masuk terdengar lenguhan kecil dari mulut istriku.

Setelah beberapa lama ritme tersebut berubah, jari-jemari tangan kanan P hanya bermain di veggie, sedangkan jari jemari tangan kirinya bermain naik turun menyusuri lipatan pantat. ….. tiba-tiba saja P menambahkan massage oil di jari kirinya dan dia memasukan 2 jarinya kedalam sun hole istriku…… istriku kali ini melenguh lebih keras…. Dan tangannya menggapai-gapai ke belakang ke arah tangan P, dia tapi P tetap meneruskan kegiatannya istriku mukanya merah padam,….. P memainkan jarinya dan sesekali terdengar kecipak suara carian veggie istriku…banyak sekali, banjir, apakah Istriku orgasme?.... gw ga tau yang jelas gw tegang banget, bisa2 ejakulasi tanpa sentuhan nih.

Istriku mengangkat pantatnya sehingga seperti nungging, tangannya menggapai baju P, an mulai menarik2 kancing baju P…. P melepaskan jarinya dan mulai melucuti bajunya sendiri…. Ternyata Penis P memang seperti yang dijanjikan, kepalanya gede dan panjang batangnya…. Uhhhg.

Istriku membalikan badannya, dan memegang penis P…..oops… istriku memegangnya dengan 2 telapak tangan… gw bisa bayangkan bahwa itu pasti panjangnya lebih dari 17 cm.

Huhu, gw ga tahan gw copot baju gw segera saja. Dan mendekati istriku yang masih memegangi dan mengagumi penis P yang mana P sekarang sudah dalam posisi berbaring. Gw cium dan lumat bibir isriku.

Istriku melepaskan lumatan di bibir gw, dan mendekati perut P sambil mulai melakukan HJ ke penis P, mukanya dekat sekali dengan ujung penis P, sepertinya dia akan melahap habis….oh oh oh gw ga mau an takut Istriku melakukan oral ke P milik orang lain ……

Gw tarik istriku dan kembali melumat bibir istriku…. Huhu gw ga tahan dan mulai memasukan penis gw ke veggie istriku sedangkan istriku berada dalam posisi miring di perut P menghadap ke penis P.

Gw mulai memompa penis gw…. tapi loh kok rasanya longgar betul veggie istriku, ga kaya biasanya…oohhh ternyata basah sekali, basah banjir, banyak dan tumpah. Tangan istriku dilumuri massage oil dan bermain di penis P dengan sesekali melumat nipple P.

Gw ga bertahan lama ga sampai 3 menit gw keluar….ejakulasi, tumpah, cukup banyak, ga pernah gw mengalami dini begini….baru kaliini apa karena ga tahan dari tadi udah terangsang hebat .

Istriku menjerit kecil ketika tiba-tiba dari kepala penis P keluar cairan putih kental yang menyemprot ke leher istriku,….. jumlahnya ga banyak sih, mungkin dia baru mengeluarkan juga sebelum berangkat kesini.

P bangkit dan membersihkan badan ke toilet, sementara itu aku melanjutkan ML sekali lagi. P pamit setelah gw kasih ongkos lelah enak. Gw dan istri tidur telanjang sampai pagi.

Setelah hari itu gw dan istri menjadi lebih bergairah dan hot dalam ML…sueerrr

Istriku sering tanya, kenapa kemarin dibolehin?, apa lain kali boleh di oral?, apa lain kali boleh dimasukin?, ntar kalau 3 some lagi pengen pakai lingerie boleh ga?….. hehehe gw belum bisa jawab selain meringis

Original Sin

Namaku Aldino, warga keturunan WNI Cina, aku mempunyai orang tua yang kaya raya, sehingga selepas kuliah aku langsung mendapat warisan salah satu perusahaan ayahku, apalagi aku anak tunggal. Pada umur 25 tahun, aku menikah dengan Nunik, adik kelasku di SMA yang sangat cantik. Waktu itu umur Nunik baru 22 tahun. Sebenarnya orang tuaku menentang pernikahan kami, karena dia anak orang miskin. Tetapi karena aku mencintainya, akhirnya mereka terpaksa menerima. Selama 5 tahun, keluargaku hidup bahagia tetapi kami belum juga dikaruniai anak. Hingga suatu saat, ayahku sakit dan aku dipanggilnya.
"Aldi, ayah sudah tua tapi ada satu hal yang membuat ayah merasa kalau hidup ini belum lengkap. Ayah mengharapkan punya cucu dari kamu, kapan kamu punya anak? Cobalah periksa ke dokter, kalau memang isteri kamu mandul, ceraikan saja, kamu menikah lagi, toh kamu masih muda." kata ayahku.

Setelah hari itu, aku bersama isteriku ke dokter. Hasilnya bukan isteriku yang mandul, tetapi mungkin justru aku yang mandul. Hari-hari kulalui dengan merenung, tekanan dari orang tua terus kuterima. Mereka masih beranggapan isteriku pembawa sial dan mandul, padahal aku sangat mencintai isteriku.

Pada suatu hari, aku bertemu Joni Hasan, teman akrabku sewaktu di SMA yang keturunan Arab. Penampilannya masih belum berubah, rambut keriting, kulit hitam dan selalu memakai kaca mata. Pertemuan itu sedikit menghiburku, karena aku bisa curhat dan konsultasi kepadanya.
"Wah, nasibmu memang Kurang beruntung, walau kamu kaya tapi kurang bahagia, aku saja sudah punya 3 anak, dan yang besar sudah kelas 2 SD." katanya.

Setelah pertemuan dengan temanku itu, aku kembali bertemu ayah.
"Al, aku sudah punya pilihan buat calon isterimu. Watik, anaknya mang Husni, akan kukawinkan dengan kamu kalau sampai 6 bulan ini kamu ngga ada tanda-tanda punya anak." ancam ayahku.
Malamnya pikiranku sangat kacau, isteriku hanya pasrah kalau memang dia harus dicerai, saat lagi stres aku dan isteriku nonton VCD porno. Siapa tahu ada teknik yang baru, pikirku. Ceritanya tentang orang yang punya hutang dibayar dengan tubuh isterinya. Tiba-tiba aku punya ide, aku ingin bantuan orang lain menghamili isteriku. Yang ada dalam benakku saat itu adalah Joni. Lalu kuutarakan pada isteriku.
"Gila, kamu mas, mending ceraikan aku saja." kata isteriku.

Aku tetap berusaha, hingga akhirnya aku mendapatkan akal dan kurundingkan dengan Joni. Kesannya memang setengah perkosaan. Hari itu aku menelpon Joni agar datang jam 8 malam ke rumahku saat aku tidak ada. Joni kuminta menggantikan peranku sebagai suami dari isteriku. Jam 7 malam, setelah makan, aku memberi minum kepada isteriku yang sudah kuberi obat perangsang. Setelah itu, biasanya aku mencumbunya dan kami siap untuk bermain cinta. Akhirnya, setelah setengah jam pemanasan, isteriku nampak terangsang berat dan tidak dapat mengendalikan birahinya. Dari bawah dasternya, kumasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya yang sudah sangat basah.

"Ouuhh, teruus mas." isteriku terus mengerang.
Buah dadanya yang tanpa BH terasa semakin membulat di dadaku. Tanganku yang satu meremas buah dadanya.
"Aaah.. enghh.. yaahh.. masukkan saja kontolmu mas, aku ngga tahan.."
Lalu kubuka dasternya. Tubuh isteriku memang indah sekali, tinggi 165 cm, kulit putih mulus dan wajahnya mirip Dina Lorenza. Penampilannya sangat menggairahkan, siapa pun pasti tidak menolak saat disuguhi tubuh yang montok ini.

Saat kupelorotkan celana dalamnya, tiba-tiba ada telpon yang memang sudah masuk dalam skenarioku, karena Joni kusuruh menelpon kalau sudah sampai di depan rumahku. Kepada isteriku aku membuat alasan seolah-olah ayahku menelpon dan aku disuruh ke rumahnya malam ini. Tampak sekali wajah yang kecewa pada wajah manis isteriku. Sebelum kutinggalkan isteriku, aku sempat melihat isteriku bermain sendiri dengan tangannya, lalu aku keluar dan bertemu Joni di luar.
"Kamu masuk saja, nanti alasan nyari aku, udah ya, aku nunggu di luar dulu." pesanku pada Joni.
Lalu Joni mengetuk pintu. Setelah itu tampak isteriku membukakan pintu. Isteriku keluar dengan memakai daster tipis yang dari luar terlihat belum sempat memakai pakain dalamnya.

"Aku mau ada janjian dengan suamimu malam ini." kata Joni.
"Dia pergi ke rumah bapak. Ngga tahu pulang jam berapa, biasanya cuman satu jam, rumahnya dekat kok." kata isteriku.
"Kalau gitu, aku nunggu di sini saja, ya?"
"Yahh.. silakan duduk! Mau minum?"
"Boleh," kata Joni dengan matanya terus mengawasi buah dada isteriku yang naik turun dan memperlihatkan dua titik hitam menerawang di balik daster putih tipisnya.
Setelah membuat minum, isteriku keluar lagi dan menemani Joni mengobrol.

"Wajah Kamu kelihatan memerah dan berkeringat, kamu sakit ya?" tanya Joni basa-basi, padahal isteriku baru saja horny.
"Ahh, ngga, tadi baru saja olah raga." kata isteriku berbohong.
"Nunik, kamu kelihatan cantik lho, kalau penampilan kamu gini."
"Kamu, bisa aja, isteri teman di rayu."
"Benar lho, bahkan ngga cuman cantik, tapi juga seksi dan jujur saja saat ini aku terangsang sama kamu." kata Joni to the point (langsung pada inti permasalahan).
"Kamu jangan macem-macem yah, nanti suamiku datang bisa berabe!"
Lalu Joni duduk di sebelah Nunik. Nunik agak menggeser duduknya. Dari balik jendela luar, aku terus mengintip dan mengawasi gerak-gerik mereka.

"Nik kita ada waktu satu jam, ngga ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua, boleh dong aku menikmati tubuhmu?" Joni terus merayu.
"Ingat Jon, aku isteri sahabatmu, kalau kamu lancang, aku teriak lho!" tapi Nunik kelihatan berdebar saat Joni meremas tangannya.
"Santai saja sayang, kamu kan belum pernah merasakan kontol Arab. Kau lihat punyaku ini!"
Memang Joni sudah membuka restlutingnya dan kepala kejantanannya berusaha keluar. Isteriku sempat tertegun. Dalam hati pasti dia mengukur. Wah, paling tidak panjangnya 18 cm. Dengan tidak sabar, Joni memagut bibir isteriku dan tangannya terus meremas buah dada isteriku. Isteriku berusaha meronta tetapi tenaga Joni lebih kuat.

"Jangan Jon, aku isteri yang setia." kata isteriku.
Lalu saat tangannya berhasil lepas, dia menampar muka Joni. Joni semakin beringas, dia lalu menarik tubuh isteriku dan dimasukkannya ke dalam kamar. Kemudian pintu kamar ditutup dan dikunci. Aku pun kemudian pindah mengintip dari lubang ventiasi jendela kamar. Dari luar kulihat Joni menanggalkan semua pakainnya dan batang kemaluan hitam yang panjang dan besar itu mulai berdiri dan memang lebih panjang dari punyaku.
"Sekarang kamu boleh teriak karena ngga ada yang dengar."
"Kumohon, jangan Jon, pergilah!"
Lalu dengan kasar, Joni merobek kancing daster istriku dan terbukalah buah dadanya yang kuning ranum dengan rakus diremas dan putingnya dipilin. Tampak istriku memejamkan mata, dia berusaha menolak tetapi rangsangan obat yang kuberikan masih mempengaruhinya, karena dosisnya memang kuberikan dobel.

"Ouuhh, jangan Jon, lepaskan aku.." erangan isteriku kelihatan berubah, "Aaah, tidak.."
Lalu Joni menarik daster istriku ke bawah, maka kelihatan isteriku dan Joni sama-sama bugil.Tangan Joni segera merayap ke selangkangan Nunik. Ditusuknya kemaluan isteriku dengan jarinya yang sekali-kali diremas dan ditusuk-tusukkan.
"Aaahh, ouu, Jon," tampak mulut isteriku terus mendesah dan merintih menikmati rangsangan yang diberikan Joni.
Sekarang tidak ada perlawanan lagi, bahkan justru tangan isteriku segera menangkap batang kemaluan Joni dan diremasnya.
Tanpa sadar isteriku membisik, "Ouuh, Jon, puaskan aku.."
Lalu Joni menghentikan aksi tangannya. Isteriku dibaringkannya di kasur, kakinya yang berjuntai di lantai dibuka lebar, nampak liang kemaluan isteriku yang merah kecoklatan berkilat karena banyaknya cairan yang keluar.

Dengan tanggap, Joni menjilati kemaluan isteriku di daerah clirotisnya. Dijilatinya terus dengan penuh nafsu.
"Enghh, yaakk terus sayaang, ouh, ahh, puaskan aku," isteriku terus merintih semakin lama rintihannya semakin keras, aku sampai jelas mendengarnya dari luar.
"Aaahh, Joon, cukup, tusuk aku dengan punyamu sayang, pinta Nunik."
Aku sendiri sudah mengocok kemaluanku. Lalu Joni segera berdiri dan meletakkan rudalnya yang hitam dan panjang itu di depan liang kemaluan isteriku, lalu ditusukkan ke bawah.

"Ouugh.. pelan aja sayang, punya kamu besar sekali!"
Lalu dimasukkannya lagi lebih dalam, isteriku seperti kesakitan, Joni tidak menyerah lalu ditusuknya lebih dalam dan akhirnya masuk semua.
Isteriku terus merintih, "Aaauuh.. aahh, ouuhh."
Pantat isteriku ditariknya ke atas dengan tanganya di bawah pinggul isteriku. Lalu dipompanya liang surga istriku dengan batang kejantanannya. Gerakan naik turun itu berlangsung lama sekali. Aku melihat isteriku mengelinjang hebat, sebelumnya belum pernah seperti itu denganku.
"Aaah.. enghh.. aah.. aku mau keluar, uuh sayang," didekapnya pinggul Joni ke bawah.
Kakinya mengejang, ternyata isteriku mengalami orgasme terlebih dulu, padahal Joni belum apa-apa.
"Gimana, kamu puas, Nik?" tanya Joni, dan isteriku hanya tersenyum.
"Mau kan kamu ganti memuaskan aku? Aku pingin kamu nungging."
Joni segera mencabut burungnya yang panjang. Lalu dengan gaya nungging mereka melakukannya lagi.

"Clop.. clop.." bunyi dari liang nikmat Nunik yang digenjot rudal Joni.
Terlihat benda panjang hitam itu keluar masuk di tengah bongkahan pantat isteriku yang putih, aku semakin terangsang melihat pemandangan itu. Saat rudal Joni ditarik keluar, bibir liang vagina isteriku ikut merekah keluar. Dan kebalikannya, saat ditusuk ke dalam, bibir liang nikmat Nunik ikut merejut ke dalam. Irama kenikmatan tersebut diiringi oleh tangan Joni dengan terus meremas buah dada isteriku yang bergoyang-goyang. Sungguh pemandangan yang merangsang sekali.

"Ahh, ahh, ahh, ouuhh, oughh, ahh.." isteriku terus merintih penuh rangsangan, hingga akhirnya terdengar jeritan kecilnya sambil menahan pantat Joni ke depan dengan tangannya, "Auuhh.."
Bersamaan dengan itu, Joni juga mendesakkan kemaluannya ke depan dan ditahan, keduanya mengejang.
"Seerr.." cairan mani Nunik mengalir dengan derasnya, terasa oleh Joni bersamaan itu, "Crott, crott, crott.." mani Joni juga muncrat ke dalam vagina isteriku.
Nampak keduanya orgasme bersamaan. Lalu Joni melepas kejantanannya dan istirahat di samping isteriku.
"Jon, makasih yaa, aku puas sekali, tapi tolong rahasiakan ini yahh!" pinta isteriku.
"Boleh aja, asal aku boleh minta lagi nanti."
"Terserah kamu, asal kamu bisa mengatur waktu dan merahasiakan pada suamiku dan keluarganya," kata isteriku.
Aku yang mendengar hanya tersenyum karena sandiwara yang kubuat ternyata berhasil.

Sejak kejadian malam itu, hubunganku dengan isteriku semakin bergairah, aku malah terobsebsi saat isteriku disetubuhi laki-laki lain. Dan memang akhirnya, Nunik mengaku malam itu Joni datang memperkosa dirinya.
Lalu kutanya, "Apa kamu sampai orgasme?"
Dengan malu-malu dia mengangguk.
"Ya udah, dulu kan aku udah minta, tapi kamu menolak, kalau memang dengan Joni kamu bisa memuaskan hasratmu, sekarang juga kamu boleh telpon Joni agar malam ini bisa ngentot sama kamu." kataku.
"Tapi mas, kamu ngga cemburu nanti?" tanya Nunik.
"Nunik sayang, aku cinta kamu, kalau memang itu membuat kamu bahagia, aku akan ikut bahagia." aku terus meyakinkan isteriku.
Lalu dia menelpon Joni.

"Boleh, aja Nik, tapi boleh ngga aku bawa teman? Karena setelah mendengar ceritaku, dia penasaran, mau ikut menikmati tubuhmu yang montok." tanya Joni.
"Mas, kata Joni dia akan bawa teman satu, mau ngentot bertiga, boleh ngga?" tanya Nunik.
"Terserah kamu Nik, yang penting kamu puas." kataku.
"Halo Jon, suamiku setuju kamu bawa teman, ya udah sampai nanti malaam ya..!"
Lalu telpon ditutup isteriku. Dan Malam itu jam 19:15, Joni datang membawa teman yang kurus dan tinggi seperti orang Ambon.
"Kenalkan, ini temanku Alex dari Ambon. Dia baru saja diceraikan sama isterinya gara-gara maen sama mertuanya sendiri." kata Joni.
"Wah, kamu jangan buka rahasia teman dong," sergah Alex.

Lalu kami berempat tertawa. Setelah berbasa-basi, lalu aku mempersilakan kedua tamuku langsung masuk ke kamar, dan diikuti isteriku yang dari tadi sudah salah tingkah. Dengan sengaja pintu tidak ditutup, jadi aku leluasa melihat dari ruang tamu. Tampak Joni dan Alex berebutan menelanjangi isteriku. Nunik hanya diam saja, pasrah dengan apa yang diperbuat mereka, tampak tubuhnya berkeringat karena gugup. Kemudian, Joni dan Alex juga menanggalkan pakaian mereka sendiri. Setelah isteriku telanjang bulat, Joni meremasi kedua buah dada Nunik, terkadang dikenyot puting susunya. Sedangkan Alex berjongkok, tangannya beraksi di lubang surga isteriku, dirojohnya lubang itu dengan jari-jarinya, dan berlanjut terus hingga clitnya digosok-gosok sampai memerah, lalu bergantian dijilati dengan lidahnya.

"Ougghh, ahh.." isteriku terus merintih menahan nafsunya yang dari tadi ditahannya.
Sungguh pemandangan yang mempesona, saat melihat isteriku disetubuhi dua pejantan yang ukuran batang kemaluannya lebih panjang dari aku. Memang Alex mempunyai ukuran panjang batang kemaluannya 16 cm tetapi diameternya lebih besar dari pada batang kemaluannya Joni yang panjangnya 18 cm, sedang punyaku hanya 13 cm.

Tampak kemaluan isteriku semakin basah akibat rangsangan yang diterimanya. Akhirnya pertahanannya bobol juga, isteriku mengejang tidak kuat berdiri. Dia mencengkeram punggung Joni, setelah itu ambruk di kasur. Banyak sekali cairan mani yang keluar dari liang kenikmatannya. Aksi berikutnya, isteriku yang sudah telentang di kasur, tampak pasrah menerima rangsangan dari kedua laki-laki itu. Pelan-pelan Alex membentangkan kedua kaki isteriku, lalu rudalnya ditempelkan di permukaan lubang nikmat isteriku. Setelah tepat, lalu diterobosnya halangan menuju kenikmatan tersebut. Dan memang agak sulit sedikit. Sedikit demi sedikit, benda panjang hitam itu mulai membenam dan masuk ke dalam kemaluan isteriku.

"Ouughh.." isteriku melenguh panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, mulutnya terus mendesis, "Ssshh.. uhh.. oouuhh.."
Lalu Alex bergerak maju mundur memompakan rudal besarnya ke dalam liang senggama Nunik yang sudah pasrah. Sementara itu, Joni menyodorkan kemaluannya di depan muka Nunik. Dengan gemas tangan Nunik menyambutnya dan pelan-pelan dijilatinya seperti permen Loli.
"Ouugghh.." Joni melenguh.
Tanpa disuruh, Nunik memasukkan batang kejantanan Joni ke dalam mulutnya dan Joni menggerakkannya maju mundur, terlihat kontras sekali mulut atas dan mulut bawah isteriku dimasuki batang kemaluan Joni dan Alex. Suara Ranjangku berdecit-decit saat ketiga makhluk yang sudah dipenuhi nafsu tersebut memperagakan aksinya.
"Ciitt, kreekk.."

Alex semakin lama semakin mempercepat gerakannya.
"Aahh, Uhhgg.." lalu dia mengejang, akhirnya dia orgasme duluan.
"Creett.. creett.. crett.." air maninya segera memenuhi rahim isteriku.
Setelah itu batang kejantanannya dicabut, dia ambruk di samping istriku.
"Jon.. aku belum.. puaas.." rintih isteriku.
Lalu Joni mengambil bantal dan diganjalkan di bawah pantat isteriku, maka clirotis isteriku nampak merekah keluar. Sementara banyak sekali cairan yang sudah menetes dari kemaluannya. Tidak lama benda ajaib Arab itu segera menusuk liangnya Nunik. Kemaluan yang sudah basah dan lembab itu segera dipenuhi rudal Joni. Lalu gerakan naik turun Joni membuat isteriku menggelinjang-gelinjang. Dia mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, kadang diputarnya. Sungguh mereka mengejar kenikmatan masing-masing.

"Ouhh, sshh, aagghh, kau hebaat.. Joon.." desah isteriku, "terus.. oohh.. emhh.." isteriku terus merancu.
Kakinya digapitkan di pinggang Joni, dan akhirnya isteriku mengejang.
"Joon, aku mauu, ouuhh.." tembus juga akhirnya pertahanannya dan, "seerr.. seerr.." maninya banyak yang keluar, dia mendekap erat tubuh Joni.
Kemudian disusul Joni yang mendekap erat tubuh isteriku, dia mencapai klimaksnya.
"Aaahh.." maninya muncrat ke dalam rahim isteriku.

Malam itu mereka bermain lama sekali secara bergantian keduanya menyetubuhi isteriku hingga jam 08.00 pagi, dan lalu mereka pulang. Semenjak itu, kalau isteriku lagi mood, kubiarkan dia menelpon Joni atau alex. Pembaca, 4 bulan kemudian, oleh dokter, isteriku dinyatakan positif hamil dan orang tuaku mendengarnya dengan gembira. Kabar baik tersebut mengubah rencana, tidak jadi menikahkan aku dengan Watik.
Di dalam hati, saya hanya berpikir, "Mungkin inilah yang disebut dengan original sin."

TAMAT

Ari, Suami Temanku 01

Namaku Ratih, asalku dari Surabaya. Umurku 26 tahun dan sudah lulus dari sebuah universitas terkenal di Yogyakarta. Selama kuliah aku punya teman kuliah yang bernama Iva. Iva adalah teman dekatku, dia berasal dari Medan. Kami seumur, tinggi kami hampir sama, bahkan potongan rambut kami sama, hanya Iva pakai kacamata sedangkan aku tidak. Kadang-kadang teman-teman menyebut kami sebagai saudara kembar. Kami juga lulus pada saat yang bersamaan. Satu-satunya yang berbeda dari kami ialah selama setahun kuliah terakhir, Iva sudah bertunangan dengan Ari, seorang kakak kelasku sedangkan aku masih berpacaran dengan Andy, juga kakak kelasku.

Salah satu persamaan lainnya ialah bahwa saat lulus itu kami sama-sama sudah tidak perawan lagi. Kami saling terbuka dalam hal ini, artinya kami saling bercerita mulai dari hal-hal yang mendalam misalnya tentang perasaan, kegelisahan dan hal-hal lain tentang kami dan pacar-pacar kami. Atau terkadang tentang hal-hal yang nakal misalnya bagian-bagian erotis atau ukuran vital dari pacar-pacar kami, sehingga darinya aku tahu bahwa milik Ari lebih panjang 3 cm dibandingkan milik Andy. Dengan lugas kadang-kadang Iva bercerita bahwa dia tidak pernah merasakan seluruh panjang batang milik Ari, diceritakannya pula bahwa Ari tidak pernah bisa lebih lama dari 3 menit setiap kali berhubungan badan dengannya. Meski begitu dia selalu merasa puas.

Kadang-kadang aku merasa iri juga dengan anugrah yang didapat Iva. Meskipun sebenarnya 15 cm milik Andy pun sudah cukup panjang, tapi membayangkan 18 cm milik Ari terkadang cukup membuatku gundah. Belum lagi aku mengingat-ingat tak pernah Andy sanggup bertahan lebih lama dari hitungan menit, mungkin karena aku dan Andy selalu melakukan pemanasannya lama dan menggebu-gebu (kadang-kadang malah aku atau Andy sudah lebih dulu orgasme pada tahap ini), jadi ketika saat penetrasi sudah tinggal keluarnya saja. Meskipun kadang-kadang cukup memuaskan tetapi rasanya masih saja ada yang kurang. Belum lagi secara fisik, Ari lebih baik dari Andy dari penilaian obyektifku. Semua perasaan itu tersimpan di diriku sekian lama selama aku masih sering berhubungan dengan Iva, yang artinya juga sering bertemu dengan Ari.

Tepat sebulan setelah lulus, Iva menikah dengan Ari. Lalu mereka berdua pindah ke Medan, sedangkan aku sendiri bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Yogyakarta. Beberapa lama kami sering berkirim kabar baik lewat email maupun telepon. Iva sering menuliskan apa saja yang sudah dilakukannya dalam kehidupan suami istrinya. Diceritakannya betapa sering mereka berdua berhubungan intim, sebulan pertama jika dirata-rata bisa lebih dari 1 kali sehari. Dengan nada cekikikan sering juga diceritakannya bahwa memang milik Ari terlalu panjang untuk kedalamannya, bahwa semakin lama Ari semakin tahan lama dalam melakukannya yang oleh karenanya mereka sering terlambat bangun pagi karena semalaman melakukannya sampai dini hari. Juga dengan nada menggoda, diceritakannya betapa hangat semprotan sperma di dalam liang kemaluan.

Cerita yang terakhir ini sungguh merangsangku, karena meskipun telah melakukannya, aku belum pernah merasakan hal itu. Selalu Andy mengeluarkan spermanya di luar atau dia memakai kondom. Di perut atau paha memang sering kurasakan hangatnya cairan itu, tetapi di dalam liang kemaluan memang belum. Singkat kata semakin banyak yang diceritakannya semakin membuatku ingin segera menikah. Masalahnya Andy masih ingin menyelesaikan studi S2-nya yang mungkin kurang dari setahun lagi selesai.

Beberapa bulan kemudian Iva mengabarkan bahwa dia sudah hamil sekian bulan. Semakin bertambah umur kandungannya semakin sedikit cerita-cerita erotisnya. Ketika kandungan sudah beranjak lebih dari 7 bulan, dia bercerita bahwa mereka sudah tidak pernah berhubungan seks lagi. Kadang-kadang dia bercerita bahwa sesekali dia me-masturbasi-kan Ari, karena meskipun secara klinis mereka masih boleh berhubungan seks tapi mereka khawatir. Jadi Ari terpaksa berpuasa. Sekian bulan kemudian lahirlah putra pertamanya, Iva mengabarkan kepadaku berita gembira itu. Kebetulan sekali perusahaanku mempunyai kebijaksanaan adanya liburan akhir tahun selama dua minggu lebih. Sehingga aku memutuskan untuk pergi ke Medan untuk menjenguknya. Andy terpaksa tidak bisa ikut karena dia sedang hangat-hangatnya menyelesaikan tesisnya.

Jadilah aku pergi sendirian ke Medan dan segera naik taksi menuju rumahnya. Rumah Iva adalah sebuah rumah yang besar untuk ukuran sebuah keluarga kecil. Rumah itu adalah hadiah dari orang tua Iva yang memang kaya raya. Letaknya agak keluar kota dan berada di dekat area persawahan dengan masih beberapa rumah saja yang ada di sekitarnya. Ketika aku datang, di rumahnya penuh dengan keluarga-keluarganya yang berdatangan menjenguknya. Ari sedang menyalami semua orang ketika aku datang.
"Ratih, apa kabar? Sudah ditunggu-tunggu tuh!" dia memelukku dengan hangat.
Kemudian dia mengenalkanku kepada keluarga-keluarga yang datang. Aku pun menyalami mereka satu persatu. Mereka ramah-ramah sekali. Ari bercerita bahwa aku adalah saudara kembarnya Iva selama kuliah. Keluarganya saling tersenyum dan berkomentar sana sini.

Sekian saat berbasa basi, Ari segera mengantarku masuk rumah dan langsung menuju kamar Iva. Tampak Iva lebih gemuk dan di sampingnya tampak bayi lucu itu.
"Iva sayang, apa kabar?" aku mencium keningnya dan memeluknya hangat.
"Sudah siap-siap begituan lagi ya?" aku berbisik di telinganya yang dijawabnya dengan cubitan kecil di lenganku.
"Sstt.. harus disempitin dulu nih!" dia menjawab dengan berbisik pula sambil menggerakkan bola matanya ke bawah, aku tertawa.

Singkat kata, hari itu kami isi dengan berbasa-basi dengan keluarganya. Aku akhirnya menginap di rumahnya itu karena semua keluarga menyarankan begitu. Iva dan Ari pun tak keberatan. Aku diberi kamar yang besar di ujung ruangan tengahnya. Rumahnya mempunyai 6 kamar besar dengan kamar mandi sendiri dan baru satu saja yang telah diisi olehnya dan Ari. Hari itu sampai malam kami isi dengan mengobrol di kamarnya menemani sang bayi yang baru saja tidur. Sementara Ari menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai dosen di ruang kerjanya.

Akhirnya aku menyarankannya istirahat.
"Sudah kamu istirahat dulu deh Va!"
"He eh deh, lelah sekali hari ini aku! Kamu masih suka melek sampai malam?"
"Iya nih!"
"Itu ada banyak film di rak! Masih baru lho!"
"Oke deh! Sekali lagi selamat ya!" kucium keningnya.

Aku keluar kamar dan menutupnya perlahan. Ari bercelana pendek dan berkaos oblong baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Mau tidur?"
"Sebenarnya aku sudah lelah, tapi mataku tidak bisa terpejam sebelum jam 2 malam nih! Katanya punya banyak film?"
"Itu di rak, buka aja!"
"Oke deh!"

Ari masuk kamar Iva. Kupilih satu film, judulnya aku lupa, lalu kuputar. Beberapa saat kemudian Ari keluar kamar dan tersenyum.
"Masih dengan kebiasaan lama? Melek sampai malam!"
"He eh nih!"
"Gimana kabarnya Andy?"
"Dua bulan lagi selesai tesisnya! Terus kami mau menikah, kalian datang ya!"
"Oh pasti! Mau minum, aku buatin apa?"
"Apa aja deh!"

Sebentar kemudian Ari keluar dengan dua botol soft drink di tangannya.
"Pembantu pada kelelahan nih! Jadi ini saja ya!"
"Makasih!" aku ambil satu dan meminumnya langsung, rasanya segar sekali.
"Kalo ada perlu aku lagi ngerjain proyek nih di ruang kerja", ketika Ari beranjak sekilas aku melihat tatapan yang belum pernah kulihat darinya, sekilas saja.
"Oke, makasih!"
Tak berapa lama aku melihat film itu, mataku ternyata tidak seperti biasa, tiba-tiba terasa berat sekali. Aku segera matikan player itu, berjalan ke depan ke ruang kerja Ari.
"Ari, aku tidur dulu deh! sudah kumatiin semua!"
"Oke deh, istirahat dulu ya!"

Aku segera masuk kamar, menutup pintu, segera ganti baju dengan kaos tanpa bra dan celana pendek saja dan langsung ambruk di atas ranjang. Aku masih sempat mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang remang-remang. Aku langsung terlelap, saat itu mungkin sekitar pukul satu dinihari.

Tak terasa berapa lama aku tidur, ketika aku merasakan sesuatu menindihku. Aku terbangun dan masih belum sadar ada apa, ketika seseorang menindihku dengan kuat. Nafasnya terasa hangat memburu di wajahku. Ketika sepenuhnya sadar aku tahu bahwa Ari sedang di atas tubuhku dan sedang menggeranyangiku dengan ganas, mengelus-elus pahaku dan mencoba mencium bibirku. Beberapa lama aku tidak tahu harus bagaimana. Jika aku berteriak, aku kasihan pada Iva, jika sampai dia tahu. Selain itu sosok Ari telah kukenal dekat sehingga aku tak perlu menjerit untuk membuatnya tidak melakukan itu.

"Ar, kamu apa-apaan?" kataku sambil mencoba mendorongnya dari tubuhku.
"Bantulah aku Rat! Telah lama sekali!" sambil berkata begitu dia terus menggeranyangi tubuhku.
Tangannya mendarat dengan mantap di atas payudaraku dan meremas-remasnya. Jika saja aku tadi masih memakai BH-ku mungkin rasanya akan lain. Tapi kali itu hanya kain kaos yang tipis saja yang memisahkannya dengan tangannya. Selain itu samar-samar kurasakan sesuatu yang mengeras menimpa pahaku. Aku tidak asing lagi dengan benda itu. batang kemaluannya telah tegang penuh."Ari..!" dia mencoba menciumku. Entah antara ingin mengatakan sesuatu atau ingin menghindar, aku malah menempatkan bibirku tepat di bibirnya. Yang terjadi kemudian aku malah membalas lumatannya yang ganas sekali. Beberapa lama itu dilakukannya, cukup untuk membuat puting susuku mengeras, yang kuyakin dirasakannya di dadanya.

"Kalo Iva tahu gimana dong?"
"Ayolah sebentar saja tak akan membuatnya tahu!" bisik Ari.
Entah untuk mencari pembenaran atas keinginan terpendamku atau mencoba untuk terlihat tidak terlalu permisif akhirnya yang keluar dari mulutku adalah, "Ar.. aku akan melakukannya untuk Iva!"
Seperti bendungan jebol, Ari langsung kembali melumatku dengan ganas. Aku pun tampaknya memang telah terhanyut oleh perbuatannya, sehingga langsung membalas lumatan bibirnya. Tampaknya dalam hal beginian Andy lebih jagoan, dia bisa membuatku basah kuyup hanya dengan ciumannya. Sedangkan Ari tampak tersengat ketika aku langsung membalas lumatan bibirnya dengan ganas.

Beberapa lama kami melakukan lumatan-lumatan itu, kemudian Ari bangkit dari atas tubuhku dan berlutut di antara pahaku. Dia kemudian menarik kaosku ke atas tanpa melepasnya dari tubuhku sehingga payudaraku terbuka, terasa dingin oleh AC. Beberapa saat kemudian aku merasakan jemarinya kembali meremas-remasnya perlahan, bukan itu saja kemudian aku merasakan bibirnya mendarat dengan mulus memilin-milin puting susuku yang kurasakan semakin mengeras. Tapi sebenarnya sebagian kecil tubuhku masih menolak perbuatannya itu, mengingat kedekatanku dengan Iva. Meski begitu sebagian besar lainnya tak bisa menolak rangsangan-rangsangan itu.

Bersambung ke bagian 02

Tetangga Idaman

Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.

Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.

Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.

Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.

Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.

"Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!"
"Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian." katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.

"Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?" kata isteriku ketika kuajak.
Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.

Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.

Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
"Mas.., sekarang Mas..!" pinta isteriku memelas.
Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.

Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, "Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?"
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.

Sorenya Agus datang ke rumahku, "Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?" tanyanya setelah kami berbasa-basi.
"Maksudmu apa Gus..?" tanyaku heran.
"Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya."
Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Agus langsung menambahkan, "Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas." katanya tanpa malu-malu.

"Begini saja Mas," tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, "Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?"
"Acara apa Gus..?" tanyaku penasaran.
"Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?"
"Pesta apaan..? Gila kamu."
"Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?"

Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.

Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.

Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.

Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
"Kegilaan apa lagi ini..?" batinku.
Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.

Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya.

Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini.

"Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!" erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.

Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
"Sshh.., akh..!" Rini menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.

Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.

Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.

Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.

Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, "Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!"
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.

Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk.

Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.

Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.

Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.

Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.

Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.

Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.

Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja..

TAMAT

Ari, Suami Temanku 02

Sambungan dari bagian 01

Beberapa saat Ari bermain-main dengan puting dan gundukan payudaraku. Kemudian dia bangkit dan menarik lepas celana pendek dan celana dalamku. Dengan segera aku merasakan tangannya membuka kedua pahaku dan sebentar kemudian kurasakan jemarinya menyapu permukaan liang kemaluanku. Ujung-ujung jemarinya mengelus-elus klitorisku dengan cepat, cukup cepat untuk membuat rangsangan bagiku. Walau begitu tetap saja gelitikannya semakin merangsangku.

Tak berapa lama dia kembali berhenti. Sekali lagi dalam hal pemanasan ini Andy masih lebih baik dibandingkan Ari. Dalam keremangan, aku melihatnya berdiri dan menarik celana pendek dan kaos oblongnya sehingga Ari akhirnya telanjang bulat. Justru di sinilah nafsuku langsung naik dengan sangat cepat demi menyaksikan tubuhnya di dalam keremangan lampu tidur di kamar itu. Sesuatu di tengah tubuhnya langsung membakarku, batang kemaluan yang sedang tegang dan tampak sedikit melengkung ke atas. Bentuknya yang gemuk, panjang dan berkepala bonggol itu langsung menggelitikkan rasa terangsang yang amat sangat mengalir dari mata dengan cepat langsung menggetarkan selangkanganku.

Aku segera saja merasa gelisah dan tak sabar.
"Ar.. Ke sini deh!"
Dengan bertelanjang bulat, Ari berjalan mendekat kepadaku dan naik ranjang, langsung berlutut di samping tubuhku, batang kemaluannya yang tegak itu tampak jauh lebih besar jika dilihat dari baliknya.
"Ada apa Rat?"
"Kadang-kadang aku punya impian yang bahkan Iva pun tak tahu apa itu?"
"Apa coba?"
"Jangan diketawain ya. Iva sering bercerita tentang ini! Dan kadang-kadang timbul keinginan untuk sekedar memandangnya", sambil berkata begitu kuraih batang kemaluannya itu dan kugenggam erat batang dan sebagian kepalanya sehingga seperti kalau sedang memegang persneling mobil. Ari tampak sedikit gugup ketika genggamanku mendarat mulus di batang kemaluannya tanpa diduga-duga olehnya. Tubuhnya seperti terdorong ke belakang sedikit sehingga semakin mengangkat posisi batang kemaluannya dari posisi berlututnya. Beberapa saat aku merasakan kerasnya batang kemaluannya itu.

Pantas sekali kalau Iva begitu membangga-banggakannya. Dan emang selisih tiga centi terasa sekali secara visual.
"Nih sudah, kamu boleh apain aja deh! Oh ya Iva sudah cerita apa saja ke kamu?"
"Banyak pokoknya!"
"Kalo sama punya Andy?"
"No comment deh!" nada bicaraku agak mendesah.
Ari tersenyum dan bangkit dari sampingku terus membuka pahaku dan mulai mengambil posisi. Ketika bangkit aku melihat pinggulnya seperti bertangkai oleh cuatan batang kemaluannya itu. Dia memandangku sebentar, kubalas dengan pandangan yang sama.
"Pelan-pelan ya Ar!"
"Lho, sudah pernah khan?"
"Iya, tapi.."
"Tidak segini ya?" Dia kembali tersenyum.

Aku cuma tersenyum kecut demi ketahuan kalau punya Andy tidak sebesar punyanya. Perlahan-lahan Ari mengangkat kedua pahaku dan menyusupkan lututnya yang tertekuk di bawahnya sehingga ketika dia meletakkan pahaku kembali keduanya menumpang di atas paha atasnya yang penuh rambut. Dengan posisi seperti itu selangkangannya langsung berhadapan dengan selangkanganku yang agak mendongak ke atas karena posisi pahaku. Aku hanya bisa menunggu seperti apakah rasanya. Aku merasakan perlahan-lahan Ari membuka sekumpulan rambut kemaluanku yang rimbun di bawah sana dan beberapa saat kemudian sesuatu yang tumpul menggesek-gesek daging di antara sekumpulan itu dengan gerakan ke atas dan ke bawah menyapu seluruh permukaannya, dari klitoris sampai ke lubang kemaluanku. Rasa terangsangku segera memuncak kembali merasakan sensasi baru itu.

"Ayolah Ar, keburu bangun!"
"Ini baru jam 3.15"
"Iya siapa tahu?"
Perlahan-lahan aku merasakan gesekan kepala batang kemaluannya tadi berhenti di area dekat lubangku tepat pada posisi membuka bibir-bibir labiaku sehingga langsung berhadapan dengan lubang di bawahnya itu. Sesaat kemudian sesuatu yang besar dan tumpul serta hangat menyodoknya perlahan-lahan. Tanpa hambatan yang terlalu kuat, kepalanya langsung masuk diikuti batangnya perlahan-lahan. Aku segera merasakan nikmat akibat gesekan urat-uratnya itu di dinding lubang kemaluanku. Sampai tahap ini sebenarnya rasanya tidak beda jauh dari punya Andy, walaupun tidak sepanjang punya Ari ini tapi cukup gemuk. Tapi semakin lama tubuhku segera bereaksi lain ketika batang itu mulai masuk semakin dalam. Dan ketika semuanya masuk ke dalam, aku segera merasakan rasa nikmat yang amat sangat ketika ujung kepala batangnya itu mentok di dinding bagian dalam liang kemaluanku. Aku segera mencari lengannya dan mencengkeramnya erat.

Ari berhenti sesaat dan menarik nafas panjang sekali.
"Rat.. Ini yang kucari!" Ari berbisik perlahan sekali tapi cukup terdengar olehku. Kutahu apa yang dimaksudnya. Sesuatu yang sanggup menelan semua panjang batangnya itu. Ari tidak segera bergerak tapi seperti menggeliat dalam tancapan penuh batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku itu. Tampaknya reaksi dari bagian yang belum pernah tertelan itu sangat mempengaruhi dirinya. Dia bahkan belum bergerak sampai sekian puluh detik ke depan, wajahnya tertunduk, kedua tangannya mencengkeram pinggulku, meraih-raih pantatku dan meremas-remasnya dengan ganas cenderung kasar. Dengan sedikit nakal, aku mencoba mengejan, mengkontraksikan otot-otot di sekeliling selangkanganku.

Walaupun terasa penuh oleh masuknya batang kemaluannya itu aku mulai bisa melakukan kontraksi itu dengan teratur. Tak terlihat tapi efeknya luar biasa. Aku merasakan kedua tangannya dengan liar memutar-mutar, meremas dan mencengkeram bongkahan pantatku, pastinya karena reaksi dari apa yang kulakukan pada batangnya itu. Dia segera ambruk di atas tubuhku dan segera mengambil posisi menggenjot, kedua tangannya diletakkan di antara dadaku, salah satunya menyangkutkan paha kananku sehingga mengangkat selangkanganku ke atas sedangkan paha kiriku otomatis terangkat sendiri. Paha kanannya masih tertekuk sedangkan kaki kirinya diluruskannya ke bawah sehingga mempertegas sudut tusukan batang kemaluannya di liang kemaluanku.

Dia mulai mencabut batang kemaluannya yang beberapa lama tadi masih tertancap penuh di dalam tubuhku dan belum sampai tiga perempat panjang batangnya keluar, dia langsung menghujamkannya dengan kuat ke bawah sehingga menekan kuat area ujung rahimku. Kemudian ditariknya lagi dan ditusukkannya kembali. Mulailah terasa beda pengaruh panjangnya terhadap kenikmatan yang kurasakan. Hal ini mungkin dikarenakan bidang gesekan satu arahnya yang panjang dan lebih lama sehingga mengalirkan kenikmatan yang lebih kuat pula.

"Arr..! Jangan kuat-kuat..!" tapi sebenarnya aku sangat menikmatinya. Ari tampaknya tak peduli, dia terus saja bergerak-gerak dengan kuat dan semakin cepat. "Oh.. Rat.. Ratih!" dia terus menggenjot dan tak terasa begitu cepat 5 menit yang pertama terlewati dan dia masih tangguh saja memompa liang kemaluanku. Benar kata Iva. Pagi itu tak ada seorang pun yang bangun dan terjaga, tapi kami berdua malah sedang mencoba mendaki dengan alasan yang berbeda. Kalau Ari karena tak tahan menunggu Iva berfungsi kembali sedangkan aku karena ingin saja. Sekitar sekian saat setelah 5 menitnya yang ketiga, aku jebol. Gesekan urat-urat batang kemaluannya itu meledakkan tubuhku dengan kuat sehingga membuatku menjepitkan pahaku ke tubuhnya. Bukan itu saja senam yang teratur yang aku ikuti ternyata berguna pada saat itu.

Tepat pada puncaknya kutahan kontraksi di liang kemaluanku dan sekuat tenaga kupertahankan agar tidak segera meledak. Sesaat aku merasakan aliran arus balik di tubuhku tapi tidak lama jebol juga sehingga dibawah genjotan cepatnya aku merasakan tiba-tiba seperti melayang di angkasa luas tanpa batas. Tubuhku kaku, kejang, nafasku memburu dan keluar tertahan-tahan bersamaan dengan keluarnya bunyi-bunyian yang tidak jelas nadanya dari bibirku.

"Ohh.. eehh.. hmm.. Ar.. yang kuat!" Mungkin gabungan antara suara dari bibirku dan mungkin cengkeraman-cengkeraman kuat dari dinding-dinding liang kemaluanku, segera membuatnya bergerak cepat dan kuat sekali. Aku tidak pernah merasakan kekuatan sekuat dan setahan itu dari Andy. Tubuhku kejang sampai dia menyelesaikan 5 menitnya yang keempat dan masih terus bergerak mantap. Sampai orgasmeku mereda aku merasakan gerakannya semakin cepat dan kuat dan belum sampai pertengahan 5 menitnya yang kelima, Ari pun jebol juga.

Posisi kami selama itu masih belum berubah, tapi ketika dia mau menyelesaikan genjotan-genjotan terakhirnya dia menggerakkan tubuhku ke kiri sehingga menggerakkan seluruh tubuhku miring ke kiri dan paha kananku tepat menumpang di atas dadanya sedangkan paha kiriku berada di antara kedua pahanya. Ketika posisinya pas, dia langsung bergerak cepat. Dalam posisi itu ternyata rasanya lain karena yang menggesek dinding lubang kemaluanku pun dinding yang lain dari batang kemaluannya. Tapi orgasmeku yang pertama rasanya terlalu kuat untuk diulangi dalam waktu sedekat itu, sehingga meskipun rasanya memuncak lagi tapi ketika aku merasakan semprotan-semprotan panas seperti yang diceritakan Iva kepadaku itu aku belum bisa meraih orgasmeku yang kedua.

"Hoohh.. Hooh.. Hoo.. Rat..Ratih!" Ari bergerak-gerak tak teratur dan hentakan-hentakannya ketika orgasme itu tampak liar dan ganas tapi terasa nikmat sekali bagiku. Aku memegang kedua lengannya yang berkeringat sampai dia menyelesaikan orgasme itu. Sesekali aku mengusap wajahnya dengan lembut. Beberapa lama tubuhku kaku karena posisi kaki-kakiku itu, sampai akhirnya dia ambruk di samping kiriku. Batang kemaluannya tercabut dengan cepat dan semuanya itu membuat posisi kembaliku agak terasa linu, terutama di paha bagian dalamku.

Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku telentang sedangkan Ari tengkurap di sampingku basah kuyup oleh keringat. Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar. Tiba-tiba Ari panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya. Batang kemaluannya meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya lemas sehingga tampak menggunduk di celana pendeknya. Aku melirik jam, sudah hampir jam 4 pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan perlahan tanpa suara ke arah pintu kamarku, membukanya perlahan dan sebelum keluar sempat melihatku sejenak dan tersenyum.

Tinggallah aku sendiri di kamarku dan aku mencari-cari celana pendekku dan segera mengenakannya. Aku terus menarik kaosku ke bawah sehingga menutupi payudaraku yang pasti penuh pagutan-pagutan merah. Dan dengan sisa-sisa tenaga mencoba merapikan sprei yang terasa lembab di tanganku. Mungkin karena lelahnya aku kembali terlelap dan terbangun hampir jam 10.00 pagi. Singkat kata hari itu kuselesaikan segala urusan di Medan. Rasanya tak ada hambatan dengan segala hal yang terjadi. Iva biasa-biasa saja tidak terlihat seperti curiga, bahkan wajah cerianya tampak sedih ketika pada hari ketiga aku terpaksa harus pamit untuk pulang. Ari mengantarku ke bandara dan sebelum aku naik ke pesawat sempat Ari mengucapkan terima kasih. Aku membalasnya dengan terima kasih juga sambil tak lupa tersenyum manis penuh arti.

Sampai tiga bulan setelah aku meninggalkan Medan, tiba-tiba Iva mengirimiku email yang menyentakku, isinya begini, "Rat, sebenarnya aku tidak ingin menyinggung-nyinggung soal ini tapi akhirnya agar kamu tahu terpaksa deh aku ungkapin. Tidak tahu aku harus mengucapkan terima kasih atau malah mencaci kamu. Kamu tega deh, di saat puncak kebahagianku kamu malah melakukannya dengan Ari. Aku tahu bukan kamu yang memulai, dan aku tahu sekali kamu tidak akan mau melakukannya jika tanpa sesuatu sebab. Sebenarnya aku kasihan juga sama Ari, bayangkan hampir dua bulan terakhir sebelum aku melahirkan, dia tidak pernah melakukannya, meskipun hanya sekedar masturbasi. Belum lagi ditambah dua bulan setelah aku melahirkan aku masih belum bisa melayaninya. Dan aku tidak menyalahkannya jika akhirnya dia memintamu melakukannya. Dan jika akhirnya kamu terpaksa melayaninya, kuucapkan terima kasih telah menggantikanku. Mungkin itu saja deh Rat, yang perlu untuk kamu ketahui. Aku tidak tahu harus bagaimana tapi sudah deh segalanya sudah terjadi, mohon jangan mengulanginya lagi ya! Please! Aku sudah omong-omong tentang ini sama Ari dan dia menangis habis-habisan menyesalinya. Oke, udahan dulu ya. Bales ya secepatnya!" Iva.
"NB: sedikit nakal, kok sekarang Ari jadi ganas gitu sih? Kalo ini karena kamu makasih ya! Terakhir, bagaimana dia melakukannya? Hi.. hi.. hi Jangan khawatir aku tetap sahabatmu."

Berhari-hari setelah itu aku kebingungan mempertimbangkan apa yang harus kulakukan terhadap ini, sampai akhirnya aku harus menjawab juga.

"Iva sayang, hanya maaf yang bisa aku mohonkan ke kamu. Aku tidak ingin membela diri, aku salah dan aku janjikan itu tidak akan terulang lagi. Jika ada yang bisa aku lakukan untuk menebusnya? Katakan saja kepadaku! Aku tidak punya lagi kata-kata apapun, jadi sekali lagi maaf ya!" Ratih
"NB: tentang yang ganas-ganas itu aku tidak tahu tanya aja sama dia, tapi kalo tentang pertanyaan yang kedua, jawabannya secara jujur ya iya. Mohon maaf sekali lagi!"

Email balasanku pagi itu terkirim, sorenya langsung dibalas dan isinya, "Ratih, Oke deh. Meskipun agak sakit, kita kubur jauh-jauh peristiwa itu. Kapan kamu menikah? Kabarin lho! Aku punya ide (agak liar), supaya setimpal, gimana kalo nanti pas kamu mengalami saat-saat yang sama kayak aku, boleh dong aku mbantuin Andy? He.. He.. He.. (gambar tengkorak lagi tertawa!)" Iva
Nah loh! Akhirnya memang begitu yang terjadi setahun kemudian, jadi kedudukanku dengan Iva menjadi 1-1.