Tuesday, January 4, 2011

Memuaskan Mbak Ningsih, kakak iparku

Pesta pernikahan kakak sepupuku, Mas Bud, dapat dikatakan sangat meriah dan sangat mewah. Dia memang sangat beruntung, perwakannya yang over size dengan perut yang mirip gentong itu tidak menghalanginya untuk menikahi Mbak Ningsih, seorang wanita yang sangat cantik dengan body yang sangat aduhai. Aku pun heran, kenapa wanita secantik Mbak Ningsih yang memiliki tubuh langsing dengan tinggi 170cm itu mau menikahi Mas Bud. Apa mungkin karena kekayaan Mas Bud? Tapi masa bodolah, yang pasti mataku selalu tidak bisa lepas dari Mbak Ningsih, dan otakku pun sibuk memikirkan sesuatu yang sangat nakal.

Seperti biasa, setiap 2 bulan sekali diadakan petemuan keluarga. Karena keluarga kami merupakan keluarga yang sangat besar. Setiap pertemuan keluarga, aku selalu berusaha untuk mencuri pandang, kecantikan dan kemolekan tubuh Mbak Ningsih yang sempurna itu memang membuatku jatuh cinta dan sangat bernafsu. Ingin rasanya memeluk, mencium dan becinta dengannya. Tapi sayang pertemuan keluarga yang hanya sehari semalem itu sangatlah sebentar bagiku. Aku selalu tidak pernah puas untuk menghayalkan Mbak Ningsih.

Setelah 14 kali pertemuan keluarga, sekitar 2 tahun setelah pernikahan Mas Bud dan Mbak Ningsih, akupun kuliah di Jakarta. Karena rumahku di Bandung, aku terpaksa harus mencari tempat kost. Tapi Mas Bud melarangku dan menyuruhku tinggal di rumah besarnya. Aku disuruh menjaga rumah selama kepergian Mas Bud ke negeri Belanda selama kira-kira 2 Bulan. "Sekalian menemani Mbak Ningsih." Kata Mas Bud. Aku jelas bersedia, selain ngirit uang kost juga bisa selalu melihat keindahan Mbak Ningsih.

Satu minggu telah belalu semenjak kepegian Mas Bud. Aku pun sibuk di kampus dengan berbagai jenis kegiatannya. Aku berusaha menyibukkan diriku agar pikiran kotor mengenai Mbak Ningsih dapat aku tepis. Aku tidak mau menghianati Mas Bud, kakak sepupuku.

Jam 7 malam tepat aku sampai dirumah Mas Bud, yang kini hanya didiami oleh satu orang pembantu rumah tangga, satu orang satpam, aku dan Mbak Ningsih. Aku lihat Mbak Ningsih belum pulang. Aku pun bebersih diri dan kemudian bersantai di kursi sofa sambil mendengarkan music klasik dari Beethoven. Dolby Digital Suround Sound System Super DTC yang ada diruangan tengah itu membuai diriku dan akupun terlelap. Entah berapa lama aku tertidur di kursi sofa sampai kemudian aku terbangun dengan dering telephone dari mesin faximile yang ada di kantor pribadi Mas Bud. Aku terkejut, terbangun dan bermaksud menuju ke arah suara telephone tersebut. Belum sempat aku beranjak dari kursi sofa, aku melihat suatu pemandangan yang sangat mengejutkan. Pintu kamar Mbak Ningsih terbuka, dan keluarlah Mbak Ningsih dengan rambut yang basah dan hanya di bungkus handuk berlari menuju kearah ruang kerja Mas Bud. Dari ruang santai tersebut aku bisa melihat jelas kearah ruang kerja Mas Bud. Aku lihat Mbak Ningsih sedang berbicara dengan seseorang di telephone tersebut.

Handuk itu membungkus tubuh Mbak Ningsih mulai dada sampai sampai perbatasan antara pantat dan pahanya. Hatiku berdebar sangat keras melihat itu semua. Terlihat betapa sintalnya tubuh Mbak Ningsih. Walaupun terbungkus handuk, bentuk pinggul dan pantatnya dapat terlihat jelas. Jantungku tambah tidak karuan ketika Mbak Ningsih mengambil sebuah buku dari lemari atas yang membuat handuk tersebut semakin terangkat. "Oh, My God!!!" Ternyata Mbak Ningsih tidak memakai CD, terlihat belahan pantatnya yang sangat bulat, padat, putih dan mulus tak bercacat. Mbak Ningsih membalikan tubuhnya, aku terkejut dan tetap pura-pura tertidur. Mbak Ningsih kemudian duduk diatas meja kerja Mas Bud dan membaca buku yang baru saja diambilnya. Hal ini membuatku semakin gila. Kali ini Mbak Ningsih menyilangkan kakinya yang ramping itu agak tinggi sehingga handuknya makin naik ke atas. Benar-benar meupakan pemandangan yang sangat indah, pahanya yang putih mulus serta padat berisi itu membuat jantungku serasa mau copot.

"Pletak....!!!" Tak sengaja kakiku menyenggol vas bunga di atas meja didepan kursi sofa tempat aku berbaring. Aku kaget setengah mati takut ketahuan Mbak Ningsih. Untung aku tidak kehabisan akal, aku bangun dan membenarkan posisi vas bunga tadi dengn terus berpura-pura tidak menyadari keberadaan Mbak Ningsih.

"Apaan tuh?" Tanyanya yang kemudian aku jawab dengan singkat. "Eh..., ini Mbak vas bunganya jatuh." Jawabku. "Rangga, kesini deh sebentar....!" Aku kaget setengah mati, Mbak Ningsih memanggilku. aku berjalan dengan pura-pura sempoyongan karena masih mengantuk. Aku berjalan menuju ruang kerja Mas Bud. Kulihat dari dekat Mbak Ningsih dengan posisi yang masih sama memandangi ku. Perpaduan antara betis indah dengan paha yang putih, mulus padat berisi itu semakin jelas.

"Duduk sini!" Perintahnya sambil menunjukan kursi yang berada tepat didepan meja yang diduduki Mbak Ningsih. Aku menurut tanpa sepatah katapun. Setelah aku duduk di depannya, Mbak Ningsih mengangkat kaki kanannya dan meletakkan telapak kakinya tepat diantara pahaku. Aku hanya terdiam dengan jantung yang semakin kencang. Entah apa maksud Mbak Ningsih. "Nih, lihat...., tadi pagi aku kesandung, dan jari kelingkingku sedikit memar." katanya sambil tak hentinya kutatap kakinya yang indah dan bersih itu. Jari-jarinya mungil dan putih sangatlah indah bila di pandang dan di pegang.

"Mau nggak pijitin kaki Mbak?" Aku pun langsung meraih betis yang indah itu. Mbak Ningsih mengangkat kaki kanannya dari pangkuan kaki kirinya. Aku tak menyadari gerakan itu karena pikiran dan mataku saat itu terfokus kepada sesuatu diantara kedua belah paha Mbak Ningsih. Aku terkejut, telapak kaki kiri Mbak Ningsih tiba-tiba membelai dan memutari daerah kemaluanku yang masih tegang dan terbungkus celana jeans ku. aku memandangi Mbak Ningsih dan.....,

"Jangan kegat, Mbak tau koq, dari dulu kamu selalu merhatiin Mbak terus khan?" Katanya, aku heran dari mana Mbak Ningsih tahu kalau aku emmang selalu mengagumi keindahannya. "Mbak Ningsih juga selalu merhatiin kamu, cuma kamu aja yang nggak pernah sadar." Katanya lagi. "Kamu sayang Mbak Ningsih nggak?" Tanyanya. "Ssssayang Mmmm...mb..mbak!" Jawabku terbata-bata. "Mbak Ningsih juga sayang kamu?" "Bener deh!" "Kalo kamu sayang Mbak Ningsih, kamu tolongin Mbak Ningsih mau khan?" Tanyanya. "Mau Mbak, tolong apaan?" Tanyaku lagi.

"Cium betis Mbak Ningsih donk sayang!" Baru kali ini Mbak Ningsih memanggilku sayang, bisanya Mbak Ningsih hanya memanggil namaku. Tanpa satu pertanyaan pun aku ciumi betisnya yang putih dan indah itu. Aku tidak hanya menciumi betis itu, sesekali aku menjilati betis itu. Makin lama makin keatas sampai ke pahanya. Mbak Ningsih menggelinjang hebat, desahannya membuatku semakin buas. "Ah...., sayang.....terus sayang....enak...!" Aku menjadi semakin nekat, makin lama aku makin keatas terus dan kemudian bibirku tak hentinya menciumi paha Mbak Ningsih. Semakin lama semakin keatas.

"Cium aku sayang!" Tiba-tiba Mbak Ningsih menghentikan gerakanku. Dengan kedua tanggannya Mbak Ningsih menarik kepalaku dan membimbingku untuk mencium kedua bibirnya yang sangat tipis dan berwarna merah muda. Kita berdua akhirnya saling berciuman. Sesekali lidahku masuk kemulutnya dan begitu pula sebaliknya. Lidah kita saling bermain di dalam mulut. Aku dapat merasakan, kedua tangan Mbak Ningsih berusaha membuka ikat pinggang kulitku. Aku terdiam saja, sampai akhirnta Mbak Ningsih menyelipkan tanggannya ke balik celanaku. Mbak Ningsih meraih batang kemaluanku, aku terus menciuminya sambil mencari ikatan yang mengikat handuk Mbak Ningsih.

"Mbak aku lepas ya handuknya?" Kataku, Mbak Ningsih hanya menganggukan kepalanya sambil terus memandangiku. Tak lama kemudian aku lihat Mbak Ningsih sudah telanjang bulat didepanku, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang langsing, putih, mulus dan padat tersebut. Terlihat jelas olehku kedua bukit kembarnya. Besarnya tidak seberapa, tetapi memiliki bentuk yang sangat indah. Kencang, Padat, keras dengan puting yang sedikit mencuat keatas. Aku tak sabar, mulutku langsung mendarat tepat di puting susunya. Saat itu aku lakukan segala sesuatu yang bisa mulutku lakukan. Menjilati, menciumi dan menghisap. Kulakukan itu secara bergantian antara yang kiri dan kanan. Aku benar-benar asyik dengan kesibukanku saat itu.

"Ah, sayang...terus sayang...oh." Aku menjelajahi seluruh tubuh bagian atasnya. Dari kedua bukit kembarnya, aku ber alih ke ketiaknya. Aku angkat ke dua tangannya. Ketiaknya yang tanpa bulu dan beraroma wangi itu aku jilati dengan ujung lidahku. Mbak Ningsih menjepit kepalaku. "Ah, jangan disitu dong, aku nggak kuat, geli!" akupun beralih ke perutnya. "Busyet...!" Pikirku, tak sedikitpun lemak yang aku temukan di perutnya. Sambil menciumi dan menjilati perutnya aku penasaran apakah ada sedikit saja lemak yang bertengger di perutnya. aku memutar ke pinggangnya. "Ah...sayang, ternyata kamu nakal....!" Mbak Ningsih mulai meracau. aku terus memutari bagian perutnya yang ternyata tak ada lemak sama sekali. "Hebat...., a perfect woman." pikirku. "Tak ada, ya.... betul... sama sekali..., tak ada cacatnya sama sekali tubuh wanita ini." pikirku. "Putih, mulus, padat, bersih, tak berlemak dan kencang." aku terus menikmati menjilati tibuhnya.

"Buka celana kamu sayang...!" Mbak Ningsih menyuruhku, aku pun melorotkan celanaku sekaligus dengan CD ku, sehingga akupun telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah benar-benar mencuat keatas. "Wow, Punya kamu udah bangun rupanya." "Tunggu sebentar ya." Mbak Ningsih naik keatas meja, seluruh tubuhnya benar-benar di atas meja. Mbak Ningsih mengatur posisinya, dan akhirnya Mbak Ningsih nungging diatas meja dengan wajah tepat didepan kemaluanku. Tangannya kirinya meraih dan menarik batang kemaluanku. Aku menurut saja bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya. Mbak Ningsih mulai menciumi kepala kemaluanku "OH....,!" Sekarang giliranku yang merasakan nikmatnya permainan yang Mbak Ningsih lakukan. Mula-mula hanya kepala kemaluanku yang merasakan hisapan, jilatan, dan sedikit sentuhan giginya yang putih bersih. Lama kelamaan Mbak Ningsih membenamkan batang kemaluanku sedikit demi sedikit kedalam mulutnya. "Ah...., Uh......!" Aku mendesah pelan dengan sedikit menyeringai untuk menahan gejolak yang sedang berkecamuk di dalam tubuhku. Aku nggak mau hal ini cepat selesai. Mbak Ningsih terus mempermainkan batang kemaluanku. Kadang sesekali Mbak Ningsih mengulum kedua bijiku. Hal ini membuat ku sedikit mules, tapi kenikmatan yang aku raih jauh dari itu semua.

Aku tak mau diam, aku julurkan tangan kananku untuk meraih perbatasan punggung dan belahan pantatnya. Untuk mengimbangi permainannya, pantat Mbak Ningsih yang terlihat nungging, ku remas dengan tangan kanan, sementara tangan kiri masih meraba-raba punggung Mbak Ningsih, aku raba dan aku belai punggung yang putih mulus itu. Tangan ku bergerak turun menelusuri celah pantatnya, dan sekarang menuju liang kemaluannya. Kemaluan itu kemudian aku sentuh dari belakang, dan terasa sudah sangat basah dan merekah. aku belai-belai bibir luar kewanitaannya dan akhirnya ku belai-belai clitoris-nya. Merasa clitoris-nya tersentuh oleh jari saya, pantat Mbak Ningsih semakin dinaikkan, dan terasa tegang, kuluman ke batang kejantanan ku semakin kencang dan buas. Melihat perpaduan antara belaian klitoris, punggung yang putih mulus dan kuluman rudal, suara kami jadi semakin maracau.

Kocokan mulutnya terhadap Batangku semakin lama semakin dalam dan cepat. Kadang kepalanya naik dan turun, tetapi kadang kepalanya juga sedikit berputar. Sedikit perubahan gerak dari kepalanya, terasa sangat nikmat aku rasakan. Aku mulai kehilangan kendali, ada sesuatu yang bergejolak di atas pangkal batang kemaluanku. Entah mengapa, tangan kanannya menyentuh perutku dan mendorongku. Dorongannya sedikit kuat sehingga aku terduduk di kursi lagi.

"Plop...!" Terdengar suara yang lucu akibat terlepasnya batang kemaluanku dari mulut mungilnya.

"Sekarang giliran kamu sayang." Seakan Mbak Ningsih tahu, bahwa aku sudah mulai kehilangan kendali. Mbak Ningsih menghentikan permainannya dan mengatur posisinya lagi.

Aku dapat melihat dengan jelas. Lubang kenikmatan Mbak Ningsih yang bewarna merah muda dan merekah itu. Aku memandanginya sejenak. Betapa indah lubang surga Mbak Ningsih yang membuatku seakan tak bernafas menahan gelora dan aliran listrik yang mulai over load. Jari tengah tangan kanan Mbak Ningsih mempermainkan lubang surganya kekiri, kekanan, keatas, dan kebawah sehingga tampak kemaluan Mbak Ningsih kembang seakan kembang kempis. Sesekali Mak Ningsih Mempermainkan clitoris-nya sendiri. Tak berapa lama, wajahnya yang cantik dengan rambutnya yang hitam legam dan panjang itu menengok kebelakang, matanya yang semula bulat kini redup, dan dari bibirnya yang indah Mbak Ningsih berkata," Kamu mau ini khan?" ujar Mbak Ningsih yang posisinya semakin menungging untuk menunjukan keindahan ludang surganya kepada ku agar lebih jelas dan agar aku semakin gila.

"Cukup sudah....!" Pikirku. "Aku nggak tahan lagi." Maka aku dekatkan batang kejantananku yang sudah tegak keras keatas dengan lubang kewanitaannya yang semakin harum dan basah itu.

"Ah...... sayang.......Ufhhhh!" Aku tempelkan kepala batang ku ke clitoris-nya dan aku gesek-gesekan ke sekitar lubang kenikmatannya.

"Sekarang sayang, sekarang." Mbak Ningsih sudah tidak bisa menahan hawa nasfunya. Tangan kirinya menjulur kebelakang dan meraih batang kemaluanku. Mbak Ningsih membimbingnya mendekati gua surga itu, dan......,

"Ssss........slek!" secara perlahan dan mantap, batang kemaluanku telah terbenam di lubang kenikmatan Mbak Ningsih.
Aku dorong pantatku secara amat sangat perlahan sehingga batang kemaluanku pun masuk secara amat sangat perlahan pula. Mulai dari bagian kepala kemaluanku, kemudian bagian leher, kemudian bagian batang, hingga semuanya amblas sampai ke pangkal kemaluanku. "Ahhhh.........." Mbak Ningsih dan akupun mendesah menahan kenikmatan yang tiada tara tersebut seiring dengan pergerakan batang kejantananku. Aku sengaja tidak langsung mengocokkan kontolku, aku diamkan semua bagian kejantannanku tetap habis amblas di lubang surganya sejenak. Aku rasakan sejenak betapa rasa lembab, basah, dan hangat yang luar biasa indah menyelimuti kemaluanku. Walaupun kemaluanku masih belum bergerak, aku dapat merasakan kemaluan Mbak Ningsih yang tidak hanya sempit, tapi juga dapat menghisap dan menekan-nekan kemaluanku. Tanpa menarik kontolku, aku gerakan pantatku kedepan tiga kali sehingga...., "Bleb, bleb, bleb..!" Posisi Mbak Ningsih pun sedikit maju karena tekanan dari ku.

"Oh....,Ah....., Oh.....!" Desahan Mbak Ningsih seiring dengan tekanan tadi. "Sayang, cepat donk, pompa aku semau kamu!" Pinta Mbak Ningsih. Aku mulai menarik dengan perlahan kemaluanku sampai sebatas leher kemaluanku, kemudian aku tekan perlahan, tapi hanya sampai setengah batang kejantananku, kemudan aku tarik, aku tekan setengah, tarik, tekan, tarik tekan.... terus begitu secara berulang. Aku melakukan dengan cara yang aku baca dari buku kama sutra, yaitu, aku tarik keluar kejantananku sampai sebatas leher dan kemudian aku masukan hanya setengah dari batang kejantananku sebanyak 10 kali, dan kemudian diselingi 1 kali keluar sebatas leher dan masuk sampai amblas semua batangku dan menahannya sejenak untuk memberikan kesempatan kepada Mbak Ningsih untuk melakukan gerakan berputar.

"Crek,crek...crek...crek." Suara indah itu terulang sepuluh kali, diselingi dengan.... "Sleb...." sebanyak sekali "Plok, plok, plok, plok...!" Suara yang muncul akibat benturan antara pangkal pahaku dengan pantat putih mulus Mbak Ningsih membuat suasana semakin indah. Memek Mbak Ningsih memang gila. Betapa aku tak perlu mengangkat pantatku sedikit keatas agar mendapat gesekan dan tekanan pada bagian atas batang kemaluanku, atau ke bawah agar gesekannya lebih terasa di bawah, atau kekiri, atau kekanan....., semua itu tidak perlu sama sekali. Kemaluan Mbak Ningsih yang benar-benar lubang surga itu sudah sangat sempit, sehingga menekan dan menggesek semua permukaan kontolku, dari ujung kepala sampai ke pangkal kemaluanku.

Aku tak bisa lagi mengatur gerakanku, semakin lama gerakanku semakin cepat, dan tekanannya pun semakin keras. Dari posisiku yang di belakang, aku dapat jelas melihat penisku keluar masuk cepat ke lubang vaginanya, dan saking pasnya, terlihat bibir vagina Mbak Ningsih itu tertarik keluar setiap batangku kutarik keluar.

"Oughhh, ough..., ah.....,oh....., kamu hebat sayang." Mbak Ningsih terus mendesah dan meracau. Sesekali dengan posisinya yang menungging, tangan kanan Mbak Ningsih kebelakang dan menyentuh perutku untuk menahan tekanan yang aku lakukan. Aneh memang, Mbak Ningsih menahan laju tekanan penisku dengan tangannya, tetapi Mbak Ningsih terus meracau..."Terus sayang, ah..., terus, terus sayang.....!"

Buah dada Mbak Ningsih terpental-pental dan desahannya benar-benar menghanyutkan, seperti suara musik terindah yang pernah aku dengar. "Ahhh... shh ssshhh sayang, Ohh.... enakkk... Uhhh uhhh... hmmm...Enak sayang....terus!" Seru Mbak Ningsih

"Aowww....!" Tiba-tiba Mbak Ningsih sedikit berteriak. "Kenapa Mbak, sakit ya?" Tanyaku yang hanya di jawab dengan senyum dan gelengan kepalanya saja "Teruskan sayang aku suka koq." Katanya.

Aku berpikir mungkin gerakanku terlalu kuat, ditambah liang vagina Mbak Ningsih yang begitu sempitnya. Maka aku ambil inisiatif untuk mengangkat kaki kanannya. Aku angkat kaki kanannya agar lubang surga Mbak Ningsih sedikit lebih longgar, sehingga Mbak Ningsih dapat lebih menikmatinya.

"Oghhhh, fffffff, sayang kamu memang hebat!" Katanya. Karena gesekan yang terjadi sedikit berkurang, aku semakin cepat melakukan gerakan maju mundur dengan sedikit gerakan keatas akibat terangkatnya kaki kanan Mbak Ningsih dengan tangan kananku. Semua hal itu tidak mengurangi kenikmatan yang aku rasakan, bahkan percintaan kami menjadi lebih variatif, sampai suatu saat aku turunkan lagi kaki kanannya dan kedua tanganku memegang pinggulnya kuat-kuat sambil sesekali meremas pantatnya yang bulat indah itu. Dan.....,

"Oughhh.. sayang.. aku keluar...!!!!" Vagina Mbak Ningsih kurasakan semakin licin dan hangat, tapi denyutannya semakin terasa. Aku dibuat terbang rasanya. Aku hentikan gerakan maju mundurku, sekarang aku benamkan seluruh batang penisku ke liang vagina Mbak Ningsih sambil terus mendenyutkan batang kemaluanku. Aku tekan dengan kuat penisku sambil menahan pinggulnya yang indah. Aku yakin benar, denyutan yang aku buat di batang kemaluanku dan tekanan hebat terhadap kewanitaannya membuat orgasme Mbak Ningsih makin hebat dirasakannya. Terbukti dari kenikmatan orgasmenya itu, sekonyong-konyong membuatnya terbangun dari posisi nunggingnya disertai kedua tanggannya menjambak rambut kepalaku dengan kuat dan wajahnya yang menyeringai menahan gejolak kenikmatan surgawi.

"Hufff, hufff,hufff....!" Nafas Mbak Ningsih menunjukan dia baru saja mengalami sensasi elektrikal yang hebat menjalar di tubuhnya. Tubuhnya sedikit lemas. Aku tahan beban tubuhnya dengan tangan kiriku yang kemudian melingkari pinggulnya yang padat dan mulus itu sementara tangan kananku mengambil kursi tadi dan kemudian aku duduk di kursi itu sambil memangku dan menciumi bibirnya yang merah merekah.

"Oh sayang, aku keluar, oh enaknya." Mbak Ningsih berbisik padaku sambil sesekali mencium telingaku. Batang kejantananku pun masih terbenam di dalam kewanitaannya. Apa lagi dengan Mbak Ningsih di pangkuanku, membuat batang kemaluanku mablas habis sampai di pangkalnya. Hanya saat ini tidak terjadi gerakan-gerakan yang berarti.

"Kamu belum keluar ya?" Tanya Mbak Ningsih, aku diam saja dengan sedikit menggelengkan kepala. Aku biarkan Mbak Ningsih berbicara, karena memang aku menikmatinya. Aku biarkan Mbak Ningsih beristirahat sebentar sambil menciumi wajah ku disertai tangannya yang terus-terusan meraba biji pelerku. Rasa hangat di batang kemaluanku masih begitu terasa, ingin rasanya aku gerakan lagi. Tapi aku bersabar, aku biarkan bidadariku mengumpulkan tenaganya untuk pertarungan tahap berikutnya.

Tak berapa lama, aku coba mendenyutkan batangku. "Ah, aow....geli dong sayang...!" Mbak Ningsih berceloteh sambil disertai tawanya yang manja. "Kamu masih kuat nggak, sayang?" Aku tidak lagi terdiam, pertanyaan ini harus kujawab.

"Masih donk, Mbak." Kataku, aku masih tetap untuk berusaha menahan diri. "Pindah kekamarku yuk?" Ajak Mbak Ningsih. "Tapi jangan di lepas ya sayang, punyaku masih betah sama punyamu." Celoteh Mbak Ningsih.

Secara perlahan dan berhati-hati aku bangun dari kursi itu. Dengan posisi membelakangiku, aku bawa Mbak Ningsih keatas meja. Dan secara perlahan aku putar tubuh Mbak Ningsih dengan amat sangat hati-hati karena Mbak Ningsih tidak ingin kontolku terlepas dari memeknya, begitu pula aku. Dengan sedikit kerjasama, akhirnya kami berdua sudah saling berhadapan. Mbak Ningsih langsung ku gendong dengan penisku yang masih tatap tertanam. Kedua belah kaki panjang Mbak Ningsih mengempit pinggangku erat-erat. Aku pun melangkah ke kamar Mbak Ningsih.

Sesampai di kamar, aku rebahkan tubuh Mbak Ningsih di tempat tidur yang masih rapi. Tampak olehku kedua susu Mbak Ningsih yang indah. Puting susu yang kemerahan itu membuatku langsung melumatnya. Mbak Ningsih hanya bisa mendesah dan menggigit bibir bawahnya. Ketika aku baru menggerakan pantatku keatas Mbak Ningsih, menghentikan gerakanku......,

"Sayang, tadi kamu yang kerja, sekarang giliran aku donk!" "aku pengen di atas ya!" Belum sempat aku jawab, Mbak Ningsih sudah mendorong tubuhku, sehingga aku mau nggak mau merebahkan tubuhku diatas kasur empuk tadi. Mbak Ningsih sekarang sudah ada di atasku tepat membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhku.

"Luruskan kakinya sayang!" Perintah Mbak Ningsih sambil memegang kedua pahaku dan meluruskan kakiku. Kedua tangan Mbak Ningsih kemudian memegang kedua puting susunya dan meremas kedua payudaranya sendiri, dan mulai menangkat pantatnya dan menurunkannya kembali. Saat ini dialah yang memompaku.

Aku baru sadar, bahwa Mbak Ningsih saat ini tiada lain adalah kuda liar yang tak terkendali. Dia bergerak keatas dan kebawah yang kemudian di selingi dengan memutarkan pinggulnya yangjuga disambung dengan gerakan maju mundurnya.

Maju, mudur, atas, bawah, kir, kanan, putar. Serasa penisku dipermainkan seenaknya. Mbak Ningsih menjadikan batang kemaluanku sebagai budak nafsunya. Kedua tanganku sibuk meremas-remas payudaranya, memelintir dan mencubit punting susunya, dan memegang pinggulnya. Sesekali dia membungkukkan badannya untuk menciumiku. Aku tidak diijinkannya untuk bangun dan mencium bibir atau pun buah dadanya. Saat ini dia terus memegang kendali. Kontolku semakin panas, rasa nikmat menjalar keseluruh tubuhku.

"Oh....Mbak Ningsih, terus Mbak....!" Aku mulai meracau.

Betapa liarnya wanita ini. Rasa hangat dan nikmat yang tak terhingga mulai merambah batang kejantananku yang semakin lama mulai aku rasakan desiran yang hebat. Aku memejamkan mata dan meremas pinggul dan susu Mbak Ningsih. Aku tahan gejolak kenikmatan surgawi ini. Aku tak ingin benteng pertahananku Bobol, sebelum bidadari diatasku memuaskan diri memperbudak batang kemaluanku. Kempotan memek Mbak Ningsih semakin lama semakin kuat. Kemaluanku terasa terjepit dan semakin terjepit. Basah, lembab, licin, dan hangat menjadi satu menciptakan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Aku berusaha menahan serangan sang bidadari.

Kejadian tersebut terus berulang. Nafas kita berdua menderu-deru. Tubuh penuh dengan keringat.

"Oh...Ah.....Oh...., Oughhhh, Offff, Aowwww...!" Mbak Ningsih pun sudah tidak lagi mendesah. Desahannya di ganti dengan teriakan dan jeritan kecil. Gerakannya makin liar. Aku merasa kasihan melihat batangku diperbudak sedemikian rupa, tapi apa daya, kenikmatan yang aku rasakan lebih dari segalanya di dunia ini. Mendadak kulihat.....,

Tubuh Mbak Ningsih mengejang. Mbak Ningsih menengadahkan kepalanya. Urat lehernya nampak, dia berteriak kecil.

"Aaaaoooowwwww........!!!"

Kurasakan semburan lava panas menyelimuti batangku yang masih terbenam. "Oh...!" kataku. Nikmat sekali rasanya. Mbak Ningsih menjatuhkan tubuhnya didalam pelukanku. Dia mengalami orgasme lagi, hanya kali ini dia tidak mampu berkata apa-apa lagi. Tampak betapa lelahnya dia.

Tapi untuk kali ini aku tak bisa memberi waktu lagi untuk Mbak Ningsih beristirahat. Aku sidah hampir dipuncak, mulai terasa olehku puncak kenikmatan yang sebentar lagi aku rasakan. Aku balikan tubuhku sehingga tubuh mulus Mbak Ningsih ada di bawahku.

"Oh sayang, aku tadi keluar lagi.....!" "Aku sudak cap.......'" Belum sempat dia selesaikan ucapannya. Aku sumpal kedua belah bibirnya dengan mulutku. Aku bimbing kedua betis Mbak Ningsih agar bertumpu di kedua bahuku. Aku mulai memompa dengan cepat dan dahsyat.

"Oh...sayang, kamu cepat keluar ya sayang....!" "Aku sudah mulai lelah !"

Aku terdiam dan hanya terus memompa kemaluanku sampai amblas dan menariknya keluar sampai sebatas leher. Aku sudah tidak dapat mengendalikan tubuhku sendiri. Seakan tubuhku bisa bergerak sendiri semaunya.

"Oh... ampun sayang...!" Desah Mbak Ningsih

Aku sedikit takut, jikalau Mbak Ningsih tidak bisa memuaskan aku saat itu. Tapi aku tak perduli. Aku kemudian berinisiatif, aku keleuarkan sejenak ****** ku dari lubang hangat Mbak Ningsih sejenak, kemudian aku angkat pinggul Mbak Ningsih dan aku ambil tiga buah bantal untuk mengganjal pantat Mbak Ningsih. Sehingga Vagina Mbak Ningsih terbuka dan terlihat Itil Mbak Ningsih yang mencuat. Keindahan vagina Mbak Ningsih yang berwarna merah muda dan dihiasi dengan clitoris-nya yang kecil mungil itu membuatku semakin buas. Aku arahkan dan aku masukkan kembali batangku kedalam lubang surga milik Mbak Ningsih tersebut. Hanya kali ini aku memasukkannya dengan cepat dan tepat tanpa basa-basi lagi. Lali aku memompanya dan terus s memompanya dengan cepat sekali sambil jari-jemari tangan kananku mempermainkan clitoris--nya. Entah mengapa, teriakan dan desahan Mbak Ningsih berubah lagi, yang asalnya.....

"Aku capek sayang, ampun....., aku capek.....!" Telah Berubah menjadi.... "Terus sayang aku sanggup keluar sekali lagi.....terus syang...teruuuusssss!"

Desahan dan jeritan kecil itu membuatku semakin semangat. Aku genjot terus, terus dan terus......!

"Oh sayangku, aku mau keluar lagi.....!" Kata Mbak Ningsih "Sebentar sayang, sebentar lagi aku juga keluar....Tttttaah..., tttahan dulu ya sayang.....!!!" Aku mulai nggak keruan.

Genjotan kontolku, goyangan pinggul Mbak Ningsih, dan kempotan memek Mbak Ningsih. Membuat segalanya tak terkendali.

Ketika kulihat Mbak Ningsih mulai menengadahkan kepalanya dan urat lehernya mulai mengejang. Aku segera mempercepat genjotanku, dan akhirnya......

"Aaaaaakkkhhhhhhhh.......!" Kita berdua beteriak kecil, Kedua tangan Mbak Ningsih memegang pantatku dan menekannya dengan keras kearah memeknya sampai kejantananku amblas habis tak bersisa satu mili pun. Aku membungkukan badanku dan menyelipkan pergelangan tanganku ke ketiaknya dan telapak tanganku mengangkat kepalanya sehingga aku bisa mencium bibirnya.

"Crot......serrrrr......crot....serr....crot.. ..se r...." Entah berapa kali Cairan puncak kenikmatan surgawi ku menyembur dan bertemu dengan cairan kenikmatan tiada tara nya Mbak Ningsih. Cairan kenikmatan kami saling bertemu di dalam vagina Mbak Ningsih. Mungkin sekitar 40 atau 50 detik, kita berdua saling merengkuh puncak kenikmatan itu. Kehangatan yang amat sangat indah itu menyelimuti kejantananku. Kontolku terus berdenyut seiring dengan memek mbak Ningsih yang juga berdenyut. Kita berdua tidak sanggup lagi berkata apapun juga. Tubuh Mbak Ningsih tergeletak di samping tubuhku. Aku berusaha untuk mengangkat tubuhnku dengan tenagaku yang terakhir. Aku cium bibirnya dan Mbak Ningsih pun berkata, "Yyyy...yang terakhir itu....ad...adalah or..orgg...orgasme ku yang paling lama....." Kita berdua pun tidur saling berpelukan sampai keesokan paginya.

Semenjak itu kami bagaikan sepasang burung yang sedang kasmaran. Diluar kesibukan kami sehari-hari selalu kami gunakan untuk bercinta dan bercinta. Tiada hari yang kami lewatkan tanpa sex. Kami pun sering membaca buku tentang sex agar kami berdua selalu bisa terpuaskan, dan yang paling penting, memuaskan. Kami pun tak tahu waktu dan tempat. Kadang kami melakukannya di Garasi, di meja dapur, di sofa, di dalam mobil, di kamar mandi, di kolam renang, di halaman rumah, di atas rumput, bahkan kami pernah melakukannya di dalam lift sebuah Mall yang saat itu mendadak macet dan kami terjebak di dalamnya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment